Share

Flashback

Author: Lass
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-04 16:09:32

“Status tidak memberi Bapak hak untuk menyentuh saya,” potong Aluna

Arka tertawa kecil. “Kamu pikir saya akan mengambil risiko hanya untuk hal sepele?”

“Saya tidak peduli risikonya apa,” balas Aluna. “Saya tidak nyaman.”

Tatapan Arka berubah lebih dingin. “Kamu harus hati-hati dengan kata-katamu, Aluna,” ujarnya pelan. “Di dunia kerja, reputasi itu rapuh.” Ancaman itu tidak diucapkan terang-terangan. Namun maknanya jelas.

“Saya datang ke sini untuk bekerja. Bukan untuk diperlakukan seperti ini.”

"Baiklah," Arka menghela nafas. "Jika kamu masih butuh pekerjaan mu, biarkan saya merasakan bibir manis mu."

Aluna terbelalak. "Saya tidak mau!" Tegasnya.

"Kalau begitu, karirmu hanya sampai disini, Aluna." Arka mencoba mengancam pekerjaannya.

Seketika wajah Aluna menatap mata pria yang berada diatas tubuhnya itu. "Saya tidak peduli dengan pekerjaan saya."

Melihat Aluna yang menantangnya, membuat Arka kehabisan ide untuk membuat perempuan itu luluh pada egonya. Tanpa memikirkan kalimat lagi, Arka mencium paksa Aluna.

Aluna memberontak dengan menggigit bibir Arka, sehingga membuatnya melepaskan bibirnya dan merintih sakit. "Aluna. Jika kamu ingin pergi dari sini, turuti saya." Kini nadanya terdengar keras.

"Saya tidak suka ciuman." Tangisannya kembali terdengar.

Arka terkekeh, "tidak suka atau tidak bisa?"

"Tidak suka!"

"Tidak suka dan tidak bisa itu dua hal yang berbeda. Buktikan! Itupun jika kamu ingin pergi dari sini."

Aluna terdiam, menatap lama atasannya.

"Tapi jika kamu menikmatinya. Bahkan sampai besok pun saya tidak keberatan."

Hening. Aluna berusaha mencerna kalimat itu dan memikirkannya.

Arka kembali mendekatkan wajahnya, bibir mereka hampir menyentuh satu sama lain. Namun Arka memberikan jeda, berusaha menunggu reaksi Aluna, kembali berontak atau mengerti maksud kalimatnya.

Isaknya perlahan mereda. Bukan karena ia tenang, ia lelah melawan. Aluna mengangkat wajahnya, untuk pertama kalinya, ia membalas tatapan Arka tanpa berusaha memalingkan wajahnya. Tidak ada lagi perlawanan di sana, hanya sesuatu yang lebih menyakitkan: keheningan yang menyerah.

Dadanya berdegup begitu keras hingga napasnya sendiri terasa tak teratur. Ia yakin Arka bisa mendengarnya atau mungkin hanya ia yang merasa dunia terlalu sunyi hingga detak jantungnya menjadi suara paling nyaring di ruangan itu.

Mata itu akhirnya terpejam, bukan sebagai undangan, bukan pula sebagai persetujuan. Hanya karena ia tak sanggup lagi menatap situasi yang tak pernah ia pilih. Sesaat kemudian, hangat yang asing itu menyentuh bibirnya. Tidak ada kelembutan di sana, hanya dominasi yang datang tanpa diminta.

Waktu terasa berjalan lambat, seolah setiap detik ingin memperjelas bahwa ini bukan tentang rasa, melainkan tentang kuasa.

Aluna tidak membalas, ia juga tidak mendorong.

Tubuhnya diam, terlalu kaku untuk disebut menerima, terlalu lelah untuk kembali melawan. Air matanya jatuh perlahan, satu per satu, tanpa suara. Mengalir melewati pipi yang dingin, menjadi saksi bisu bahwa yang terjadi malam itu bukanlah romansa. Melainkan sesuatu yang merenggut lebih dari sekadar jarak.

Di balik kelopak matanya yang tertutup, hanya ada satu kesadaran yang menyakitkan: Ia tidak pernah benar-benar punya pilihan.

"Kamu benar, Aluna." Jempol Arka mengusap bibir Aluna, "bukan tidak bisa, hanya tidak suka."

Kakinya melangkah dengan tergesa, tubuhnya terhuyung, ia berusaha menahannya agar tidak terjatuh. Sesampainya di lobby parkir, tangannya melambai kearah taksi yang berada tak jauh darinya.

Di dalam mobil ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Tangannya mengepal disela duduknya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

Aluna masih tidak percaya dengan kejadian yang baru dia alami. "Apakah dunia kerja memang seperti ini?" Gumamnya.

Hal yang paling menyakitkan baginya adalah, melihat sisi yang berbeda dari atasannya. Orang yang terlihat mengagumkan, berwibawa dan gentleman—Ternyata menyimpan sisi gelap dari dalam dirinya.

