Share

Bab 59 Merawat Bimo

Author: Sora Archery
last update publish date: 2026-03-22 20:38:09
Suasana UGD mendadak riuh saat brankar Bimo didorong masuk dengan tergesa-gesa. Perawat sibuk memasangkan masker oksigen dan monitor jantung dengan frekuensi cepat dan tak beraturan.

​Di sudut lain, dr. Sarah baru saja menyelesaikan visit pasien, menghentikan langkahnya. Mata wanita itu tak sengaja melihat sosok pria yang baru saja masuk.

​"Tunggu! Itu Bimo?" gumam Sarah tak percaya.

​Tanpa membuang waktu, Sarah berlari menghampiri brankar itu. Wanita itu melihat wajah Bimo yang babak belu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (8)
goodnovel comment avatar
ida sari
waduh malah ketauan Vanya dan Anto,mau jawab apa Bimo coba .
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
napa datang ngga ketuk pintu dl sih ngga sopan si anto ini
goodnovel comment avatar
Iin iin
mau cerai tapi tkt hubungan mu dan Mayang kebongkar kan. tahan aj dlu Bimo
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 567

    Baru saja Bimo akan melangkah keluar, tiba-tiba saja si gondrong mengambil besi tajam yang tergeletak di atas papan catur lalu menusuk perutnya sendiri di hadapan Bimo.CRRRT!! “Gondrong!! Apa yang kamu lakukan?!” pekik Bimo dengan mata terbelalak tak percaya.Si gondrong langsung jatuh ambruk dengan mulut mengeluarkan darah segar yang cukup banyak. Bimo segera menghampiri si gondrong dan memapah kepala pria itu atas pahanya dengan mata berkaca-kaca.“B-Bimo….m-maaf. A-aku tidak bisa membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri. A-aku juga sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Tidak ada satupun orang yang akan merindukan aku…t-tapi kamu masih memiliki keluarga. Kamu harus kembali Bimo,” ucap si gondrong dengan susah payah.Bimo tak dapat menahan air mata saat nyawa teman satu selnya itu berada di ujung tanduk. “Kamu harus bertahan gondrong. Kamu sangat berarti untukku, kamu adalah keluargaku.” Si gondrong berusaha tersenyum sambil menggenggam erat tangan Bimo. “Terima kasi

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 566 Air Susu Dibalas Air Tuba

    “Gondrong, bawa si cupu melompat ke petak F3! Sekarang!” perintah Bimo dengan nada lantang.Tanpa banyak membuang banyak waktu, si gondrong langsung mencengkram lengan si cupu dan menyeretnya melompat jauh ke petak F3. Di saat yang sama, pria berotot di petak C3 terbelalak saat melihat patung Kuda berukuran besar itu meluncur ke arahnya, pria itu nekat melompat menerobos garis petak D1 demi menyelamatkan diri.”Untung selamat,” batin si pria berotot.Bimo yang masih berdiri di tempatnya langsung memutar tubuhnya dan memberikan tendangan keras tepat ke dada pria berotot tersebut di udara.BUG!! ”AHKKK!!”Pria berotot itu terpental ke belakang hingga tubuhnya terbanting keras tepat di atas petak C3. Belum sempat untuk bangkit, patung Kuda besi meluncur sangat cepat dan menghantam tubuhnya hingga terlindas.KRASSS!! Darah pria itu menyiprat deras membasahi lantai catur. Suara remukan tulang terdengar nyaring di telinga mereka. Bimo dengan cepat melompat menyamping melintasi jalur p

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 565 Permainan Catur

    Musik instrumen terdengar jelas dari pengeras suara dan memenuhi seluruh ruangan aula. Suara detak jarum jam digital berukuran raksasa di atas tribun mulai berhitung mundur 30 menit dari sekarang.“Bimo! Mereka berdua mulai bergerak!” tunjuk si gondrong seraya menunjuk ke arah dua tahanan yang sempat memberikan tatapan permusuhan pada mereka bertiga.Dua tahanan tersebut melangkah cepat memasuki papan catur, mengambil posisi di petak hitam nomor C3 dan C4. Pria berotot dengan bekas luka melintang di pipi menoleh ke arah Bimo, menyeringai penuh ancaman sambil membuat gerakan memotong leher dengan jarinya.“Kalian bertiga ambil petak di depan kami kalau berani! Kita lihat siapa yang bakal duluan dilindas patung-patung ini. Ahahahaha!” tantang pria berotot itu sambil tertawa terbahak-bahak.Kedua lutut si cupu terlihat gemetar. “B-Bimo, petak mana yang aman? A-aku tidak mau mati Bimo…” Bimo tak menyahut gertakan pria berotot itu.. Matanya bergerak cepat menatap petak papan catur itu sec

