بيت / Young Adult / Tak Setara / Atas Nama Profesional

مشاركة

Atas Nama Profesional

مؤلف: Lass
last update تاريخ النشر: 2026-08-08 14:01:12

Di kantor. Revan tengah duduk di meja kerja Aluna. Ia menunggu perempuan pemilik meja itu datang, sampai bunyi denting lift memecah lamunannya. Aluna keluar dari lift dengan cup latte di tangannya.

"Kak Revan? Sedang apa?" Aluna yang baru sampai heran melihat Revan duduk di mejanya.

"Sedang menunggu." Jemarinya mengetuk-ngetuk meja.

"Menunggu apa?" alisnya mengerut.

"Sesuatu yang dirampas dariku." Ekspresinya datar.

Aluna bingung dengan ucapan Revan, "kalau ngomong itu yang jelas kak. Jang
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Tak Setara   Menjinakkan Kucing Liar

    Aluna terdiam sesaat mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya. "Saya ingin mengundurkan diri." Tangannya menyodorkan amplop coklat. Sontak Damar terkejut, "saya tidak salah dengar, Aluna?" tanyanya tak percaya. "Saya sudah memikirkan ini baik-baik. Dan keputusan saya sudah bulat, untuk resign dari pekerjaan saya." Suaranya lembut seolah ada rasa takut didalam dirinya. Damar menatapnya dengan heran, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Memangnya ada masalah apa sampai kamu ingin resign, Aluna?" Aluna tertunduk, "saya ada masalah keluarga yang mengharuskan saya untuk tinggal dirumah." Sebuah kalimat yang menjadi pilihan terakhir dari banyaknya daftar alasan yang sudah ia susun di kepalanya. Damar menghela nafas, "padahal dulu waktu kita tidak sengaja bertemu, saya melihat ada kegigihan dalam dirimu. Namun sekarang kamu harus meninggalkan pekerjaan mu setelah susah payah mendapatkannya," Lanjutnya. Mendengar itu, air mata Aluna mengalir begitu saja tanpa ia min

  • Tak Setara   Antara Harga Diri Dan Impian

    Kakinya melangkah dengan tergesa, tubuhnya terhuyung, ia berusaha menahannya agar tidak terjatuh. Sesampainya di lobby parkir, tangannya melambai kearah taksi yang berada tak jauh darinya. Di dalam mobil ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Tangannya mengepal disela duduknya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Aluna masih tidak percaya dengan kejadian yang baru dia alami. "Apakah dunia kerja memang seperti ini?" Gumamnya. Hal yang paling menyakitkan baginya adalah, melihat sisi yang berbeda dari atasannya. Orang yang terlihat mengagumkan, berwibawa dan gentleman—Ternyata menyimpan sisi gelap dari dalam dirinya. Pria yang membuat semua orang berpikir bahwa ia adalah laki-laki sempurna, ternyata tidak lebih dari sekedar penjahat. Menyadarinya seorang diri, adalah hal yang paling menyakitkan bagi Aluna. "Kita sudah sampai mbak." Suara supir taksi mengagetkan lamunannya. Aluna segera merapikan dirinya sebelum menget

  • Tak Setara   Manipulatif

    Apa yang Bapak lakukan," tanyanya panik. Kedua tangannya masih menutupi wajahnya. "Kenapa kamu menutupi wajah mu?" tanya Arka datar, seolah apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang biasa. Aluna mengintip sedikit dari celah jarinya, ingin memastikan bahwa atasannya masih memakai pakaian. Ia melihatnya memakai celana boxer, kemudian menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. "Bapak mau apa?" Suaranya bergetar, ada rasa takut dari dalam dirinya. "Cuma mau lihat kamu." Sorot matanya tajam. Aluna melangkah ingin menuju pintu, namun Arka menahan pundaknya, membuat Aluna tidak bisa bergerak. "Tolong jangan lakukan ini, Pak." suaranya memohon. "Lakukan apa?" Bertanya seolah ia tidak melakukan apa-apa. Aluna terdiam, matanya sedang menahan sesuatu. Pandangannya hanya tertunduk ke bawah. Tiba-tiba tangan Arka menyentuh dagu Aluna, membuatnya mendongak ke atas dan kini mereka saling bertatap mata. Arka menatap dalam perempuan yang hampir menangis itu, ia bisa merasakan tubuhnya gemetar.

