ログインDi dalam kamar yang remang, napas pria itu semakin menderu seiring dengan hentakan pinggulnya yang cepat. Dia bisa merasakan pelipisnya yang sedikit berkeringat padahal mereka berada di kamar yang dingin.
Tak lama sengatan kenikmatan datang membuat tubuh pria itu mengejang hebat, sampai-sampai matanya terpejam dan dirinya tak kuasa mengerang keras.
“Argh!”
Di bawah tubuh pria itu, Naya berbaring dengan balutan lingerie merah yang sudah tak karuan. Kehangatan menyebar dari bawah sana tetapi respon tubuhnya terasa datar. Lagi-lagi, Arman tak mempedulikan dirinya yang belum mencapai puncak kenikmatan.
“Hah!” Arman beringsut, masih sambil mengatur napasnya. “Cepat, angkat dan sandarkan kedua kakimu ke tembok.” Titahnya cepat.
Naya menuruti perintah suaminya tanpa suara. Dengan ogah-ogahan, dia menarik tubuhnya.
“Sepuluh menit,” Arman mengingatkan. “Kata Mama seperti itu.”
“Ya, ya… aku tahu,” balas Naya.
Arman lalu menghilang dari balik pintu kamar mandi, meninggalkan istrinya dalam posisi aneh.
Naya menghela napas pelan. Detik demi detik terasa begitu lambat baginya. Bola matanya menerawang ke langit-langit kamar sambil meratapi nasibnya.
Setahun pernikahannya dengan Arman, mereka belum juga dikarunia keturunan. Naya tertekan karena keluarga dari kedua belah pihak menuduh dirinyalah yang bermasalah.
“Sudah Mama bilang sebaiknya kamu menikmati peranmu sebagai istri di rumah saja, bukannya malah sibuk mengurus perusahaan teh bekas keluargamu itu,” ucap ibu mertuanya.
“Jangan olahraga yang aneh-aneh, Nay. Yoga, menyelam, ikut maraton… Bisa jadi kamu kelelahan,” tukas ibunya sendiri.
Semua saran agar mereka cepat punya anak selalu tertuju padanya. Kupingnya panas sejak tiga bulan pernikahan mereka berlangsung, testpack-testpack itu selalu menunjukkan hasil yang tak diinginkan.
“Sebaiknya kita periksa ke dokter, Arman…” Kini Naya duduk di pinggir ranjang, memandangi suaminya yang sudah segar keluar dari kamar mandi.
“Kurasa belum perlu,” balas Arman, menghilang ke arah walking closet. “Kamu hanya perlu hidup sehat, Nay. Jangan stres.” Arman muncul sambil membawa setelan kemeja kantornya.
“Stres? Aku baik-baik saja,” Naya mengernyit heran.
Satu alis tebal Arman naik. “Kamu pulang larut semalam.”
“Tapi tidak setiap malam, Arman. Kemarin, aku harus memastikan laporan keberlanjutan tahunan perusahaan teh keluargaku sinkron dengan data di lapangan.”
“Perusahaanku, Sayang. Bukan lagi perusahaan keluargamu,” sergah Arman mengingatkan sambil mengenakan jas hitam yang nampak begitu sempurna di bahunya yang bidang.
“Yah… aku tahu,” Naya memutar bola matanya. “Tapi Arman, plis… Kali ini kita harus memeriksakan diri ke dokter. Siapa tahu di antara kita memang ada yang bermasalah.”
“Kita?” Arman menatap wajah istrinya dari pantulan cermin. “Keadaanku baik-baik saja, Naya. Pola hidupku sehat, aku bugar, bahkan dalam setahun ini aku tak pernah sakit. Milikku juga prima. Kamu bahkan menikmatinya kan?”
Naya hanya terdiam. Selama ini dia memang tak pernah protes dengan Arman yang selalu egois di atas ranjang.
“Aku malah mencemaskan dirimu. Kamu tahu sendiri kan, perempuan selalu saja punya masalah dengan sistem reproduksi mereka. Yah… walaupun jadwal datang bulanmu lancar sih, tapi itu tetap tak menutup kemungkinan kalau kamu memang bermasalah.”