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 564 Permainan Terakhir

    Kesadaran Bimo langsung pulih begitu Bu Maya melepaskan hisapannya di bawah sana. Dia dengan cepat menarik celananya ke atas.“Maaf tidak seharusnya kita melakukan hal ini,” ucap Bimo merasa bersalah karena sudah membayangkan Bu Maya sebagai Mayang, mama mertuanya. Meskipun wajah mereka sama, tapi tetap saja mereka adalah orang yang berbeda.“Why? Apakah ada wanita lain dihatimu tahanan 001?” tanya Bu Maya dengan nada bergetar, menahan air matanya.“Iya,” jawab Bimo jujur. “Dan wajah kalian sangat mirip.” Bu Maya mengangkat wajahnya yang terlihat memerah. “So, kenapa kamu tidak anggap aku adalah wanita itu? Dia mungkin sudah melupakanmu tahanan 001. Meskipun nanti kamu berhasil mendapatkan kebebasan, bukan berarti kamu bisa kembali ke keluargamu lagi!”Kening Bimo mengernyit saat mendengarnya. “Apa maksudmu?” Sebelum Bu Maya sempat menjawabnya, terdengar suara ketukan pintu yang amat keras mengejutkan mereka berdua.TOK! TOK! TOK! “Tahanan 001?! Apa Anda ada di dalam?! Cepat keluar

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 563 Siapa Yang Membuntingi Dian

    Hari yang dinantikan oleh Bimo telah tiba. Akhirnya sebentar lagi dia akan melihat keluarganya sejenak. “Tahanan 001, waktumu hanya 10 menit,” panggil Bu Maya seraya membuka pintu sebuah ruangan.Tanpa banyak bicara, Bimo langsung masuk ke dalam ruangan gelap itu. Ada seberkas cahaya putih yang memancar dari sebuah layar berukuran 150x150. Setelah pintunya tertutup rapat, Bimo menduduki sofa empuk yang ada disana. Layar tersebut mulai berputar menampilkan potongan video kediaman rumahnya.Disana Bimo terbelalak saat melihat Lilis dan Dian bunting berjamaah. “Loh siapa yang membuntingi Dian?!” serunya kaget dengan mata terbelalak. Seingatnya Dian selalu pakai KB. Kenapa Dian bisa bunting? Apa mungkin kebobolan?Tak lama kemudian, terlihat Kenzo yang tampak tampan dan dewasa mengenakan setelan kantor datang mendekati kedua wanita itu dan memberikan ciuman di pipi mereka masing-masing.“Sayang-sayangku. Jaga anak kita ya. Aku harus berangkat ke pabrik sekarang,” ucap Kenzo begitu mani

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 562

    Bimo memejamkan kedua matanya dengan erat saat tebasan tak kasat mata itu menuju ke arahnya. Namun, si gondrong dengan cepat berdiri di hadapannya dan menahan tebasan itu dengan menggunakan sebuah rantai besi tua. Kaki si gondrong sedikit bergeser ke belakang karena sudah tidak kuat lagi menahan dorongan makhluk tak kasat di depannya.“Bimo!! Cepat lakukan sesuatu! Aku sudah tidak bisa menahannya terlalu lama!” teriak si gondrong dengan keringat bercucuran yang membasahi seluruh tubuhnya. Rahangnya mengeras dan urat-urat wajahnya juga keluar.Tangannya tak sengaja meraba pasir di bawahnya. Tanpa ragu, Bimo menggenggam pasir itu dalam sekepalan tangan lalu melemparkannya tepat ke arah makhluk tak kasat mata yang ada di depan si gondrong.SRAK!! Pasir itu mengenai tubuh sesosok monster bertubuh raksasa dan memiliki dua tanduk yang sangat besar di atas kepalanya seperti seekor banteng. Mata makhluk itu menyala merah dan menggeram seolah siap untuk kembali menerkamnya.“AHKKK!!” teriak s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status