LOGINDegup jantung Naya berkejaran tak karuan bersamaan dengan bayangan Ardi yang semakin mendekat. Telapak tangannya berkeringat dan sedari tadi, Naya terus menggigit bibirnya keras-keras sambil berdoa ada keajaiban yang terjadi.
Yah, seperti misalnya tiba-tiba terjadi gempa atau apa sajalah, pikir Naya.
‘Tetapi sepertinya tak ada harapan…’ Naya mengeluh pasrah dalam hati.
Sebentar lagi, Ardi bakal memergokinya di sini dan tamatlah sudah.
Mungkin, Naya akan menyuruh Arman memecat Ardi agar dirinya tak tenggelam dalam rasa malu yang berkepanjangan.
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu itu sontak menghentikan langkah Ardi.
“Mas Ardi?” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu depan paviliun.
Ardi nampak bimbang sejenak, namun dia segera memutar tubuhnya dan membukakan pintu.
Amah, kepala pelayan Keluarga Kartajaya yang sudah berkepala lima, terlihat sedikit gugup ketika berhadapan dengan Ardi yang bertelanjang dada.
“I-Itu Mas Ardi, tadi… Nyonya Naya nyariin Mas,” Amah menyunggingkan senyumnya dengan salah tingkah.
“Oh iya, saya tahu. Sepertinya saya sudah telat,” balas Ardi.
“Eh, Mas Ardi sudah tahu?”
“Maksudnya, pas tadi saya antar Nyonya, Nyonya bilang hal itu ke saya,” sambar pria itu cepat.
Setelah itu, Ardi bergegas ke kamarnya. Selesai berpakaian, dia kembali teringat ke bayangan yang bersembunyi di samping kulkas tadi.
Sambil menggulung lengan bajunya, Ardi berjalan ke arah kulkas.
Kosong.
Tak ada siapa-siapa di sana. Namun, kening pria itu tetap mengernyit dalam.
“Sudahlah,” gumamnya, mempercepat langkahnya ke luar paviliun sebelum dirinya benar-benar terlambat.
Di luar paviliun, tubuh Naya bersandar di tembok yang dingin. Dia menghela napas lega begitu mendengar bunyi pintu depan yang menutup.
Pelan-pelan dia menggeser tubuhnya ke ujung tembok dan mengintip.
Punggung Ardi berjalan menjauhinya dengan langkah tergesa.
“Astaga… hampir saja!” Naya geleng-geleng kepala dengan tindakan konyolnya.
Untungnya, pintu belakang dapur tak terkunci. Jadi, dia bisa melarikan diri saat Ardi membukakan pintu untuk Amah.
Setelah memastikan keadaan aman, Naya segera pergi dari tempat ini. Dalam hati dia berjanji tak akan pernah melakukan hal konyol lagi seperti tadi.
Namun saat Naya berjalan memutar untuk masuk ke dalam mansion, tiba-tiba saja ada suara pria yang memanggilnya.
“Nyonya Naya?” Ujang, tukang kebun itu, menatap Naya dengan heran. Napas Naya nampak memburu dengan pipi yang merah dan pelipis yang berkeringat.
Dahi pria tua itu mengerut heran.
“Nyonya ngapain di sini?” Tanya Ujang, mengingat jarang sekali anggota Keluarga Kartajaya melewati kebun belakang tempat di mana para pelayan menjemur pakaian mereka.
Naya mengumpat dalam hati. Tetapi secepat kilat dia memasang ekspresi biasa, walaupun sebenarnya jantungnya hampir copot.
Otaknya berputar cepat mencari alasan.
“Saya… sedang lihat-lihat saja…” Naya melayangkan pandangannya ke sekitar.
“Eh?” Ujang terheran. “Lihat-lihat?”
“Iya… sepertinya…” Pandangan Naya menangkap rangka jemuran yang lusuh. “Harus ada yang diganti. Misalnya jemuran itu. Sudah jamuran kan? Maksud saya berkarat.”
“Ah, itu sih nggak perlu, Nyonya. Kalau ada apa-apa kami pasti laporan ke Amah,” sahut Ujang.
Dan memang biasanya seperti itu. Naya hanya mencari-cari alasan.
