แชร์

2.

ผู้เขียน: Poepoe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-02-02 15:43:35

Di dalam kamar yang remang, napas pria itu semakin menderu seiring dengan hentakan pinggulnya yang cepat. Dia bisa merasakan pelipisnya yang sedikit berkeringat padahal mereka berada di kamar yang dingin.

Tak lama sengatan kenikmatan datang membuat tubuh pria itu mengejang hebat, sampai-sampai matanya terpejam dan dirinya tak kuasa mengerang keras.

“Argh!”

Di bawah tubuh pria itu, Naya berbaring dengan balutan lingerie merah yang sudah tak karuan. Kehangatan menyebar dari bawah sana tetapi respon tubuhnya terasa datar. Lagi-lagi, Arman tak mempedulikan dirinya yang belum mencapai puncak kenikmatan.

“Hah!” Arman beringsut, masih sambil mengatur napasnya. “Cepat, angkat dan sandarkan kedua kakimu ke tembok.” Titahnya cepat.

Naya menuruti perintah suaminya tanpa suara. Dengan ogah-ogahan, dia menarik tubuhnya.

“Sepuluh menit,” Arman mengingatkan. “Kata Mama seperti itu.”

“Ya, ya… aku tahu,” balas Naya.

Arman lalu menghilang dari balik pintu kamar mandi, meninggalkan istrinya dalam posisi aneh. 

Naya menghela napas pelan. Detik demi detik terasa begitu lambat baginya. Bola matanya menerawang ke langit-langit kamar sambil meratapi nasibnya.

Setahun pernikahannya dengan Arman, mereka belum juga dikarunia keturunan. Naya tertekan karena keluarga dari kedua belah pihak menuduh dirinyalah yang bermasalah.

“Sudah Mama bilang sebaiknya kamu menikmati peranmu sebagai istri di rumah saja, bukannya malah sibuk mengurus perusahaan teh bekas keluargamu itu,” ucap ibu mertuanya.

“Jangan olahraga yang aneh-aneh, Nay. Yoga, menyelam, ikut maraton… Bisa jadi kamu kelelahan,” tukas ibunya sendiri.

Semua saran agar mereka cepat punya anak selalu tertuju padanya. Kupingnya panas sejak tiga bulan pernikahan mereka berlangsung, testpack-testpack itu selalu menunjukkan hasil yang tak diinginkan.

“Sebaiknya kita periksa ke dokter, Arman…” Kini Naya duduk di pinggir ranjang, memandangi suaminya yang sudah segar keluar dari kamar mandi.

“Kurasa belum perlu,” balas Arman, menghilang ke arah walking closet. “Kamu hanya perlu hidup sehat, Nay. Jangan stres.” Arman muncul sambil membawa setelan kemeja kantornya.

“Stres? Aku baik-baik saja,” Naya mengernyit heran.

Satu alis tebal Arman naik. “Kamu pulang larut semalam.”

“Tapi tidak setiap malam, Arman. Kemarin, aku harus memastikan laporan keberlanjutan tahunan perusahaan teh keluargaku sinkron dengan data di lapangan.”

“Perusahaanku, Sayang. Bukan lagi perusahaan keluargamu,” sergah Arman mengingatkan sambil mengenakan jas hitam yang nampak begitu sempurna di bahunya yang bidang.

“Yah… aku tahu,” Naya memutar bola matanya. “Tapi Arman, plis… Kali ini kita harus memeriksakan diri ke dokter. Siapa tahu di antara kita memang ada yang bermasalah.”

“Kita?” Arman menatap wajah istrinya dari pantulan cermin. “Keadaanku baik-baik saja, Naya. Pola hidupku sehat, aku bugar, bahkan dalam setahun ini aku tak pernah sakit. Milikku juga prima. Kamu bahkan menikmatinya kan?”

Naya hanya terdiam. Selama ini dia memang tak pernah protes dengan Arman yang selalu egois di atas ranjang.

“Aku malah mencemaskan dirimu. Kamu tahu sendiri kan, perempuan selalu saja punya masalah dengan sistem reproduksi mereka. Yah… walaupun jadwal datang bulanmu lancar sih, tapi itu tetap tak menutup kemungkinan kalau kamu memang bermasalah.”

