เข้าสู่ระบบ
“Tidak, ini gila… sungguh gila…” Naya duduk di pinggir ranjang hotel sambil mencengkram permukaan sprei yang lembut.
Di hadapannya, jendela hotel yang besar menampilkan pemandangan malam yang indah. Lampu-lampu dari gedung pencakar langit yang mengelilinya terlihat spektakuler sebenarnya. Wangi lembut dari aroma terapi juga menyebar ke seluruh sudut kamar yang seharusnya bisa membuat Naya tenang.
Namun kenyataannya dadanya seakan mau meledak. Keringat dingin membasahi kedua telapak tangannya.
“Kamu menyerahkan tubuhmu padaku untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu yang hampir bangkrut!”
“Jadi, apa bedanya kalau kamu tidur dengan pria lain, sama-sama untuk menyelamatkan perusahaan keluargamu dan aku bisa menyelamatkan reputasiku?”
“Dasar perempuan redahan.”
Ucapan-ucapan suaminya itu tiba-tiba berkelebat lagi di dalam kepalanya. Mengingatnya hanya membuat hati Naya terluka semakin dalam, tetapi entah kenapa perkataan menyakitkan itu seperti lem yang merekat erat dalam memorinya.
Lantas pintu kamar hotelnya membuka pelan. Napas perempuan tiga puluh tahun itu pun tertahan. Rasanya dia ingin kabur dari ide gila suaminya, namun sepertinya semua sudah terlambat.
“Maaf, Nyonya,” Ardi, pria bertubuh tegap itu muncul dari balik pintu. Bahu lebarnya dibalut kemeja putih yang sedikit kusut dengan lengan yang digulung hingga ke siku. Rambut hitam pria itu nampak tersisir rapi. “Saya disuruh Tuan Arman menemui Nyonya di sini. Sungguh, saya tak bermaksud bersikap lancang.”
Suara Ardi mengalun berat dan lembut. Dia berdiri canggung di ambang pintu dengan pandangan yang tertuju ke karpet kamar karena tak berani menatap majikan barunya ini.
Naya berusaha bersikap wajar sambil menghela napas pelan. Dia lalu mulai memperhatikan supir barunya.
“Tidak perlu sungkan. Masuklah.” Naya menukas santai.
Ardi melangkah dengan ragu. Dan sekarang mereka hanya tinggal berdua di dalam kamar hotel.
Jelas terlihat, Ardi menjaga jarak sejauh mungkin dari majikan wanitanya itu.
Jantung Naya berdenyut begitu cepat. Setelah menghitung sampai tiga dalam hati, wanita itu bangkit.
Wangi Naya menguar di kamar hotel yang cukup besar ini, menusuk ke dalam hidung Ardi yang memantik bulu-bulu di tubuhnya jadi sedikit meremang.
“Apa kamu tahu kenapa Arman menyuruhmu menemuiku di sini?” Naya kembali menelusuri wajah Ardi, yang sebenarnya untuk ukuran seorang sopir, ketampanan pria itu bisa dikategorikan di atas rata-rata. Bahkan tanpa tersenyum pun, kedua lesung pipi Ardi sudah nampak.
“Tidak, Nyonya.” Ardi terus menunduk sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dengan sopan.
Naya tersenyum kecut. “Ah… Jadi, dia tak memberitahumu. Kamu tahu, awalnya aku juga mempertanyakan hal yang sama. Kenapa suamiku menyuruhku tinggal di sini dan menunggu kedatanganmu.”
Tiba-tiba Ardi mendongak dan tatapan mereka pun langsung beradu. Cepat-cepat, Naya mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Wanita itu bersedekap sambil mengembuskan napas panjang keputusasaan.
Keheningan menguar beberapa saat. Sampai akhirnya, Ardi memberanikan diri untuk bertanya.
“Jadi… saya harus mengantar Nyonya pulang sekarang?” Suara Ardi terdengar ragu.
“Kuharap begitu. Tapi tidak. Bukan itu perintahnya,” tandas Naya, menarik napasnya dalam-dalam sambil memejamkan mata sejenak.
Kesepakatan gila bin konyol suaminya kembali berputar di kepalanya. Kesepakatan yang membuat hati Naya terluka dalam. Tetapi pada akhirnya dia tak bisa berbuat banyak selain menjalankan kesepakatan itu.
“Kalau begitu, apa perintahnya, Nyonya?” Ardi memiringkan kepalanya dengan heran. Semakin lama dia berada di sini, dia semakin tak nyaman. Ingin rasanya pria itu ingin cepat-cepat balik badan dan keluar dari kamar hotel yang menyesakkan ini.
