تسجيل الدخولMalam turun tanpa suara.
Kamar Arka gelap, hanya diterangi cahaya kota yang menembus celah tirai. Jas kerjanya tergeletak sembarangan di kursi—sesuatu yang jarang ia lakukan, biasanya ia teratur, rapi, terkendali. Seperti hidupnya. Ia berbaring terlentang, satu tangan menjadi bantalan kepala, menatap langit-langit yang kosong. Namun pikirannya tidak kosong. “Suami saya…” Kalimat itu terulang. Lagi dan lagi. Arka memejamkan mata, mencoba mengabaikannya. Tapi suara itu terlalu jelas, terlalu ringan saat keluar dari bibir Aluna sore tadi. Seolah kata itu bukan sesuatu yang berat. Suami... Rahangnya mengeras. Selama ini ia tak pernah bertanya, tak pernah peduli, status karyawan hanyalah data administratif baginya. Tidak relevan, tidak penting. Tapi entah mengapa, mengetahui fakta itu membuat sesuatu di dalam dirinya bergeser. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang. Mengusap wajahnya kasar. “Kenapa harus menikah…” gumamnya lirih, lebih seperti pertanyaan pada dirinya sendiri. Ia teringat caranya tertawa bersama Revan. Caranya menunduk sopan saat berbicara. Caranya menggigit ujung pena saat berpikir. Dan kini—ia membayangkan perempuan itu pulang… bukan ke ruang kosong. Ada seseorang menunggunya. Pikirannya tiba-tiba terasa sempit. Arka berdiri, berjalan ke jendela. Menarik tirai lebih lebar. Angin malam menyentuh wajahnya, tapi tak cukup mendinginkan dadanya. Ia tidak marah. Bukan! Ia hanya… terusik. Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang tidak ia rencanakan mulai tumbuh. Dan sesuatu itu kini memiliki batas yang jelas. Garis yang bernama: milik orang lain. Arka tersenyum tipis, hambar. “Menarik.” Bukan pada pernikahannya. Tapi pada kenyataan bahwa ia tidak suka mengetahui hal itu. Dan untuk pria yang selalu menang dalam negosiasi, perasaan kalah sebelum memulai terasa mengganggu. Lampu kamar dimatikan, namun malam itu, Arka tetap terjaga dan nama Aluna tanpa izin menetap di kepalanya. *** Pagi itu Arka ingin mengadakan rapat dengan beberapa karyawannya. Damar, pria paruh baya selaku sekretaris Arka telah mempersiapkan ruangan dan memanggil beberapa orang yang dibutuhkan. Head of Marketing, Creative Lead dan Content Writer. Semua telah berkumpul dalam ruangan. Tak lama kemudian Arka datang dan langsung memulai rapat. Proyektor menampilkan slide bertuliskan: Campaign: “Cerita di Balik Kota” – Brand Kopi Lokal Beberapa tim marketing duduk mengelilingi meja. Revan bersandar santai, Helena sibuk mencatat. Aluna fokus menatap layar. Arka berdiri di depan, remote presentasi di tangannya. “Kita tidak bisa menjual kopi ini hanya sebagai minuman,” ucapnya tenang. “Brand ini menjual cerita. Mereka ingin positioning sebagai ‘teman perjalanan kota’.” Slide berganti. Foto gang sempit, pedagang kaki lima, lampu jalan yang redup menjelang malam. “Kita perlu survey lokasi langsung. Saya mau lihat sendiri suasananya.” Revan mengangguk. “Setuju. Visual dan tone copy harus sejalan.” Arka memandang ke arah meja timnya. “Saya akan turun langsung besok sore.” Beberapa orang saling melirik. CEO turun langsung bukan hal yang sering terjadi, tapi juga bukan hal yang aneh bagi Arka. “Saya butuh satu orang dari tim kreatif ikut.” Revan mengangkat tangan setengah bercanda. “Siap, Bos. Saya selalu tersedia untuk touring dadakan.” Beberapa orang terkekeh pelan. Arka menggeleng tipis. “Bukan kamu, Van.” Ruangan sedikit hening. “Saya mau