“Makanya, kita harus ke dokter,” desak Naya lagi. “Aku memang merasa ada sesuatu dalam tubuhku, Arman. Mungkin semcam PCOS, entahlah… Terkadang perutku sakit.” Naya mulai mencari-cari alasan.

“Begitu?” Arman menggerakkan pergelangan tangan kirinya saat mengenakan arloji kesayangannya.

Naya menangguk penuh keyakinan sambil menyunggingkan senyum tipis.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menyuruh Wira untuk menjadwalkan kunjungan kita ke dokter.” Arman mengedikkan bahunya santai.

Lantas, Naya bangkit dan berdiri di balik punggung suaminya. Wangi parfum Arman yang maskulin menyusup ke hidungnya.

“Kuharap tak ada hal buruk yang menimpa kita,” tandas Naya.

Arman memutar tubuhnya. Tatapan pria itu nampak tajam dan penuh kendali. Namun saat senyum kecil muncul di wajahnya, ekspresinya jadi sedikit melembut.

“Aku juga berharap begitu. Selama ini, aku belum berpikiran untuk pergi ke dokter karena kupikir wajar saja kita belum punya anak, toh usia pernikahan kita baru berjalan selama setahun. Tapi kalau kupikir-pikir lagi, mungkin idemu memang ada baiknya. Kita butuh pewaris.”

Arman mengecup kilat bibir istrinya sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Naya.

Dada Naya berdebar lebih cepat sekarang. Dia memang tak merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Tapi bagaimana kalau pada akhirnya dirinyalah yang bermasalah? Bermasalah mungkin masih bisa diatasi, tapi kalau mandul?

“Tidak, jangan berpikiran seperti itu, Naya,” titahnya pada diri sendiri. Kalau dia sampai tak bisa memberikan anak pada Keluarga Kartajaya, maka dia harus siap kehilangan perusahaan teh keluarganya.

Pandangan Naya mengarah pada halaman belakang Mansion Kartajaya yang luas. Kedua tangannya mengepal pelan.

“Ya, semuanya akan baik-baik saja,” tandasnya cepat, meyakinkan dirinya sendiri.

*

Beberapa hari setelah Naya meminta mereka memeriksakan diri ke dokter, akhirnya pasangan suami istri itu mendatangi klinik fertilitas yang cukup ternama dan melakukan pemeriksaan. Setelah itu, mereka diminta untuk menunggu selama beberapa hari untuk mengetahui hasilnya.

Dan sekarang, tibalah hari di mana mereka akan mengetahui hasilnya.

Arman dan Naya duduk berdampingan di depan seorang dokter yang sedari tadi sedang meneliti beberapa kertas di hadapannya.

Naya sedikit gelisah, memainkan jemarinya berkali-kali, sementara Arman terlihat santai menunggu dokter mengumumkan hasilnya.

“Tenang saja,” Arman menoleh sekilas, melihat wajah istrinya yang sedikit pucat sambil mengusap punggung tangannya. “Iya kan, Dok? Tak ada yang perlu dikhawatirkan?”

Arman mengalihkan pandangannya ke dokter.

Dokter itu membalasnya dengan senyuman samar.

“Baiklah,” dokter Aryan akhirnya membuka percakapan. “Hasil pemeriksaan Ibu Naya menunjukkan bahwa keadaan Ibu baik-baik saja. Tak ada masalah di fungsi ovarium, begitu pula dengan kadar hormon yang masih di batas normal. Jadi, secara medis tak ada indikasi infertilitas.”

“Kubilang juga apa,” ucap Arman setengah berbisik karena dia terus melihat tingkah laku istrinya yang gugup.

Naya menghela napas lega. Dirinya baik-baik saja. Yah, kemungkinan besar Arman juga begitu, pikir Naya. Sehingga mendapatkan anak hanya masalah takdir saja.

“Dan hasil pemeriksaan Pak Arman…” dokter Aryan berhenti sejenak, melipat kedua tangannya di pinggir meja. “Melalui analisa sperma, keadaan Anda menunjukkan kondisi azoospermia non-obstruktif.”

Suasana mendadak hening. Dokter Aryan seperti sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk disampaikan selanjutnya.