Bagaimana tidak menyesakkan? Dia berusaha menahan dirinya untuk tak berpikiran macam-macam karena harus berhadapan dengan majikannya yang mengenakan gaun hitam yang begitu terbuka.
Gaun hitam itu dengan jelas memperlihatkan lekukan tubuh Naya yang menawan. Bagian atasnya membelah begitu rendah yang membuat mata lelaki pasti tertuju ke sana.
Rambut indah Naya disanggul ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang menggantung di lehernya yang jenjang.
Sejujurnya, sedari tadi Ardi berusaha menghempaskan pikiran kotor yang bercokol di benaknya. Walau bagaimanapun, Naya adalah majikan barunya dan dia tak boleh berpikiran macam-macam.
“Duduklah,” titah Naya yang membuat dahi Ardi mengernyit semakin dalam. “Tidak, tidak… bukan di sofa itu tapi di pinggir ranjang.”
Walaupun permintaan majikannya terdengar aneh, namun Ardi tetap menurutinya. Dia duduk di pinggir ranjang dengan canggung.
Sementara itu, Naya masih berdiri di depan jendela, membelakangi Ardi. Punggung Naya yang terekspos dari balik gaunnya yang minim itu membuat Ardi menelan ludahnya pelan. Secepat kilat, Ardi menundukkan pandangannya.
Tanpa Ardi sadari, jantung Naya berdentum semakin keras. Perasaan bimbang itu terus menggelayuti dirinya. Haruskan dia menjalankan kesepakatan gila Arman, atau menyudahinya saja?
Entahlah, kepala Naya kini berdenyut pening.
“Kamu…” Naya memutar tubuhnya. “Orang yang terpilih. Bukan hanya sebagai sopir pribadiku tapi juga…” Naya menjeda kalimatnya sesaat. Sungguh, dia tak sanggup untuk mengatakan ini.
“Tapi juga apa, Nyonya?” Tanya Ardi penasaran. Dia menelengkan kepalanya sambil terus menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir merah itu.
“Tapi juga sebagai pria pengganti,” tandas Naya pada akhirnya.
“Maaf, Nyonya. Tapi saya benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Pria pengganti?” Ujung hidung Ardi nampak mengernyit. “Apa maksudnya dengan pria pengganti?”
“Jadi, kamu harus menggantikan apa yang suamiku tak bisa berikan untukku,” balas Naya yang semakin membuat Ardi tenggelam dalam kebingungan. “Arman ingin aku segera hamil.”
Naya bergerak pelan ke depan Ardi. Setiap langkah yang dia ambil terasa begitu berat. Dia tak ingin melakukan ini! Namun entah kenapa tubuhnya tetap bergerak maju.
“Nyo-Nyonya… saya sungguh tidak–”
“Jangan panggil aku dengan sebutan Nyonya,” sela Naya cepat. “Ketika kita sedang berdua seperti ini, panggil aku Naya saja. Toh, kalau aku tak salah dengar dari Arman, kita seumuran.”
Bibir Ardi mengatup rapat. Kini pria itu memberanikan diri menatap mata coklat Naya yang menyorot sendu. Seperti ada kesedihan mendalam di balik sepasang mata indah itu, pikir Ardi.
“Arman menginginkan seorang anak tapi dia tak bisa melakukannya. Dia mandul,” sambung Naya. “Rahasiakan soal ini. Jadi, Arman memilihmu untuk… menghamiliku.”
Raut muka Ardi berubah pucat sekarang. Dia pikir dia salah dengar, tapi tidak. Semua yang dikatakan Naya barusan adalah kenyataan. Dia tak salah dengar ataupun sedang bermimpi.
“Nyonya, kalau ini semacam lelucon, maka ini sudah keterlaluan,” suara Ardi terdengar gemetar. Dia buru-buru bangkit dari pinggir ranjang.
“Ini bukan lelucon, Ardi. Kamu pikir untuk apa Arman menggajimu sepuluh juta per bulan hanya sebagai seorang sopir?” Ucap Naya dingin sambil menyipitkan kedua matanya. Dia merasa sudah tak ada harga dirinya lagi sekarang. “Dan kamu pikir, aku menginginkannya, hah?”
Ardi mematung di depan ranjang. Tubuhnya terasa berat untuk beranjak ke depan pintu. Sementara Naya kini sudah berada begitu dekat di depan wajahnya, menatapnya lekat.
“Kamu harus meniduriku malam ini, Ardi…” Naya mencondongkan tubuhnya. Bau alkohol kini menyusup masuk ke hidung Ardi. “Ledakkan milikmu di dalam tubuhku dan buat aku hamil. Kalau kamu berhasil, imbalan besar menunggumu…”
Ardi tercekat begitu tangan Naya merengkuh dagunya. Belum sempat pria itu melontarkan penolakan, bibir merah Naya keburu membungkam bibirnya.
