Share

Bos Dingin

Author: Lass
last update publish date: 2026-08-04 16:26:07

Aluna Pramesti bergabung dengan Aethera Creative Lab sebagai Content Writer di divisi Marketing. Dengan ketertarikan mendalam pada dunia sastra dan perangkai kata, Aluna dikenal mampu mengubah konsep strategis menjadi narasi yang hangat, relevan, dan memiliki daya emosional yang kuat.

Baginya, setiap brand memiliki cerita, dan setiap cerita berhak disampaikan dengan cara yang manusiawi. Ketelitian, kepekaan rasa, serta kemampuannya memahami sudut pandang audiens menjadi kekuatan utama dalam setiap campaign yang ia tangani.

Di lingkungan kerja, Aluna dikenal ramah dan profesional. Ia mampu bekerja dalam tekanan, terbuka terhadap revisi, serta konsisten menjaga kualitas tulisannya. Ketekunannya dalam menyempurnakan detail menjadikannya salah satu penulis yang diandalkan dalam proyek-proyek strategis perusahaan.

Aluna dipandang sebagai karyawan yang teladan, gigih serta memiliki sopan santun yang baik. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya berbaur dengan rekan kerjanya.

Helena—Junior Writer.

Posisinya yang berada dibawah Aluna, membuat Helena mengidolakan seniornya itu. Ia ingin menjadi karyawan profesional seperti Aluna. Ia merasa Aluna adalah pembimbing yang baik, sabar dan ramah.

"Draf pertama itu mentah. Jangan ragu mengubah, menyusun ulang, membuang kata. Kadang, menulis bagus itu bukan soal menambah, tapi mengurangi," jelas Aluna saat membimbing juniornya.

Helena mengangguk kagum.

Kedekatan mereka semakin intens, melakukan semuanya bersama, makan siang, istirahat, saling sharing hal apapun. Bahkan kedekatan itu tidak hanya didalam kantor. Di luar kantor mereka bukan hanya rekan kerja tetapi sahabat yang saling peduli satu sama lain.

Suatu hari di jam makan siang.

"Aluna." Sahut seorang pria yang melambaikan tangannya pada Aluna, "makan siang bareng, yuk."

"Kak Revan, kemana-mana ngintilin aku mulu." Aluna meneruskan langkahnya.

"Habisnya wajah mu itu, wajah-wajah orang kesepian. Makanya aku ikutin kemana-mana."

"Dih, sembarangan," merasa kesal.

Revan Anggara—Creative Lead.

Merasa nyaman saat bersama Aluna. Karena kepribadiannya yang introvert, Revan lebih memilih siapa yang cocok menjadi temannya. Karena tidak semua orang bisa membuatnya merasa nyaman. Revan merasa, jika Aluna adalah teman yang cocok. Tidak banyak berbicara, obrolan yang berkualitas, dan Aluna adalah orang yang baik dan lembut dimatanya.

Karena Revan adalah atasan Aluna, lantas ia tidak merasa keberatan jika Revan berteman dengannya, hitung-hitung bisa menambah wawasannya jika bisa akrab dengan atasannya, pikirnya. Namun pria berbadan tinggi ramping itu, bahkan tidak terlihat seperti seorang atasan. Karakternya yang humoris dan polos justru membuat Aluna merasa setara.

Aluna selalu tertawa selama berada didekatnya.

Rasa lelah seharian bekerja, hilang saat mendengar lelucon Revan.

“Aluna… kamu sadar nggak?”

Aluna masih mengetik, “Sadar apa, Kak?”

“Setiap kali Pak Arka revisi tulisan kamu, jumlah coretan merahnya lebih banyak dari laporan keuangan perusahaan.”

“Itu artinya aku harus lebih teliti, kan?”

“Enggak. Itu artinya beliau punya hobi baru: menguji kesabaran manusia.”

Aluna menahan senyum.

“Kak Revan jangan begitu. Nanti aku ikut ketawa.”

“Lah memang harus ketawa. Kalau nggak, kita bisa resign berjamaah.”

“Berjamaah? Kak Revan duluan aja. Aku masih butuh gaji.”

“Pengkhianatan di divisi marketing! Saya dikhianati Content Writer andalan!”

Aluna tertawa kecil.

Revan menyipitkan mata. “Tapi serius deh, kamu tuh santai banget ya tiap direvisi. Kalau aku jadi kamu, aku sudah bikin puisi patah hati.”

“Aku memang suka nulis puisi, Kak.”

“Judulnya apa? ‘CEO dan 1000 Coretan Merah’?”

Aluna akhirnya tertawa lepas.

Tiba-tiba suasana hening ketika bayangan seseorang berdiri di belakang mereka. “Kalau sudah selesai diskusinya, Aluna bisa ke ruangan saya.”

Revan pelan-pelan menoleh. “…Nah, tokoh utama puisi kamu datang.” Ia berbisik.

Aluna menahan tawa sambil berdiri gugup. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya—entah karena tertangkap sedang tertawa, atau karena ia tahu sorot mata Arka sejak tadi bukan sekadar sorot atasan pada bawahan.

