بيت / Young Adult / Tak Setara / Diperlakukan Berbeda

مشاركة

Diperlakukan Berbeda

مؤلف: Lass
last update تاريخ النشر: 2026-08-04 16:09:32

"Kalau sudah selesai diskusinya, Aluna bisa ke ruangan saya." Suara Arka terdengar datar, tidak tinggi, tidak tajam. Tapi cukup untuk memotong tawa kecil yang barusan pecah di antara Aluna dan Revan.

Revan menoleh pelan, lalu berbisik lirih, “Nah, tokoh utama puisi kamu datang.”

Aluna menahan senyum, lalu berdiri cepat. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya—entah karena tertangkap sedang tertawa, atau karena ia tahu sorot mata Arka sejak tadi bukan sekadar sorot atasan pada bawahan.

Tok… tok… Ketukan itu pelan. Terlalu pelan untuk seorang karyawan yang hanya ingin melapor pekerjaan.

“Masuk.”Suara itu terdengar lebih berat dari biasanya.

Aluna membuka pintu. Ruangan itu selalu terasa lebih dingin dari ruang kerja lain. Minimalis, rapi. Aroma maskulin bercampur kayu samar mengisi udara.

“Bapak memanggil saya?" Pertanyaan formal. Padahal di tangannya sudah ada berkas laporan campaign yang jelas akan dibahas. Mereka sama-sama tahu alasan ia dipanggil. Tapi permainan kecil itu seperti ritual tak tertulis di antara mereka.

Arka tidak langsung menjawab. Ia menutup laptopnya pelan, lalu mengangkat wajah.“Duduk.” Satu kata, tanpa ekspresi.

Aluna duduk di sofa panjang di sisi ruangan. Punggungnya tegak. Berkas ia letakkan rapi di pangkuannya. Ia mulai menjelaskan performa iklan, insight audiens, engagement rate, semuanya dengan suara stabil dan profesional.

Arka mendengarkan dengan tenang.

Beberapa detik kemudian, ia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat. Langkahnya pelan. Lalu seperti yang sering terjadi—ia tidak kembali ke kursi kerjanya.

Ia duduk di samping Aluna, terlalu dekat.

Jarak bahu mereka hanya beberapa senti. Aluna bisa merasakan hangat tubuh pria itu meski ruangan ber-AC. Ia menahan napas sesaat, lalu kembali fokus pada berkas.

Tetap profesional.

Arka mengambil satu lembar kertas dari tangan Aluna. Sengaja menyentuh ujung jarinya lebih lama dari seharusnya.

“Kalimat ini,” ujarnya pelan. “Terlalu lembut.”

Aluna menoleh sedikit. “Brand ini targetnya ibu muda, Pak. Jadi pendekatannya memang emosional.”

“Emosional tidak harus selembut ini.”

Nada Arka berubah tipis, tidak keras. Tapi mengandung sesuatu yang sulit didefinisikan.

Ia menatap Aluna, bukan berkasnya.

Aluna menyadari tatapan itu. Tapi ia pura-pura tidak sadar. Pembahasan berlanjut hampir dua puluh menit. Detail demi detail, koreksi demi koreksi. Sampai akhirnya semuanya selesai.

Aluna berdiri perlahan. “Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.”

Ia baru setengah melangkah ketika suara itu kembali terdengar. “Siapa yang menyuruhmu pergi?”

Langkahnya terhenti. Ia menoleh perlahan. Arka masih duduk santai, bersandar pada sofa, satu tangan terentang di sandaran belakang—posisi yang seolah tanpa sengaja membatasi ruang geraknya.

“Oh… sepertinya masih ada yang perlu dibahas, Pak?” tanya Aluna hati-hati.

Ada jeda.

“Saya mau memberimu beberapa tugas tambahan.” Arka meraih map lain di meja, lalu menyodorkannya.