Aluna yang ikut.” Aluna yang sedang mencatat langsung berhenti. “Sa-saya, Pak?” Revan menoleh ke arahnya, lalu kembali ke Arka dengan alis terangkat. Aluna merapikan duduknya. “Maaf, Pak. Bukannya saya menolak, tapi untuk survey seperti ini sepertinya Kak Revan lebih tepat. Beliau Creative Lead dan lebih paham arah visual campaign.” Nada bicaranya sopan. Arka menatapnya tanpa tergesa menjawab. “Justru karena ini campaign berbasis cerita, saya butuh Content Writer.” Ia berjalan mendekat ke layar, menunjuk salah satu foto di slide. “Kita tidak sedang mencari angle kamera terbaik. Kita sedang mencari sudut pandang.” Ia beralih menatap Aluna. “Copy kamu kemarin tentang ‘langkah kecil di kota besar’ — itu bukan hasil riset data. Itu hasil observasi.” Ruangan kembali hening. “Saya butuh orang yang bisa menangkap detail seperti itu secara langsung. Bau jalanan, suara motor lewat, ekspresi penjual. Itu tidak bisa saya dapat dari laporan.” Revan tersenyum kecil. “Wah, berarti memang spesialisnya Aluna, nih.” Aluna masih ragu. “Tapi, Pak… saya takut nanti justru kurang maksimal. Ini klien besar.” “Karena ini klien besar,” potong Arka tenang, “saya tidak bisa hanya mengandalkan intuisi visual. Narasi campaign ini akan menentukan keseluruhan tone.” Ia menatapnya lebih dalam. “Dan kamu yang menulis narasinya.” Kalimat itu membuat Aluna terdiam beberapa detik. “Saya tidak memilih berdasarkan jabatan,” lanjut Arka. “Saya memilih berdasarkan kebutuhan project.” Aluna menelan pelan. “Survey ini bukan sekadar lihat lokasi. Saya ingin kamu merasakan suasananya. Supaya saat kamu menulis nanti, itu bukan sekadar kata-kata.” Revan menyenggol pelan lengan Aluna. “Udah, Lun. Jarang-jarang Bos turun langsung ngajarin beginian.” Helena ikut berbisik, “Seru, Kak. Bisa jadi bahan tulisan.” Aluna akhirnya mengangguk pelan. “Baik, Pak. Saya ikut.” Arka kembali ke posisi semula, ekspresinya tetap tenang. “Besok jam tiga sore. Kita berangkat sebelum jam pulang kantor supaya bisa lihat suasana menjelang malam.” Revan tersenyum jail. “Naik mobil atau touring, Bos?” Arka menjawab singkat, “Motor.” Aluna spontan menoleh. “Area yang kita datangi banyak gang sempit. Mobil tidak efektif,” lanjut Arka profesional. “Kita perlu fleksibel berhenti di beberapa titik.” Penjelasannya logis dan masuk akal. Rapat kembali berjalan membahas teknis lainnya. Namun sejak nama itu disebut, Aluna merasa ada sesuatu yang berubah. Ia tidak dipilih karena kebetulan. Ia dipilih karena memang dibutuhkan. Dan entah kenapa, justru itu yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat dari seharusnya. Keesokan harinya saat Aluna dan bosnya mulai melakukan survey di lokasi. Semuanya berjalan dengan lancar sesuai yang direncanakan. Aluna berjalan sejajar dengan Arka, mencatat bagian-bagian penting setiap kalimat yang dijelaskan pria disampingnya. Memotret beberapa objek, mewawancarai beberapa pedagang dan orang lokal di area tersebut. Ada momen ketika Aluna mendongak ke atas, warna warni langit jingga terbentang luas seperti sebuah lukisan. Ia memotret beberapa, melihat hasilnya lalu tersenyum puas. Dari jarak yang berbeda, Arka memperhatikan perempuan itu. Caranya tersenyum pada keindahan semesta, caranya melihat dari sudut pandang seorang perempuan biasa. Matanya yang berbinar bagai senja yang tenggelam dibalik awan. Untuk pertama kalinya, ia terpesona dengan wanita yang mungkin tidak pernah menjadi