Tok… tok… Ketukan itu terlalu pelan untuk seorang karyawan yang hanya ingin melapor pekerjaan.

“Masuk.”Suara itu terdengar lebih berat dari biasanya.

Aluna membuka pintu, ruangan itu selalu terasa lebih dingin dari ruang kerja lain. Minimalis, rapi. Aroma maskulin bercampur kayu samar mengisi udara. “Bapak memanggil saya?" Pertanyaan formal. Padahal di tangannya sudah ada berkas laporan campaign yang jelas akan dibahas.

Mereka sama-sama tahu alasan ia dipanggil. Tapi permainan kecil itu seperti ritual tak tertulis di antara mereka. Arka tidak langsung menjawab. Ia menutup laptopnya pelan, lalu mengangkat wajah.“Duduk.” Satu kata, tanpa ekspresi.

Aluna duduk di sofa panjang di sisi ruangan. Punggungnya tegak, berkas ia letakkan rapi di pangkuannya. Ia mulai menjelaskan performa iklan, insight audiens, engagement rate, semuanya dengan suara stabil dan profesional.

Arka mendengarkan dengan tenang.

Beberapa detik kemudian, ia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Lalu seperti yang sering terjadi—ia tidak kembali ke kursi kerjanya. Ia duduk di samping Aluna, terlalu dekat. Jarak bahu mereka hanya beberapa senti. Aluna bisa merasakan hangat tubuh pria itu meski ruangan ber-AC. Ia menahan napas sesaat, lalu kembali fokus pada berkas.

Profesional, tetap profesional.

Arka mengambil satu lembar kertas dari tangan Aluna. Sengaja menyentuh ujung jarinya lebih lama dari seharusnya. “Kalimat ini,” ujarnya pelan. “Terlalu lembut.”

Aluna menoleh sedikit. “Brand ini targetnya ibu muda, Pak. Jadi pendekatannya memang emosional.”

“Emosional tidak harus selembut ini.” Nada Arka berubah tipis, tidak keras. Tapi mengandung sesuatu yang sulit didefinisikan. Ia menatap Aluna, bukan berkasnya.

Aluna menyadari tatapan itu. Tapi ia pura-pura tidak sadar. Pembahasan berlanjut hampir dua puluh menit. Detail demi detail, koreksi demi koreksi. Sampai akhirnya semuanya selesai.

Aluna berdiri perlahan. “Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.” Ia baru setengah melangkah ketika suara itu kembali terdengar.

“Siapa yang menyuruhmu pergi?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Setara   Aku Di Sini

    Arka sedang berdiri di ambang pintu berwarna putih itu. Wajahnya terlihat ragu, tangannya beberapa kali terangkat namun kembali turun.Beberapa hari belakangan, Aluna terlihat tidak baik. Wajahnya selalu tampak pucat, semangat yang dulu selalu terpancar di dalam dirinya seolah lenyap begitu saja. Badannya tampak lebih kurus.Arka mengkhawatirkan perempuan itu. Malam ini ia berniat untuk mengunjunginya, hanya mengetahui keadaannya dari orang lain tidak cukup membuat khawatirnya mereda.Kali ini ia ingin memastikannya sendiri. Ia menarik nafas sebelum akhirnya pintu itu ia ketuk. Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka dari dalam.Sosok perempuan menyapa, wajah itu—Seketika membuat Arka bergegas mendorong pintu lebih lebar, pria itu masuk sebelum dipersilahkan masuk lebih dulu."Aluna.. kamu tidak apa-apa?" Tangannya memegang wajah Aluna, paperbag yang ia bawa terjatuh begitu saja ke lantai.Aluna menatapnya dengan heran. "Saya baik.""Kamu terlihat pucat," ucap Arka ragu.Aluna menu

  • Tak Setara   Satu Nyawa dua Kemungkinan

    Pikirannya bergerak liar. Menghitung… mengingat… mencoba menyusun potongan waktu yang terasa kabur. Wajahnya perlahan pucat.untuk pertama kalinya… ia menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan dari kehamilan itu sendiri. Ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang sedang ia kandung.***Tok.. tok. Pintu ruangan itu diketuk dari luar."Masuk." Sahut Arka dari dalam.Damar berjalan menuju meja kerja Arka."Bagaimana?" tanya Arka .Damar duduk di sofa berhadapan dengan Arka."Dia terlihat lebih baik, tapi..." Kalimatnya tertahan.Membuat Arka semakin penasaran."Tapi anehnya, kenapa dia ada diruang USG?"Lanjut Damar."Apa sakitnya parah?" tanya Arka, kedua tangannya menutupi sebagian wajahnya, terlihat frustasi."Saya belum sempat bertanya, dia sudah masuk lebih dulu," jelas pria itu."Oke.. terima kasih atas bantuannya," kata Arka kemudian. "Maaf karena sudah merepotkan Anda dihari libur." Pria itu tersenyum pada sekretarisnya.Arka terlalu mengkhawatirkan Aluna sejak kejadian di kanto

