Share

Bab 2

Penulis: Larasati
Keesokan harinya, Riady tidak pergi bekerja. Dia meluangkan waktu untuk mengajak Shella berbelanja perhiasan. Shella menyetujui ajakan itu dengan hati yang tetap tenang.

Entah itu karena Riady tiba-tiba merasa dirinya terlalu mengabaikan Shella atau karena tiba-tiba merasa bersalah, itu tidak penting lagi. Dalam sebulan ini, apa pun yang ingin Riady belikan untuknya, dia akan menerima semuanya. Ini memang pantas dia dapatkan. Kenapa dia harus menolak?

Shella mengikuti Riady ke toko perhiasan terbesar di pusat kota. Ini adalah merek lama yang sudah berdiri seratus tahun. Produk mereka yang paling terkenal adalah set perhiasan edisi terbatas.

Begitu berjalan masuk bersama Riady, Shella langsung melihat satu set produk andalan toko yang dipajang tepat di tengah ruangan. Isinya adalah mahkota phoenix emas, anting rumbai giok merah, dan gaun pengantin bergaya tradisional yang mewah. Semua itu terlihat jelas dibuat khusus untuk pengantin wanita.

Di bawah satu set produk tersebut, terdapat label harga 4,6 miliar.

Perhatian Shella langsung tertuju pada set perhiasan itu. Di antara bukti yang dikirim oleh detektif swasta, dia pernah melihat riwayat transaksi sebesar 4,6 miliar di toko ini.

Ketika mendiskusikan tanggal pernikahan, Riady pernah mengatakan akan mengadakan pernikahan bergaya tradisional yang megah. Dia ingin Shella mengenakan mahkota phoenix dan gaun pengantin tradisional, lalu mengadakan upacara pernikahan yang spektakuler.

Janji manis sehidup semati itu tidak lebih dari janji yang dilontarkan saat hasrat pria memuncak. Janji itu bisa diberikan kepada siapa saja. Hanya Shella sendiri yang menganggapnya serius, juga tidak berhenti bermimpi tentang komitmen seumur hidup. Pada akhirnya, yang didapatkannya hanyalah pengkhianatan yang kejam.

Napas Shella menjadi sedikit tidak teratur.

Di sisi lain, pramuniaga menyadari tatapan Shella dan berujar, "Nona, mahkota dan gaun pengantin ini sudah terjual. Tiga hari lalu, ada yang memesannya dan membayar penuh. Sekarang, itu hanya dipajang sementara di toko kami. Maaf."

Shella langsung tertegun dan menatap Riady. Ekspresi Riady terlihat canggung untuk sesaat.

Pramuniaga lain berkata dengan emosional, "Dengar-dengar, itu hadiah dari seorang pria kaya untuk pacarnya. Mereka bahkan belum sampai tahap membicarakan pernikahan, tapi dia sudah begitu murah hati."

"Aku iri banget! Pria kaya itu pasti sangat mencintai pacarnya."

"Kalian nggak tahu, 'kan? Waktu gadis itu datang kemari dan jatuh cinta sama satu set produk itu, dia cuma menelepon seseorang dan uangnya langsung ditransfer ke rekening toko."

"Itu pasti cinta sejati! Pria itu pasti sangat mencintainya."

Shella mendengarkan dengan tenang, tetapi hatinya terasa makin berat. Di bawah lampu yang terang, dia melihat secercah kepuasan di mata Riady dan bibirnya sedikit melengkung.

Pria itu sedang menikmati pengabdiannya kepada Amila. Bahkan di depan tunangannya.

Shella sedikit gemetar. Wajahnya pucat dan dia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Riady akhirnya menyadari ekspresinya yang aneh dan menarik pergelangan tangannya. "Shella, ada apa? Apa gula darahmu jadi rendah lagi?"

Riady mengerutkan kening dan terlihat khawatir. Dia mengeluarkan sebutir permen cokelat dari saku jasnya, membuka kemasannya, dan menyodorkannya ke depan bibir Shella.

"Cepat makan permen ini."

Kekhawatiran Riady terlihat tulus.

Shella bertanya-tanya, jika dia tidak melihat dan mendengar hal-hal itu di bar, apakah dia baru akan mengetahui perselingkuhan Riady setelah menikah dan memiliki anak? Apakah pada saat itu, dia akan terjebak seumur hidup dan bahkan tidak sempat menyesal?

Tiba-tiba, Shella merasa mual. Dia menepis tangan Riady, lalu menutup mulutnya sambil berlari ke kamar mandi di ruang tunggu sebelah dan muntah hebat.

Riady mengetuk pintu dengan cemas dan berjalan mondar-mandir di depan pintu.

