Inicio / Young Adult / Tak Setara / Ketidakmungkinan Yang Samar

Compartir

Ketidakmungkinan Yang Samar

Autor: Lass
last update Fecha de publicación: 2026-09-21 20:37:32

Cuaca di kantor siang itu cukup membuat wajah Aluna memerah. Pendingin ruangan yang terletak di beberapa sudut seolah tidak berfungsi dengan baik.

Aluna memijat-mijat pelipisnya, sesekali mengelus dadanya karena sedikit mual. Layar komputer dihadapannya membuatnya semakin pusing, wajahnya terlihat pucat. Akhir-akhir ini ia merasa tidak enak badan, beberapa tumpukan pekerjaan membuatnya lebih sering begadang hingga larut.

Aluna mengangkat gelas kopi di mejanya, ternyata kosong. Ia ingin membuat
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Tak Setara   Ketidakmungkinan Yang Samar

    Cuaca di kantor siang itu cukup membuat wajah Aluna memerah. Pendingin ruangan yang terletak di beberapa sudut seolah tidak berfungsi dengan baik.Aluna memijat-mijat pelipisnya, sesekali mengelus dadanya karena sedikit mual. Layar komputer dihadapannya membuatnya semakin pusing, wajahnya terlihat pucat. Akhir-akhir ini ia merasa tidak enak badan, beberapa tumpukan pekerjaan membuatnya lebih sering begadang hingga larut.Aluna mengangkat gelas kopi di mejanya, ternyata kosong. Ia ingin membuat kopi untuk meredakan pusing di kepalanya. Namun saat ia berdiri dari duduknya justru penglihatannya berkunang-kunang. Ia mencoba mengabaikan, dan melangkah ke area open space untuk membuat kopi. Tiba-tiba langkahnya goyah, ia terhuyung dan jatuh begitu saja di lantai yang dingin itu.Semua orang berkerumun. Revan yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri kerumunan itu. Aluna—Ia melihat perempuan itu tergelatak. Revan langsung membopongnya ke sofa yang berada di ruang santai. Membaringka

  • Tak Setara   Aku Mencintaimu

    "Oh iya," Aluna menoleh pada pria disampingnya, "saya lupa ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Bapak, sekali lagi.. selamat atas pertunangannya."Arka menghentikan sendok es yang hampir akan masuk ke mulutnya. "Lebih baik.. kamu tarik kembali ucapan itu." Katanya lirih.Seketika Aluna memonyongkan bibirnya, menarik nafas yang begitu dalam.Arka bingung melihatnya. "Kamu sedang apa?""Menarik ucapan saya."Mereka tertawa bersamaan. Malam itu terasa hangat bagi Arka. Hangat dengan cara yang asing—sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini, ia terbiasa dengan restoran mewah, hidangan mahal yang disajikan dengan sempurna.Seblak—bahkan namanya pun terdengar asing di telinganya. Rasa pertama yang menyentuh lidahnya terasa aneh. Pedas, sedikit pahit, dan jauh dari apa yang biasa ia nikmati.Ia tidak terbiasa. Namun, melihat Aluna makan dengan begitu lahap, entah kenapa membuatnya ikut tersenyum… dan ingin mencoba lagi.Arka sebenarnya bisa saja membawa perempuan itu ke

  • Tak Setara   Senjata

    Dua Minggu telah berlalu sejak terakhir kali Aluna menangis di kamar hotel. Hari ini kakinya berhenti didepan pintu yang dulu pernah menjadi bagian dari ia tumbuh bersama seseorang yang ia cintai.Aluna mengetuk pintu itu. Tak lama pintu pun terbuka, sosok pria berdiri dibaliknya.Gavin—Matanya terbelalak, perasaan haru tergambar jelas di wajahnya. Sudah hampir sebulan ia tidak melihat wajah istrinya."Aluna." Gavin langsung memeluk erat tubuh Aluna.Perempuan itu tidak melepaskannya, ia hanya diam dengan tatapan kosongnya."Aku ingin masuk." Kata Aluna singkat.Gavin menuntunnya masuk kerumah. Aluna menyapu seluruh ruangan itu, matanya berkaca-kaca. Rumah yang dulu menjadi tempat ia menghabiskan waktu bersama Gavin, tawa, canda itu masih melekat disetiap sudut ruangan.Foto-foto pernikahan yang berjejer ditembok, membuatnya semakin sesak. Ia menatap Gavin dengan begitu dalam, sampai..."Aku datang untuk memberikan ini." Tangannya menyodorkan secarik kertas.Gavin membuka kertas itu,

