Share

6.

Author: Poepoe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-09 17:03:37

Degup jantung Naya berkejaran tak karuan bersamaan dengan bayangan Ardi yang semakin mendekat. Telapak tangannya berkeringat dan sedari tadi, Naya terus menggigit bibirnya keras-keras sambil berdoa ada keajaiban yang terjadi.

Yah, seperti misalnya tiba-tiba terjadi gempa atau apa sajalah, pikir Naya.

‘Tetapi sepertinya tak ada harapan…’ Naya mengeluh pasrah dalam hati. 

Sebentar lagi, Ardi bakal memergokinya di sini dan tamatlah sudah.

Mungkin, Naya akan menyuruh Arman memecat Ardi agar dirinya tak tenggelam dalam rasa malu yang berkepanjangan.

Tok, tok, tok.

Suara ketukan pintu itu sontak menghentikan langkah Ardi.

“Mas Ardi?” suara seorang wanita terdengar dari balik pintu depan paviliun.

Ardi nampak bimbang sejenak, namun dia segera memutar tubuhnya dan membukakan pintu.

Amah, kepala pelayan Keluarga Kartajaya yang sudah berkepala lima, terlihat sedikit gugup ketika berhadapan dengan Ardi yang bertelanjang dada.

“I-Itu Mas Ardi, tadi… Nyonya Naya nyariin Mas,” Amah menyunggingkan senyumnya dengan salah tingkah.

“Oh iya, saya tahu. Sepertinya saya sudah telat,” balas Ardi.

“Eh, Mas Ardi sudah tahu?”

“Maksudnya, pas tadi saya antar Nyonya, Nyonya bilang hal itu ke saya,” sambar pria itu cepat.

Setelah itu, Ardi bergegas ke kamarnya. Selesai berpakaian, dia kembali teringat ke bayangan yang bersembunyi di samping kulkas tadi.

Sambil menggulung lengan bajunya, Ardi berjalan ke arah kulkas. 

Kosong.

Tak ada siapa-siapa di sana. Namun, kening pria itu tetap mengernyit dalam. 

“Sudahlah,” gumamnya, mempercepat langkahnya ke luar paviliun sebelum dirinya benar-benar terlambat.

Di luar paviliun, tubuh Naya bersandar di tembok yang dingin. Dia menghela napas lega begitu mendengar bunyi pintu depan yang menutup.

Pelan-pelan dia menggeser tubuhnya ke ujung tembok dan mengintip.

Punggung Ardi berjalan menjauhinya dengan langkah tergesa.

“Astaga… hampir saja!” Naya geleng-geleng kepala dengan tindakan konyolnya. 

Untungnya, pintu belakang dapur tak terkunci. Jadi, dia bisa melarikan diri saat Ardi membukakan pintu untuk Amah.

Setelah memastikan keadaan aman, Naya segera pergi dari tempat ini. Dalam hati dia berjanji tak akan pernah melakukan hal konyol lagi seperti tadi.

Namun saat Naya berjalan memutar untuk masuk ke dalam mansion, tiba-tiba saja ada suara pria yang memanggilnya.

“Nyonya Naya?” Ujang, tukang kebun itu, menatap Naya dengan heran. Napas Naya nampak memburu dengan pipi yang merah dan pelipis yang berkeringat.

Dahi pria tua itu mengerut heran.

“Nyonya ngapain di sini?” Tanya Ujang, mengingat jarang sekali anggota Keluarga Kartajaya melewati kebun belakang tempat di mana para pelayan menjemur pakaian mereka.

Naya mengumpat dalam hati. Tetapi secepat kilat dia memasang ekspresi biasa, walaupun sebenarnya jantungnya hampir copot.

Otaknya berputar cepat mencari alasan.

“Saya… sedang lihat-lihat saja…” Naya melayangkan pandangannya ke sekitar.

“Eh?” Ujang terheran. “Lihat-lihat?”

“Iya… sepertinya…” Pandangan Naya menangkap rangka jemuran yang lusuh. “Harus ada yang diganti. Misalnya jemuran itu. Sudah jamuran kan? Maksud saya berkarat.”

“Ah, itu sih nggak perlu, Nyonya. Kalau ada apa-apa kami pasti laporan ke Amah,” sahut Ujang.

Dan memang biasanya seperti itu. Naya hanya mencari-cari alasan.

“Hm, begitu ya. Baguslah kalau begitu,” Naya berdeham dan berlalu dari hadapan Ujang.

Kedua alis pria itu bertautan saat melihat pintu dapur paviliun yang sedikit terbuka. Dia lalu memandangi punggung majikannya yang menjauh.

