Share

7.

Author: Poepoe
last update publish date: 2026-02-09 17:04:47

Naya mendorong troli belanjaan melewati jejeran rak buah-buahan. Matanya memindai tumpukan apel-apel segar sambil memilihnya.

Sampai tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundaknya.

“Naya?”

Suara yang renyah itu sontak membuat Naya menoleh. Lantas, matanya langsung melebar. “Dalia?! Astaga!”

“Ya ampun, nggak nyangka kita bisa ketemu di sini!” Wanita yang bernama Dalia itu memeluk erat teman lamanya.

“Kenapa kamu nggak bilang kalau udah balik ke Indo?” Naya merenggangkan dekapannya, menatap kulit Dalia yang semakin eksotis.

Dalia tersenyum miris. “Yah… sebenarnya… aku udah cerai makanya aku balik ke sini.”

“Heh?!” Naya tak bisa menahan keterkejutannya. “Ta-tapi, bukannya kalian baru menikah tiga bulan lalu, di Italia??”

Dalia menghela napas pasrah. Kedua bahunya melorot ke bawah. “Menikah di Italia nggak menjamin pernikahan bakalan langgeng kan?”

Naya mengusap pundak Dalia dengan penuh prihatin. “Maksudku, Oliver terlihat seperti gentleman. Dia bahkan melamarmu dengan romantis di Bali…”

“Pria memang brengsek,” Dalia berdecak pelan, mengambil plastik buah dan mulai memilih-milih apel di samping Naya. “Eh, tapi nggak berlaku buat suamimu sih.”

Mendengar itu Naya tertawa miris.

“Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Naya penasaran.

“Selingkuh, dengan penari telanjang.” Terang Dalia.

“Yang benar?”

“Begitulah. Awalnya aku berpikir ini semua hanya mimpi buruk, tapi tidak. Oliver benar-benar tidur dengan wanita sialan itu.”

Di sepanjang mereka belanja, Dalia mulai bercerita soal hubungan percintaannya yang malang. Ceritanya ternyata berlangsung cukup lama, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang bersama.

“Aku panggil sopirku dulu ya, buat masukkin barang belanjaanku ke mobil,” ucap Naya.

Begitu Ardi muncul, ekspresi wajah Dalia sedikit berubah. 

“Dia sopirmu?” Tanyanya setelah Ardi pergi sambil menenteng belanjaan Naya.

“Iya, memangnya kenapa?”

“Yang benar saja, dia nggak pantes jadi sopir!” Desis Dalia sedikit heran, memperhatikan punggung Ardi yang lebar. Saat menenteng barang belanjaan Naya, otot-otot tangan Ardi muncul dari balik kemejanya.

“Kenapa nggak pantas?”

“Dia terlalu tampan! Lihat, dari belakang saja tubuhnya sudah begitu menggoda!” Desis Dalia dengan bersemangat.

“Astaga, Dalia! Kupikir kamu trauma dengan hubungan percintaanmu!” Naya menatap heran temannya itu.

“Oh, buat apa aku trauma?! Bye, Oliver. Aku bisa dengan mudah mencari penggantinya,” Dalia terkekeh pelan. “Atau mungkin… aku bisa deketin sopirmu itu? Siapa namanya?”

“Hah! Kamu bercanda!” Balas Naya. Entah kenapa sekarang dia jadi was-was begini. “Aku nggak akan membiarkanmu menggoda pria polos seperti Ardi.”

“Oh, namanya Ardi,” Dalia manggut-manggut. “Lagian, tahu dari mana kalau dia polos, Nay?”

“Sudahlah, sebaiknya kita cepat ke restoran sebelum mulai ramai orang makan siang,” tandas Naya, menarik lengan Dalia.

Sambil mengunyah potongan daging steak, Dalia menatap Naya dengan lekat. “Sekarang, giliran kamu. Ceritakan soal kehidupan pernikahanmu yang menyenangkan itu.”

“Menyenangkan?” Naya menyesap air mineral di hadapannya. “Kenapa kamu bisa menyimpulkan kalau kehidupan pernikahanku menyenangkan?”

“Astaga, Naya. Semua orang juga tahu kalau hidupmu sempurna. Arman tampan, kaya raya, setia, dan dirimu? Sepanjang aku mengenalmu, kamu nggak pernah melakukan hal-hal yang aneh. Lulus S2 dengan IPK nyaris sempurna, cantik, dan mewarisi perusahaan teh turun temurun keluargamu.”