  • Tak Setara   Sisi Gelap Yang Mulai Terlihat

    Lobi Hotel Madson malam itu dipenuhi cahaya hangat dan aroma parfum mahal yang samar. Langkah Aluna terasa sedikit kaku di atas lantai marmer yang mengilap. Di sampingnya, Arka berjalan tenang dengan setelan rapi dan ekspresi yang tak pernah benar-benar terbaca. Mereka tidak menuju kamar, melainkan ruang meeting di lantai tiga. Pintu kayu besar dengan plakat bertuliskan Private Meeting sudah menunggu di ujung koridor. Di dalam, dua perwakilan klien telah duduk. Jas rapi, wajah serius, tatapan menilai. Arka menyapa lebih dulu. Tegas dan profesional. “Terima kasih sudah meluangkan waktu sebelum keberangkatan Anda besok pagi,” ucapnya, menjabat tangan satu per satu. “Kami akan langsung ke inti presentasi.” Ia memberi isyarat halus pada Aluna. Aluna menarik napas pelan, membuka laptopnya, lalu menyambungkan slide ke layar besar di dinding. Tangannya sempat terasa dingin, tapi suaranya tetap terjaga stabil saat mulai berbicara. Ia menjelaskan alur campaign dengan runtut. Strategi pos

  • Tak Setara   Atas Nama Profesional

    Di kantor. Revan tengah duduk di meja kerja Aluna. Ia menunggu perempuan pemilik meja itu datang, sampai bunyi denting lift memecah lamunannya. Aluna keluar dari lift dengan cup latte di tangannya. "Kak Revan? Sedang apa?" Aluna yang baru sampai heran melihat Revan duduk di mejanya. "Sedang menunggu." Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. "Menunggu apa?" alisnya mengerut. "Sesuatu yang dirampas dariku." Ekspresinya datar. Aluna bingung dengan ucapan Revan, "kalau ngomong itu yang jelas kak. Jangan bikin orang mikir," ucapnya kesal. "Minggir! Pemilik meja mau duduk." Aluna meletakkan tas dan cup kopi diatas mejanya, mengusir atasannya dengan gestur bercanda. Revan terkekeh, lalu beranjak dari duduknya. Membiarkan perempuan yang sedari tadi ia tunggu itu, kembali dengan setumpuk pekerjaannya. Aluna menenggak kopi yang sedari tadi ia bawa. Melihat itu, Revan teringat momen pada saat di taman kota. Saat bosnya menelepon untuk segera kembali ke kantor, Revan bergegas dan dengan berat hati

  • Tak Setara   Kopi Dan Taktik

    "Aluna...." Revan mendekati meja perempuan yang tengah sibuk mengetik keyboardnya. "Kenapa lagi kak Revan." Matanya masih fokus pada layar komputer. "Udah jam makan siang nih. Kamu masih aja sibuk." "Iya bentar lagi. Nanggung nih." "Cari makan di luar yuk." Aluna berpikir beberapa saat, "yaudah yuk." Ia mengemasi beberapa barangnya. Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya di rumah makan Padang. Aluna mengajak Revan ke taman kota yang berada tidak jauh dari tempat mereka makan siang. "Kamu mau ngapain disini," tanya Revan sambil menyedot es cekek di tangannya. "Aku mau baca buku bentar, mumpung masih banyak waktu sebelum kembali ke kantor." Ia mengeluarkan buku bersampul hijau itu dari dalam tasnya. "Kamu suka baca ya." Ia memperhatikan Aluna membaca bukunya. "Cuma suka baca novel aja sih," jelasnya. "Novel genre apa?" "Romance," jawabnya singkat. "Sejak ka..." Kalimatnya terpotong, mulutnya tertutup oleh telapak tangan Aluna. "Kalau kak Revan nanya mulu, kapan aku bi

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status