MasukNaya mendorong troli belanjaan melewati jejeran rak buah-buahan. Matanya memindai tumpukan apel-apel segar sambil memilihnya.
Sampai tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundaknya.
“Naya?”
Suara yang renyah itu sontak membuat Naya menoleh. Lantas, matanya langsung melebar. “Dalia?! Astaga!”
“Ya ampun, nggak nyangka kita bisa ketemu di sini!” Wanita yang bernama Dalia itu memeluk erat teman lamanya.
“Kenapa kamu nggak bilang kalau udah balik ke Indo?” Naya merenggangkan dekapannya, menatap kulit Dalia yang semakin eksotis.
Dalia tersenyum miris. “Yah… sebenarnya… aku udah cerai makanya aku balik ke sini.”
“Heh?!” Naya tak bisa menahan keterkejutannya. “Ta-tapi, bukannya kalian baru menikah tiga bulan lalu, di Italia??”
Dalia menghela napas pasrah. Kedua bahunya melorot ke bawah. “Menikah di Italia nggak menjamin pernikahan bakalan langgeng kan?”
Naya mengusap pundak Dalia dengan penuh prihatin. “Maksudku, Oliver terlihat seperti gentleman. Dia bahkan melamarmu dengan romantis di Bali…”
“Pria memang brengsek,” Dalia berdecak pelan, mengambil plastik buah dan mulai memilih-milih apel di samping Naya. “Eh, tapi nggak berlaku buat suamimu sih.”
Mendengar itu Naya tertawa miris.
“Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Naya penasaran.
“Selingkuh, dengan penari telanjang.” Terang Dalia.
“Yang benar?”
“Begitulah. Awalnya aku berpikir ini semua hanya mimpi buruk, tapi tidak. Oliver benar-benar tidur dengan wanita sialan itu.”
Di sepanjang mereka belanja, Dalia mulai bercerita soal hubungan percintaannya yang malang. Ceritanya ternyata berlangsung cukup lama, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang bersama.
“Aku panggil sopirku dulu ya, buat masukkin barang belanjaanku ke mobil,” ucap Naya.
Begitu Ardi muncul, ekspresi wajah Dalia sedikit berubah.
“Dia sopirmu?” Tanyanya setelah Ardi pergi sambil menenteng belanjaan Naya.
“Iya, memangnya kenapa?”
“Yang benar saja, dia nggak pantes jadi sopir!” Desis Dalia sedikit heran, memperhatikan punggung Ardi yang lebar. Saat menenteng barang belanjaan Naya, otot-otot tangan Ardi muncul dari balik kemejanya.
“Kenapa nggak pantas?”
“Dia terlalu tampan! Lihat, dari belakang saja tubuhnya sudah begitu menggoda!” Desis Dalia dengan bersemangat.
“Astaga, Dalia! Kupikir kamu trauma dengan hubungan percintaanmu!” Naya menatap heran temannya itu.
“Oh, buat apa aku trauma?! Bye, Oliver. Aku bisa dengan mudah mencari penggantinya,” Dalia terkekeh pelan. “Atau mungkin… aku bisa deketin sopirmu itu? Siapa namanya?”
“Hah! Kamu bercanda!” Balas Naya. Entah kenapa sekarang dia jadi was-was begini. “Aku nggak akan membiarkanmu menggoda pria polos seperti Ardi.”
“Oh, namanya Ardi,” Dalia manggut-manggut. “Lagian, tahu dari mana kalau dia polos, Nay?”
“Sudahlah, sebaiknya kita cepat ke restoran sebelum mulai ramai orang makan siang,” tandas Naya, menarik lengan Dalia.
Sambil mengunyah potongan daging steak, Dalia menatap Naya dengan lekat. “Sekarang, giliran kamu. Ceritakan soal kehidupan pernikahanmu yang menyenangkan itu.”
“Menyenangkan?” Naya menyesap air mineral di hadapannya. “Kenapa kamu bisa menyimpulkan kalau kehidupan pernikahanku menyenangkan?”
“Astaga, Naya. Semua orang juga tahu kalau hidupmu sempurna. Arman tampan, kaya raya, setia, dan dirimu? Sepanjang aku mengenalmu, kamu nggak pernah melakukan hal-hal yang aneh. Lulus S2 dengan IPK nyaris sempurna, cantik, dan mewarisi perusahaan teh turun temurun keluargamu.”