“Kamu terlalu melebih-lebihkan,” decak Naya. “Apa yang kamu lihat di permukaan nggak seperti kenyataannya.”

“Oh ya? Jadi apa kekurangan hidupmu, hah?” Pertanyaan itu terdengar seperti tantangan di telinga Naya.

Naya menopang dagunya.

‘Suamiku mandul, tapi kami harus punya anak. Dan aku terpaksa tidur dengan sopirku sendiri, puas? Ah satu lagi, perusahaan teh keluargaku bangkrut, aku nggak sekaya yang kamu pikir. Dan kamu pasti kaget kalau tahu pernikahanku hanyalah transaksional belaka.’

Naya menyeringai miris dalam hati.

“Tuh kan, kamu bahkan nggak bisa menjawab pertanyaanku tadi,” sergah Dalia. “Enak ya jadi kamu… Pasti Arman pria yang romantis, ya? Aku pernah baca di majalah bisnis tentang profil Arman. Dia bahkan sering memberikan kejutan kecil untukmu.”

“Begitulah,” balas Naya singkat sambil mengedikkan bahunya.

Dia yakin Dalia membaca salah satu artikel tentang Arman di salah satu majalah gaya hidup eksklusif. Tetapi yang dikatakan Arman di majalah itu bohong.

Kehidupan pernikahan mereka cukup dingin di balik layar.

Ah, soal kejutan itu tak sepenuhnya bohong. Karena pada akhirnya Arman memang memberikannya kejutan yaitu kesepakatan gila yang hanya diketahui mereka berdua–dan Ardi tentunya.

“Terus kapan kamu mau punya anak? Kalian sudah menikah setahun kan?”

Naya tertawa kecil. “Kamu seperti keluarga besar kami.”

“Well, sorry, Nay. Aku cuma penasaran aja,” balas Dalia sedikit bersalah. “Kupikir kamu bakalan langsung punya anak. Biasanya orang-orang berduit seperti kalian pasti sangat menginginkan keturunan, bukan?”

“Yah, doakan saja,” Naya menusuk potongan daging terakhir di piringnya dengan garpu dan melahapnya.

Dia tersenyum getir sambil membayangkan dirinya yang harus merelakan tubuhnya pada pria lain demi mempertahankan semua, reputasi dan perusahaan teh berharga keluarganya.

***

Suara dentingan piano menggema ke setiap sudut ballroom yang besar. 

Perayaan hari jadi Kartajaya Group yang ke-50 sedang berlangsung. Acaranya meriah dan mewah. Orang-orang penting dari penjuru negeri seakan berkumpul jadi satu di sini.

Suara tawa dan obrolan terdengar di tengah beberapa orang yang sedang berdansa.

“Mungkin sudah belasan kali orang-orang menanyakan kapan aku punya anak,” Arman berbisik di telinga istrinya seraya berdansa pelan mengikuti alunan piano.

Naya tak menjawab. Lantas, Arman mendekap erat tubuh istrinya itu. 

“Lakukanlah malam ini,” suara berat suaminya mendesis di telinga Naya yang membuatnya merinding. Dia tahu maksud kalimat itu.

“Ma-maksudmu?” Tanyanya pura-pura naif.

“Tidur dengan pria itu malam ini. Aku sudah menyiapkan hotel untuk kalian.”

Tubuh Naya menegang. Ardi sudah membuatnya berpikiran yang tidak-tidak, tapi Naya tetap tak bisa membayangkan kalau segala fantasi liar soal sopirnya itu jadi kenyataan.

“Kurasa aku belum bisa melakukannya,” balas Naya dengan nada rendah yang parau.

Perempuan itu bisa mendengar embusan keras yang menyapu pipinya.

“Kalau begitu… saham enam puluh persen itu batal,” tandas Arman santai. “Kamu akan benar-benar kehilangan kesempatan untuk memiliki kembali perusahaan teh turun temurun keluargamu itu.”

Naya menelan ludahnya pelan.

Jauh di lubuk hatinya, dia selalu ingin membuktikan pada ayahnya, terutama, kalau dia bisa menyelamatkan perusahaan mereka, setelah diambil alih Keluarga Kartajaya, lalu memimpinnya hingga mendulang sukses kembali.