“Makanya, kita harus ke dokter,” desak Naya lagi. “Aku memang merasa ada sesuatu dalam tubuhku, Arman. Mungkin semcam PCOS, entahlah… Terkadang perutku sakit.” Naya mulai mencari-cari alasan.
“Begitu?” Arman menggerakkan pergelangan tangan kirinya saat mengenakan arloji kesayangannya.
Naya menangguk penuh keyakinan sambil menyunggingkan senyum tipis.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan menyuruh Wira untuk menjadwalkan kunjungan kita ke dokter.” Arman mengedikkan bahunya santai.
Lantas, Naya bangkit dan berdiri di balik punggung suaminya. Wangi parfum Arman yang maskulin menyusup ke hidungnya.
“Kuharap tak ada hal buruk yang menimpa kita,” tandas Naya.
Arman memutar tubuhnya. Tatapan pria itu nampak tajam dan penuh kendali. Namun saat senyum kecil muncul di wajahnya, ekspresinya jadi sedikit melembut.
“Aku juga berharap begitu. Selama ini, aku belum berpikiran untuk pergi ke dokter karena kupikir wajar saja kita belum punya anak, toh usia pernikahan kita baru berjalan selama setahun. Tapi kalau kupikir-pikir lagi, mungkin idemu memang ada baiknya. Kita butuh pewaris.”
Arman mengecup kilat bibir istrinya sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Naya.
Dada Naya berdebar lebih cepat sekarang. Dia memang tak merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Tapi bagaimana kalau pada akhirnya dirinyalah yang bermasalah? Bermasalah mungkin masih bisa diatasi, tapi kalau mandul?
“Tidak, jangan berpikiran seperti itu, Naya,” titahnya pada diri sendiri. Kalau dia sampai tak bisa memberikan anak pada Keluarga Kartajaya, maka dia harus siap kehilangan perusahaan teh keluarganya.
Pandangan Naya mengarah pada halaman belakang Mansion Kartajaya yang luas. Kedua tangannya mengepal pelan.
“Ya, semuanya akan baik-baik saja,” tandasnya cepat, meyakinkan dirinya sendiri.
*
Beberapa hari setelah Naya meminta mereka memeriksakan diri ke dokter, akhirnya pasangan suami istri itu mendatangi klinik fertilitas yang cukup ternama dan melakukan pemeriksaan. Setelah itu, mereka diminta untuk menunggu selama beberapa hari untuk mengetahui hasilnya.
Dan sekarang, tibalah hari di mana mereka akan mengetahui hasilnya.
Arman dan Naya duduk berdampingan di depan seorang dokter yang sedari tadi sedang meneliti beberapa kertas di hadapannya.
Naya sedikit gelisah, memainkan jemarinya berkali-kali, sementara Arman terlihat santai menunggu dokter mengumumkan hasilnya.
“Tenang saja,” Arman menoleh sekilas, melihat wajah istrinya yang sedikit pucat sambil mengusap punggung tangannya. “Iya kan, Dok? Tak ada yang perlu dikhawatirkan?”
Arman mengalihkan pandangannya ke dokter.
Dokter itu membalasnya dengan senyuman samar.
“Baiklah,” dokter Aryan akhirnya membuka percakapan. “Hasil pemeriksaan Ibu Naya menunjukkan bahwa keadaan Ibu baik-baik saja. Tak ada masalah di fungsi ovarium, begitu pula dengan kadar hormon yang masih di batas normal. Jadi, secara medis tak ada indikasi infertilitas.”
“Kubilang juga apa,” ucap Arman setengah berbisik karena dia terus melihat tingkah laku istrinya yang gugup.
Naya menghela napas lega. Dirinya baik-baik saja. Yah, kemungkinan besar Arman juga begitu, pikir Naya. Sehingga mendapatkan anak hanya masalah takdir saja.
“Dan hasil pemeriksaan Pak Arman…” dokter Aryan berhenti sejenak, melipat kedua tangannya di pinggir meja. “Melalui analisa sperma, keadaan Anda menunjukkan kondisi azoospermia non-obstruktif.”
Suasana mendadak hening. Dokter Aryan seperti sedang menyusun kata-kata yang tepat untuk disampaikan selanjutnya.