“Hm, begitu ya. Baguslah kalau begitu,” Naya berdeham dan berlalu dari hadapan Ujang.
Kedua alis pria itu bertautan saat melihat pintu dapur paviliun yang sedikit terbuka. Dia lalu memandangi punggung majikannya yang menjauh.
“Nggak mungkin Nyonya Naya dari paviliun. Mau apa Nyonya ke sana?” Pikir Ujang dan berlalu begitu saja.
Sementara itu Naya mengembuskan napas lega begitu akhirnya dia kembali dengan selamat ke dalam mansion.
***
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Naya berkelana. Lebih tepatnya, berkelana ke paviliun itu, tempat di mana dia melihat tubuh basah Ardi tanpa sehelai benang pun.
Tubuh yang atletis itu… Kulit kecoklatannya yang basah… Lalu matanya bergulir semakin ke bawah… Dan…
‘Tidak, tidak…’
Sekuat tenaga Naya berusaha menghempasnya, tetapi tetap saja hal itu rasanya sia-sia. Seperti ada sensasi yang berbahaya namun juga mengasyikan, seperti memompa adrenalin dalam dirinya.
Naya berpikir, apa yang bakal terjadi kalau saja Ardi memergokinya bersembunyi di samping kulkas. Akankah mereka malah melakukan hal gila? Misalnya… bercinta di kamar paviliun yang sempit itu?
‘Astaga, aku pasti sudah gila!’ batin Naya tak percaya. Sejak kapan dirinya jadi mesum seperti ini?!
“Nyonya?” panggil Ardi dari balik kemudi. Pria itu memiringkan tubuhnya, menghadap ke belakang. “Nyonya Naya? Nyonya?”
Naya terkesiap. Dilihatnya wajah sopirnya yang tampan itu.
“Kita sudah sampai,” kedua lesung pipi pria itu terlihat.
“Ah,” cepat-cepat Naya menyambar tasnya dan turun.
“Nyonya, tunggu!”
Naya mengembuskan napas cepat di tengah lobi gedung, memutar tubuhnya dan melihat Ardi yang berlari kecil menghampirinya.
“Apa lagi?” Tanya Naya sedikit jengkel. Entah kenapa dia merasa kesal karena seperti sudah terpikat dengan pesona bawahannya ini. “Kamu sudah tahu jadwalku kan? Kamu boleh pulang dulu, atau kemana saja, terserah. Asal jemput aku lagi pukul lima sore. Paham?”
“Bukan begitu, Nyonya.” Ardi mengulurkan tangannya. “HP Nyonya ketinggalan.”
“Oh… Thanks,” Naya segera menyambar ponselnya.
“Naya!” panggil Arman sambil melambaikan tangannya. Suaminya tersenyum lebar sambil berjalan ke arah mereka. “Kebetulan sekali kita bertemu di sini, Sayang…”
Arman mengecup kilat pipi Naya.
“Aku baru kembali dari makan siang,” terang Arman, memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Sendirian?” Tanya Naya.
“Yah, begitulah… Kadang aku butuh waktu sendiri. Lalu…” pandangannya kini beralih ke Ardi yang berdiri sopan di depan mereka. “Bagaimana dengan performa bawahan barumu ini? Dia bekerja dengan baik kan?”
Arman menyeringai tipis saat mengatakannya.
“Ya,” balas Naya singkat. “Tapi dia hampir terlambat mengantarku.”
“Maaf, Nyonya,” Ardi menundukkan kepalanya cepat-cepat.
“Maklumi saja. Ini hari pertamanya,” sergah Arman. Nadanya terdengar bijaksana. “Nah, Ardi. Layani istriku dengan baik, oke?” Arman kembali menyunggingkan bibirnya penuh makna sambil menepuk pelan pundak pria itu.
“Tentu, Tuan,” balasnya cepat.
“Bagaimana? Dia lumayan tampan kan?” bisik Arman saat mereka jalan berdampingan ke lift VIP.
Naya memutar kedua bola matanya. ‘Pertanyaan macam apa itu?’
Walaupun Naya tak menampik bahwa Ardi memang mempesona.
Arman merangkul pinggul istrinya. “Aku tak mungkin membiarkanmu tidur dengan pria jelek. Lagi pula, aku harus memastikan anak kita lahir dari gen yang bagus,” sambungnya masih dengan setengah berbisik.