Dan kesepakatan gila itu adalah pintu gerbang utamanya. Kini ego Naya seakan berkobar.

“Bukan begitu… maksudnya, aku masih butuh waktu,” tandasnya kemudian. “Kamu tahu, ini tak mudah buatku.”

“Tapi, lebih cepat lebih baik, Sayang…” desis Arman. “Kamu tidak ingat deadline yang diberikan oleh Papa, sebelum akhir tahun berakhir kamu harus sudah hamil?”

“A-aku tahu…” Naya menarik napas dalam-dalam. Jantungnya langsung berdetak cepat.

“Malam ini. Di hotel yang sudah kupesan,” Arman membisikkan kalimat itu lagi.

Kali ini, Naya mengangguk pelan.

Maka di malam itu, Naya menenggak beberapa gelas wine agar dirinya setengah sadar. Menit demi menit berlalu sampai akhirnya pintu kamar hotelnya terbuka.

Muncullah Ardi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   160. (END)

    Saat Naya melangkah di sepanjang lorong, dadanya terus berdebar gugup. Kedua tangannya kini sedikit berkeringat begitu suster mempersilakan dirinya masuk ke ruangan tempat Ardi dirawat.Naya pun tak sanggup menahan air matanya ketika tatapannya langsung beradu dengan Ardi yang tergolek lemah di atas ranjang.“Ardi…” Naya menghambur ke pinggir ranjang. Digenggamnya tangan suaminya yang begitu dingin.“Na-Naya… kamu baik-baik saja kan?” Suara yang keluar dari mulut pria itu terdengar parau. “A-anak kita?”“Semua baik-baik saja, Sayang…” balas Naya terisak. “Jangan cemaskan hal apapun. Yang penting sekarang, kamu harus fokus pada penyembuhanmu, oke?”Ardi tersenyum tipis dan menggerakkan kepalanya pelan. “Tentu… aku akan berusaha, Nay…”Naya mengecup punggung tangan Ardi dan menatapnya sekali lagi sebelum akhirnya keluar ruangan.Begitu dia bertemu dengan dokter, dokter itu pun bilang bahwa kesembuhan Ardi seperti keajaiban. Pukulan benda itu sebenarnya bisa melumpuhkan sebagian tubuhnya

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   159.

    Petir menyambar lagi kali ini, menerangi sekejap ruang tengah yang temaram.Sementara itu, Shannon masih menatap tajam Naya yang tubuhnya menggigil ketakutan. Tiba-tiba saja, tawa Shannon berderai, tawa yang bengis dan menyeramkan di kuping Naya.Naya tak habis pikir, ada seorang perempuan yang begitu terobsesi dengan suaminya sampai melakukan hal gila seperti ini.“Selamat tinggal, wanita menyebalkan…” Shannon mengayunkan stik golf itu.“Ardi!” Naya tiba-tiba memekik kencang.Sontak Shannon menoleh ke belakang. Bukannya dia sudah memukul kepala pria itu berkali-kali?”PRANG!“Aaa!” Seketika Shannon menjerit kesakitan begitu sebuah vas keramik menghantam kepalanya. “Dasar, perempuan brengsek!”Rencana Naya berhasil. Begitu Shannon lengah, Naya pun langsung mengambil vas keramik yang ada di dekatnya.Stik golf itu terlepas dari tangan Shannon. Dan Naya langsung menendang stik itu jauh-jauh–sulit baginya untuk merunduk dan mengambil stik golf itu karena perutnya yang besar.Lantas, Naya

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   158.

    BRAK!Suara gedebum keras disertai teriakan histeris itu sontak membuat Ardi tersentak kaget. Dia tak mungkin sanggup menghadapi kenyataan bahwa dirinya harus kehilangan orang-orang yang dicintainya dua kali.“Hmpft!” Sekuat tenaga pria itu menyeret tubuhnya yang terikat ke ambang pintu. Dia bertekad akan menghabisi Shannon bagaimanapun caranya!Sampai akhirnya, dia melihat bayangan yang bergerak di lorong depan. Jantung Ardi pun berdegup cepat.Dari balik tangannya yang terikat, dia mengepal dengan erat. Begitu Shannon hendak melepaskannya, dia akan memukul wanita sialan itu sampai babak belur.Dan ketika Ardi mendongak, sosok itu kini berdiri di ambang pintu. Kedua mata Ardi lantas membelalak tak percaya.“A-Ardi…” Naya bergerak dengan langkah gontai ke arah suaminya yang terikat di lantai. “A-aku… kurasa aku sudah membunuh Shannon…”Ardi menggerak-gerakkan kepalanya.Naya lalu membuka kedua ikatan itu dan mereka pun berpelukan erat. Sementara itu, Naya terisak di bahu suaminya.“N

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   157.