“Kamu terlalu melebih-lebihkan,” decak Naya. “Apa yang kamu lihat di permukaan nggak seperti kenyataannya.”
“Oh ya? Jadi apa kekurangan hidupmu, hah?” Pertanyaan itu terdengar seperti tantangan di telinga Naya.
Naya menopang dagunya.
‘Suamiku mandul, tapi kami harus punya anak. Dan aku terpaksa tidur dengan sopirku sendiri, puas? Ah satu lagi, perusahaan teh keluargaku bangkrut, aku nggak sekaya yang kamu pikir. Dan kamu pasti kaget kalau tahu pernikahanku hanyalah transaksional belaka.’
Naya menyeringai miris dalam hati.
“Tuh kan, kamu bahkan nggak bisa menjawab pertanyaanku tadi,” sergah Dalia. “Enak ya jadi kamu… Pasti Arman pria yang romantis, ya? Aku pernah baca di majalah bisnis tentang profil Arman. Dia bahkan sering memberikan kejutan kecil untukmu.”
“Begitulah,” balas Naya singkat sambil mengedikkan bahunya.
Dia yakin Dalia membaca salah satu artikel tentang Arman di salah satu majalah gaya hidup eksklusif. Tetapi yang dikatakan Arman di majalah itu bohong.
Kehidupan pernikahan mereka cukup dingin di balik layar.
Ah, soal kejutan itu tak sepenuhnya bohong. Karena pada akhirnya Arman memang memberikannya kejutan yaitu kesepakatan gila yang hanya diketahui mereka berdua–dan Ardi tentunya.
“Terus kapan kamu mau punya anak? Kalian sudah menikah setahun kan?”
Naya tertawa kecil. “Kamu seperti keluarga besar kami.”
“Well, sorry, Nay. Aku cuma penasaran aja,” balas Dalia sedikit bersalah. “Kupikir kamu bakalan langsung punya anak. Biasanya orang-orang berduit seperti kalian pasti sangat menginginkan keturunan, bukan?”
“Yah, doakan saja,” Naya menusuk potongan daging terakhir di piringnya dengan garpu dan melahapnya.
Dia tersenyum getir sambil membayangkan dirinya yang harus merelakan tubuhnya pada pria lain demi mempertahankan semua, reputasi dan perusahaan teh berharga keluarganya.
***
Suara dentingan piano menggema ke setiap sudut ballroom yang besar.
Perayaan hari jadi Kartajaya Group yang ke-50 sedang berlangsung. Acaranya meriah dan mewah. Orang-orang penting dari penjuru negeri seakan berkumpul jadi satu di sini.
Suara tawa dan obrolan terdengar di tengah beberapa orang yang sedang berdansa.
“Mungkin sudah belasan kali orang-orang menanyakan kapan aku punya anak,” Arman berbisik di telinga istrinya seraya berdansa pelan mengikuti alunan piano.
Naya tak menjawab. Lantas, Arman mendekap erat tubuh istrinya itu.
“Lakukanlah malam ini,” suara berat suaminya mendesis di telinga Naya yang membuatnya merinding. Dia tahu maksud kalimat itu.
“Ma-maksudmu?” Tanyanya pura-pura naif.
“Tidur dengan pria itu malam ini. Aku sudah menyiapkan hotel untuk kalian.”
Tubuh Naya menegang. Ardi sudah membuatnya berpikiran yang tidak-tidak, tapi Naya tetap tak bisa membayangkan kalau segala fantasi liar soal sopirnya itu jadi kenyataan.
“Kurasa aku belum bisa melakukannya,” balas Naya dengan nada rendah yang parau.
Perempuan itu bisa mendengar embusan keras yang menyapu pipinya.
“Kalau begitu… saham enam puluh persen itu batal,” tandas Arman santai. “Kamu akan benar-benar kehilangan kesempatan untuk memiliki kembali perusahaan teh turun temurun keluargamu itu.”
Naya menelan ludahnya pelan.
Jauh di lubuk hatinya, dia selalu ingin membuktikan pada ayahnya, terutama, kalau dia bisa menyelamatkan perusahaan mereka, setelah diambil alih Keluarga Kartajaya, lalu memimpinnya hingga mendulang sukses kembali.
