Home / Young Adult / Tak Setara / Di Perlakukan Berbeda

Share

Di Perlakukan Berbeda

Author: Lass
last update publish date: 2026-08-05 12:57:11

“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.” Ia baru setengah melangkah ketika suara itu kembali terdengar.

“Siapa yang menyuruhmu pergi?”

Langkahnya terhenti, ia menoleh perlahan. Arka masih duduk santai, bersandar pada sofa, satu tangan terentang di sandaran belakang—posisi yang seolah tanpa sengaja membatasi ruang geraknya.

“Oh… sepertinya masih ada yang perlu dibahas, Pak?” tanya Aluna hati-hati.

“Saya mau memberimu beberapa tugas tambahan.” Arka meraih map lain di meja, lalu menyodorkannya.

Tumpukan dokumen itu tidak tipis, Aluna menerimanya refleks, matanya langsung membesar. “Pak… ini untuk campaign minggu depan, kan?"

"pagi saya mau revisinya sudah di meja saya.”

“Besok?” suaranya hampir tak percaya. “Pak, ini cukup banyak. Takut tidak keburu.”

“Itu bukan urusan saya.” Nada Arka datar, terlalu datar. “Saya hanya ingin hasilnya beres.”

Aluna menatap tumpukan kertas itu. Otaknya langsung menghitung waktu. Jam kerja hampir habis, jika dikerjakan berarti ia harus begadang. Ia teringat wajah Gavin yang menunggunya pulang, teringat makan malam sederhana mereka, teringat percakapan kecil sebelum tidur.

"Baik, Pak,” akhirnya ia menjawab pelan dan tidak lagi membantah.

Arka mengamatinya, cara perempuan itu menelan protes, cara ia memilih diam daripada berdebat. Ada sesuatu yang aneh di dada Arka. Ia ingin Aluna melawan. Tapi yang ia dapatkan justru kepatuhan.

Aluna berbalik, melangkah menuju pintu.

"Aura-aura yang habis ditindas oleh atasan, nih." Ejek Revan, melangkah menuju kursi Aluna.

"Kenapa Kak?" tanya Helena penasaran.

Aluna menjatuhkan tumpukan berkas dengan kasar diatas meja. "Kenapa sih Pak Arka suka menindas orang?" ucapnya kesal.

"Perasaan yang sering ditindas, kamu deh." Kata Revan.

"Iya. Kita berdua sih biasa-biasa aja." Helena mengimbuhi.

Mendengar itu, sesuatu di dalam dada Aluna seperti ikut tertarik kencang. Kesalnya tidak lagi tipis—ia bisa merasakannya mengendap, pelan tapi pasti. Di balik wajah profesional yang ia pasang rapi, pikirannya mulai berisik.

Kenapa selalu aku?

Ia bukan tipe karyawan yang mudah mengeluh. Revisi? Biasa, lembur? Sudah jadi makanan sehari-hari di dunia kreatif. Teguran? Itu bagian dari proses. Tapi dengan Arka, rasanya berbeda.

Cara Arka memandangnya tidak pernah benar-benar netral. Terlalu tajam untuk sekadar atasan menilai hasil kerja bawahan. Dan sejak hari itu, Aluna selalu merasa… dipilih.

Bukan dipilih untuk dipuji, bukan dipilih untuk dimanjakan, melainkan dipilih untuk diuji. Ia lebih sering pulang paling malam. Lebih sering menerima email revisi lewat tengah malam. Lebih sering dipanggil ke ruangan itu hanya untuk membahas hal-hal kecil yang sebenarnya bisa selesai lewat pesan singkat. Satu kata dianggap kurang kuat, satu kalimat dinilai terlalu lembut, satu metafora disebut tidak tepat sasaran.

Padahal tulisan yang sama, ketika dibaca Revan, hanya mendapat anggukan puas. “Bagus kok, paling tinggal poles dikit,” begitu kata Creative Lead itu.