Tumpukan dokumen itu tidak tipis, Aluna menerimanya refleks, matanya langsung membesar. “Pak… ini untuk campaign minggu depan, kan?"

"pagi saya mau revisinya sudah di meja saya.”

“Besok?” suaranya hampir tak percaya. “Pak, ini cukup banyak. Takut tidak keburu.”

“Itu bukan urusan saya.” Nada Arka datar, terlalu datar. “Saya hanya ingin hasilnya beres.”

Aluna menatap tumpukan kertas itu. Otaknya langsung menghitung waktu. Jam kerja hampir habis, jika dikerjakan berarti ia harus begadang. Lagi. Ia teringat wajah Gavin yang menunggunya pulang, teringat makan malam sederhana mereka, teringat percakapan kecil sebelum tidur.

"Baik, Pak,” akhirnya ia menjawab pelan dan tidak lagi membantah.

Arka mengamatinya, cara perempuan itu menelan protes, cara ia memilih diam daripada berdebat. Ada sesuatu yang aneh di dada Arka.

Ia ingin Aluna melawan. Tapi yang ia dapatkan justru kepatuhan.

Aluna berbalik, melangkah menuju pintu.

"Aura-aura yang habis ditindas oleh atasan, nih." Ejek Revan, melangkah menuju kursi Aluna.

"Kenapa Kak?" tanya Helena penasaran.

Aluna menjatuhkan tumpukan berkas dengan kasar diatas meja. "Kenapa sih Pak Arka suka menindas orang?" ucapnya kesal.

"Perasaan yang sering ditindas, kamu deh." Kata Revan.

"Iya. Kita berdua sih biasa-biasa aja." Helena mengimbuhi.

Mendengar itu, sesuatu di dalam dada Aluna seperti ikut tertarik kencang. Kesalnya tidak lagi tipis—ia bisa merasakannya mengendap, pelan tapi pasti. Di balik wajah profesional yang ia pasang rapi, pikirannya mulai berisik.

Kenapa selalu aku?

Ia bukan tipe karyawan yang mudah mengeluh. Revisi? Biasa. Lembur? Sudah jadi makanan sehari-hari di dunia kreatif. Teguran? Itu bagian dari proses. Tapi dengan Arka, rasanya berbeda.

Cara Arka memandangnya tidak pernah benar-benar netral. Terlalu tajam untuk sekadar atasan menilai hasil kerja bawahan. Dan sejak hari itu, Aluna selalu merasa… dipilih. Bukan dipilih untuk dipuji, bukan dipilih untuk dimanjakan, melainkan dipilih untuk diuji.

Ia lebih sering pulang paling malam. Lebih sering menerima email revisi lewat tengah malam. Lebih sering dipanggil ke ruangan itu hanya untuk membahas hal-hal kecil yang sebenarnya bisa selesai lewat pesan singkat. Satu kata dianggap kurang kuat, satu kalimat dinilai terlalu lembut, satu metafora disebut tidak tepat sasaran.

Padahal tulisan yang sama, ketika dibaca Revan, hanya mendapat anggukan puas. “Bagus kok, paling tinggal poles dikit,” begitu kata Creative Lead itu. Namun di tangan Arka, naskah yang sama bisa berubah menjadi lembaran penuh coretan merah. Kadang Aluna ingin bertanya langsung, Apa memang saya seburuk itu?

Tapi setiap kali ia mencoba mengingat ekspresi Arka saat mengoreksinya, ia justru melihat sesuatu yang lain, bukan kebencian, bukan ketidaksukaan murni. Melainkan perhatian yang terlalu detail, terlalu fokus. Seolah setiap huruf yang ia tulis memang sedang diawasi khusus. Itu yang membuatnya semakin kesal.

Karena jika Arka memang tidak menyukainya, harusnya ia bersikap dingin dan cuek seperti pada karyawan lain.

Tapi ini? Ia seperti dijadikan proyek pribadi.