bagian dari rencana hidupnya. Karena semua mengalir tanpa bisa dikendalikan olehnya. Saat merasa semua sudah cukup, mereka kembali ke kantor. Namun di perjalanan tiba-tiba langit yang tadinya cerah berubah menjadi lebih gelap. Arka melajukan motornya lebih cepat karena tidak ingin kehujanan. Tak berselang lama. Hujan turun tanpa aba-aba, rintikan hujan yang begitu deras memaksa Arka harus berhenti disebuah bangunan.Aluna terdiam sesaat mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya. "Saya ingin mengundurkan diri." Tangannya menyodorkan amplop coklat. Sontak Damar terkejut, "saya tidak salah dengar, Aluna?" tanyanya tak percaya. "Saya sudah memikirkan ini baik-baik. Dan keputusan saya sudah bulat, untuk resign dari pekerjaan saya." Suaranya lembut seolah ada rasa takut didalam dirinya. Damar menatapnya dengan heran, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Memangnya ada masalah apa sampai kamu ingin resign, Aluna?" Aluna tertunduk, "saya ada masalah keluarga yang mengharuskan saya untuk tinggal dirumah." Sebuah kalimat yang menjadi pilihan terakhir dari banyaknya daftar alasan yang sudah ia susun di kepalanya. Damar menghela nafas, "padahal dulu waktu kita tidak sengaja bertemu, saya melihat ada kegigihan dalam dirimu. Namun sekarang kamu harus meninggalkan pekerjaan mu setelah susah payah mendapatkannya," Lanjutnya. Mendengar itu, air mata Aluna mengalir begitu saja tanpa ia min
Kakinya melangkah dengan tergesa, tubuhnya terhuyung, ia berusaha menahannya agar tidak terjatuh. Sesampainya di lobby parkir, tangannya melambai kearah taksi yang berada tak jauh darinya. Di dalam mobil ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Tangannya mengepal disela duduknya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Aluna masih tidak percaya dengan kejadian yang baru dia alami. "Apakah dunia kerja memang seperti ini?" Gumamnya. Hal yang paling menyakitkan baginya adalah, melihat sisi yang berbeda dari atasannya. Orang yang terlihat mengagumkan, berwibawa dan gentleman—Ternyata menyimpan sisi gelap dari dalam dirinya. Pria yang membuat semua orang berpikir bahwa ia adalah laki-laki sempurna, ternyata tidak lebih dari sekedar penjahat. Menyadarinya seorang diri, adalah hal yang paling menyakitkan bagi Aluna. "Kita sudah sampai mbak." Suara supir taksi mengagetkan lamunannya. Aluna segera merapikan dirinya sebelum menget
Apa yang Bapak lakukan," tanyanya panik. Kedua tangannya masih menutupi wajahnya. "Kenapa kamu menutupi wajah mu?" tanya Arka datar, seolah apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang biasa. Aluna mengintip sedikit dari celah jarinya, ingin memastikan bahwa atasannya masih memakai pakaian. Ia melihatnya memakai celana boxer, kemudian menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. "Bapak mau apa?" Suaranya bergetar, ada rasa takut dari dalam dirinya. "Cuma mau lihat kamu." Sorot matanya tajam. Aluna melangkah ingin menuju pintu, namun Arka menahan pundaknya, membuat Aluna tidak bisa bergerak. "Tolong jangan lakukan ini, Pak." suaranya memohon. "Lakukan apa?" Bertanya seolah ia tidak melakukan apa-apa. Aluna terdiam, matanya sedang menahan sesuatu. Pandangannya hanya tertunduk ke bawah. Tiba-tiba tangan Arka menyentuh dagu Aluna, membuatnya mendongak ke atas dan kini mereka saling bertatap mata. Arka menatap dalam perempuan yang hampir menangis itu, ia bisa merasakan tubuhnya gemetar.