Namun di tangan Arka, naskah yang sama bisa berubah menjadi lembaran penuh coretan merah. Kadang Aluna ingin bertanya langsung, Apa memang saya seburuk itu? Tapi setiap kali ia mencoba mengingat ekspresi Arka saat mengoreksinya, ia justru melihat sesuatu yang lain, bukan kebencian melainkan perhatian yang terlalu detail, terlalu fokus. Seolah setiap huruf yang ia tulis memang sedang diawasi khusus. Itu yang membuatnya semakin kesal. Karena jika Arka memang tidak menyukainya, harusnya ia bersikap dingin dan cuek seperti pada karyawan lain.

Tapi ini? Ia seperti dijadikan proyek pribadi. Dan Aluna tidak tahu mana yang lebih melelahkan—tuntutan pekerjaannya, atau cara Arka membuatnya merasa selalu kurang, selalu harus lebih, selalu ditarik satu langkah melewati batas kemampuannya.

Ia mengepalkan tangan pelan di samping tubuhnya. Entah karena bosnya memang tidak menyukainya atau justru… ada sesuatu yang tidak ingin ia akui. Dan ketidaktahuan itu jauh lebih mengganggu daripada sekadar lembur dan revisi tanpa henti.

"Kak. Aku pulang duluan ya." Helena berpamitan pulang pada Aluna.

Aluna mengangguk, ia melirik jam tangannya, pukul lima sore. Semua karyawan berjalan melewati Aluna yang tengah sibuk di meja kerjanya.

"Aluna. Kamu yakin nggak mau ditemenin?" Revan merasa khawatir pada temannya itu karena harus lembur sampai malam.

"Makasih kak. Aku sudah biasa lembur sendirian kok," jawabnya sambil memberikan senyuman penuh keyakinan.

Revan mengacak pelan rambut Aluna seperti kakak iseng, lalu melenggang pergi sambil bersiul kecil. “Kunci pintu kalau udah mau pulang!” serunya sebelum benar-benar menghilang.

Aluna mendesah pelan, membenarkan rambutnya yang berantakan. Kantor perlahan berubah sunyi, suara keyboard yang tadi bersahutan kini tinggal miliknya sendiri. Cahaya senja yang tadi membanjiri ruangan melalui dinding kaca perlahan memudar. Jingga berubah tembaga, tembaga berubah ungu. Lalu perlahan ditelan biru gelap.

Inilah alasan mengapa ia jarang benar-benar membenci lembur. Di jam-jam seperti ini, ketika semua orang sudah pulang dan dunia terasa menjauh, ia bisa menikmati langit senja sendirian. Terpisah kaca tebal, seolah ada jarak aman antara dirinya dan segala kerumitan hidup di luar sana. Baginya, tidak ada yang lebih jujur daripada langit menjelang malam. Indah, tapi sebentar.

Jam di layar komputernya menunjukkan pukul 21.07. Aluna masih mengetik. Sesekali ia meregangkan lehernya, memutar bahu yang mulai kaku. Lampu di ruang kerja sengaja ia redupkan, hanya menyisakan cahaya meja dan bias lampu kota dari luar.

Di ruangan kaca di ujung koridor, seseorang belum pulang. Arka berdiri dengan secangkir kopi di tangannya. Dari balik kaca, ia melihat siluet Aluna—rambut panjangnya jatuh ke satu sisi, wajahnya diterangi cahaya layar, jemarinya bergerak cepat.

Ia tidak sadar sedang diperhatikan. Dan Arka tidak sadar sejak kapan ia terlalu lama memperhatikannya.

Pintu ruangannya terbuka pelan. Cahaya terang dari dalam ruangan CEO itu langsung menyilaukan mata Aluna. Ia menyipit, menoleh lalu terdiam. “Bapak… belum pulang?” tanyanya spontan.

Arka berjalan mendekat tanpa menjawab pertanyaan itu. “Kenapa kamu suka gelap-gelapan?” Suaranya rendah. Satu tangannya bertumpu pada sandaran kursi Aluna, yang lain menyentuh meja. Posisi itu membuat Aluna seperti terkurung di antara meja dan tubuhnya.