Pria yang membuat semua orang berpikir bahwa ia adalah laki-laki sempurna, ternyata tidak lebih dari sekedar penjahat. Menyadarinya seorang diri, adalah hal yang paling menyakitkan bagi Aluna.

"Kita sudah sampai mbak." Suara supir taksi mengagetkan lamunannya.

Aluna segera merapikan dirinya sebelum mengetuk pintu rumahnya. Berusaha terlihat baik-baik saja agar suaminya tidak khawatir. "Aku pulang," suaranya terdengar bergetar namun ia berusaha menahannya.

Tidak ada jawaban. Aluna meletakkan barang-barangnya diatas meja, mencari sosok Gavin di kamarnya. Namun ia tak menemukannya, ia berjalan menuju dapur. Disanalah ia melihat Gavin tengah terduduk di kursi makan, kepalanya merebah diatas meja makan—ia tertidur.

Diatas meja ada nasi yang belum tersentuh, ada lauk pauk yang sudah dingin. Sepertinya suaminya sudah menunggunya untuk makan malam bersama. Melihat pemandangan itu, Aluna menutup mulutnya, air matanya jatuh tidak terasa. Pikirannya kembali pada kejadian di hotel, lalu merasa kasihan pada Gavin karena Aluna merasa telah mengkhianatinya.

"Sayang, kamu sudah pulang." Gavin terbangun dari tidurnya.

Aluna segera mengusap air matanya, "kenapa kamu tidur disini?"

"Aku menunggu mu, kan tadi kamu bilang akan makan malam bersama dirumah." Gavin mulai memperhatikan istrinya, ia melihat Aluna sedang tidak baik-baik saja.

"Kamu bisa makan duluan." Ia menarik kursi kemudian duduk.

"Aluna, kamu kenapa? Mata mu sembab, habis nangis?" Gavin mulai curiga.

Aluna berpikir sesaat, "iya," katanya.

Gavin menggeser kursinya mendekati Aluna, "kamu nangis kenapa?" Tangannya mengelus pundak Aluna.

Aluna menunduk, "tadi habis dimarahin atasan."

Berusaha terdengar meyakinkan.

"Yaampun... Cuma begitu doang. Kirain kenapa." Gavin terlihat lega. "Itu kan hal biasa dalam bekerja." Gavin mengangkat tangannya, mengelus rambut istrinya dengan lembut. "Memangnya kamu berbuat kesalahan apa?"

"Mungkin aku kurang baik saat presentasi."

"Sudah, jangan dipikirin. Sekarang kamu makan ya. Pasti lapar."

Mereka makan bersama, Aluna menyantap masakan Gavin dengan lahap. Seolah tidak pernah terjadi apapun padanya. Baginya terlihat baik-baik didepan suaminya adalah suatu pencapaian, karena hal yang tidak ia sukai adalah ketika Gavin merasa cemas padanya.

Aluna sudah berjanji padanya, ia bisa menjaga diri selama bekerja, ia berjanji akan lebih baik dan tidak akan mengecewakan suaminya. Bagi Aluna, meminta izin untuk bekerja bukan sesuatu yang mudah, ia sudah susah payah mendapatkan izin suaminya.

Jika ada hal yang membuat suaminya kecewa, Aluna hanya tidak ingin disalahkan karena keputusannya. Ia hanya tidak ingin memulai pertengkaran dengan Gavin. Karena ketika emosi Gavin tidak stabil, Aluna akan menjadi sasaran dari amarahnya yang tidak terkontrol.

Saat melihat suaminya makan dengan lahap, ingatannya kembali pada momen saat pertama kali ia bersusah payah mendapatkan pekerjaan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Tak Setara   Aku Di Sini

    Arka sedang berdiri di ambang pintu berwarna putih itu. Wajahnya terlihat ragu, tangannya beberapa kali terangkat namun kembali turun.Beberapa hari belakangan, Aluna terlihat tidak baik. Wajahnya selalu tampak pucat, semangat yang dulu selalu terpancar di dalam dirinya seolah lenyap begitu saja. Badannya tampak lebih kurus.Arka mengkhawatirkan perempuan itu. Malam ini ia berniat untuk mengunjunginya, hanya mengetahui keadaannya dari orang lain tidak cukup membuat khawatirnya mereda.Kali ini ia ingin memastikannya sendiri. Ia menarik nafas sebelum akhirnya pintu itu ia ketuk. Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka dari dalam.Sosok perempuan menyapa, wajah itu—Seketika membuat Arka bergegas mendorong pintu lebih lebar, pria itu masuk sebelum dipersilahkan masuk lebih dulu."Aluna.. kamu tidak apa-apa?" Tangannya memegang wajah Aluna, paperbag yang ia bawa terjatuh begitu saja ke lantai.Aluna menatapnya dengan heran. "Saya baik.""Kamu terlihat pucat," ucap Arka ragu.Aluna menu