Shella berkumur-kumur dan membasuh wajah dengan air dingin untuk menenangkan diri. Kemudian, dia baru membuka pintu.

Riady segera memberinya sapu tangan yang sudah disiapkannya. Dia bertanya dengan suara penuh kekhawatiran, "Kamu baik-baik saja? Aku akan antar kamu ke rumah sakit."

Shella terlalu lemas untuk mengatakan apa pun dan hanya mengangguk. Riady pun memapahnya keluar. Baru saja mereka masuk ke mobil, ponsel Riady berdering. Kontak itu hanya diberi nama "Sekretaris".

Selama bertahun-tahun bekerja, Riady memiliki banyak asisten dan sekretaris. Namun, Shella tahu bahwa dia memiliki kebiasaan menambahkan catatan yang jelas untuk hal seperti ini. Sekalipun hanya ada satu sekretaris di perusahaan, dia tetap akan menambahkan namanya di kontak.

Ekspresi Riady sedikit berubah. Dia segera keluar dari mobil untuk menjawab telepon. Sementara itu, Shella bersandar di kursi penumpang dan menunggu dengan tenang.

Dua menit kemudian, Riady naik lagi ke mobil.

"Shella, aku panggilkan dulu taksi online untuk antar kamu ke rumah sakit. Ada urusan mendesak di perusahaan dan aku harus pergi ke sana. Aku nggak bisa temani kamu pergi ke rumah sakit."

Melihat ekspresi serbasalah Riady, Shella mengepalkan tangan dengan erat hingga kukunya menancap ke telapak tangannya. Dia menjawab sambil memaksakan senyum, "Oke."

Setelah turun dari mobil, Riady mendorongnya masuk ke sebuah taksi. Setelah itu, Riady langsung melaju pergi.

Sopir menoleh dan bertanya, "Nona, kamu mau ke mana?"

Shella menjawab dengan acuh tak acuh, "Ikuti mobil di depan."

Sopir itu ragu sejenak, lalu dengan cepat menginjak pedal gas dan mengikuti mobil Riady.

Riady mengemudi dengan sangat cepat dan tergesa-gesa. Perjalanan dari toko perhiasan ke perusahaannya biasanya memakan waktu lebih dari 30 menit. Namun, dia hanya memerlukan waktu 20 menit.

Sopir mengikuti mobil Riady dan tidak berhenti berkomentar sepanjang jalan, "Cepat banget dia nyetirnya! Dia bahkan hampir menerobos lampu merah. Kalau bukan karena aku mengenal situasi jalan dengan baik, kita pasti sudah ketinggalan."

Shella tidak berbicara, hanya mencengkeram lengan bajunya erat-erat. Tak lama kemudian, mereka sampai di seberang jalan perusahaan Riady.

Begitu mendongak, Shella menangkap sosok dua orang di luar pintu masuk perusahaan.

Riady mengenakan setelan jas yang rapi, sedangkan Amila di sampingnya mengenakan rok pendek ketat. Dia memiliki wajah polos dan bertubuh montok. Mereka berbicara sebentar, lalu melihat ke sekeliling sebelum pergi ke cafe lantai dua di gedung sebelah.

Shella tetap duduk di dalam mobil. Dia dengan tenang memperhatikan kedua orang itu duduk di kursi dekat jendela, seolah-olah tidak berniat untuk menyembunyikan apa pun.

Kue stroberi dan iced Americano yang biasanya paling tidak disukai Riady disajikan dalam dua porsi. Amila menyuapi Riady kue itu dengan garpu, lalu membujuknya untuk mencoba sedikit iced Americano. Dia mungkin juga tahu Riady tidak menyukai semua itu, makanya dia menutup mulutnya dan tersenyum usil.

Riady menatap Amila dengan penuh kasih sayang dan menelan semua itu dengan pasrah. Setelahnya, dia baru membilas mulutnya dengan air putih.

Kemesraan mereka membuat mata Shella perih. Dia tiba-tiba teringat masa di mana mereka baru berpacaran.

Riady alergi terhadap mentega, tetapi tidak tega menolak kue yang dibuat Shella. Setelah menghabiskan kue itu, reaksi alerginya langsung muncul malam itu juga.

Shella pun ketakutan dan tidak berhenti menangis di samping tempat tidur. Riady berbaring di tempat tidur sambil memegang tangannya, lalu mengatakan bahwa dia akan memakan apa pun yang dibuat Shella, sekalipun itu adalah racun.

