Share

Pria yang Sama

Author: Yoru Akira
last update Huling Na-update: 2025-09-29 11:03:35

Pria itu tersenyum miring. Jelas, ia mengenali siapa perempuan yang kini berdiri di depannya. Sebelum pertemuan semalam pun, ia tahu siapa perempuan yang berada di bawah kuasanya. Hanya saja, ia tak mengira akan bertemu dengan Cempaka secepat ini.

Sedangkan Cempaka sebisa mungkin menghindari tatapan. Meski menurut hukum tata krama yang dipelajarinya, tidak memperbolehkan seorang putri bangsawan seperti dirinya, mengalihkan pandangan dari seseorang yang tengah berbincang dengannya.

“Senang bertemu dengan Anda, Tuan Putri,” ucap pria itu bersikap sebagaimana pria Belanda pada umumnya.

Ia meraih tangan Cempaka dan mencium punggung tangannya. Senyum tak juga memudar dari wajah pria itu.

Sesaat tubuh Cempaka menengang. Dari sekian banyak pria Belanda yang ditugaskan di wilayah kekuasaan ayahnya, kenapa bisa terjadi kebetulan semacam ini?

Kepalanya mendadak pusing. Ia mual. Adegan tadi malam kembali merasuk dalam benaknya. Semakin ia berusaha melupakan, semakin ia tak sanggup membuangnya begitu saja. Cempaka hampir kehilangan keseimbangan.

“Lastri.” Bukannya menanggapi sapaan sang letnan, Cempaka justru memanggil pelayan pribadinya.

Perempuan yang tak jauh umurnya dari Cempaka itu, mendekat pada sang putri bangsawan.

“Ya, Den Ayu.”

“Bawa aku ke kamar. Kepalaku pusing,” ucap Cempaka pelan.

Lastri dengan cekatan hendak membimbing sang tuan putri meninggalkan pendopo. Namun, mereka tak bisa pergi begitu saja, sebab sang pria Belanda dalam balutan seragam militer itu menahan Cempaka.

“Apa Anda perlu bantuan saya, Tuan Putri?”

Adegan itu sempat mengalihkan perhatian Raden Aryotedjo yang diam-diam mengamati sang putri.

“Apa yang terjadi?” tanya Raden Aryotedjo. Suara ayahnya terdengar heran sekaligus khawatiran.

Teguran itu membuat jarak antara Cempaka dan sang pria merenggang. Cempaka pun menghentikan langkahnya yang hampir meninggalkan pendopo. Tubuhnya bergetar, meskipun ia berusaha untuk tidak memperlihatkan kelemahannya.

Ia menoleh dengan ragu, menatap wajah ayahnya yang penuh otoritas. Raden Aryotedjo melangkah maju, matanya tajam menilai.

“Kepala saya pusing, Ayah. Sepertinya saya tidak bisa mengikuti perjamuan ini lebih lama.”

“Apakah kau tidak tahu tata krama, Cempaka?” Suaranya mengandung nada yang berat.

"Seorang putri bangsawan tidak pantas bertindak seperti itu di depan tamu. Menarik diri begitu saja tanpa sepatah kata untuk menyapa adalah perbuatan yang sangat tidak sopan.”

Cempaka terdiam. Kata-kata ayahnya menghantamnya seperti palu yang memecah ketenangan hati. Dalam hati ia tahu, ia telah melakukan kesalahan besar, meskipun dalam kondisinya yang terpuruk, ia tak mampu bertindak lebih baik.

Lastri menundukkan kepala, memberikan tanda hormat kepada Kanjeng Adipati, tetapi Cempaka tetap diam. Namun, dalam kebisuan itu, sebuah suara lain menyusup ke dalam percakapan.

“Benar, Kanjeng Adipati, putri Anda tampak letih. Sepertinya, dia merasa tidak sehat.” Suara berat yang penuh ketenangan itu berasal dari Letnan Pieter Rembrandt, pria Belanda yang semalam menghantui pikiran Cempaka.

Cempaka mengangkat kepala, tetapi kali ini ia tak bisa menghindari tatapan mata biru itu. Tatapan yang sama seperti semalam. Namun kali ini, ada yang berbeda. Ada kekhawatiran yang tampak samar di wajah pria itu.

Letnan Rembrandt melangkah sedikit lebih dekat, memberi ruang pada Cempaka yang masih terhuyung.

Tak bisa dipungkiri, meskipun matanya yang biru itu menawarkan perhatian yang tulus, Cempaka merasa itu adalah siksaan yang semakin menambah rasa bersalah yang tak tertahankan. Ia berusaha menepisnya, namun tak mampu.

