LOGIN“Hans? Kenapa kamu datang kemari?” tanya Mayang dingin saat menatap pria bule itu.“Mayang…aku sangat merindukan dirimu dan putri kita, Tiara. Aku datang kemari hanya ingin menemui kalian dan….mengajaknya rujuk,” jawab Hans, mantan suami Mayang yang ketiga.Mayang dan Bimo tersentak saat mendengarnya.“Rujuk? Kamu gak salah bicara mau ngajak aku rujuk? Apa kamu lupa kalau kamu udah ninggalin aku waktu Tiara masih masih usia 3 tahun? Kamu bahkan nggak pernah ngasih nafkah buat anakmu!!” seru Mayang emosi dengan bahu naik turun.Hans bersimpuh di bawah kaki Mayang dengan wajah bersalah. “Maafkan aku, Mayang. Aku terpaksa harus meninggalkan kamu dan Tiara. Aku…saat itu mengalami koma karena kecelakaan. Keluargaku sengaja tidak memberitahukan hal ini padamu karena mereka memang tidak merestui hubungan kita.” Mayang mundur beberapa langkah ke belakang sambil menutup mulutnya sendiri dengan mata berkaca-kaca. “T-tidak mungkin! Kamu pasti bohong Hans! Kamu sama saja seperti dua mantan suami
“Maaf Nona Sella, saya tidak mencurinya. Nyonya Mayang sendiri yang memberikan baju ini kepada saya,” ucap Bimo seraya menghentikan aktivitasnya.“Bohong! Baru juga kerja tapi kamu lancang sekali!! Lepaskan baju itu sekarang juga!!” perintah Sella murka.“Tapi Non…” “Nggak ada tapi-tapian!! Lepas atau angkat kaki dari rumah ini!!” tegas Sella tanpa ganggu gugat.Bimo tidak bisa berkutik lagi dan terpaksa harus menuruti permintaan Sella karena tidak ingin ditendang keluar dari rumah ini. Dia melepaskan kaos polo mahalnya dan memperlihatkan otot sixpack dada bidangnya di hadapan istrinya itu.Mata Sella seolah akan melompat keluar dari tempatnya saat melihat tubuh polosnya yang kekar dan berotot. Wanita itu buru-buru memalingkan wajahnya ke samping dengan wajah memerah.“Ehem! S-sekarang buka juga celananya! Cepat!!” desak Sella.“Iya Nona,” Bimo terpaksa menurunkan celana pendeknya sampai hanya menyisakan dalamannya saja yang membungkus burung perkututnya.Ibu-ibu tetangga yang lagi n
Kesya tercengang saat melihat mereka terlihat intim di atas ranjang. Bimo dengan cepat melepaskan ciuman mereka dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.“AHKKK!! Apa yang kalian lakukan sih!!” teriak Kesya sambil menutup kedua matanya.Tiara buru-buru memakai kembali gaun tidurnya yang tipis lalu mendekati putrinya itu. “Kesya, jangan berisik! Nanti kamu akan membangunkan semua orang di rumah! Udah sana keluar!” Tiara mendorong Kesya keluar dari kamarnya lalu menutup rapat pintunya. Setelah itu Tiara berbalik menatap Bimo yang masih terbaring di atas ranjang.“Maaf ya Bimo, tadi itu anak saya si Kesya. Dia memang suka main nyelonong aja ke kamar,” ucap Tiara tak enak.“Tidak apa-apa, sebaiknya saya keluar saja sekarang. Ini juga sudah tengah malam. Nona pasti capek dan ingin beristirahat,” ucap Bimo sembari menyingkap selimut lalu berdiri dan memakai kembali celananya.Tiara berjalan mendekat dan mengalungkan tangannya di leher Bimo. “Hem iya, terima kasih ya untuk malam ini Bimo
Bimo maju sambil menuntun keperkasaannya yang masih tegang dan mengeras ke pintu goa kenikmatan Tiara lalu menggesekkannya pelan sebelum mendorong pinggulnya.“Uggh…” desah Tiara begitu batangnya Bimo baru masuk setengahnya saja. Dia terus mendorong pinggulnya hingga seluruh batangnya masuk ke dalam rongga kenikmatan Tiara dalam sekali hentakan kuat hingga menabrak mulut rahim wanita itu.“OUHH!! GEDE BANGET!! MILIKKU TERASA SESAK!” pekik Tiara seraya membelalakkan matanya.Bimo mulai menggoyangkan pinggulnya dengan ritme pelan, menikmati setiap denyutan dinding kewanitaan Tiara meremas dan memijat miliknya di dalam sana. Kedua boba adik iparnya itu terguncang kesana-kemari seperti bola basket saat Bimo mempercepat tempo hentakannya.“OUHH!! LEBIH KERAS!! MMMPHHH!!” Bimo langsung membungkam bibir wanita dalam ciuman panasnya. Lidahnya merangsek masuk dan membelit lidah Tiara di dalam sana.Sllrrrpp….slrrrrpp…. slrrrrpp….Saliva mereka sampai berceceran sampai membasahi dagu masing-m
Bimo sedih melihat Tiara menangis seperti ini karena merindukan dirinya. Namun dia tidak dapat berbuat apapun saat ini selain duduk di atas kursi di samping adik iparnya.Kedua bahu Tiara terlihat bergetar saat memunggunginya. Terdengar isakan kecil dari bibir wanita itu, membuat hatinya semakin hancur dan ingin sekali merengkuhnya dengan erat.“Ceritakan bagaimana sosok Pak Bimo di matamu? Kenapa kamu sangat kehilangan dirinya?” tanya Bimo, berharap Tiara akan berhenti menangis.Tangisan Tiara perlahan-lahan mereda. Cukup lama Bimo menunggunya untuk berbicara.“Kak Bimo…dia adalah sosok pria idaman yang selama ini aku inginkan meskipun dia adalah suami kakakku dan lebih mencintai mamaku…”ucap Tiara tanpa menoleh sama sekali ke belakang.Tiara menyedot-nyedot ingusnya beberapa kali. “Kak Bimo memiliki sosis yang sangat jumbo. Tidak ada pria lain yang memiliki batang berurat dan besar seperti dia. Jadi aku tidak akan melakukannya denganmu. Aku hanya mengizinkan Kak Bimo untuk memasuki
Perintah Mayang seketika langsung mematahkan sisa pertahanan Bimo. Rasa canggung dan takut yang dirasakan olehnya kini berganti dengan hasrat membara yang makin tak terkendali.“Baik, Nyonya…” sahut Bimo sambil memegang erat kedua pinggul montok Mayang, menarik tubuh mama mertuanya itu agar lebih merapat ke arahnya, lalu membenamkan miliknya sedalam mungkin.PLOK! PLOK! PLOK!“AAAHHH! SSSHHH!! BIMO!” pekik Mayang tertahan, jemarinya mencengkram erat sprei ranjang saat Bimo menghujamnya brutal dalam posisi menungging.Aroma cairan gairah memenuhi udara kamar, bercampur dengan suara benturan kulit mereka. Mayang merem melek menikmati setiap hentakan dari Bimo. Sensasi hangat dan tebal yang memenuhi goa kenikmatannya membuat tubuh wanita itu gemetar hebat.“Terus, Bimo... gede banget punyamu... genjot terus!” erang Mayang semakin liar, sengaja menggesekkan pantatnya berlawanan arah dengan sodokan Bimo.Bimo makin kesetanan mendengarnya. Kedua tangannya meremas kuat kedua bongkahan pant