“Nggak mungkin Nyonya Naya dari paviliun. Mau apa Nyonya ke sana?” Pikir Ujang dan berlalu begitu saja.

Sementara itu Naya mengembuskan napas lega begitu akhirnya dia kembali dengan selamat ke dalam mansion.

***

Di sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Naya berkelana. Lebih tepatnya, berkelana ke paviliun itu, tempat di mana dia melihat tubuh basah Ardi tanpa sehelai benang pun.

Tubuh yang atletis itu… Kulit kecoklatannya yang basah… Lalu matanya bergulir semakin ke bawah… Dan…

‘Tidak, tidak…’

Sekuat tenaga Naya berusaha menghempasnya, tetapi tetap saja hal itu rasanya sia-sia. Seperti ada sensasi yang berbahaya namun juga mengasyikan, seperti memompa adrenalin dalam dirinya.

Naya berpikir, apa yang bakal terjadi kalau saja Ardi memergokinya bersembunyi di samping kulkas. Akankah mereka malah melakukan hal gila? Misalnya… bercinta di kamar paviliun yang sempit itu?

‘Astaga, aku pasti sudah gila!’ batin Naya tak percaya. Sejak kapan dirinya jadi mesum seperti ini?!

“Nyonya?” panggil Ardi dari balik kemudi. Pria itu memiringkan tubuhnya, menghadap ke belakang. “Nyonya Naya? Nyonya?”

Naya terkesiap. Dilihatnya wajah sopirnya yang tampan itu.

“Kita sudah sampai,” kedua lesung pipi pria itu terlihat.

“Ah,” cepat-cepat Naya menyambar tasnya dan turun.

“Nyonya, tunggu!”

Naya mengembuskan napas cepat di tengah lobi gedung, memutar tubuhnya dan melihat Ardi yang berlari kecil menghampirinya.

“Apa lagi?” Tanya Naya sedikit jengkel. Entah kenapa dia merasa kesal karena seperti sudah terpikat dengan pesona bawahannya ini. “Kamu sudah tahu jadwalku kan? Kamu boleh pulang dulu, atau kemana saja, terserah. Asal jemput aku lagi pukul lima sore. Paham?”

“Bukan begitu, Nyonya.” Ardi mengulurkan tangannya. “HP Nyonya ketinggalan.”

“Oh… Thanks,” Naya segera menyambar ponselnya.

“Naya!” panggil Arman sambil melambaikan tangannya. Suaminya tersenyum lebar sambil berjalan ke arah mereka. “Kebetulan sekali kita bertemu di sini, Sayang…”

Arman mengecup kilat pipi Naya.

“Aku baru kembali dari makan siang,” terang Arman, memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

“Sendirian?” Tanya Naya.

“Yah, begitulah… Kadang aku butuh waktu sendiri. Lalu…” pandangannya kini beralih ke Ardi yang berdiri sopan di depan mereka. “Bagaimana dengan performa bawahan barumu ini? Dia bekerja dengan baik kan?”

Arman menyeringai tipis saat mengatakannya.

“Ya,” balas Naya singkat. “Tapi dia hampir terlambat mengantarku.”

“Maaf, Nyonya,” Ardi menundukkan kepalanya cepat-cepat.

“Maklumi saja. Ini hari pertamanya,” sergah Arman. Nadanya terdengar bijaksana. “Nah, Ardi. Layani istriku dengan baik, oke?” Arman kembali menyunggingkan bibirnya penuh makna sambil menepuk pelan pundak pria itu.

“Tentu, Tuan,” balasnya cepat.

“Bagaimana? Dia lumayan tampan kan?” bisik Arman saat mereka jalan berdampingan ke lift VIP.

Naya memutar kedua bola matanya. ‘Pertanyaan macam apa itu?’

Walaupun Naya tak menampik bahwa Ardi memang mempesona.

Arman merangkul pinggul istrinya. “Aku tak mungkin membiarkanmu tidur dengan pria jelek. Lagi pula, aku harus memastikan anak kita lahir dari gen yang bagus,” sambungnya masih dengan setengah berbisik.

Mereka kini berdiri di dalam lift.

“Jadi, kapan kalian akan melakukannya?” Tanya Arman. Pertanyaan itu terdengar mendesak di telinga Naya. 

Naya hanya terdiam.

“Aku tahu kamu pasti gugup kan? Take your time, Sayang… Tapi, jangan lama-lama. Lebih cepat hamil, lebih baik,” terang Arman lagi.

Ting. Pintu lift terbuka.

Kecupan mendarat di pipi Naya sebelum Arman keluar di lantainya.

Lantas, lift berdengung pelan, membawa Naya ke lantai tujuannya. Seketika dadanya berdebar, mengingat dia harus segera melaksanakan kesepakatan gila mereka.