“Maksud, Dokter?” Arman memiringkan kepala heran. Keningnya nampak mengerut tak percaya. Dan sorot mata yang tadinya dipenuhi rasa percaya diri kini semakin memudar. “Azoo… apa?”
“Azoospermia non-obstruktif,” ulangnya lagi. “Dengan kata lain, kemungkinan Anda memiliki keturunan sangat kecil,” terang dokter Aryan dengan raut wajah yang memancarkan rasa iba.
Tubuh Arman terasa membeku. Ucapan dokternya tadi seperti petir yang menyambar di siang bolong.
Dirinya mandul?!
“Tidak mungkin…” Arman menukas parau. Tangan Naya menjulur, mengusap punggung tangan suaminya. Namun, Arman langsung menghempaskannya begitu saja. “Saya tidak mungkin mandul! Pasti ada kesalahan!”
Dokter Aryan menggeleng pelan. “Maaf, Pak Arman. Tapi kenyataannya memang seperti itu.”
Kedua pundak Arman yang tegak itu kini merosot dengan putus asa.
Naya mendorong troli belanjaan melewati jejeran rak buah-buahan. Matanya memindai tumpukan apel-apel segar sambil memilihnya.Sampai tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundaknya.“Naya?”Suara yang renyah itu sontak membuat Naya menoleh. Lantas, matanya langsung melebar. “Dalia?! Astaga!”“Ya ampun, nggak nyangka kita bisa ketemu di sini!” Wanita yang bernama Dalia itu memeluk erat teman lamanya.“Kenapa kamu nggak bilang kalau udah balik ke Indo?” Naya merenggangkan dekapannya, menatap kulit Dalia yang semakin eksotis.Dalia tersenyum miris. “Yah… sebenarnya… aku udah cerai makanya aku balik ke sini.”“Heh?!” Naya tak bisa menahan keterkejutannya. “Ta-tapi, bukannya kalian baru menikah tiga bulan lalu, di Italia??”Dalia menghela napas pasrah. Kedua bahunya melorot ke bawah. “Menikah di Italia nggak menjamin pernikahan bakalan langgeng kan?”Naya mengusap pundak Dalia dengan penuh prihatin. “Maksudku, Oliver terlihat seperti gentleman. Dia bahkan melamarmu dengan romantis di Bali…”
Degup jantung Naya berkejaran tak karuan bersamaan dengan bayangan Ardi yang semakin mendekat. Telapak tangannya berkeringat dan sedari tadi, Naya terus menggigit bibirnya keras-keras sambil berdoa ada keajaiban yang terjadi.Yah, seperti misalnya tiba-tiba terjadi gempa atau apa sajalah, pikir Naya.‘Tetapi sepertinya tak ada harapan…’ Naya mengeluh pasrah dalam hati. Sebentar lagi, Ardi bakal memergokinya di sini dan tamatlah sudah.Mungkin, Naya akan menyuruh Arman memecat Ardi agar dirinya tak tenggelam dalam rasa malu yang berkepanjangan.Tok, tok, tok.Suara ketukan pintu itu sontak menghentikan langkah Ardi.“Mas Ardi?” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu depan paviliun.Ardi nampak bimbang sejenak, namun dia segera memutar tubuhnya dan membukakan pintu.Amah, kepala pelayan Keluarga Kartajaya yang sudah berkepala lima, terlihat sedikit gugup ketika berhadapan dengan Ardi yang bertelanjang dada.“I-Itu Mas Ardi, tadi… Nyonya Naya nyariin Mas,” Amah menyunggingkan s
Seminggu kemudian pria itu datang.Ardi Dewantara.Tubuhnya yang tinggi, tegap dengan dada bidang yang bersembunyi di balik kemeja putih yang dikenakannya.“Tenang saja, dia bersih dan sehat. Aku sudah memastikannya. Aku tak mungkin memungut sembarang pria untukmu, Naya,” terang Arman di malam sebelumnya. “Dan ingat,” Arman menukas sedikit lebih tegas, memandangi wajah istrinya yang gamang. “Soal kesepakatan kita bahwa tak boleh melibatkan perasaan di antara kalian. Walau bagaimanapun, kamu tetap istriku.”Kelopak mata Naya mengerjap pelan begitu Ardi melempar senyum tipis padanya sehingga membuyarkan lamunannya.“Kita pergi kemana, Nyonya?” Suaranya terdengar rendah dan dalam saat melontarkan pertanyaan itu pada Naya.“Studio pilates.” Jawab Naya singkat.Lantas, sedan eropa hitam itu pun meluncur keluar dari gerbang Mansion Kartajaya. Di sepanjang perjalanan pulang-pergi tak ada perbincangan yang berarti. Sesekali Naya mencuri pandang dari jok belakang, menelusuri wajah bagian sam