“Pak Arman, Anda kedatangan tamu,” kepala penjaga itu muncul dari balik jeruji.Arman yang sedang berbaring di atas ranjang yang keras langsung menggerakkan tubuhnya. Dia menyeret gontai langkahnya di sepanjang lorong. Raut wajahnya nampak begitu kusut karena dia masih harus menghadapi persidangan demi persidangan ke depannya.Setelah menghela napas panjang, Arman mendongakkan kepalanya, masuk ke dalam ruangan di mana dia pikir dia akan bertemu dengan pengacaranya lagi. Tetapi kerutan di dahinya itu langsung muncul saat di hadapannya kini duduk seorang pria yang tak pernah Arman harapkan kehadirannya.Haryanto melempar senyum samar.“Untuk apa kamu ke sini?” Tanya Arman dengan nada sinis. “Duduklah,” dagu Haryanto bergerak, mengisyaratkan Arman untuk duduk di hadapannya.Bunyi kaki-kaki bangku yang menyeret terdengar, begitu Arman menariknya dengan kasar. Dia lantas mendengus dan menatap sinis ayah kandungnya ini.“Kamu mau mengejekku, hah? Mau menertawakan segala kesialanku?” Desis
Naya menatap keluar jendela kamar rawat inapnya yang mungil. Di luar sana, matahari nampak bersinar cerah membuat sebagian pasien berkeliaran di taman rumah sakit yang asri.Senyum membingkai di wajah Naya. Setelah mengepak baju-bajunya, kini dia siap pergi meninggalkan tempat ini.‘Ternyata tidak buruk juga…’ pikir Naya. Arman dan Sophia mungkin ada benarnya juga, memasukkan dirinya ke sini karena sekarang Naya merasa jauh lebih baik.“Nyonya Naya,” suara perawat itu mengalihkan pandangan Naya dari jendela. “Sopir Anda sudah datang.”“Oh, baiklah,” buru-buru Naya menenteng tas besarnya.Setelah dia berpamitan dengan para perawat di sana, akhirnya Naya bisa keluar juga dari tempat itu. Udara jadi terasa lebih segar sekarang, entah kenapa.Jantung Naya berdebar penuh semangat karena dalam waktu hitungan menit dia akan bertemu putranya, Haryasena.Sudah dua setengah bulan dia tak menyentuh anaknya. Mereka hanya bertemu melalui video call dari Sophia, dimana setelah Rahmat meninggal, Sop
Dari balik kacamata hitamnya, Naya tahu, ibu mertuanya itu seperti menyimpan banyak keresahan.“Kenapa dua hari belakangan ini bukan Mama yang datang? Apa ada masalah?” Tanya Naya sambil terus menyelidiki raut wajah Sophia.“Aku sibuk,” tandasnya cepat setelah mengambil ponselnya dari tangan Naya. Naya sedikit tenang karena di tengah kekacauan yang terjadi di mansion, putranya sehat-sehat saja. Amah dan babysitter itu menjaga Haryasena dengan baik.“Aku tak sabar keluar dari sini, Ma. Dokter bilang emosiku mulai stabil. Jadi… mungkin Mama bisa membujuk dokter agar aku bisa cepat pulang,” pinta Naya.“Itu bukan urusanku,” Sophia memasukkan ponsel ke tasnya.“Aku tahu apa yang terjadi,” sahut Naya cepat. “Skandal-skandal itu, juga Papa yang dirawat di rumah sakit.”Naya bisa melihat rahang Sophia yang mengeras. “Aku hanya mencemaskan putraku, Ma…” lanjut Naya.“Kamu tak perlu mencemaskan apa-apa. Tadi kamu lihat sendiri kan saat video call? Dia baik-baik saja. Semua masalah ini akan be
Pendingin di kamar tidurnya bekerja secara maksimal, mengembuskan udara dingin ke seluruh ruangan. Namun tetap saja, pelipis Sophia sedikit berkeringat. Telapak tangannya pun basah.Tadi pagi, dia tak sengaja mencuri dengar di ruang kerja putranya bahwa Rahmat sudah sadarkan diri. Kondisinya mendadak stabil bahkan bisa pulang hari ini juga.“Pulang hari ini?” Sophia menggigit bibirnya di pinggir ranjang. Sedari tadi dia memainkan jemarinya dengan gelisah. “Gawat… Dia pasti akan membuka semua kebenarannya di depan Arman…”Kepala wanita itu tertunduk dalam sembari menghela napas panjang keputusasaan.Sebentar lagi, dia akan diusir dari mansion ini, membawa surat cerai lalu menghadapi kenyataan pahit. Di usianya yang kepala enam ini dia jadi gelandangan, miskin dan terlunta-lunta.“Tidak… tidak…” Sophia menggelengkan kepalanya. “Itu tak boleh terjadi!”Tepat saat dia hendak memikirkan bagaimana caranya dia membujuk Rahmat agar tak menceraikan dirinya, pintu kamarnya membuka.Napas wanita