Aluna pura-pura tetap fokus pada layar. “Lebih nyaman saja, Pak.”

Arka menatapnya beberapa detik. “Cepat kemasi barang-barangmu. Semua berkasnya juga.”

Aluna menoleh bingung.

“Ikuti saya.” Tanpa penjelasan Arka sudah melangkah pergi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Setara   Aku Di Sini

    Arka sedang berdiri di ambang pintu berwarna putih itu. Wajahnya terlihat ragu, tangannya beberapa kali terangkat namun kembali turun.Beberapa hari belakangan, Aluna terlihat tidak baik. Wajahnya selalu tampak pucat, semangat yang dulu selalu terpancar di dalam dirinya seolah lenyap begitu saja. Badannya tampak lebih kurus.Arka mengkhawatirkan perempuan itu. Malam ini ia berniat untuk mengunjunginya, hanya mengetahui keadaannya dari orang lain tidak cukup membuat khawatirnya mereda.Kali ini ia ingin memastikannya sendiri. Ia menarik nafas sebelum akhirnya pintu itu ia ketuk. Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka dari dalam.Sosok perempuan menyapa, wajah itu—Seketika membuat Arka bergegas mendorong pintu lebih lebar, pria itu masuk sebelum dipersilahkan masuk lebih dulu."Aluna.. kamu tidak apa-apa?" Tangannya memegang wajah Aluna, paperbag yang ia bawa terjatuh begitu saja ke lantai.Aluna menatapnya dengan heran. "Saya baik.""Kamu terlihat pucat," ucap Arka ragu.Aluna menu

  • Tak Setara   Satu Nyawa dua Kemungkinan

    Pikirannya bergerak liar. Menghitung… mengingat… mencoba menyusun potongan waktu yang terasa kabur. Wajahnya perlahan pucat.untuk pertama kalinya… ia menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan dari kehamilan itu sendiri. Ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang sedang ia kandung.***Tok.. tok. Pintu ruangan itu diketuk dari luar."Masuk." Sahut Arka dari dalam.Damar berjalan menuju meja kerja Arka."Bagaimana?" tanya Arka .Damar duduk di sofa berhadapan dengan Arka."Dia terlihat lebih baik, tapi..." Kalimatnya tertahan.Membuat Arka semakin penasaran."Tapi anehnya, kenapa dia ada diruang USG?"Lanjut Damar."Apa sakitnya parah?" tanya Arka, kedua tangannya menutupi sebagian wajahnya, terlihat frustasi."Saya belum sempat bertanya, dia sudah masuk lebih dulu," jelas pria itu."Oke.. terima kasih atas bantuannya," kata Arka kemudian. "Maaf karena sudah merepotkan Anda dihari libur." Pria itu tersenyum pada sekretarisnya.Arka terlalu mengkhawatirkan Aluna sejak kejadian di kanto

  • Tak Setara   Ketidakmungkinan Yang Samar

    Cuaca di kantor siang itu cukup membuat wajah Aluna memerah. Pendingin ruangan yang terletak di beberapa sudut seolah tidak berfungsi dengan baik.Aluna memijat-mijat pelipisnya, sesekali mengelus dadanya karena sedikit mual. Layar komputer dihadapannya membuatnya semakin pusing, wajahnya terlihat pucat. Akhir-akhir ini ia merasa tidak enak badan, beberapa tumpukan pekerjaan membuatnya lebih sering begadang hingga larut.Aluna mengangkat gelas kopi di mejanya, ternyata kosong. Ia ingin membuat kopi untuk meredakan pusing di kepalanya. Namun saat ia berdiri dari duduknya justru penglihatannya berkunang-kunang. Ia mencoba mengabaikan, dan melangkah ke area open space untuk membuat kopi. Tiba-tiba langkahnya goyah, ia terhuyung dan jatuh begitu saja di lantai yang dingin itu.Semua orang berkerumun. Revan yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri kerumunan itu. Aluna—Ia melihat perempuan itu tergelatak. Revan langsung membopongnya ke sofa yang berada di ruang santai. Membaringka