“Maksud, Dokter?” Arman memiringkan kepala heran. Keningnya nampak mengerut tak percaya. Dan sorot mata yang tadinya dipenuhi rasa percaya diri kini semakin memudar. “Azoo… apa?”

“Azoospermia non-obstruktif,” ulangnya lagi. “Dengan kata lain, kemungkinan Anda memiliki keturunan sangat kecil,” terang dokter Aryan dengan raut wajah yang memancarkan rasa iba.

Tubuh Arman terasa membeku. Ucapan dokternya tadi seperti petir yang menyambar di siang bolong. 

Dirinya mandul?!

“Tidak mungkin…” Arman menukas parau. Tangan Naya menjulur, mengusap punggung tangan suaminya. Namun, Arman langsung menghempaskannya begitu saja. “Saya tidak mungkin mandul! Pasti ada kesalahan!”

Dokter Aryan menggeleng pelan. “Maaf, Pak Arman. Tapi kenyataannya memang seperti itu.”

Kedua pundak Arman yang tegak itu kini merosot dengan putus asa. 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   160. (END)

    Saat Naya melangkah di sepanjang lorong, dadanya terus berdebar gugup. Kedua tangannya kini sedikit berkeringat begitu suster mempersilakan dirinya masuk ke ruangan tempat Ardi dirawat.Naya pun tak sanggup menahan air matanya ketika tatapannya langsung beradu dengan Ardi yang tergolek lemah di atas ranjang.“Ardi…” Naya menghambur ke pinggir ranjang. Digenggamnya tangan suaminya yang begitu dingin.“Na-Naya… kamu baik-baik saja kan?” Suara yang keluar dari mulut pria itu terdengar parau. “A-anak kita?”“Semua baik-baik saja, Sayang…” balas Naya terisak. “Jangan cemaskan hal apapun. Yang penting sekarang, kamu harus fokus pada penyembuhanmu, oke?”Ardi tersenyum tipis dan menggerakkan kepalanya pelan. “Tentu… aku akan berusaha, Nay…”Naya mengecup punggung tangan Ardi dan menatapnya sekali lagi sebelum akhirnya keluar ruangan.Begitu dia bertemu dengan dokter, dokter itu pun bilang bahwa kesembuhan Ardi seperti keajaiban. Pukulan benda itu sebenarnya bisa melumpuhkan sebagian tubuhnya

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   159.

    Petir menyambar lagi kali ini, menerangi sekejap ruang tengah yang temaram.Sementara itu, Shannon masih menatap tajam Naya yang tubuhnya menggigil ketakutan. Tiba-tiba saja, tawa Shannon berderai, tawa yang bengis dan menyeramkan di kuping Naya.Naya tak habis pikir, ada seorang perempuan yang begitu terobsesi dengan suaminya sampai melakukan hal gila seperti ini.“Selamat tinggal, wanita menyebalkan…” Shannon mengayunkan stik golf itu.“Ardi!” Naya tiba-tiba memekik kencang.Sontak Shannon menoleh ke belakang. Bukannya dia sudah memukul kepala pria itu berkali-kali?”PRANG!“Aaa!” Seketika Shannon menjerit kesakitan begitu sebuah vas keramik menghantam kepalanya. “Dasar, perempuan brengsek!”Rencana Naya berhasil. Begitu Shannon lengah, Naya pun langsung mengambil vas keramik yang ada di dekatnya.Stik golf itu terlepas dari tangan Shannon. Dan Naya langsung menendang stik itu jauh-jauh–sulit baginya untuk merunduk dan mengambil stik golf itu karena perutnya yang besar.Lantas, Naya

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   158.

    BRAK!Suara gedebum keras disertai teriakan histeris itu sontak membuat Ardi tersentak kaget. Dia tak mungkin sanggup menghadapi kenyataan bahwa dirinya harus kehilangan orang-orang yang dicintainya dua kali.“Hmpft!” Sekuat tenaga pria itu menyeret tubuhnya yang terikat ke ambang pintu. Dia bertekad akan menghabisi Shannon bagaimanapun caranya!Sampai akhirnya, dia melihat bayangan yang bergerak di lorong depan. Jantung Ardi pun berdegup cepat.Dari balik tangannya yang terikat, dia mengepal dengan erat. Begitu Shannon hendak melepaskannya, dia akan memukul wanita sialan itu sampai babak belur.Dan ketika Ardi mendongak, sosok itu kini berdiri di ambang pintu. Kedua mata Ardi lantas membelalak tak percaya.“A-Ardi…” Naya bergerak dengan langkah gontai ke arah suaminya yang terikat di lantai. “A-aku… kurasa aku sudah membunuh Shannon…”Ardi menggerak-gerakkan kepalanya.Naya lalu membuka kedua ikatan itu dan mereka pun berpelukan erat. Sementara itu, Naya terisak di bahu suaminya.“N

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   157.