Mereka kini berdiri di dalam lift.
“Jadi, kapan kalian akan melakukannya?” Tanya Arman. Pertanyaan itu terdengar mendesak di telinga Naya.
Naya hanya terdiam.
“Aku tahu kamu pasti gugup kan? Take your time, Sayang… Tapi, jangan lama-lama. Lebih cepat hamil, lebih baik,” terang Arman lagi.
Ting. Pintu lift terbuka.
Kecupan mendarat di pipi Naya sebelum Arman keluar di lantainya.
Lantas, lift berdengung pelan, membawa Naya ke lantai tujuannya. Seketika dadanya berdebar, mengingat dia harus segera melaksanakan kesepakatan gila mereka.
Namun dia merasa aneh, karena kali ini dia tak terlalu merasa takut melainkan sedikit bersemangat.
Naya mendorong troli belanjaan melewati jejeran rak buah-buahan. Matanya memindai tumpukan apel-apel segar sambil memilihnya.Sampai tiba-tiba sebuah tangan mendarat di pundaknya.“Naya?”Suara yang renyah itu sontak membuat Naya menoleh. Lantas, matanya langsung melebar. “Dalia?! Astaga!”“Ya ampun, nggak nyangka kita bisa ketemu di sini!” Wanita yang bernama Dalia itu memeluk erat teman lamanya.“Kenapa kamu nggak bilang kalau udah balik ke Indo?” Naya merenggangkan dekapannya, menatap kulit Dalia yang semakin eksotis.Dalia tersenyum miris. “Yah… sebenarnya… aku udah cerai makanya aku balik ke sini.”“Heh?!” Naya tak bisa menahan keterkejutannya. “Ta-tapi, bukannya kalian baru menikah tiga bulan lalu, di Italia??”Dalia menghela napas pasrah. Kedua bahunya melorot ke bawah. “Menikah di Italia nggak menjamin pernikahan bakalan langgeng kan?”Naya mengusap pundak Dalia dengan penuh prihatin. “Maksudku, Oliver terlihat seperti gentleman. Dia bahkan melamarmu dengan romantis di Bali…”
Degup jantung Naya berkejaran tak karuan bersamaan dengan bayangan Ardi yang semakin mendekat. Telapak tangannya berkeringat dan sedari tadi, Naya terus menggigit bibirnya keras-keras sambil berdoa ada keajaiban yang terjadi.Yah, seperti misalnya tiba-tiba terjadi gempa atau apa sajalah, pikir Naya.‘Tetapi sepertinya tak ada harapan…’ Naya mengeluh pasrah dalam hati. Sebentar lagi, Ardi bakal memergokinya di sini dan tamatlah sudah.Mungkin, Naya akan menyuruh Arman memecat Ardi agar dirinya tak tenggelam dalam rasa malu yang berkepanjangan.Tok, tok, tok.Suara ketukan pintu itu sontak menghentikan langkah Ardi.“Mas Ardi?” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu depan paviliun.Ardi nampak bimbang sejenak, namun dia segera memutar tubuhnya dan membukakan pintu.Amah, kepala pelayan Keluarga Kartajaya yang sudah berkepala lima, terlihat sedikit gugup ketika berhadapan dengan Ardi yang bertelanjang dada.“I-Itu Mas Ardi, tadi… Nyonya Naya nyariin Mas,” Amah menyunggingkan s
Seminggu kemudian pria itu datang.Ardi Dewantara.Tubuhnya yang tinggi, tegap dengan dada bidang yang bersembunyi di balik kemeja putih yang dikenakannya.“Tenang saja, dia bersih dan sehat. Aku sudah memastikannya. Aku tak mungkin memungut sembarang pria untukmu, Naya,” terang Arman di malam sebelumnya. “Dan ingat,” Arman menukas sedikit lebih tegas, memandangi wajah istrinya yang gamang. “Soal kesepakatan kita bahwa tak boleh melibatkan perasaan di antara kalian. Walau bagaimanapun, kamu tetap istriku.”Kelopak mata Naya mengerjap pelan begitu Ardi melempar senyum tipis padanya sehingga membuyarkan lamunannya.“Kita pergi kemana, Nyonya?” Suaranya terdengar rendah dan dalam saat melontarkan pertanyaan itu pada Naya.“Studio pilates.” Jawab Naya singkat.Lantas, sedan eropa hitam itu pun meluncur keluar dari gerbang Mansion Kartajaya. Di sepanjang perjalanan pulang-pergi tak ada perbincangan yang berarti. Sesekali Naya mencuri pandang dari jok belakang, menelusuri wajah bagian sam