Dan Aluna tidak tahu mana yang lebih melelahkan—tuntutan pekerjaannya, atau cara Arka membuatnya merasa selalu kurang, selalu harus lebih, selalu ditarik satu langkah melewati batas kemampuannya.

Ia mengepalkan tangan pelan di samping tubuhnya. Entah karena bosnya memang tidak menyukainya. Atau justru… ada sesuatu yang tidak ingin ia akui. Dan ketidaktahuan itu jauh lebih mengganggu daripada sekadar lembur dan revisi tanpa henti.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Tak Setara   Menjinakkan Kucing Liar

    Aluna terdiam sesaat mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya. "Saya ingin mengundurkan diri." Tangannya menyodorkan amplop coklat. Sontak Damar terkejut, "saya tidak salah dengar, Aluna?" tanyanya tak percaya. "Saya sudah memikirkan ini baik-baik. Dan keputusan saya sudah bulat, untuk resign dari pekerjaan saya." Suaranya lembut seolah ada rasa takut didalam dirinya. Damar menatapnya dengan heran, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Memangnya ada masalah apa sampai kamu ingin resign, Aluna?" Aluna tertunduk, "saya ada masalah keluarga yang mengharuskan saya untuk tinggal dirumah." Sebuah kalimat yang menjadi pilihan terakhir dari banyaknya daftar alasan yang sudah ia susun di kepalanya. Damar menghela nafas, "padahal dulu waktu kita tidak sengaja bertemu, saya melihat ada kegigihan dalam dirimu. Namun sekarang kamu harus meninggalkan pekerjaan mu setelah susah payah mendapatkannya," Lanjutnya. Mendengar itu, air mata Aluna mengalir begitu saja tanpa ia min

  • Tak Setara   Antara Harga Diri Dan Impian

    Kakinya melangkah dengan tergesa, tubuhnya terhuyung, ia berusaha menahannya agar tidak terjatuh. Sesampainya di lobby parkir, tangannya melambai kearah taksi yang berada tak jauh darinya. Di dalam mobil ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Tangannya mengepal disela duduknya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Aluna masih tidak percaya dengan kejadian yang baru dia alami. "Apakah dunia kerja memang seperti ini?" Gumamnya. Hal yang paling menyakitkan baginya adalah, melihat sisi yang berbeda dari atasannya. Orang yang terlihat mengagumkan, berwibawa dan gentleman—Ternyata menyimpan sisi gelap dari dalam dirinya. Pria yang membuat semua orang berpikir bahwa ia adalah laki-laki sempurna, ternyata tidak lebih dari sekedar penjahat. Menyadarinya seorang diri, adalah hal yang paling menyakitkan bagi Aluna. "Kita sudah sampai mbak." Suara supir taksi mengagetkan lamunannya. Aluna segera merapikan dirinya sebelum menget

  • Tak Setara   Manipulatif

    Apa yang Bapak lakukan," tanyanya panik. Kedua tangannya masih menutupi wajahnya. "Kenapa kamu menutupi wajah mu?" tanya Arka datar, seolah apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang biasa. Aluna mengintip sedikit dari celah jarinya, ingin memastikan bahwa atasannya masih memakai pakaian. Ia melihatnya memakai celana boxer, kemudian menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. "Bapak mau apa?" Suaranya bergetar, ada rasa takut dari dalam dirinya. "Cuma mau lihat kamu." Sorot matanya tajam. Aluna melangkah ingin menuju pintu, namun Arka menahan pundaknya, membuat Aluna tidak bisa bergerak. "Tolong jangan lakukan ini, Pak." suaranya memohon. "Lakukan apa?" Bertanya seolah ia tidak melakukan apa-apa. Aluna terdiam, matanya sedang menahan sesuatu. Pandangannya hanya tertunduk ke bawah. Tiba-tiba tangan Arka menyentuh dagu Aluna, membuatnya mendongak ke atas dan kini mereka saling bertatap mata. Arka menatap dalam perempuan yang hampir menangis itu, ia bisa merasakan tubuhnya gemetar.

