تسجيل الدخولBangunan bekas ruko itu tampak kosong dan sudah lama terbengkalai.
Namun sepertinya pijakan mereka tidak benar-benar aman dari terpaan angin dan tetesan hujan. Arka kembali memperhatikan setiap bangunan itu, setelah menemukan tempat yang lebih aman ia mengajak Aluna masuk ke dalam ruko. "Kayaknya disini lebih aman." Arka melangkah masuk, Aluna mengikuti dari belakang. Mereka duduk dilantai yang masih terlihat bersih. Aluna menyenderkan punggungnya dibalik jendela kaca. Arka duduk berada di sebelahnya dengan jarak yang cukup jauh namun masih terasa jelas untuk memperhatikan wajah Aluna. Aluna tahu ia sedang diperhatikan oleh Arka. Namun ia berpura-pura tidak tahu. Hal itu membuatnya menjadi canggung, namun ia memilih diam. Ia meluruskan kedua kakinya yang terasa pegal karena terlalu lama duduk di atas motor. Arka masih memperhatikan Aluna sambil memeluk kedua lututnya. Hening berada diantara mereka. Hanya suara hujan yang semakin deras menjadi irama kecanggungan mereka. Hingga Arka memecah hening diantaranya, "Sebelumnya kamu bekerja dimana, Aluna?" "Saya tidak bekerja, Pak. Hanya ibu rumah tangga." Tangannya memijat lututnya. "Terus kenapa sekarang Memilih bekerja?" "Karena bosan. Juga karena desakan ekonomi." Suaranya terdengar merendah. "Suami kamu mengizinkan kamu bekerja?" "Awalnya nggak. Tapi karena rayuan saya, akhirnya luluh." Suasana berubah hening kembali. Arka tidak membalas kalimat Aluna. Ia tiba-tiba merasakan sesuatu yang membuat perasaannya lega. Saat Aluna merasa bergantung pada pekerjaannya, membuat Arka merasa memiliki kuasa atas harapan Aluna. "Sepertinya kamu sangat menyukai pekerjaan mu." Arka membuka suara. Aluna menoleh sebentar, "saya sangat suka dengan pencapaian saya saat ini. Dan saya sangat bersyukur karena berkat Aethera Creative Lab, saya bisa menuangkan bakat menulis saya." Ia tersenyum tipis, "dan membuat saya merasa harus mengabdi dan memberikan kinerja yang baik pada perusahaan, karena perusahaan yang bapak kelola ini tidak memandang status orang." Ia mengelus punggung tangannya. "Kalian memanusiakan manusia," lanjutnya. "Kalian hanya melihat kemampuan dari dalam diri seseorang, bukan dari penampilan seseorang." Arka yang mendengar setiap kalimat dari Aluna, merasa menjadi orang yang paling baik di mata Aluna. Sekaligus merasa memiliki kuasa untuk mengendalikan Aluna. "Saya memang CEO yang berbeda dari yang lain. Karena itu kamu harus bekerja lebih baik, berikan saya hasil yang sepadan." Ucapannya terdengar sombong. "Baik, Pak," jawabnya singkat. Setelah obrolan itu, Arka melangkah keluar. Lalu memanggil Aluna untuk mendatanginya. Aluna menemukan Arka sedang membeli bakpao dari pedagang yang juga sedang berteduh. Arka memberikan satu bakpao rasa coklat pada Aluna dan menyuruhnya duduk di kursi yang ada disana. Aluna memakan bakpao nya dengan pelan. Arka yang lebih dulu menghabiskan bakpao miliknya, membuat Aluna tertawa diam-diam karena melihat mulut bosnya penuh dengan bakpao. Mungkin dia terlalu lapar, pikirnya. Arka sedang memperhatikan perempuan itu sedang memakan bakpao cokelat dengan tenang. Cara ia menyobek roti empuk itu perlahan, hati-hati, seolah takut isinya tumpah. Jari-jarinya kecil dan bersih, gerakannya teratur, tanpa tergesa. Ia meniup sedikit uap hangat yang masih tersisa, lalu menggigitnya pelan. Tanpa sadar, sedikit cokelat menempel di sudut bibirnya. Arka