登入Adam mengepalkan tangannya begitu erat mendengar makian Mira yang pandai bersilat lidah. Amarah yang membakar dadanya beradu dengan kepanikan yang teramat sangat membayangkan kondisi Adel yang kritis di UGD. Tuduhan keji Mira yang diteriakkan lewat telepon tadi tak hanya mencoreng kehormatannya, tetapi juga memutarbalikkan kenyataan secara membabi buta."Wanita iblis..." geram Adam dengan rahang mengetat keras, matanya memerah menahan napas yang memburu. "Dia benar-benar ingin menghancurkanku!"Alya, yang berdiri tepat di samping ranjang, memegang lembut lengan Adam. Sentuhan jemari Alya yang hangat perlahan meredakan guncangan hebat di tubuh pria itu."Pak Adam, tenanglah..." bisik Alya halus, berusaha menetralkan emosi Adam. "Fokus Bapak sekarang hanya Adel. Jangan biarkan emosi memakan akal sehat Bapak sebelum sampai di sana."Adam menoleh, menatap Alya dengan pandangan sarat akan rasa terima kasih dan bersalah. Ia mengangguk pelan. "Aku harus ke rumah sakit sekarang, Alya."
Dini hari yang dingin merayap makin pekat di dalam rumah tua Marni. Dari dalam kamar belakang yang gelap dan pengap, suara rintihan Adel tidak lagi terdengar sebagai tangisan nyaring, melainkan hembusan napas pendek-pendek yang amat lelah dan halus.Di atas kasur kusam tanpa selimut yang hangat, tubuh mungil anak berusia lima tahun itu menggigil makin hebat. Wajah Adel melenyapkan warna rona merahnya, berganti menjadi pucat pasi dengan bibir kering pecah-pecah yang membiru. Ketika Marni masuk ke dalam kamar untuk mengambil sapu pada pukul tiga pagi, ia tersentak saat melihat mata Adel memutar ke atas, sementara tubuhnya mulai kejang-kejang kecil akibat demam tinggi yang terus melonjak tanpa penanganan medis."Mira! Mira, bangun!" teriak Marni panik, menepuk-nepuk pipi putrinya di kamar sebelah. "Anak ini kejang-kejang! Tubuhnya panas sekali bagaikan dibakar!"Mira yang terbangun dengan wajah kesal langsung membelalak kaget. Ketakutan menyergap dadanya, bukan karena rasa kasih sayan
Malam kian melarut, merayap menembus dinding-dinding rumah tua keluarga Marni. Di dalam ruang tamu yang remang, Marni berjalan mondar-mandir dengan gelisah, sesekali melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Setiap kali terdengar suara kendaraan melintas di depan rumah, ia refleks menoleh cepat ke arah jendela, berharap itu adalah langkah kaki Adam yang datang membawa kepanikan.Namun, jalanan di luar tetap lengang. Tidak ada tanda-tiga kedatangan Adam sama sekali."Kenapa pria konyol itu belum muncul juga?!" bentak Marni dengan suara tertahan namun penuh amarah. Ia memutar tubuhnya, menatap Mira yang sedang bersandar di sofa sambil mengikir kuku jarinya. "Harusnya saat ini dia sudah menggedor pintu kita sambil berlutut memohon agar Adel dikembalikan!"Mira melirik ibunya malas, meski di dalam dadanya mulai merayap rasa kebingungan yang sama. "Mungkin dia masih sibuk mencari uang ganti rugi atau bingung mau tinggal di mana, Bu. Tadi kan di kosannya mereka suda
Napas Adam memburu di ceruk leher Alya, menghantarkan hawa hangat yang membuat seluruh tubuh Alya meremang hebat. Di dalam kamar hotel melati yang temaram itu, gesekan kain dan keheningan yang menghimpit seolah melipatgandakan desakan emosi yang selama ini terpendam. Adam, yang berada di puncak rasa frustrasi, lelah, dan kesepian akibat pengkhianatan Mira, tak lagi mampu membendung gejolak insting prianya di hadapan wanita yang menjadi satu-satunya tempat ia bersandar."Pak Adam... Tolong, ingat situasi kita... Jangan begini..." desis Alya terbata-bata. Jemari tangannya yang gemetaran menahan dada bidang Adam, mencoba memberikan jarak di antara tubuh mereka.Namun, Adam seakan tuli oleh pusaran gairah dan rasa butuh yang mendalam. Dekapan tangannya di pinggang Alya justru makin mengerat, mengunci pergerakan wanita itu hingga tak ada celah untuk menghindar. Pria itu menyusupkan wajahnya makin dalam, menyesap aroma harum yang terbayang dari leher Alya, lalu mengecup garis rahang wanit
Sore mulai berganti remang ketika Adam dan Alya berhasil menemukan penginapan baru. Pilihan mereka jatuh pada sebuah hotel melati berbiaya murah yang terletak di pinggiran kota—tempat bersahaja yang tidak menerapkan aturan ketat atau proses administrasi yang berbelit-belit. Setelah menaruh koper dan tas pakaian mereka di sudut ruangan, Alya berdiri mematung di dekat jendela, menatap bayangan senja yang perlahan memudar.Rasa penasaran yang mengganjal di dadanya sejak di jalan akhirnya tak sanggup ia tahan lagi. Alya membalikkan badan, menatap Adam yang sedang duduk di tepi ranjang seraya menyisir rambutnya yang berantakan dengan jemari lelah."Pak Adam..." panggil Alya pelan dari balik maskernya. "Kenapa tadi Bapak tidak langsung pergi ke rumah Bu Mira untuk menjemput Adel? Bukankah makin lama Adel di sana, makin kasihan kondisinya?"Adam menengadahkan kepala, menatap Alya dengan pandangan yang dalam namun sarat akan kelelahan emosional. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskan
Layar telepon pintar di atas meja kerja Adam menyala, menampilkan nama 'Alya' di layarnya. Dengan senyum tipis yang mendadak terulas di bibirnya, Adam menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai itu ke telinganya. Rasa lelah akibat tumpukan berkas Direktur Utama seolah menguap begitu saja."Halo, Alya? Ada apa? Bagaimana keadaan Adel?" tanya Adam dengan suara lembut.Namun, tidak ada nada tenang dari seberang telepon. Yang terdengar justru bisikan hembusan napas terengah-engah dan nada suara Alya yang bergetar hebat dipenuhi kepanikan."P-Pak Adam... Pak Adam harus segera pulang... Adel... Adel dibawa pergi secara paksa!"DEG!Darah dalam tubuh Adam serasa berhenti mengalir seketika. Senyum di wajahnya lenyap, digantikan raut pucat pasi. "Apa maksudmu, Alya?! Siapa yang membawa Adel?!""Bu Mira dan ibunya, Pak..." jawab Alya patah-patah, suaranya terdengar begitu terpukul. "Mereka mendatangi penginapan ini, menghasut Ibu Kos hingga kami diusir. Bu Mira menyeret Adel yang sedang