“Pria pengganti?” Ulang Naya tak percaya. Kedua alisnya bertautan sambil berusaha memproses ucapan suaminya tadi. “Apa maksudmu?”Arman mendengus pelan sambil bersedekap. Sepasang mata hitam itu kini menyorot optimis.“Ya, aku akan memilih pria sempurna untuk menanamkan benih di rahimmu dan melahirkan anak untukku. Lebih tepatnya, untuk keluarga kita, Sayang…” Arman tersenyum penuh kemenangan.Mungkin dia merasa bangga pada dirinya karena bisa menemukan ide brilian seperti ini, pikir Naya.“Kamu gila!” Semprot Naya sambil geleng-geleng kepala. “Aku tak akan mau melakukan hal tolol seperti itu! Kamu pikir aku wanita murahan?! Tidur dengan pria lain demi mendapatkan keturunan? Astaga, lebih baik kita bercerai!”“Nay, dengarkan aku dulu,” seketika Arman mencengkram kedua bahu istrinya dengan erat sehingga Naya sedikit meringis kesakitan. “Ini seperti win-win solution. Tenang saja, aku tak akan memilih sembarang pria, seperti yang kukatakan di awal tadi. Pria itu pria yang sempurna.”“Sem
Udara pagi yang segar berembus masuk melalui pintu pembatas ruang makan dan halaman belakang yang dibuka lebar-lebar. Suara burung yang bercicit memecah keheningan di atas meja makan.Naya memotong roti bakar dengan hati-hati sementara Arman nampak sibuk memperhatikan tabletnya.Suara koran bergemerisik saat Rahmat Kartajaya yang duduk di ujung meja menutup korannya.“Bagaimana dengan pembebasan lahan kampung di pinggiran itu?” Suara berat pria enam puluh tahun itu tertuju pada putra satu-satunya, Arman.“Alot, Pa,” balas Arman. “Mereka minta ganti rugi yang besar padahal sertifikat hak milik saja tidak punya. Aneh.” Arman mendengus heran.Rahmat melipat korannya dan menyisip teh hitam. “Gusur secara paksa. Proyek apartemen kita harus mulai digarap akhir bulan ini.”“Aku tahu. Tapi tidak semudah itu,” Arman menghela napas pendek, menaruh tabletnya di atas meja. “Peraturan mengharuskan kita menyetujui nominal yang mereka minta atau merelokasi mereka ke tempat baru.”“Kalau begitu, kamu
Di dalam kamar yang remang, napas pria itu semakin menderu seiring dengan hentakan pinggulnya yang cepat. Dia bisa merasakan pelipisnya yang sedikit berkeringat padahal mereka berada di kamar yang dingin.Tak lama sengatan kenikmatan datang membuat tubuh pria itu mengejang hebat, sampai-sampai matanya terpejam dan dirinya tak kuasa mengerang keras.“Argh!”Di bawah tubuh pria itu, Naya berbaring dengan balutan lingerie merah yang sudah tak karuan. Kehangatan menyebar dari bawah sana tetapi respon tubuhnya terasa datar. Lagi-lagi, Arman tak mempedulikan dirinya yang belum mencapai puncak kenikmatan.“Hah!” Arman beringsut, masih sambil mengatur napasnya. “Cepat, angkat dan sandarkan kedua kakimu ke tembok.” Titahnya cepat.Naya menuruti perintah suaminya tanpa suara. Dengan ogah-ogahan, dia menarik tubuhnya.“Sepuluh menit,” Arman mengingatkan. “Kata Mama seperti itu.”“Ya, ya… aku tahu,” balas Naya.Arman lalu menghilang dari balik pintu kamar mandi, meninggalkan istrinya dalam posisi