memperhatikannya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. “Aluna.” Namanya disebut begitu saja. Aluna menoleh refleks. “Ya, Pak?” Belum sempat ia bertanya apa, Arka sudah bergerak. Tangannya terangkat. Jempolnya menyentuh sudut bibir Aluna—singkat, tapi cukup untuk membuat dunia seolah berhenti satu detik. Sentuhan itu terlalu dekat. Aluna membeku. Darahnya seperti naik ke wajah dalam sekejap. Dadanya berdegup keras, tidak terkendali. “Ada cokelat,” ujar Arka tenang, seolah baru saja melakukan hal paling biasa di dunia. Ia mengangkat jempolnya yang kini ternodai cokelat, lalu tanpa mengalihkan pandangan—ia menjilat sisa coklat yang menempel di jempolnya. Lidahnya menyentuh pelan, menghapus jejak manis itu dengan gerakan yang terlalu lambat untuk dianggap biasa. Aluna menatapnya tak percaya. Matanya melebar, napasnya tercekat. Ia bahkan tidak tahu mana yang lebih mengejutkan. Sentuhan tiba-tiba itu, atau fakta bahwa Arka terlihat begitu santai melakukannya. Ia segera menunduk, pura-pura sibuk dengan bakpao yang kini terasa jauh lebih sulit ditelan. Aluna mencoba menenangkan detak jantungnya yang berisik. Aneh... Sudah lama ia tidak merasakan debar seperti ini. Terakhir kali… mungkin saat Gavin berlutut di bawah langit senja empat tahun lalu, cincin kecil berkilau di tangannya. Dan sekarang—Hanya karena sentuhan singkat di sudut bibir. Itu tidak masuk akal. Aluna menarik napas perlahan, berusaha mengembalikan dirinya pada batas yang seharusnya. Ia adalah karyawan. Dan pria di depannya adalah atasannya. Namun untuk pertama kalinya, garis itu terasa sedikit kabur. *** Arka Mahendra. CEO muda yang membangun Aethera Creative Lab. Usianya dua puluh sembilan tahun—Usia yang terbilang muda untuk ukuran seorang CEO, tetapi tidak benar-benar muda untuk berstatus lajang. Sudah lima tahun sejak ia mendirikan perusahaan miliknya yang dibangun dari nol. Aethera Creative Lab. Digital Marketing & Brand Strategy Agency Spesialis: Brand storytelling—Campaign nasional—Digital ads—Rebranding perusahaan besar—Corporate image building Arka tidak pernah menyangka jika keputusannya tujuh tahun yang lalu, ternyata membawanya sampai sejauh ini. Sejak pertama kali ia lulus universitas di luar negeri. Arka dituntut untuk meneruskan bisnis keluarga—Arka adalah anak laki-laki kedua yang menjadi harapan keluarga, namun ia memilih untuk mandiri karena tidak ingin lagi kehidupannya diatur oleh keluarga. Sejak kecil, hidupnya tak pernah benar-benar menjadi miliknya sendiri. Sekolah mana yang harus ia masuki, jurusan apa yang harus ia pilih, bahkan mimpi seperti apa yang pantas ia punya—semuanya sudah ditentukan. Ia tumbuh bukan dengan kebebasan, melainkan dengan arahan. Bukan dengan pilihan, melainkan dengan kewajiban. Ia belajar tersenyum ketika diminta, belajar mengangguk meski hatinya ragu. Belajar menekan keinginan sendiri demi satu hal: membuat orang tuanya bangga. Lama-kelamaan, hidup terasa seperti panggung kecil yang sudah ditata rapi. Ia hanya perlu memainkan peran tanpa pernah menulis naskahnya sendiri. Kadang ia bertanya dalam diam, apakah dirinya seorang anak, atau sekadar sesuatu yang dibentuk, dilatih, dan diarahkan untuk menyenangkan pemilik harapan? Dan semakin dewasa, semakin ia sadar, ia tidak pernah benar-benar hidup. Ia hanya menjalani. Sejak saat itu—Sejak ia merasa sudah dewasa dan merasa mampu untuk melangkah. Ia memutuskan ingin hidup mandiri, membangun