  • Tak Setara   Sisi Gelap Yang Mulai Terlihat

    Lobi Hotel Madson malam itu dipenuhi cahaya hangat dan aroma parfum mahal yang samar. Langkah Aluna terasa sedikit kaku di atas lantai marmer yang mengilap. Di sampingnya, Arka berjalan tenang dengan setelan rapi dan ekspresi yang tak pernah benar-benar terbaca. Mereka tidak menuju kamar, melainkan ruang meeting di lantai tiga. Pintu kayu besar dengan plakat bertuliskan Private Meeting sudah menunggu di ujung koridor. Di dalam, dua perwakilan klien telah duduk. Jas rapi, wajah serius, tatapan menilai. Arka menyapa lebih dulu. Tegas dan profesional. “Terima kasih sudah meluangkan waktu sebelum keberangkatan Anda besok pagi,” ucapnya, menjabat tangan satu per satu. “Kami akan langsung ke inti presentasi.” Ia memberi isyarat halus pada Aluna. Aluna menarik napas pelan, membuka laptopnya, lalu menyambungkan slide ke layar besar di dinding. Tangannya sempat terasa dingin, tapi suaranya tetap terjaga stabil saat mulai berbicara. Ia menjelaskan alur campaign dengan runtut. Strategi pos

  • Tak Setara   Atas Nama Profesional

    Di kantor. Revan tengah duduk di meja kerja Aluna. Ia menunggu perempuan pemilik meja itu datang, sampai bunyi denting lift memecah lamunannya. Aluna keluar dari lift dengan cup latte di tangannya. "Kak Revan? Sedang apa?" Aluna yang baru sampai heran melihat Revan duduk di mejanya. "Sedang menunggu." Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. "Menunggu apa?" alisnya mengerut. "Sesuatu yang dirampas dariku." Ekspresinya datar. Aluna bingung dengan ucapan Revan, "kalau ngomong itu yang jelas kak. Jangan bikin orang mikir," ucapnya kesal. "Minggir! Pemilik meja mau duduk." Aluna meletakkan tas dan cup kopi diatas mejanya, mengusir atasannya dengan gestur bercanda. Revan terkekeh, lalu beranjak dari duduknya. Membiarkan perempuan yang sedari tadi ia tunggu itu, kembali dengan setumpuk pekerjaannya. Aluna menenggak kopi yang sedari tadi ia bawa. Melihat itu, Revan teringat momen pada saat di taman kota. Saat bosnya menelepon untuk segera kembali ke kantor, Revan bergegas dan dengan berat hati

  • Tak Setara   Kopi Dan Taktik

    "Aluna...." Revan mendekati meja perempuan yang tengah sibuk mengetik keyboardnya. "Kenapa lagi kak Revan." Matanya masih fokus pada layar komputer. "Udah jam makan siang nih. Kamu masih aja sibuk." "Iya bentar lagi. Nanggung nih." "Cari makan di luar yuk." Aluna berpikir beberapa saat, "yaudah yuk." Ia mengemasi beberapa barangnya. Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya di rumah makan Padang. Aluna mengajak Revan ke taman kota yang berada tidak jauh dari tempat mereka makan siang. "Kamu mau ngapain disini," tanya Revan sambil menyedot es cekek di tangannya. "Aku mau baca buku bentar, mumpung masih banyak waktu sebelum kembali ke kantor." Ia mengeluarkan buku bersampul hijau itu dari dalam tasnya. "Kamu suka baca ya." Ia memperhatikan Aluna membaca bukunya. "Cuma suka baca novel aja sih," jelasnya. "Novel genre apa?" "Romance," jawabnya singkat. "Sejak ka..." Kalimatnya terpotong, mulutnya tertutup oleh telapak tangan Aluna. "Kalau kak Revan nanya mulu, kapan aku bi

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status