Lobi Hotel Madson malam itu dipenuhi cahaya hangat dan aroma parfum mahal yang samar. Langkah Aluna terasa sedikit kaku di atas lantai marmer yang mengilap. Di sampingnya, Arka berjalan tenang dengan setelan rapi dan ekspresi yang tak pernah benar-benar terbaca. Mereka tidak menuju kamar, melainkan ruang meeting di lantai tiga. Pintu kayu besar dengan plakat bertuliskan Private Meeting sudah menunggu di ujung koridor. Di dalam, dua perwakilan klien telah duduk. Jas rapi, wajah serius, tatapan menilai. Arka menyapa lebih dulu. Tegas dan profesional. “Terima kasih sudah meluangkan waktu sebelum keberangkatan Anda besok pagi,” ucapnya, menjabat tangan satu per satu. “Kami akan langsung ke inti presentasi.” Ia memberi isyarat halus pada Aluna. Aluna menarik napas pelan, membuka laptopnya, lalu menyambungkan slide ke layar besar di dinding. Tangannya sempat terasa dingin, tapi suaranya tetap terjaga stabil saat mulai berbicara. Ia menjelaskan alur campaign dengan runtut. Strategi pos
Di kantor. Revan tengah duduk di meja kerja Aluna. Ia menunggu perempuan pemilik meja itu datang, sampai bunyi denting lift memecah lamunannya. Aluna keluar dari lift dengan cup latte di tangannya. "Kak Revan? Sedang apa?" Aluna yang baru sampai heran melihat Revan duduk di mejanya. "Sedang menunggu." Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. "Menunggu apa?" alisnya mengerut. "Sesuatu yang dirampas dariku." Ekspresinya datar. Aluna bingung dengan ucapan Revan, "kalau ngomong itu yang jelas kak. Jangan bikin orang mikir," ucapnya kesal. "Minggir! Pemilik meja mau duduk." Aluna meletakkan tas dan cup kopi diatas mejanya, mengusir atasannya dengan gestur bercanda. Revan terkekeh, lalu beranjak dari duduknya. Membiarkan perempuan yang sedari tadi ia tunggu itu, kembali dengan setumpuk pekerjaannya. Aluna menenggak kopi yang sedari tadi ia bawa. Melihat itu, Revan teringat momen pada saat di taman kota. Saat bosnya menelepon untuk segera kembali ke kantor, Revan bergegas dan dengan berat hati
"Aluna...." Revan mendekati meja perempuan yang tengah sibuk mengetik keyboardnya. "Kenapa lagi kak Revan." Matanya masih fokus pada layar komputer. "Udah jam makan siang nih. Kamu masih aja sibuk." "Iya bentar lagi. Nanggung nih." "Cari makan di luar yuk." Aluna berpikir beberapa saat, "yaudah yuk." Ia mengemasi beberapa barangnya. Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya di rumah makan Padang. Aluna mengajak Revan ke taman kota yang berada tidak jauh dari tempat mereka makan siang. "Kamu mau ngapain disini," tanya Revan sambil menyedot es cekek di tangannya. "Aku mau baca buku bentar, mumpung masih banyak waktu sebelum kembali ke kantor." Ia mengeluarkan buku bersampul hijau itu dari dalam tasnya. "Kamu suka baca ya." Ia memperhatikan Aluna membaca bukunya. "Cuma suka baca novel aja sih," jelasnya. "Novel genre apa?" "Romance," jawabnya singkat. "Sejak ka..." Kalimatnya terpotong, mulutnya tertutup oleh telapak tangan Aluna. "Kalau kak Revan nanya mulu, kapan aku bi