karirnya sendiri dan memanfaatkan bidang yang dia kuasai. Awalnya keluarga menentang keputusannya, tapi kemudian luluh dengan janji Arka yang akan membuktikan bahwa dia akan sukses dengan caranya sendiri. Selama itu—beberapa kali jatuh bangun.Hingga uangnya mulai menipis, karena itu Arka terpaksa pernah bekerja sebagai karyawan perusahaan ritel. Namun upah yang ia terima tidak cukup untuk memulai kembali.Aluna terdiam sesaat mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya. "Saya ingin mengundurkan diri." Tangannya menyodorkan amplop coklat. Sontak Damar terkejut, "saya tidak salah dengar, Aluna?" tanyanya tak percaya. "Saya sudah memikirkan ini baik-baik. Dan keputusan saya sudah bulat, untuk resign dari pekerjaan saya." Suaranya lembut seolah ada rasa takut didalam dirinya. Damar menatapnya dengan heran, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Memangnya ada masalah apa sampai kamu ingin resign, Aluna?" Aluna tertunduk, "saya ada masalah keluarga yang mengharuskan saya untuk tinggal dirumah." Sebuah kalimat yang menjadi pilihan terakhir dari banyaknya daftar alasan yang sudah ia susun di kepalanya. Damar menghela nafas, "padahal dulu waktu kita tidak sengaja bertemu, saya melihat ada kegigihan dalam dirimu. Namun sekarang kamu harus meninggalkan pekerjaan mu setelah susah payah mendapatkannya," Lanjutnya. Mendengar itu, air mata Aluna mengalir begitu saja tanpa ia min
Kakinya melangkah dengan tergesa, tubuhnya terhuyung, ia berusaha menahannya agar tidak terjatuh. Sesampainya di lobby parkir, tangannya melambai kearah taksi yang berada tak jauh darinya. Di dalam mobil ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Tangannya mengepal disela duduknya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Aluna masih tidak percaya dengan kejadian yang baru dia alami. "Apakah dunia kerja memang seperti ini?" Gumamnya. Hal yang paling menyakitkan baginya adalah, melihat sisi yang berbeda dari atasannya. Orang yang terlihat mengagumkan, berwibawa dan gentleman—Ternyata menyimpan sisi gelap dari dalam dirinya. Pria yang membuat semua orang berpikir bahwa ia adalah laki-laki sempurna, ternyata tidak lebih dari sekedar penjahat. Menyadarinya seorang diri, adalah hal yang paling menyakitkan bagi Aluna. "Kita sudah sampai mbak." Suara supir taksi mengagetkan lamunannya. Aluna segera merapikan dirinya sebelum menget
Apa yang Bapak lakukan," tanyanya panik. Kedua tangannya masih menutupi wajahnya. "Kenapa kamu menutupi wajah mu?" tanya Arka datar, seolah apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang biasa. Aluna mengintip sedikit dari celah jarinya, ingin memastikan bahwa atasannya masih memakai pakaian. Ia melihatnya memakai celana boxer, kemudian menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. "Bapak mau apa?" Suaranya bergetar, ada rasa takut dari dalam dirinya. "Cuma mau lihat kamu." Sorot matanya tajam. Aluna melangkah ingin menuju pintu, namun Arka menahan pundaknya, membuat Aluna tidak bisa bergerak. "Tolong jangan lakukan ini, Pak." suaranya memohon. "Lakukan apa?" Bertanya seolah ia tidak melakukan apa-apa. Aluna terdiam, matanya sedang menahan sesuatu. Pandangannya hanya tertunduk ke bawah. Tiba-tiba tangan Arka menyentuh dagu Aluna, membuatnya mendongak ke atas dan kini mereka saling bertatap mata. Arka menatap dalam perempuan yang hampir menangis itu, ia bisa merasakan tubuhnya gemetar.