    Haryasena meringkuk di balik selimutnya. Dalam tidurnya, wajah bocah itu masih terlihat muram.Bagaimana tak muram? Bayangan dirinya makan malam bersama kedua orangtuanya di sebuah restoran yang ada di gedung pencakar langit buyar seketika.Dua jam Naya dan Haryasena menunggu, Ardi tak kelihatan batang hidungnya sama sekali.“Astaga, apa yang terjadi padanya?” Naya berdecak gelisah setelah keluar dari kamar putranya. Sedari tadi, dia coba menghubungi suaminya namun hanya terdengar nada sambung tanpa jawaban.Kilatan petir seketika menyambar. Hujan yang tadinya turun rintik-rintik kini berubah lebat.Sejujurnya Naya gundah. Dia takut hal buruk menimpa suaminya.Ardi tak pernah tiba-tiba membatalkan janjinya seperti ini, apalagi ini adalah makan malam keluarga mereka yang spesial.Ini sungguh di luar perilakunya, pikir Naya dalam hati. Lalu, tiba-tiba saja sosok Shannon muncul di kepalanya.“Shannon…” mata Naya menyipit tajam. Buru-buru dia menghubungi Mardani, meminta alamat wanita t

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   156.

    Kaki Ardi melangkah ringan di sepanjang koridor. Dia menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu, tanpa ada meeting tambahan atau hal-hal mendadak lainnya.“Selamat bersenang-senang, Pak Ardi!” ucap Vita, sekretaris lamanya yang kini sudah kembali setelah cuti melahirkan. “Sampaikan salam saya pada Bu Naya dan Haryasena yang imut!”“Tentu,” Ardi mengangguk riang.Sebelum menjemput istri dan anaknya, dia berencana mampir ke toko bunga terlebih dahulu, mengambil pesanan buket bunga tulip untuk Naya.“Masih banyak waktu,” gumam Ardi saat melirik pergelangan tangannya. “Pasti Naya senang dengan kejutan kecil dariku,” lanjutnya lagi.Namun begitu Ardi baru saja masuk ke dalam mobilnya, ponselnya bergetar. Dia pikir itu telepon dari Naya, tetapi keningnya langsung mengerut tajam saat mengetahui bahwa Shannon yang meneleponnya.Ardi terdiam sejenak, membiarkan nama Shannon terus berada di layar ponselnya. Sampai akhirnya, ibu jarinya bergerak menerima panggilan itu.Tadinya, Ardi mau mengab

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   155.

    Sedari tadi, jemari Naya mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan gelisah di atas permukaan meja yang keras. Croissant dan air mineral di hadapannya tak tersentuh sama sekali.Jujur, dia begitu gugup menunggu kedatangan Mardani.Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang terjadi pada suaminya dan wanita itu. Mungkin mereka benar-benar berselingkuh?Naya menarik napasnya pelan. Di lubuk hatinya, dia tak yakin Ardi tega melakukan itu. Tapi, kalau ternyata hal itu terjadi, apa yang harus dia lakukan?“Maaf, Nyonya Naya,” sosok Mardani akhirnya muncul juga di hadapannya. Pria itu langsung menarik kursi dan menghempaskan dirinya. “Jalanan macet siang ini.”“Silakan pesan minum dulu. Aku yang bayar,” tawar Naya.Setelah secangkir latte tersaji di hadapan detektif itu, jantung Naya pun berdebar cepat. Kini, saatnya wanita itu mengetahui apa yang terjadi.“Ceritakan padaku,” tandas Naya gugup. “Semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi.”Mardani menaruh cangkir itu dan mulai membuka mulutnya. “Semala

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status