  • Tak Setara   Aku Mencintaimu

    "Oh iya," Aluna menoleh pada pria disampingnya, "saya lupa ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Bapak, sekali lagi.. selamat atas pertunangannya."Arka menghentikan sendok es yang hampir akan masuk ke mulutnya. "Lebih baik.. kamu tarik kembali ucapan itu." Katanya lirih.Seketika Aluna memonyongkan bibirnya, menarik nafas yang begitu dalam.Arka bingung melihatnya. "Kamu sedang apa?""Menarik ucapan saya."Mereka tertawa bersamaan. Malam itu terasa hangat bagi Arka. Hangat dengan cara yang asing—sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini, ia terbiasa dengan restoran mewah, hidangan mahal yang disajikan dengan sempurna.Seblak—bahkan namanya pun terdengar asing di telinganya. Rasa pertama yang menyentuh lidahnya terasa aneh. Pedas, sedikit pahit, dan jauh dari apa yang biasa ia nikmati.Ia tidak terbiasa. Namun, melihat Aluna makan dengan begitu lahap, entah kenapa membuatnya ikut tersenyum… dan ingin mencoba lagi.Arka sebenarnya bisa saja membawa perempuan itu ke

  • Tak Setara   Senjata

    Dua Minggu telah berlalu sejak terakhir kali Aluna menangis di kamar hotel. Hari ini kakinya berhenti didepan pintu yang dulu pernah menjadi bagian dari ia tumbuh bersama seseorang yang ia cintai.Aluna mengetuk pintu itu. Tak lama pintu pun terbuka, sosok pria berdiri dibaliknya.Gavin—Matanya terbelalak, perasaan haru tergambar jelas di wajahnya. Sudah hampir sebulan ia tidak melihat wajah istrinya."Aluna." Gavin langsung memeluk erat tubuh Aluna.Perempuan itu tidak melepaskannya, ia hanya diam dengan tatapan kosongnya."Aku ingin masuk." Kata Aluna singkat.Gavin menuntunnya masuk kerumah. Aluna menyapu seluruh ruangan itu, matanya berkaca-kaca. Rumah yang dulu menjadi tempat ia menghabiskan waktu bersama Gavin, tawa, canda itu masih melekat disetiap sudut ruangan.Foto-foto pernikahan yang berjejer ditembok, membuatnya semakin sesak. Ia menatap Gavin dengan begitu dalam, sampai..."Aku datang untuk memberikan ini." Tangannya menyodorkan secarik kertas.Gavin membuka kertas itu,

  • Tak Setara   Keputusan Yang Keliru

    Matanya berat, nyaris tak ingin terbuka. Tubuhnya terasa remuk, menahan dirinya untuk tetap diam di tempat. Namun pikirannya tak memberi ampun. Ia terus menariknya kembali—pada satu kenyataan yang, bahkan untuk diingat pun terasa menyakitkan.Tangannya mencengkeram sesuatu tanpa sadar. Matanya terbuka perlahan, napasnya sempat tertahan oleh rasa kaget yang tiba-tiba datang. Ia menunduk, menatap apa yang menjadi alas kepalanya—sepasang kaki, yang terasa hangat. Pandangannya bergerak pelan, mencoba memahami keadaan.Mobil.Seketika ia tersentak. Tubuhnya dipaksa bangun, meski nyeri langsung menjalar. Dan di hadapannya—Arka tertidur, masih dalam posisi duduk. Dadanya naik turun perlahan, wajahnya terlihat lelah.Aluna terdiam, baru sekarang ia menyadari… ia menghabiskan waktu entah berapa lama, tertidur di pangkuan pria itu. Aluna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa malu menjalar di wajahnya. Ia menyenderkan punggungnya di jok mobil, menatap wajah pria yang sedang tert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status