LOGINBimo dan Kenzo melangkah keluar rumah menuju garasi. Bimo mengeluarkan mobil Royce Rolls hitam miliknya dan menyuruh Kenzo untuk naik. ”Naiklah, Kenzo.” “Oke Pa,”baru saja Kenzo masuk dan duduk di samping Bimo, tiba-tiba terdengar suara cemprengnya Bu RT. “Yuhuu Pak Bimo, wah siapa cowok ganteng ini? Adiknya Pak Bimo ya?” tanya Bu RT genit dengan mata tak berkedip. ”Bukan Bu RT, ini anak saya, Kenzo,” jawab Bimo santai seraya memegang setirnya. Bu RT tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya.“Ah Pak Bimo ini suka becanda deh! Orang kemarin saya lihat anaknya masih bayi merah merah gitu, masa sekarang udah jadi cowok tinggi, ganteng, perkasa begini?” “Benar Bu RT, dia adalah Kenzo anak saya. Maaf kami tidak punya banyak waktu. Permisi,” Bimo langsung menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya, menjauh dari tempat Bu RT berdiri sekarang.“Dasar Bu RT, ada cowok bening dikit langsung matanya mau keluar,” gumam Bimo terkekeh saat di dalam perjalanan menuju ke apartemennya Prof. Mal
Tanpa menunggu lama, Bimo langsung mengaktifkan kekuatan dari Keris Jalak Nyarita yang ada di pergelangan tangannya. Cahaya keemasan memancar dan mengalir ke seluruh aliran darahnya. Mayang dan para tim medis yang ada disana sampai harus menutupi mata karena tidak tahan dengan kilau cahaya yang menusuk mata mereka. “AHKK!!” teriaknya saat tubuhnya berubah menjadi keras sekeras tembaga. Setelah dia berhasil bertransformasi, dia segera menggendong Baby Kenzo dan membawanya keluar dari ruang UGD. “Bimo!! Mau dibawa kemana Baby Kenzo?! Dia harus mendapatkan penanganan dari Dokter secepatnya!” teriak Mayang seraya berlari mengejar Bimo dari belakang. “Tenang saja Ma, aku janji Baby Kenzo akan baik-baik saja!” Bimo mempercepat langkahnya menuju ke arah taman yang berada di Rumah Sakit ini. Di taman itu, ada sebuah danau kecil yang diterangi oleh lampu-lampu hias di sekelilingnya. Saat Bimo akan menaruh tubuh bayinya disana, Mayang dengan cepat menahan lengannya. “Bimo! Apa yang kamu
Saat sedang enak-enaknya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang cukup keras dari luar. Tok! Tok! Tok! “Mama! Apa Mama ada di dalam?!” tanya Sella di luar dengan nada panik. Bimo reflek menghentikan genjotannya dengan nafas terengah-engah dan keringat bercucuran membasahi tubuhnya. “I-iya Sella, ada apa?” tanya Mayang seraya mengatur nafasnya. “Kenzo Ma! Dia demam tinggi!” jawab Sella membuat Bimo dan Mayang terkejut saat mendengarnya. Mereka berdua buru-buru memakai baju. Milik Bimo bahkan masih keras dan tegang saat dia memakai celana pendeknya. Setelah itu Mayang lebih dulu bangkit dari ranjang lalu membuka pintunya lebar. Ceklek!Terlihat di depan pintu Sella terlihat panik seraya menggendong Baby Kenzo yang tengah menangis keras. “Oek!! Oek!! Oek!!” “Kenzo!!” pekik Mayang sambil mengambil Kenzo dari gendongan Sella.”Tubuhmu panas sekali Sayang! Bukankah tadi dia baik-baik saja?!” “Nggak tau Ma! Tiba-tiba tadi Baby Kenzo terbangun di sampingku sambil menangis. Saat aku
Sesampainya di dalam kamar, Bimo langsung menutup pintu dengan tumit kakinya. Setelah itu, Bimo menurunkan tubuh Mayang ke atas ranjang secara perlahan. Bruk! Tubuh Mayang kini terlentang diatas ranjang. Bimo ikut naik dan mengukung tubuh montok mama mertuanya itu. ”Coba Mama rasakan lagi milikku ini,” ucap Bimo seraya meraih tangan lembut Mayang dan menuntunnya kembali memegang tonjolan dibalik celananya. “Bayangkan saat sisik naga ini memenuhi liang sempitnya Mama.” Pipi Mayang semakin memerah seperti tomat saat telapak tangannya kembali bersentuhan keperkasaan Bimo yang memiliki bertekstur bergelombang menyerupai sisik namun lentur. ”Nggghh... Bimo…” lenguh Mayang, memejamkan mata seraya meremas lembut tonjolan itu. “Ini... terasa kenyal dan keras... Ahh, Mama udah nggak sabar, Bimo. Buka celanamu sekarang, Sayang…” Tanpa membuang waktu, tangan Bimo bergerak cepat melonggarkan gespernya lalu melucuti celananya dan membebaskan keperkasaannya yang sudah tegang sempurna b
“Ah, itu tadi aku baru saja habis menelpon Ma,” jawab Bimo beralasan. “Ohh gitu. Ayo masuk ke dalam, udaranya dingin banget loh,” ajak Mayang. “Sana masuklah cucuku. Gunakan kekuatan Sisik Naga dengan mama mertuamu,” ucap Datuk seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah Bimo. Bimo hanya bisa tersenyum masam, tak menanggapi perkataan Kakek mesum itu. Lalu dia melangkah masuk ke dalam rumah bersama Mayang. Malam ini Mayang terlihat sangat cantik dan seksi. Wanita itu menggamit lengannya hingga sebelah bukit kembarnya tertekan di sana. Rasanya benar-benar lembut dan empuk seperti permen kapas. “Bimo, kamu dari mana saja? Tumben kamu pulang selarut ini,” tanya Mayang seraya berjalan menyandarkan kepala di bahu Bimo. “Maaf, aku lupa mengabari Mama kalau hari ini ada pekerjaan mendadak. Daya ponselku juga mati dan aku lupa membawa charger,” jawab Bimo kembali berdusta. “Pantas saja tadi Mama telepon gak diangkat. Mama benar-benar khawatir kalau terjadi sesuatu sama kamu di jalan. Kam
Bimo mengutuk Datuk di dalam hatinya. Bisa-bisanya Kakek tua bangka itu mengerjainya dan membuatnya terpaksa harus bersembunyi di bawah ranjangnya Bu RT dan Pak RT. “Ayolah Bu, bentar saja 10 kali celup,” ajak Pak RT dengan nada memelas bagai musang birahi yang belum kawin selama satu bulan. “Ck, ganggu saja! Yaudah tapi cepetan ya jangan pakek lama. Ambil pelumas dan tisu sana!” suruh Bu RT galak. “Oke! Siap laksanakan!” seru Pak RT girang seraya bersiul. Pak RT cepat-cepat turun dari ranjang lalu mengambil pelumas dan tisu yang tergeletak di atas meja. Kemudian, pria itu kembali mendekat ke ranjang lalu bergegas melepaskan celananya hingga jatuh ke bawah lantai. “Ayo Bu, kita gas malam ini! Yuhuuu joni Bapak datang!” Pak RT langsung melompat ke atas ranjang dan langsung tancap gas di atas sana. Bimo dapat merasakan ranjang sedikit bergoyang-goyang, namun tak terdengar suara desahan Bu RT sama sekali. “Hah…hah… hah… enak kan Bu?” tanya Pak RT terengah-engah.Bu RT terdengar me







