Malam turun tanpa suara. Kamar Arka gelap, hanya diterangi cahaya kota yang menembus celah tirai. Jas kerjanya tergeletak sembarangan di kursi—sesuatu yang jarang ia lakukan, biasanya ia teratur, rapi, terkendali. Seperti hidupnya. Ia berbaring terlentang, satu tangan menjadi bantalan kepala, menatap langit-langit yang kosong. Namun pikirannya tidak kosong. “Suami saya…” Kalimat itu terulang. Lagi dan lagi. Arka memejamkan mata, mencoba mengabaikannya. Tapi suara itu terlalu jelas, terlalu ringan saat keluar dari bibir Aluna sore tadi. Seolah kata itu bukan sesuatu yang berat. Suami... Rahangnya mengeras. Selama ini ia tak pernah bertanya, tak pernah peduli, status karyawan hanyalah data administratif baginya. Tidak relevan, tidak penting. Tapi entah mengapa, mengetahui fakta itu membuat sesuatu di dalam dirinya bergeser. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang. Mengusap wajahnya kasar. “Kenapa harus menikah…” gumamnya lirih, lebih seperti pertanyaan pada dirinya sendiri. Ia teringa
آخر تحديث : 2026-08-04 اقرأ المزيد