“Pria pengganti?” Ulang Naya tak percaya. Kedua alisnya bertautan sambil berusaha memproses ucapan suaminya tadi. “Apa maksudmu?”Arman mendengus pelan sambil bersedekap. Sepasang mata hitam itu kini menyorot optimis.“Ya, aku akan memilih pria sempurna untuk menanamkan benih di rahimmu dan melahirkan anak untukku. Lebih tepatnya, untuk keluarga kita, Sayang…” Arman tersenyum penuh kemenangan.Mungkin dia merasa bangga pada dirinya karena bisa menemukan ide brilian seperti ini, pikir Naya.“Kamu gila!” Semprot Naya sambil geleng-geleng kepala. “Aku tak akan mau melakukan hal tolol seperti itu! Kamu pikir aku wanita murahan?! Tidur dengan pria lain demi mendapatkan keturunan? Astaga, lebih baik kita bercerai!”“Nay, dengarkan aku dulu,” seketika Arman mencengkram kedua bahu istrinya dengan erat sehingga Naya sedikit meringis kesakitan. “Ini seperti win-win solution. Tenang saja, aku tak akan memilih sembarang pria, seperti yang kukatakan di awal tadi. Pria itu pria yang sempurna.”“Sem
Udara pagi yang segar berembus masuk melalui pintu pembatas ruang makan dan halaman belakang yang dibuka lebar-lebar. Suara burung yang bercicit memecah keheningan di atas meja makan.Naya memotong roti bakar dengan hati-hati sementara Arman nampak sibuk memperhatikan tabletnya.Suara koran bergemerisik saat Rahmat Kartajaya yang duduk di ujung meja menutup korannya.“Bagaimana dengan pembebasan lahan kampung di pinggiran itu?” Suara berat pria enam puluh tahun itu tertuju pada putra satu-satunya, Arman.“Alot, Pa,” balas Arman. “Mereka minta ganti rugi yang besar padahal sertifikat hak milik saja tidak punya. Aneh.” Arman mendengus heran.Rahmat melipat korannya dan menyisip teh hitam. “Gusur secara paksa. Proyek apartemen kita harus mulai digarap akhir bulan ini.”“Aku tahu. Tapi tidak semudah itu,” Arman menghela napas pendek, menaruh tabletnya di atas meja. “Peraturan mengharuskan kita menyetujui nominal yang mereka minta atau merelokasi mereka ke tempat baru.”“Kalau begitu, kamu
Di dalam kamar yang remang, napas pria itu semakin menderu seiring dengan hentakan pinggulnya yang cepat. Dia bisa merasakan pelipisnya yang sedikit berkeringat padahal mereka berada di kamar yang dingin.Tak lama sengatan kenikmatan datang membuat tubuh pria itu mengejang hebat, sampai-sampai matanya terpejam dan dirinya tak kuasa mengerang keras.“Argh!”Di bawah tubuh pria itu, Naya berbaring dengan balutan lingerie merah yang sudah tak karuan. Kehangatan menyebar dari bawah sana tetapi respon tubuhnya terasa datar. Lagi-lagi, Arman tak mempedulikan dirinya yang belum mencapai puncak kenikmatan.“Hah!” Arman beringsut, masih sambil mengatur napasnya. “Cepat, angkat dan sandarkan kedua kakimu ke tembok.” Titahnya cepat.Naya menuruti perintah suaminya tanpa suara. Dengan ogah-ogahan, dia menarik tubuhnya.“Sepuluh menit,” Arman mengingatkan. “Kata Mama seperti itu.”“Ya, ya… aku tahu,” balas Naya.Arman lalu menghilang dari balik pintu kamar mandi, meninggalkan istrinya dalam posisi







