LOGINTangan Bimo bergetar saat melihat berita tersebut. Prof. Malik dan Nathan bisa kabur dari penjara Singapore yang memiliki tingkat keamanan yang berlapis. Kok bisa? Mayang yang sudah berganti pakaian berjalan mendekatinya. “Bimo? Ada apa? Kenapa wajahmu pucat?” Bimo dengan cepat menyimpan kembali ponselnya dan langsung mengalihkan pembicaraan. “Bukan apa-apa, kamu sudah cocok dengan gaun tadi?” “Udah Sayang. Tadi aku cuma minta bagian dadanya dijahit dikit biar melonku ini nggak kemana-mana. Ayo kita pulang, aku udah laper,” ajak Mayang.“Oke Sayang,” Bimo berdiri dari duduknya lalu keluar dari Butik itu bersama Mayang.Mayang merangkul lengannya dengan erat bagaikan sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta.Setelah hampir seharian menemaninya Mayang, Bimo memberitahukan tentang kaburnya Prof.Malik dan Nathan pada Baskoro di rumahnya.“Bas, apa kamu sudah lihat berita kaburnya mereka dari penjara?” “Sudah, Bim. Aku baru saja dapat laporan langsung dari jaringan intelijen sejam
“Di balkon? Kalau ketahuan bagaimana?” tanya Bimo khawatir.“Sekarang sudah dini hari. Sepertinya nggak akan mungkin orang bakalan lewat di jam segini. Apalagi ini di tengah kebun teh,” ucap Baskoro seraya melirik jam dinding yang telah menunjukkan pukul 12 lewat.“Baiklah, ayo kita main di sana,” ajak Bimo.Akhirnya mereka berpindah ke balkon lantai 2 yang berada dekat dengan kamar utama. Hawa dingin menerpa kulit mereka saat angin malam berhembus. Mayang dan Angel berpegangan di pinggir pagar agar tidak terjatuh. Kedua wanita itu sedikit menunggingkan pantat mereka agar mudah untuk dimasuki.Bimo memegang erat pinggang ramping Angel lalu kembali menenggelamkan batangnya di lubang hangat Angel dalam satu hentakan kuat.JLEB!! “Sssshhh….” Bimo mendesis nikmat begitu kehangatan dan kelembutan dinding kewanitaan Angel kembali menyelimutinya.“Ahhh!!” pekik Angel hingga suaranya menggema ke seluruh kebun teh.Bimo dengan sigap membekap mulut Angel agar tidak berteriak lagi.“Jangan ter
Belum sempat Bimo bicara, Mayang sudah lebih dulu menjawabnya.“Itu bukan ide yang buruk. Gimana Bimo? Kamu setuju kan?” tanya Mayang seraya memegang lengannya.Bimo sedikit berdehem pelan. “Baiklah kalau Mama maunya begitu. Ayo kita lakukan.” Kebetulan Sekar dan Ayu sudah balik ke rumah mereka masing-masing karena hari ini adalah hari Minggu. Jadi mereka tidak perlu khawatir jika kedua pembantu itu memergoki mereka nantinya.Mayang kini berpindah duduk di atas pangkuan Baskoro sementara Angel duduk di atas pangkuan Bimo.Baskoro memberikan remasan lembut di pantatnya Mayang yang semok.”Sudah lama aku tidak memasukimu, Mayang. Tempikmu benar-benar nikmat meskipun sudah beranak berkali-kali. Tidak kalah dengan perawan.” Mayang menggoyangkan pantatnya hingga gundukan kejantanan Baskoro masuk di belahan pantatnya. “Kamu pandai sekali bicara Baskoro. Tunjukan keahlian dari bibir manismu ini. Sambut lidahku, Sayang.” Baskoro tanpa ragu memajukan wajahnya dan memberikan ciuman panas dan
Jantung Bimo berdegup kencang saat para ibu-ibu yang mencuci tadi kembali memperhatikan mereka. “Eh Sekar! Kenapa kamu diem aja sih? Apaan yang anget dan enak?!” tanya Bu Siti lagi.“Ah itu aku nggak enak badan, badanku anget jadi Tuan Bimo mijitin aku deh. Enak banget pijatannya,” jawab Sekar ngasal.“Kalau nggak enak badan ngapain berendam di sungai Sekar! Cepatan keluar nanti kamu nambah sakit!” timpal ibu-ibu yang lain.Namun, Bimo belum puas menikmati jepitan tempik Sekar. Dia kembali menggoyangkan pinggulnya tanpa memperdulikan tatapan ibu-ibu disana. “OUHH TUAN! ENAK BANGET OUHH!!” pekik Siti tanpa tahu malu.“Wah, majikan kamu baik banget ya mau mijitin kamu di kolam. Bininya nggak cemburu lagi,” puji Bu Siti seraya melirik Mayang yang tak jauh dari mereka.“Saya senang melihat calon suami saya sangat memperhatikan pembantu. Namanya pembantu juga manusia juga toh ibu-ibu,” jawab Mayang ramah.“Sekar dan Ayu beruntung banget ya dapat majikan baik dan kagak cemburuan. Padahal
Hari kedua menikmati tempik Sekar dan Ayu yang sepet-sepet mampus memijat dan menelan batang Bimo hingga tetes terakhir. Kali ini mereka tidak genjotan di kamar melainkan di sungai.Kebetulan semua ibu-ibu sudah habis nyuci dan mandi. Jadi mereka bisa genjotan tanpa takut ketahuan warga. Mayang berjaga-jaga agar tidak ada orang yang memergoki mereka sambil merekam aksi Bimo menikmati dua lubang wanita desa secara bergantian di atas batu besar.“Gimana Bimo? Bagaimana rasa lembah madu mereka di sungai seperti ini?” tanya Mayang sambil melihat ke sekitarnya.“Rasanya lebih legit dan menjepit Ma,” jawab Bimo tanpa mengurangi kecepatan pompaan batangnya di dalam lubangnya Sekar sementara dua jari besarnya mengocok goa kenikmatan Ayu.“Ouhhh enak banget Tuan. Sodok terus!!” desah Sekar dan Ayu bersamaan.“Stttt, jangan kencang-kencang! Nanti ada yang dengar,”Bimo langsung merunduk, merapatkan dada bidangnya ke dada montok Sekar lalu membungkam bibir wanita itu dengan ciuman panasnya. Slrr
“Aduh gimana ini?! Ada Kang Didin datang ke Villa ini!! Aku lagi nggak pakai baju pula!!” seru Sekar panik.“Cepat kalian ke kamar dan pakai daster. Biar aku saja yang menemui suamimu di depan,” perintah Bimo.“Baik Tuan!” sahut Sekar dan Ayu sebelum ngacir ke kamar mereka masing-masing.Bimo meneguk minumannya sekali lagi sebelum bangkit lalu melangkah keluar dari Villa. Sesampainya di depan, dia melihat seorang pria berumur 40 tahunan, memiliki kulit sawo matang, tinggi sekitar 165 cm, berkumis agak tebal, dan tubuh agak berisi turun dari motor lalu berjalan menghampirinya.“Permisi Tuan, maaf mengganggu pagi-pagi. Saya kemari mau cari istri saya, Sekar,” ucap Kang Didin sopan.“Sekar masih ada di dalam nyuci piring. Sebentar lagi di keluar,” kilah Bimo dengan cepat.Tak lama kemudian Sekar datang lengkap dengan mengenakan daster batik terusan panjang di tubuhnya.“Kang Didin ngapain datang kemari?” Sekar hari Minggu baru balik ke rumah,” tanya Sekar seraya berjalan tergopoh-gopoh m