PLAK!Tangan Rahmat mengayun dan menampar pipi istrinya begitu Sophia berdiri dari bawah kakinya.Bibir wanita itu bergetar tak percaya. “Ka-kamu… tega menamparku?”Namun ekspresi Rahmat tak melembut sama sekali. Sambil menahan nyeri di dada kirinya, kedua rahang lelaki itu mengeras dengan sorot mata yang sengit.“Jalang sepertimu harus dapat pelajaran,” desisnya tanpa ampun. “Keluar dari mansion ini.”Sophia menggeleng. “Tidak. Ini rumahku juga. Berpuluh-puluh tahun aku tinggal di sini, kamu tak bisa mengusirku begitu saja, Rahmat! Kita punya perjanjian hitam di atas putih yang menyatakan kalau aku juga berhak atas aset mansion ini!”Satu sudut bibir Rahmat menyungging sinis. “Kamu lupa? Kalau kamu selingkuh lagi maka kamu tak akan mendapatkan apapun, tak sepeserpun, Sophia. Bersiaplah jadi gelandangan di luar sana.”Wajah Sophia menegang. Tentu saja dia ingat hal itu tetapi dia berharap Rahmat pasti bakal memaafkannya. Pria itu sungguh mencintainya, Sophia yakin itu.Tetapi keyakina
Sorot mata Rahmat yang tajam itu seolah menusuk tepat ke jantungnya. Sophia pun tak berkutik. Bibirnya terasa kelu dan tubuhnya seakan mematung.Lelaki itu kini berdiri tepat hanya sejengkal dari wajah istrinya yang pucat pasi.“Jelaskan padaku. Apa maksud semua ini?” Desak Rahmat. “Foto-foto mesum dirimu dengan pria-pria muda itu? Jadi, selama ini kamu bersenang-senang di belakangku, tidur dengan banyak pria seperti yang kamu lakukan tiga puluh tujuh tahun lalu?”Sophia masih tak mampu untuk mengeluarkan suaranya.Mata besar Rahmat memicing sambil menelengkan kepalanya. “Aku sudah memberimu kesempatan kedua Sophia… Dan ini balasan yang kamu lakukan untukku?”Napas berat lelaki itu berembus di kedua pipi Sophia, yang entah kenapa membuat wanita itu semakin bergidik ketakutan.“Aaa!” Sophia memekik tertahan begitu jari-jari keriput Rahmat mencengkram lehernya. Tak sampai membuat Sophia sesak napas, namun tetap saja wanita itu syok seakan suaminya bakal mencekiknya hingga mati.“Aku tak
“Mereka sepertinya memiliki kedekatan yang tak wajar,” Wira melaporkan apa yang didengarnya ke bosnya.Arman bersedekap sambil menghela napas pelan. “Kamu tak perlu cemas soal itu. Mustahil ada hubungan spesial antara istriku dengan sopir itu. Istriku orang yang terhormat. Lagi pula, sopir itu tak
Rahang pria itu yang tadinya mengeras kini melembut. Sepasang mata coklat itu tak lagi memicing tajam melainkan menyipit keheranan.“Penawaran? Untukku?” Dia nampak tak percaya, menerima kartu nama yang disodorkan Arman.“Dia asisten pribadiku. Kamu bisa menghubunginya,” terang Arman. “Ada pekerjaa
Ardi berdiri di tepi kolam renang, menjaring daun-daun kering yang mengambang di permukaan air menggunakan kayu panjang.Sesosok bayangan perlahan mendekat ke sampingnya.“Mas Ardi!” Sapa Shinta riang.“Hei, Shin,” mata Ardi otomatis tertuju ke pergelangan kaki perempuan itu. “Gimana kakimu? Sudah
Suara dentingan gelas beradu. Obrolan-obrolan samar terdengar memenuhi sudut restoran. Hujan di luar sudah reda, menyisakan titik-titik air yang membasahi kaca jendela.Naya memutar-mutar gelasnya, memperhatikan gelembung wine yang meletup-letup. Tatapannya mulai sayu dan pipinya nampak memerah.“L