  • Tak Setara   Ketidakmungkinan Yang Samar

    Cuaca di kantor siang itu cukup membuat wajah Aluna memerah. Pendingin ruangan yang terletak di beberapa sudut seolah tidak berfungsi dengan baik.Aluna memijat-mijat pelipisnya, sesekali mengelus dadanya karena sedikit mual. Layar komputer dihadapannya membuatnya semakin pusing, wajahnya terlihat pucat. Akhir-akhir ini ia merasa tidak enak badan, beberapa tumpukan pekerjaan membuatnya lebih sering begadang hingga larut.Aluna mengangkat gelas kopi di mejanya, ternyata kosong. Ia ingin membuat kopi untuk meredakan pusing di kepalanya. Namun saat ia berdiri dari duduknya justru penglihatannya berkunang-kunang. Ia mencoba mengabaikan, dan melangkah ke area open space untuk membuat kopi. Tiba-tiba langkahnya goyah, ia terhuyung dan jatuh begitu saja di lantai yang dingin itu.Semua orang berkerumun. Revan yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri kerumunan itu. Aluna—Ia melihat perempuan itu tergelatak. Revan langsung membopongnya ke sofa yang berada di ruang santai. Membaringka

  • Tak Setara   Aku Mencintaimu

    "Oh iya," Aluna menoleh pada pria disampingnya, "saya lupa ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Bapak, sekali lagi.. selamat atas pertunangannya."Arka menghentikan sendok es yang hampir akan masuk ke mulutnya. "Lebih baik.. kamu tarik kembali ucapan itu." Katanya lirih.Seketika Aluna memonyongkan bibirnya, menarik nafas yang begitu dalam.Arka bingung melihatnya. "Kamu sedang apa?""Menarik ucapan saya."Mereka tertawa bersamaan. Malam itu terasa hangat bagi Arka. Hangat dengan cara yang asing—sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini, ia terbiasa dengan restoran mewah, hidangan mahal yang disajikan dengan sempurna.Seblak—bahkan namanya pun terdengar asing di telinganya. Rasa pertama yang menyentuh lidahnya terasa aneh. Pedas, sedikit pahit, dan jauh dari apa yang biasa ia nikmati.Ia tidak terbiasa. Namun, melihat Aluna makan dengan begitu lahap, entah kenapa membuatnya ikut tersenyum… dan ingin mencoba lagi.Arka sebenarnya bisa saja membawa perempuan itu ke

  • Tak Setara   Senjata

    Dua Minggu telah berlalu sejak terakhir kali Aluna menangis di kamar hotel. Hari ini kakinya berhenti didepan pintu yang dulu pernah menjadi bagian dari ia tumbuh bersama seseorang yang ia cintai.Aluna mengetuk pintu itu. Tak lama pintu pun terbuka, sosok pria berdiri dibaliknya.Gavin—Matanya terbelalak, perasaan haru tergambar jelas di wajahnya. Sudah hampir sebulan ia tidak melihat wajah istrinya."Aluna." Gavin langsung memeluk erat tubuh Aluna.Perempuan itu tidak melepaskannya, ia hanya diam dengan tatapan kosongnya."Aku ingin masuk." Kata Aluna singkat.Gavin menuntunnya masuk kerumah. Aluna menyapu seluruh ruangan itu, matanya berkaca-kaca. Rumah yang dulu menjadi tempat ia menghabiskan waktu bersama Gavin, tawa, canda itu masih melekat disetiap sudut ruangan.Foto-foto pernikahan yang berjejer ditembok, membuatnya semakin sesak. Ia menatap Gavin dengan begitu dalam, sampai..."Aku datang untuk memberikan ini." Tangannya menyodorkan secarik kertas.Gavin membuka kertas itu,

  • Tak Setara   Keputusan Yang Keliru

    Matanya berat, nyaris tak ingin terbuka. Tubuhnya terasa remuk, menahan dirinya untuk tetap diam di tempat. Namun pikirannya tak memberi ampun. Ia terus menariknya kembali—pada satu kenyataan yang, bahkan untuk diingat pun terasa menyakitkan.Tangannya mencengkeram sesuatu tanpa sadar. Matanya terbuka perlahan, napasnya sempat tertahan oleh rasa kaget yang tiba-tiba datang. Ia menunduk, menatap apa yang menjadi alas kepalanya—sepasang kaki, yang terasa hangat. Pandangannya bergerak pelan, mencoba memahami keadaan.Mobil.Seketika ia tersentak. Tubuhnya dipaksa bangun, meski nyeri langsung menjalar. Dan di hadapannya—Arka tertidur, masih dalam posisi duduk. Dadanya naik turun perlahan, wajahnya terlihat lelah.Aluna terdiam, baru sekarang ia menyadari… ia menghabiskan waktu entah berapa lama, tertidur di pangkuan pria itu. Aluna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa malu menjalar di wajahnya. Ia menyenderkan punggungnya di jok mobil, menatap wajah pria yang sedang tert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status