Dan kesepakatan gila itu adalah pintu gerbang utamanya. Kini ego Naya seakan berkobar.
“Bukan begitu… maksudnya, aku masih butuh waktu,” tandasnya kemudian. “Kamu tahu, ini tak mudah buatku.”
“Tapi, lebih cepat lebih baik, Sayang…” desis Arman. “Kamu tidak ingat deadline yang diberikan oleh Papa, sebelum akhir tahun berakhir kamu harus sudah hamil?”
“A-aku tahu…” Naya menarik napas dalam-dalam. Jantungnya langsung berdetak cepat.
“Malam ini. Di hotel yang sudah kupesan,” Arman membisikkan kalimat itu lagi.
Kali ini, Naya mengangguk pelan.
Maka di malam itu, Naya menenggak beberapa gelas wine agar dirinya setengah sadar. Menit demi menit berlalu sampai akhirnya pintu kamar hotelnya terbuka.
Muncullah Ardi.
Naya mendorong troli belanjaan melewati jejeran rak buah-buahan. Matanya memindai tumpukan apel-apel segar sambil memilihnya.Sampai tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundaknya.“Naya?”Suara yang renyah itu sontak membuat Naya menoleh. Lantas, matanya langsung melebar. “Dalia?! Astaga!”“Ya ampun, nggak nyangka kita bisa ketemu di sini!” Wanita yang bernama Dalia itu memeluk erat teman lamanya.“Kenapa kamu nggak bilang kalau udah balik ke Indo?” Naya merenggangkan dekapannya, menatap kulit Dalia yang semakin eksotis.Dalia tersenyum miris. “Yah… sebenarnya… aku udah cerai makanya aku balik ke sini.”“Heh?!” Naya tak bisa menahan keterkejutannya. “Ta-tapi, bukannya kalian baru menikah tiga bulan lalu, di Italia??”Dalia menghela napas pasrah. Kedua bahunya melorot ke bawah. “Menikah di Italia nggak menjamin pernikahan bakalan langgeng kan?”Naya mengusap pundak Dalia dengan penuh prihatin. “Maksudku, Oliver terlihat seperti gentleman. Dia bahkan melamarmu dengan romantis di Bali…”
Degup jantung Naya berkejaran tak karuan bersamaan dengan bayangan Ardi yang semakin mendekat. Telapak tangannya berkeringat dan sedari tadi, Naya terus menggigit bibirnya keras-keras sambil berdoa ada keajaiban yang terjadi.Yah, seperti misalnya tiba-tiba terjadi gempa atau apa sajalah, pikir Naya.‘Tetapi sepertinya tak ada harapan…’ Naya mengeluh pasrah dalam hati. Sebentar lagi, Ardi bakal memergokinya di sini dan tamatlah sudah.Mungkin, Naya akan menyuruh Arman memecat Ardi agar dirinya tak tenggelam dalam rasa malu yang berkepanjangan.Tok, tok, tok.Suara ketukan pintu itu sontak menghentikan langkah Ardi.“Mas Ardi?” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu depan paviliun.Ardi nampak bimbang sejenak, namun dia segera memutar tubuhnya dan membukakan pintu.Amah, kepala pelayan Keluarga Kartajaya yang sudah berkepala lima, terlihat sedikit gugup ketika berhadapan dengan Ardi yang bertelanjang dada.“I-Itu Mas Ardi, tadi… Nyonya Naya nyariin Mas,” Amah menyunggingkan s
Seminggu kemudian pria itu datang.Ardi Dewantara.Tubuhnya yang tinggi, tegap dengan dada bidang yang bersembunyi di balik kemeja putih yang dikenakannya.“Tenang saja, dia bersih dan sehat. Aku sudah memastikannya. Aku tak mungkin memungut sembarang pria untukmu, Naya,” terang Arman di malam sebelumnya. “Dan ingat,” Arman menukas sedikit lebih tegas, memandangi wajah istrinya yang gamang. “Soal kesepakatan kita bahwa tak boleh melibatkan perasaan di antara kalian. Walau bagaimanapun, kamu tetap istriku.”Kelopak mata Naya mengerjap pelan begitu Ardi melempar senyum tipis padanya sehingga membuyarkan lamunannya.“Kita pergi kemana, Nyonya?” Suaranya terdengar rendah dan dalam saat melontarkan pertanyaan itu pada Naya.“Studio pilates.” Jawab Naya singkat.Lantas, sedan eropa hitam itu pun meluncur keluar dari gerbang Mansion Kartajaya. Di sepanjang perjalanan pulang-pergi tak ada perbincangan yang berarti. Sesekali Naya mencuri pandang dari jok belakang, menelusuri wajah bagian sam