Raden Aryotedjo, yang telah menyaksikan kejadian ini, mendekat dengan langkah berat. Tatapannya penuh selidik, seolah-olah ia mencium bau ketidakwajaran dalam sikap putrinya.

"Letnan," ucap Raden Aryotedjo dengan suara penuh wibawa, "Apakah Anda merasa perlu memberikan perhatian yang lebih dari yang diperlukan kepada putri saya?"

Letnan Rembrandt menundukkan kepala, seolah sadar akan ketegangan yang terbentuk. Namun, senyum kecil tetap terukir di bibirnya, senyum yang Cempaka tahu terlalu penuh makna.

"Saya hanya berusaha untuk memastikan bahwa Tuan Putri dalam keadaan baik. Saya merasa khawatir dengan sikapnya yang tampak begitu tertekan," jawab Letnan itu, suaranya tenang namun penuh penekanan pada kata "tertekan."

"Saya mengerti, Tuan. Tetapi izinkan saya mengingatkan Anda, bahwa ini adalah rumah bangsawan. Tidak semestinya seseorang seperti putri saya dibiarkan dalam keadaan demikian oleh seorang pria asing, meskipun niat Anda baik."

Tatapan tajam Raden Aryotedjo kembali beralih ke Cempaka, dan kali ini, ia menambah tekanan dalam suaranya.

"Aku berharap kamu tidak memberi kesempatan pada diri sendiri untuk merendahkan kehormatan keluarga ini di hadapan orang luar. Apa pun yang terjadi, jaga nama baik kita."

Cempaka menunduk lebih dalam, tak mampu berkata apa-apa. Setiap kata ayahnya adalah jarum yang menusuk hati, menambah berat beban yang kini terpaksa ia tanggung.

Namun, di tempat yang sama, di tengah percakapan yang semakin tegang, ada sosok lain yang memperhatikan dengan penuh perhatian.

Raden Wiratama, calon suami Cempaka, berdiri agak jauh, matanya terfokus pada setiap pergerakan yang terjadi.

Senyum tipis muncul di wajahnya. Lalu, tanpa diketahui siapa pun, ia melangkah pergi dengan langkah tenang.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Pelabuhan Terakhir

    Taman di kediaman Rembrandt tidak pernah sehijau pagi ini. Aroma tanah basah setelah hujan semalam menguap, bercampur dengan wangi bunga kemuning yang mekar di sudut pagar. Cempaka melangkah pelan di jalan setapak berbatu, jemarinya sesekali menyentuh kelopak mawar yang masih menyimpan butiran embun. Di sampingnya, Raden Aryotedjo berjalan dengan tangan tertaut di belakang punggung, langkahnya tidak lagi secepat dulu, namun dagunya tetap tegak dengan martabat yang kini lebih tenang. Pieter memperhatikan mereka dari beranda rumah, berdiri menyandar pada pilar putih besar sambil menyesap kopi terakhirnya. Ia sengaja memberikan ruang bagi ayah dan anak itu untuk menambal lubang-lubang di hati mereka yang sempat koyak. "Ayah akan kembali ke kadipaten sore ini," ucap Raden Aryotedjo memecah kesunyian. Beliau berhenti di bawah pohon kamboja tua, menatap bayangan dedaunan yang menari di atas rumput."Berkat suamimu, kehormatan Ayah dipulihkan dan jabatan itu dikembalikan pada Ayah seba

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Badai Telah Berlalu

    Percakapan hangat di meja makan itu terhenti saat suara derit sepatu bot yang tergesa-gesa bergema di lorong pualam. Sosok Bentley muncul di ambang pintu ruang makan. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak kaku dengan gurat kelelehan yang nyata, namun matanya memancarkan ketegasan seorang prajurit yang baru saja menyelesaikan misi krusial. Ia berdiri tegak, melakukan penghormatan militer sesaat sebelum melangkah mendekat ke arah Pieter. "Mohon maaf mengganggu sarapan Anda, Letnan. Ada kabar penting dari markas pusat dan kurir khusus dari Batavia," ujar Ben dengan suara bariton yang stabil. Ia mengangguk hormat pada Raden Aryotedjo dan Cempaka sebelum meletakkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua di atas meja, sedikit menjauh dari piring nasi liwet. Pieter menyeka mulutnya dengan serbet linen putih, lalu meraih map tersebut. "Katakan, Ben. Tidak perlu ada yang dirahasiakan di meja ini." Ben menarik napas pendek, pandangannya menyapu isi ruangan. "Pembersihan telah sele