Lobi Hotel Madson malam itu dipenuhi cahaya hangat dan aroma parfum mahal yang samar. Langkah Aluna terasa sedikit kaku di atas lantai marmer yang mengilap. Di sampingnya, Arka berjalan tenang dengan setelan rapi dan ekspresi yang tak pernah benar-benar terbaca. Mereka tidak menuju kamar, melainkan ruang meeting di lantai tiga. Pintu kayu besar dengan plakat bertuliskan Private Meeting sudah menunggu di ujung koridor. Di dalam, dua perwakilan klien telah duduk. Jas rapi, wajah serius, tatapan menilai. Arka menyapa lebih dulu. Tegas dan profesional. “Terima kasih sudah meluangkan waktu sebelum keberangkatan Anda besok pagi,” ucapnya, menjabat tangan satu per satu. “Kami akan langsung ke inti presentasi.” Ia memberi isyarat halus pada Aluna. Aluna menarik napas pelan, membuka laptopnya, lalu menyambungkan slide ke layar besar di dinding. Tangannya sempat terasa dingin, tapi suaranya tetap terjaga stabil saat mulai berbicara. Ia menjelaskan alur campaign dengan runtut. Strategi pos
Di kantor. Revan tengah duduk di meja kerja Aluna. Ia menunggu perempuan pemilik meja itu datang, sampai bunyi denting lift memecah lamunannya. Aluna keluar dari lift dengan cup latte di tangannya. "Kak Revan? Sedang apa?" Aluna yang baru sampai heran melihat Revan duduk di mejanya. "Sedang menunggu." Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. "Menunggu apa?" alisnya mengerut. "Sesuatu yang dirampas dariku." Ekspresinya datar. Aluna bingung dengan ucapan Revan, "kalau ngomong itu yang jelas kak. Jangan bikin orang mikir," ucapnya kesal. "Minggir! Pemilik meja mau duduk." Aluna meletakkan tas dan cup kopi diatas mejanya, mengusir atasannya dengan gestur bercanda. Revan terkekeh, lalu beranjak dari duduknya. Membiarkan perempuan yang sedari tadi ia tunggu itu, kembali dengan setumpuk pekerjaannya. Aluna menenggak kopi yang sedari tadi ia bawa. Melihat itu, Revan teringat momen pada saat di taman kota. Saat bosnya menelepon untuk segera kembali ke kantor, Revan bergegas dan dengan berat hati
"Aluna...." Revan mendekati meja perempuan yang tengah sibuk mengetik keyboardnya. "Kenapa lagi kak Revan." Matanya masih fokus pada layar komputer. "Udah jam makan siang nih. Kamu masih aja sibuk." "Iya bentar lagi. Nanggung nih." "Cari makan di luar yuk." Aluna berpikir beberapa saat, "yaudah yuk." Ia mengemasi beberapa barangnya. Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya di rumah makan Padang. Aluna mengajak Revan ke taman kota yang berada tidak jauh dari tempat mereka makan siang. "Kamu mau ngapain disini," tanya Revan sambil menyedot es cekek di tangannya. "Aku mau baca buku bentar, mumpung masih banyak waktu sebelum kembali ke kantor." Ia mengeluarkan buku bersampul hijau itu dari dalam tasnya. "Kamu suka baca ya." Ia memperhatikan Aluna membaca bukunya. "Cuma suka baca novel aja sih," jelasnya. "Novel genre apa?" "Romance," jawabnya singkat. "Sejak ka..." Kalimatnya terpotong, mulutnya tertutup oleh telapak tangan Aluna. "Kalau kak Revan nanya mulu, kapan aku bi