Namun dia merasa aneh, karena kali ini dia tak terlalu merasa takut melainkan sedikit bersemangat.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   145.

    “Selamat pagi, Pak Ardi,” senyum cerah mengembang di wajah wanita muda itu. Rambut lurusnya tergerai indah dengan setelan blus yang sedikit ketat tetapi masih terlihat profesional.“Kamu pasti Sania, sekretaris sementaraku. Iya kan?” Balas Ardi saat hendak menuju ke ruangannya.Sania mengangguk. “Mbak Vita sudah memberi tahu saya segala sesuatunya. Jadi, Bapak tak perlu khawatir.”“Yah, sebaiknya begitu,” Ardi tersenyum ramah sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu ruangannya.Tepat setelah itu, Sania menghela napasnya. Dia tak menyangka ternyata bos barunya memang setampan itu!“Hah, tapi sayang sekali… Dia sudah menikah,” keluh Sania dari balik mejanya. Untuk menghalau pikiran-pikiran aneh di benaknya, maka wanita muda itu menyibukkan diri dengan pekerjaanya. Sampai akhirnya, saat menuju jam makan siang, Ardi minta dibuatkan kopi. Sebenarnya Ardi meminta Sania agar OB yang membuatkan kopi untuknya, tetapi kali ini wanita itu ingin membuktikan pada Ardi kalau dia bisa membuat k

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   144.

    TIGA TAHUN KEMUDIAN…Angin malam berembus disertai suara deburan ombak yang tepat berada di depan cottage mereka.Mengenakan gaun hitam yang menawan, Naya nampak luar biasa malam ini. Rambutnya disanggul ke atas, menyisakan anak-anak rambut yang menggantung di lehernya yang jenjang.Satu tangan Ardi menjulur dari kursi seberang, meraih dagu istrinya.“Happy anniversary pernikahan kita yang ketiga, Sayang…” ucapnya sambil terus menatap sepasang mata jernih Naya yang memantulkan cahaya lilin yang ada di tengah meja mereka.Naya membalasnya dengan senyuman manis seraya mengangkat gelas wine di tangan kanannya. “Mari bersulang…”Bibir gelas itu pun saling berdenting. Suasana makan malam private di balkon cottage ini sungguh sempurna. Tak ada siapapun selain mereka.“Belum apa-apa, aku sudah merindukan Sena di rumah…” keluh Naya setelah menenggak habis wine di gelasnya.“Tenang saja… sudah ada ibu dan nanny yang mengawasinya,” balas Ardi. “Jadi…” Pria itu lantas bangkit dari kursinya, memu

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   143.

    Angin sore yang sejuk berembus pelan, menggerakkan helaian rambut Naya.Di tangannya ada secangkir teh hangat. Mata wanita itu kini tertuju ke arah taman rumah sakit.“Kemungkinan besar Arman mengalami kelumpuhan, itu yang dikatakan dokter,” terang Sophia dengan parau. Wanita itu lalu mengusap matanya yang basah. “Tapi persidangan tetap dilanjutkan. Bukti-buktinya cukup lengkap, begitu pula dengan vonis Arman nantinya…”Naya menyesap teh itu. “Kurasa… aku akan bertahan.”Sophia langsung menoleh, menatap Naya yang masih memandang lurus ke arah taman. “Be-Bertahan? Maksudmu?”“Sepertinya, Arman masih membutuhkan keberadaanku. Lagi pula, kesepakatan kami tak bocor ke publik. Jadi, orang-orang tahunya Haryasena memang anaknya Arman,” tandas Naya datar.“Naya, kamu serius?” Kening Sophia mengerut dalam.“Iya, Ma.” Naya lalu menatap ibu mertuanya yang nampak terkejut. “Aku… akan menarik gugatan ceraiku di pengadilan.”Sophia masih tak bisa mempercayai apa yang baru saja dia dengar.Lalu mere

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   142.

    Dua minggu setelah kedatangan Nirma, Arman diizinkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit.Setelah selesai, dia kembali ke selnya yang sempit. Dan sepanjang dia menunggu hasilnya, dia merasa begitu merana. Berkali-kali dia coba menanamkan pikiran positif bahwa semua bakal baik-baik saja.“Aku tak akan tertular penyakit itu dari Nirma… Tidak… Aku yakin,” gumam Arman.Tetapi tetap saja, rasa takut itu nyata. Sampai akhirnya, asisten pribadi Arman yang setia datang menjenguknya.Di ruangan itu, ekspresi Wira tak bisa ditebak. Dia terlihat datar, tapi Arman bisa melihat bola mata pria itu bergerak gelisah.“Jadi, bagaimana?” Tanya Arman. “Kamu sudah mendapatkan hasilnya kan?”Wira mengangguk. Dia lantas menjulurkan sebuah amplop besar ke hadapan Arman. “Hasilnya ada di situ, Tuan. Saya sendiri belum memeriksanya.”Arman mengembuskan napas keras-keras sebelum dia mengambil amplop itu. Membuka amplop ini seperti menentukan nasibnya ke depan.Degup jantung Arman menjadi-jadi

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   141.