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Percakapan di Meja Makan

    Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela jati yang besar di kediaman Rembrandt, membawa serta aroma melati yang basah oleh embun dari taman depan. Di ruang makan utama rumah megah bergaya kolonial itu, suasana biasanya sunyi dan kaku, hanya diisi oleh denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen Delft Blue kegemaran Pieter. Namun pagi ini, udara terasa berbeda—lebih ringan, seolah beban berton-ton yang selama ini menekan atap rumah itu telah diangkat paksa oleh badai semalam. Raden Aryotedjo duduk di salah satu kursi kayu berukir yang biasanya ditempati tamu kehormatan Pieter. Beliau mengenakan beskap harian berwarna gading yang tampak sedikit kontras dengan arsitektur rumah bergaya Eropa tersebut. Rambutnya yang memutih tertutup blangkon dengan lipatan sempurna. Di hadapannya, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis. Tangannya yang mulai keriput memegang koran De Locomotief, namun matanya tidak benar-benar membaca barisan kalimat di sana. Langkah kak

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Pasar Malam

    Cempaka memejamkan mata, namun alih-alih terlelap, benaknya justru berkelana mundur ke masa setahun yang lalu. Ia mencoba memanggil kembali ingatan tentang malam di alun-alun itu. Di bawah dekapan hangat Pieter, narasi suaminya seolah menjelma menjadi mesin waktu yang menariknya kembali ke tengah keriuhan pasar malam Yogyakarta. "Pasar malam itu..." Cempaka bergumam, suaranya parau oleh rasa tidak percaya. "Aku ingat genangan airnya. Hujan baru saja berhenti, dan bau aspal basah bercampur dengan aroma bakaran sate dari kejauhan. "Tapi aku benar-benar tidak melihatmu, Pieter. Bagaimana mungkin seorang perwira Belanda dengan seragam mentereng bisa luput dari pandanganku?" Pieter terkekeh, dadanya naik turun dengan tenang. "Karena aku berdiri di tempat di mana bayangan pohon beringin paling pekat, Mevrouw. Aku tidak ingin merusak suasana. "Kehadiran seragam militer di tengah rakyat yang sedang bersuka cita biasanya hanya akan membawa kecemasan. Aku hanya ingin menjadi penonton mala

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Rahasia Pieter

    Malam semakin melarut, namun kantuk seolah enggan singgah di paviliun utama kediaman Rembrandt. Suara jangkrik di luar jendela terdengar seperti simfoni yang menemani sisa-sisa ketegangan yang perlahan menguap dari dinding kamar. Cahaya lampu minyak yang temaram menari-nari di langit-langit, memantulkan bayangan dua insan yang tengah berbaring bersisian. Mencoba mencari kedamaian di tengah puing-puing badai keluarga yang baru saja reda. Pieter menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati berukir, sementara Cempaka merebahkan kepala di dada bidang suaminya. Jemari Pieter yang kasar namun penuh kasih bergerak ritmis, mengusap helai demi helai rambut hitam Cempaka yang tergerai bebas. "Mevrouw, ada hal yang harus kuakui padamu," ucap Pieter memecah keheningan. Suaranya berat, membawa nada pengakuan yang tulus. Cempaka merasakan getaran di dada Pieter saat pria itu berbicara. Ia mendongak, menatap garis rahang suaminya yang tampak kokoh di bawah cahaya re

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Percakapan Dua Perempuan

    Lampu di paviliun belakang telah diganti dengan yang baru, namun bayang-bayang masa lalu seolah masih melekat di sudut-sudut langit-langitnya. Cempaka melangkah perlahan, melewati ambang pintu tempat kakaknya baru saja diseret keluar. Bau keringat dan ketegangan Pramana mulai memudar, digantikan oleh aroma kayu manis dari tungku kecil yang dibawa Sriah untuk menghangatkan ruangan. Di sudut paviliun, Lastri meringkuk di atas balai-balai. Ia tidak lagi menjerit, namun tubuhnya masih bergetar ritmis. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat, jemarinya mencengkeram kain jarik yang menutupi perutnya yang masih rata. "Mbak Sriah, biarkan kami bicara berdua," ucap Cempaka lembut. Sriah mengangguk patuh, memberikan pandangan iba terakhir pada Lastri sebelum keluar dan menutup pintu dengan suara klik yang pelan. Cempaka tidak langsung mendekat. Ia duduk di kursi kayu dekat balai-balai, membiarkan kehadirannya dirasakan oleh Lastri tanpa tekanan. "Dia sudah pergi, Las,"

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status