  • Tak Setara   Keputusan Yang Keliru

    Matanya berat, nyaris tak ingin terbuka. Tubuhnya terasa remuk, menahan dirinya untuk tetap diam di tempat. Namun pikirannya tak memberi ampun. Ia terus menariknya kembali—pada satu kenyataan yang, bahkan untuk diingat pun terasa menyakitkan.Tangannya mencengkeram sesuatu tanpa sadar. Matanya terbuka perlahan, napasnya sempat tertahan oleh rasa kaget yang tiba-tiba datang. Ia menunduk, menatap apa yang menjadi alas kepalanya—sepasang kaki, yang terasa hangat. Pandangannya bergerak pelan, mencoba memahami keadaan.Mobil.Seketika ia tersentak. Tubuhnya dipaksa bangun, meski nyeri langsung menjalar. Dan di hadapannya—Arka tertidur, masih dalam posisi duduk. Dadanya naik turun perlahan, wajahnya terlihat lelah.Aluna terdiam, baru sekarang ia menyadari… ia menghabiskan waktu entah berapa lama, tertidur di pangkuan pria itu. Aluna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa malu menjalar di wajahnya. Ia menyenderkan punggungnya di jok mobil, menatap wajah pria yang sedang tert

  • Tak Setara   Flashback

    Helena adalah siswi yang terkenal pendiam di kelasnya. Ketika semua murid sibuk dengan aktivitas dan atribut masa remajanya, Helena hanya sibuk dengan buku-buku pengetahuannya. Mengejar nilai tertinggi dan peringkat terbaik adalah impiannya.Entah sudah berapa banyak buku yang ia habiskan, sampai akhirnya penglihatannya tak lagi sebaik dulu, memaksanya memakai kacamata minus sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.Si kutu buku, julukan itu sudah terdengar biasa di telinganya. Ia tak lagi peduli pada omongan teman-temannya. Ia hanya punya satu atau dua teman dekat. Baginya, terlalu banyak bergaul justru akan mengganggu waktu belajarnya.Sebagian dari mereka bahkan memilih menjauh.Helena dianggap membosankan—terlalu diam, terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri.Sampai kemudian pria itu datang mengulurkan tangan disaat yang lain menjauhi.Gavin—Ketua OSIS di SMA itu.Ia dikenal ramah dan cukup pintar. Gavin adalah kakak kelas Helena. Pria itu selalu mencuri pandang kepada gadis kut

  • Tak Setara   Sandiwara Dibelakang Ku

    "Pacar atau suami orang?"Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Aluna.Membuat Helena dan Gavin tercengang bersamaan."Kenapa berbicara seperti itu?" tanya Helena ragu.Aluna tidak langsung menjawab. Ia tertawa terbahak-bahak. Gavin menghela nafasnya, seolah ia akhirnya tahu dengan situasi ini.Setelah puas dengan tawanya, Aluna terdiam memperhatikan mereka berdua, hening cukup lama."Sudah berapa lama?" Mata Aluna menatap kedua orang itu."Aluna, aku bisa jelaskan." Gavin akhirnya mengangkat suara."Itu bukan jawaban," kata Aluna datar.Aluna melangkah lebih dekat dengan Helena. "Dan kenapa harus kamu?"Helena diam menatap wajah perempuan dihadapannya."Ternyata kamu bukan teman," ucap Aluna. "Kamu hanya perempuan yang terlihat menyedihkan." Lanjutnya."Jika aku menyedihkan. Lalu kamu?" Kalimat itu keluar dari mulut Helena. "Murahan?" Lanjutnya.Aluna mengerutkan keningnya."Kenapa kamu selalu merampas semua orang yang aku cintai?" Helena melanjutkan kalimatnya."Selama ini aku b

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status