Sekarang, Riady telah bertemu gadis lain yang membuatnya rela merasakan reaksi alergi demi menyenangkannya. Yang satu berselingkuh, tetapi masih berpura-pura setia. Sementara yang satu lagi tahu bahwa pihak lain sudah bertunangan, tetapi tetap bersedia menjadi pihak ketiga. Mereka berdua sama-sama bukan orang baik.

Shella menggigit bibirnya, lalu membuka pintu mobil. Dia sangat ingin menyiram mereka dengan dua gelas iced Americano itu. Namun, sopir taksi itu segera menghentikannya.

Sopir itu menatap Shella dan berkata dengan sungguh-sungguh, "Terkadang, orang harus menutup sebelah mata terhadap hal-hal tertentu untuk bahagia. Meski itu orang lain, kamu juga nggak bisa menjamin orang itu nggak akan pernah mengkhianatimu. Kalau sudah menikah, ya dijalani saja. Yang paling penting, kamu tetap dapat uang."

Shella mencengkeram lengan bajunya dan akhirnya tenang. Dia tidak setuju dengan kata-kata sopir itu.

Mungkin ada banyak orang di dunia ini yang tidak dapat mengendalikan hasrat mereka, tetapi itu tidak berarti bahwa Shella adalah satu-satunya orang di dunia yang dapat setia dalam urusan perasaan dan pernikahan.

Memang Riady yang sudah "busuk". Shella tidak bisa menghabiskan hidupnya terjerat dengan orang seperti itu. Itu baru benar-benar akan membawa kehancuran total baginya.

Semua pikiran berkecamuk di benaknya. Shella menutup pintu mobil, lalu tidak lagi melihat ke arah kafe. "Jalan saja."

Shella memejamkan mata. Dia memutuskan untuk bertahan sampai batas waktu, lalu pergi. Kurang dari dua jam setelah Shella kembali ke rumah, Riady bergegas kembali saat menjelang malam.

Melihat Shella sedang makan malam, Riady mengerutkan kening dan bertanya, "Shella, kenapa kamu batalkan tempat pernikahan kita?"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 50

    Shella membayar biaya pengobatan Christoff, lalu berbalik untuk pergi. Sebelum berpisah, Christoff memberikan informasi kontaknya kepada Shella.Setelah agak malam, Amila mencoba menelepon Peter, tetapi nomor Peter tidak dapat dihubungi. Amila pun merasa bingung. Mengingat Shella tidak tewas hari ini, sepertinya pria tadi siang yang telah menyelamatkannya. Dia benar-benar beruntung! Namun, rencananya perlu dipercepat. Jika tidak, semuanya akan terlambat!Memikirkan hal ini, Amila sengaja mendekati Riady. "Riady, jangan marah lagi. Shella pasti nggak bermaksud begitu. Mungkin ada kesalahpahaman! Sebelumnya, kamu bilang Nenek sangat percaya sama mitos. Kebetulan, aku kenal seorang peramal yang bisa meramal dengan sangat akurat. Aku akan bawa dia untuk melakukan ritual buat Nenek besok. Gimana menurutmu?" ucap Amila dengan manja sambil merangkul lengan Riady.Mata Riady menjadi gelap. Rasa sakit hati karena Shella perlahan-lahan memudar. Dia berbalik dan mencium bibir Amila, lalu memper

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 49

    "Shella, kita akan segera menikah, apa gunanya kamu berbuat begini? Kamu sengaja pakai pria seperti ini untuk membuatku cemburu, 'kan?""Shella, kamu seharusnya minta maaf sama Riady. Bukan salahmu berselingkuh. Lagian, pria ini memang sangat tampan. Wajar saja kamu tergoda! Tapi karena kamu sudah berselingkuh, jangan berpegang teguh pada posisi istri Riady lagi."Hanya orang yang memfitnah orang lain yang tahu betapa tidak adilnya tuduhan itu.Tatapan dingin Shella tertuju pada Amila. Amila pun secara refleks merasa takut. Kemudian, entah sejak kapan, Shella telah berhasil menepis cengkeraman Riady dan menampar Amila dengan kuat."Ngomong soal ini, aku bahkan belum menyelesaikan urusanku denganmu. Amila, beraninya kamu menghasut kakakmu untuk menabrakku dengan mobil. Aku sudah lapor polisi, juga catat nomor pelatnya. Suruh dia siap-siap untuk masuk penjara!" Ekspresi Amila seketika berubah. Kemudian, dia menatap Riady dengan ekspresi sedih."Shella, apa-apaan kamu! Amila nggak punya