“Pria pengganti?” Ulang Naya tak percaya. Kedua alisnya bertautan sambil berusaha memproses ucapan suaminya tadi. “Apa maksudmu?”Arman mendengus pelan sambil bersedekap. Sepasang mata hitam itu kini menyorot optimis.“Ya, aku akan memilih pria sempurna untuk menanamkan benih di rahimmu dan melahirkan anak untukku. Lebih tepatnya, untuk keluarga kita, Sayang…” Arman tersenyum penuh kemenangan.Mungkin dia merasa bangga pada dirinya karena bisa menemukan ide brilian seperti ini, pikir Naya.“Kamu gila!” Semprot Naya sambil geleng-geleng kepala. “Aku tak akan mau melakukan hal tolol seperti itu! Kamu pikir aku wanita murahan?! Tidur dengan pria lain demi mendapatkan keturunan? Astaga, lebih baik kita bercerai!”“Nay, dengarkan aku dulu,” seketika Arman mencengkram kedua bahu istrinya dengan erat sehingga Naya sedikit meringis kesakitan. “Ini seperti win-win solution. Tenang saja, aku tak akan memilih sembarang pria, seperti yang kukatakan di awal tadi. Pria itu pria yang sempurna.”“Sem
Udara pagi yang segar berembus masuk melalui pintu pembatas ruang makan dan halaman belakang yang dibuka lebar-lebar. Suara burung yang bercicit memecah keheningan di atas meja makan.Naya memotong roti bakar dengan hati-hati sementara Arman nampak sibuk memperhatikan tabletnya.Suara koran bergemerisik saat Rahmat Kartajaya yang duduk di ujung meja menutup korannya.“Bagaimana dengan pembebasan lahan kampung di pinggiran itu?” Suara berat pria enam puluh tahun itu tertuju pada putra satu-satunya, Arman.“Alot, Pa,” balas Arman. “Mereka minta ganti rugi yang besar padahal sertifikat hak milik saja tidak punya. Aneh.” Arman mendengus heran.Rahmat melipat korannya dan menyisip teh hitam. “Gusur secara paksa. Proyek apartemen kita harus mulai digarap akhir bulan ini.”“Aku tahu. Tapi tidak semudah itu,” Arman menghela napas pendek, menaruh tabletnya di atas meja. “Peraturan mengharuskan kita menyetujui nominal yang mereka minta atau merelokasi mereka ke tempat baru.”“Kalau begitu, kamu
Di dalam kamar yang remang, napas pria itu semakin menderu seiring dengan hentakan pinggulnya yang cepat. Dia bisa merasakan pelipisnya yang sedikit berkeringat padahal mereka berada di kamar yang dingin.Tak lama sengatan kenikmatan datang membuat tubuh pria itu mengejang hebat, sampai-sampai matanya terpejam dan dirinya tak kuasa mengerang keras.“Argh!”Di bawah tubuh pria itu, Naya berbaring dengan balutan lingerie merah yang sudah tak karuan. Kehangatan menyebar dari bawah sana tetapi respon tubuhnya terasa datar. Lagi-lagi, Arman tak mempedulikan dirinya yang belum mencapai puncak kenikmatan.“Hah!” Arman beringsut, masih sambil mengatur napasnya. “Cepat, angkat dan sandarkan kedua kakimu ke tembok.” Titahnya cepat.Naya menuruti perintah suaminya tanpa suara. Dengan ogah-ogahan, dia menarik tubuhnya.“Sepuluh menit,” Arman mengingatkan. “Kata Mama seperti itu.”“Ya, ya… aku tahu,” balas Naya.Arman lalu menghilang dari balik pintu kamar mandi, meninggalkan istrinya dalam posisi