    Haryasena meringkuk di balik selimutnya. Dalam tidurnya, wajah bocah itu masih terlihat muram.Bagaimana tak muram? Bayangan dirinya makan malam bersama kedua orangtuanya di sebuah restoran yang ada di gedung pencakar langit buyar seketika.Dua jam Naya dan Haryasena menunggu, Ardi tak kelihatan batang hidungnya sama sekali.“Astaga, apa yang terjadi padanya?” Naya berdecak gelisah setelah keluar dari kamar putranya. Sedari tadi, dia coba menghubungi suaminya namun hanya terdengar nada sambung tanpa jawaban.Kilatan petir seketika menyambar. Hujan yang tadinya turun rintik-rintik kini berubah lebat.Sejujurnya Naya gundah. Dia takut hal buruk menimpa suaminya.Ardi tak pernah tiba-tiba membatalkan janjinya seperti ini, apalagi ini adalah makan malam keluarga mereka yang spesial.Ini sungguh di luar perilakunya, pikir Naya dalam hati. Lalu, tiba-tiba saja sosok Shannon muncul di kepalanya.“Shannon…” mata Naya menyipit tajam. Buru-buru dia menghubungi Mardani, meminta alamat wanita t

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   156.

    Kaki Ardi melangkah ringan di sepanjang koridor. Dia menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu, tanpa ada meeting tambahan atau hal-hal mendadak lainnya.“Selamat bersenang-senang, Pak Ardi!” ucap Vita, sekretaris lamanya yang kini sudah kembali setelah cuti melahirkan. “Sampaikan salam saya pada Bu Naya dan Haryasena yang imut!”“Tentu,” Ardi mengangguk riang.Sebelum menjemput istri dan anaknya, dia berencana mampir ke toko bunga terlebih dahulu, mengambil pesanan buket bunga tulip untuk Naya.“Masih banyak waktu,” gumam Ardi saat melirik pergelangan tangannya. “Pasti Naya senang dengan kejutan kecil dariku,” lanjutnya lagi.Namun begitu Ardi baru saja masuk ke dalam mobilnya, ponselnya bergetar. Dia pikir itu telepon dari Naya, tetapi keningnya langsung mengerut tajam saat mengetahui bahwa Shannon yang meneleponnya.Ardi terdiam sejenak, membiarkan nama Shannon terus berada di layar ponselnya. Sampai akhirnya, ibu jarinya bergerak menerima panggilan itu.Tadinya, Ardi mau mengab

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   155.

    Sedari tadi, jemari Naya mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan gelisah di atas permukaan meja yang keras. Croissant dan air mineral di hadapannya tak tersentuh sama sekali.Jujur, dia begitu gugup menunggu kedatangan Mardani.Firasatnya mengatakan ada hal buruk yang terjadi pada suaminya dan wanita itu. Mungkin mereka benar-benar berselingkuh?Naya menarik napasnya pelan. Di lubuk hatinya, dia tak yakin Ardi tega melakukan itu. Tapi, kalau ternyata hal itu terjadi, apa yang harus dia lakukan?“Maaf, Nyonya Naya,” sosok Mardani akhirnya muncul juga di hadapannya. Pria itu langsung menarik kursi dan menghempaskan dirinya. “Jalanan macet siang ini.”“Silakan pesan minum dulu. Aku yang bayar,” tawar Naya.Setelah secangkir latte tersaji di hadapan detektif itu, jantung Naya pun berdebar cepat. Kini, saatnya wanita itu mengetahui apa yang terjadi.“Ceritakan padaku,” tandas Naya gugup. “Semuanya. Jangan ada yang ditutup-tutupi.”Mardani menaruh cangkir itu dan mulai membuka mulutnya. “Semala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status