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 48

    "Dia pingsan karena gula darah rendah. Untungnya, dia dibawa ke rumah sakit tepat waktu. Berhubung pacarmu ada gula darah rendah, jangan lupa untuk tetap sediakan beberapa butir permen biar bisa antisipasi keadaan darurat," ujar dokter.Shella hendak menjelaskan bahwa Christoff bukan pacarnya. Namun, dokter itu sudah berbalik dan pergi.Kebetulan, Riady mendengar semua ini dari luar. Dia pun mengepalkan tangannya dan menerobos masuk.Shella seketika mematung. Riady menghampirinya, lalu meraih pergelangan tangannya dan menuntut, "Siapa dia?"Riady menunjuk ke arah Christoff yang bertelanjang dada. Amila yang baru saja masuk langsung merasakan aura mengesankan pria itu. Dia dapat menilai bahwa jam tangan di pergelangan tangan pria itu saja sudah bernilai miliaran. Shella juga mengenal orang sehebat itu?Amila menggigit bibir dan bertanya kepada Shella, "Shella, apa hubunganmu dengan orang ini? Kenapa kamu sampai secara khusus temani dia datang ke rumah sakit?"Shella sangat ingin merobek

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 47

    Bagi Amila, janji seperti itu hanyalah bentuk dari menguji kesabarannya. Perutnya sudah makin besar. Jika Riady benar-benar menikahi Shella, dia hanya bisa menjadi simpanan seumur hidupnya.Amila menarik napas dalam-dalam. Namun, sebentar lagi, dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya!Keesokan harinya.Shella bersiap untuk pergi memeriksa rumah di Kota Horion. Saat tiba di pintu masuk bandara dan baru saja dia keluar dari mobil, dia melihat sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Ekspresinya langsung berubah dan kakinya lemas secara refleks.Ada seseorang yang menarik Shella dari belakang. Dia pun jatuh ke pelukan orang itu. Kemudian, terdengar erangan tertahan.Shella menunduk dan melihat Christoff menahan jatuhnya. Lengan pria itu memeluknya dengan erat. Mobil yang sudah lewat itu tiba-tiba mengerem, lalu berbalik dan kembali melaju ke arah Shella.Ekspresi Shella seketika berubah. Ini adalah pembunuhan yang disengaja! Shella menggigit bibirnya dan meraih lengan Christoff. "Cep

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 46

    Pernikahan itu tidak pernah ada.Shella menarik napas dalam-dalam, lalu memaksakan senyum."Resepsi pernikahan kita akan diadakan di sebuah pulau. Ibu sudah mengatur semuanya. Kalau nggak percaya, tanya saja sama dia."Shella segera menyebut nama Rossa.Kecurigaan Riady mulai goyah lagi. "Sayang, aku juga cuma nanya."Dia melangkah maju dan meraih lengan Shella. "Aku takut banget kehilangan kamu. Kamu tahu aku sudah tunggu enam tahun penuh untuk hari ini." Shella mengerutkan bibir. Enam tahun bukanlah waktu yang lama, tetapi juga tidak singkat. Bagi Shella, ini terasa seperti mimpi. Setelah bangun, semuanya pun hilang."Apa kamu benar-benar berpikir kita bisa menikah?" tanya Riady untuk menguji.Shella terkekeh. "Selama kamu mau, kita pasti bisa menikah."Riady memeluknya. "Sayang, terima kasih kamu bersedia menikahiku!"Shella tersenyum getir. Berakting sangat melelahkan. Namun, dia tidak tahu kenapa Riady dapat melakukannya dengan santai."Masih ada urusan di perusahaan. Aku pergi

  • Tak Rujuk, Tak Memaafkan, Penyesalanmu Datang Terlambat   Bab 45

    Tubuh Amila sedikit gemetar. Entah kenapa, tatapan Riady terasa menakutkan baginya. Dia mendekat ke arah Riady, ingin menyenangkan pria itu seperti biasa. Namun, Riady langsung menghindar. Jarang-jarang dia bersikap sedingin ini."Kamu sudah capek. Aku akan mengantarmu pulang sekarang!"Riady seolah-olah menolak melakukan kontak fisik dengan Amila.Setelahnya, Amila mencoba mengulangi trik lamanya. Dia ingin menggunakan anak untuk mengikat Riady. Namun, Riady tetap tenang dan berujar, "Aku ada urusan di perusahaan. Aku pulang dulu."Entah kenapa, setiap kali melihat Amila, Riady akan teringat adegan mesra Amila dan Kenji. Kenji merangkul pinggang Amila, sedangkan Amila mencium Kenji. Dia merasa seolah-olah barang miliknya telah disentuh orang lain dan tidak lagi murni.Ketika mendengar suara pintu ditutup, Amila mengentakkan kaki dengan marah. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Riady bahkan tidak mau menyentuhnya lagi sekarang?Amila mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang seperti b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status