    Naya berjalan di sepanjang lorong rumah sakit. Wajahnya nampak lelah.Dia tak tahu kejadian apa yang menimpa ibu mertuanya sampai wanita itu tak sadarkan diri di teras belakang. Padahal Naya baru saja berbicara dengan Sophia beberapa saat sebelum kejadian.Kepala Naya terasa berat sekarang. Maka, dia memutuskan untuk membeli kopi di kafetaria rumah sakit.Setelah memastikan keadaan Haryasena baik-baik saja, Naya duduk di salah satu bangku yang kosong yang ada di kafetaria itu. Dia menyisip kopi hitam yang masih mengepul dan pandanganya mengarah keluar jendela.Dirinya termenung, sampai-sampai dia tak menyadari ada sesosok bayangan yang mendekat ke arahnya.Saat Naya menoleh, ulu hatinya seperti dihantam sesuatu.“Nay,” Suara berat dan lembut itu mengalun. “Aku boleh duduk di sini?”Naya tak bisa berkata-kata. Dia tidak sedang bermimpi kan? Ardi, pria itu tiba-tiba muncul di hadapannya.“Se-sedang apa kamu di sini?” Tanya Naya sambil tergagap.“Aku membuntutimu dari mansion,” balas Ard

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   140.

    Ekspresi Naya sontak melongo. Matanya membulat kaget dengan mulut yang setengah menganga.“A-Arman?!” Desis Naya.Dengusan sinis keluar dari mulut pria itu. “Jangan pikir aku akan melepasmu begitu saja, Naya…”Kini giliran Naya yang menatapnya nyalang. “Kamu tak akan bisa menahanku selamanya. Walau kamu tak mau menandatangani berkas perceraian itu, aku bisa memakai pengacara untuk menggugatmu ke pengadilan.”Pandangan Arman menyipit. Pria itu nampak jengkel dengan pemberontakan istrinya.“Mudah bagiku untuk bercerai denganmu, Arman. Bukti-bukti perselingkuhanmu begitu jelas dan tentu saja hak asuh Haryasena jatuh ke tanganku,” tandas Naya dengan nada tajam.“Oh.. Jadi sekarang kamu berperan sebagai istri yang durhaka, hah?” Dagu Arman menukik ke atas, coba mengintimidasi Naya.“Terserah kamu mau mengasumsikanku sebagai apa. Aku tak peduli. Tapi satu hal yang pasti, kita akan bercerai,” tegas perempuan itu sambil bangkit dari kursinya. “Dan tenang saja, kita sudah membuat perjanjian p

  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   13.

    Suara dentingan gelas beradu. Obrolan-obrolan samar terdengar memenuhi sudut restoran. Hujan di luar sudah reda, menyisakan titik-titik air yang membasahi kaca jendela.Naya memutar-mutar gelasnya, memperhatikan gelembung wine yang meletup-letup. Tatapannya mulai sayu dan pipinya nampak memerah.“L

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   9.

    Naya mendesah berat. Rambutnya berantakan karena kepalanya terus bergerak ke sana kemari. Dadanya berdebar, naik turun dengan napas yang tak beraturan.Tubuhnya sedari tadi menggeliat di atas ranjang hotel yang empuk, m

    last updateHuling Na-update : 2026-03-17
  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   69.

    Pintu ruangan VIP itu menggeser terbuka. Rahmat berdiri di ambang pintu dengan matanya yang berkilat-kilat penuh amarah. Dada pria enam puluh lima tahun itu nampak naik turun, berusaha menahan gejolak yang bergumul di dalamnya.

    last updateHuling Na-update : 2026-04-05
  • Tak Disayang Suami, Sopir Pun Jadi   68.

    Saat Ardi berada di ruang televisi paviliun, tiba-tiba saja ponselnya berdering.“Dari siapa tuh, Mas?” Ujang melirik ingin tahu. “Pacar ya??” Godanya lagi.Buru-buru, Ardi menjauhkan ponselnya dari si tukang kebun itu karena yang menghubunginya ternyata Mardani, detektif swasta sewaannya.“Bukan,

    last updateHuling Na-update : 2026-04-05
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status