LOGIN"Ada yang ingin papa bicarakan," ucap pria paruh baya itu.Arka kemudian menarik kursi dan mendengarkan Ayahnya."Papa tahu kamu tidak menginginkan pernikahan ini," pria itu mulai berbicara. "Tapi papa ingin tanya satu hal."Arka mendekatkan dirinya."Apa kamu akan bahagia jika bersamanya?" tanya Ayahnya.Arka sedikit bingung, "Arka akan bahagia jika papa bisa cepet pulih. Jika menikah dengan Valerie bisa membuat papa segera sembuh, pasti bahagia Arka juga akan menyusul.""Papa tidak sedang membicarakan Valerie,"Alis Arka mengerut."Papa sedang membicarakan, Aluna," ia melanjutkan kalimatnya. "Apa kamu akan bahagia jika bersamanya?"Seketika dada Arka berdegup, ia masih berusaha mencerna kalimat Ayahnya."Jika memang bersamanya kamu bisa berjanji akan hidup bahagia... pergilah.""Pa..." Arka sedikit terkejut.Ayahnya menyentuh wajah Arka, "papa baru menyadari sesuatu, dan pap
Di hari libur, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Membaca buku-buku lamanya, duduk diam di teras, atau berjalan pelan ke arah sawah saat sore mulai turun. Ia menikmati suasana itu—angin yang lebih sejuk, langit yang perlahan berubah warna, dan ketenangan yang tidak ia temukan di kota sebelumnya.Semua itu terasa cukup. Setidaknya untuk sekarang.Tapi di dalam dirinya, tidak semua benar-benar selesai. Luka itu masih ada. Tidak selalu terasa, tapi juga tidak pernah benar-benar hilang.Saat malam datang dan semuanya kembali sepi, pikirannya sering berjalan ke arah yang sama. Pada seseorang yang sudah ia tinggalkan, tapi belum benar-benar pergi dari ingatannya.Arka masih ada di sana—Bukan di hidupnya lagi, tapi di kepalanya—dan itu sering kali lebih sulit dihindari.***Sore itu Aluna sedang bermain bunga dandelion di hamparan sawah di belakang rumah.Ia meniup-niup bunga itu kemudian serbuk dandelion terbang tertiup angin. Aluna tertawa kecil, wajahnya tampak sangat gembira, j
Ini bukan keputusan yang berani ... Ini keputusan yang tersisa. Aku pergi … bukan karena kuat. Tapi karena kalau aku tetap tinggal, aku akan hancur di tempat yang sama—berulang kali, dengan cara yang sama.Jakarta … kota yang dulu terasa hidup, kini seperti menelanku pelan-pelan. Setiap sudutnya menyimpan jejak yang tak bisa kuhapus. Jalan yang pernah kulewati bersamanya. Ruang kerja yang dulu penuh tawa yang ternyata bukan milikku sepenuhnya. Bahkan udara di sini terasa berat, seolah tahu aku kalah.Aku kalah, bukan pada Valerie. Tapi pada pilihan yang tidak pernah jatuh padaku. Tanganku perlahan turun ke perutku. Ada kehidupan di sana, kecil … rapuh … tapi nyata.“Maaf …” bisikku dalam hati, entah untuk siapa.Untuknya? Atau untuk diriku sendiri yang terlalu lama bertahan pada sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar utuh?Aku tidak tahu bagaimana nanti. Aku bahkan tidak yakin bisa menjadi ibu yang baik dengan hati yang sudah retak seperti ini. Tapi satu hal yang pasti—aku t
"Ar—" kalimatnya terhenti ketika ia melihat sosok itu sedang berdiri menatapnya.Suasana mendadak hening, tidak ada yang berbicara diantara mereka, sampai—"Pak Damar..." ucap Aluna tak percaya dengan apa yang ia lihat.Pria itu tersenyum padanya, "apa kabar, Aluna."Setelah saling menanyakan kabar dan basa-basi dengan obrolan ringan. Damar mulai berbicara dengan serius."Aluna, sebenarnya saya datang kesini bukan untuk menanyakan kabar, tapi memang ada hal yang ingin saya bicarakan dengan mu." Wajahnya terlihat tegang."Soal apa, Pak?" Dada Aluna berdegup kencang, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang membuat perasaannya tidak tenang. Aluna tahu seorang Damar tidak mungkin datang hanya untuk hal kecil."Pertama, saya ingin bertanya. Bagaimana hubunganmu dengan Pak Arka?" tanya Damar.Aluna terdiam sebentar, ia ragu namun menjawabnya dengan jujur. "Saya sekarang sedang mengandung anak beliau."Damar sedikit terkejut, namun tiba-tiba ia mengusap wajahnya. Ada perasaan sedih yang tergamb
"Anda kesini masih sendiri? Ayahnya belum kembali?" tanya dokter tiba-tiba.Aluna terbata, "emm... masih belum, sepertinya masih banyak bisnis yang belum selesai.""Semoga nanti ketika waktunya persalinan, suaminya bisa datang ya." Dokter itu tersenyum pada Aluna.Aluna pun hanya membalas dengan senyuman tipis, senyuman yang tidak benar-benar sampai ke hatinya. Karena pada kenyataannya, ia sendiri pun tidak pernah tahu kemungkinan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tetap bisa berdiri kokoh karena sebuah harapan yang ia pegang erat.***Arka duduk menatap orang-orang yang tengah sibuk dengan dekorasi di ruangan itu. Tangannya memijat ujung alisnya. Ia menghela nafas berat, pikirannya tidak benar-benar berada disana.Suara langkah heels terdengar mendekat, pundaknya disentuh oleh tangan seseorang."Aku tahu kamu tidak menginginkan ini," ucap Valerie."Jika bukan karena keinginan orang tuaku, akupun tidak akan pernah memberikan diriku pada seorang pria yang sudah tidur dengan wanita l
"Bagaimana ya jadinya, ketika Arka selaku pemilik besar perusahaan Aethera Creative Lab, si calon menantu dari keluarga konglomerat pemilik perusahaan besar, ternyata berbuat tidak pantas kepada karyawannya?"Aluna melanjutkan kalimatnya, "bagaimana jika meledak-ledak media tahu? Reputasinya, keluarganya, semua bisnisnya... Coba saja dulu Anda bayangkan."Aluna tersenyum puas.Ibu Arka terdiam dengan emosi yang ia pendam, tangannya mengepal dengan erat."Lucu sekali ... Rupanya anak yang Anda banggakan ternyata tidak lebih dari seorang monster."Aluna melanjutkan kembali kalimatnya, "Anda pikir saya tergila-gila dengannya? Anda pikir saya mencintainya?" Aluna tertawa geli."Jika bukan karena anak ini," ia menyentuh perutnya. "Saya tidak akan mau dengannya." Aluna berjalan selangkah lebih dekat dengan perempuan itu. "Karena saya bukan wanita murahan."Ia terdiam sesaat. "Karena saya... hanya sedang mempertahankan harga diri saya sendiri."Perempuan dihadapannya menghela nafas panjang,