  • Tak Setara   Satu Nyawa dua Kemungkinan

    Pikirannya bergerak liar. Menghitung… mengingat… mencoba menyusun potongan waktu yang terasa kabur. Wajahnya perlahan pucat.untuk pertama kalinya… ia menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan dari kehamilan itu sendiri. Ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang sedang ia kandung.***Tok.. tok. Pintu ruangan itu diketuk dari luar."Masuk." Sahut Arka dari dalam.Damar berjalan menuju meja kerja Arka."Bagaimana?" tanya Arka .Damar duduk di sofa berhadapan dengan Arka."Dia terlihat lebih baik, tapi..." Kalimatnya tertahan.Membuat Arka semakin penasaran."Tapi anehnya, kenapa dia ada diruang USG?"Lanjut Damar."Apa sakitnya parah?" tanya Arka, kedua tangannya menutupi sebagian wajahnya, terlihat frustasi."Saya belum sempat bertanya, dia sudah masuk lebih dulu," jelas pria itu."Oke.. terima kasih atas bantuannya," kata Arka kemudian. "Maaf karena sudah merepotkan Anda dihari libur." Pria itu tersenyum pada sekretarisnya.Arka terlalu mengkhawatirkan Aluna sejak kejadian di kanto

  • Tak Setara   Ketidakmungkinan Yang Samar

    Cuaca di kantor siang itu cukup membuat wajah Aluna memerah. Pendingin ruangan yang terletak di beberapa sudut seolah tidak berfungsi dengan baik.Aluna memijat-mijat pelipisnya, sesekali mengelus dadanya karena sedikit mual. Layar komputer dihadapannya membuatnya semakin pusing, wajahnya terlihat pucat. Akhir-akhir ini ia merasa tidak enak badan, beberapa tumpukan pekerjaan membuatnya lebih sering begadang hingga larut.Aluna mengangkat gelas kopi di mejanya, ternyata kosong. Ia ingin membuat kopi untuk meredakan pusing di kepalanya. Namun saat ia berdiri dari duduknya justru penglihatannya berkunang-kunang. Ia mencoba mengabaikan, dan melangkah ke area open space untuk membuat kopi. Tiba-tiba langkahnya goyah, ia terhuyung dan jatuh begitu saja di lantai yang dingin itu.Semua orang berkerumun. Revan yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri kerumunan itu. Aluna—Ia melihat perempuan itu tergelatak. Revan langsung membopongnya ke sofa yang berada di ruang santai. Membaringka

  • Tak Setara   Aku Mencintaimu

    "Oh iya," Aluna menoleh pada pria disampingnya, "saya lupa ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Bapak, sekali lagi.. selamat atas pertunangannya."Arka menghentikan sendok es yang hampir akan masuk ke mulutnya. "Lebih baik.. kamu tarik kembali ucapan itu." Katanya lirih.Seketika Aluna memonyongkan bibirnya, menarik nafas yang begitu dalam.Arka bingung melihatnya. "Kamu sedang apa?""Menarik ucapan saya."Mereka tertawa bersamaan. Malam itu terasa hangat bagi Arka. Hangat dengan cara yang asing—sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini, ia terbiasa dengan restoran mewah, hidangan mahal yang disajikan dengan sempurna.Seblak—bahkan namanya pun terdengar asing di telinganya. Rasa pertama yang menyentuh lidahnya terasa aneh. Pedas, sedikit pahit, dan jauh dari apa yang biasa ia nikmati.Ia tidak terbiasa. Namun, melihat Aluna makan dengan begitu lahap, entah kenapa membuatnya ikut tersenyum… dan ingin mencoba lagi.Arka sebenarnya bisa saja membawa perempuan itu ke

  • Tak Setara   Senjata

    Dua Minggu telah berlalu sejak terakhir kali Aluna menangis di kamar hotel. Hari ini kakinya berhenti didepan pintu yang dulu pernah menjadi bagian dari ia tumbuh bersama seseorang yang ia cintai.Aluna mengetuk pintu itu. Tak lama pintu pun terbuka, sosok pria berdiri dibaliknya.Gavin—Matanya terbelalak, perasaan haru tergambar jelas di wajahnya. Sudah hampir sebulan ia tidak melihat wajah istrinya."Aluna." Gavin langsung memeluk erat tubuh Aluna.Perempuan itu tidak melepaskannya, ia hanya diam dengan tatapan kosongnya."Aku ingin masuk." Kata Aluna singkat.Gavin menuntunnya masuk kerumah. Aluna menyapu seluruh ruangan itu, matanya berkaca-kaca. Rumah yang dulu menjadi tempat ia menghabiskan waktu bersama Gavin, tawa, canda itu masih melekat disetiap sudut ruangan.Foto-foto pernikahan yang berjejer ditembok, membuatnya semakin sesak. Ia menatap Gavin dengan begitu dalam, sampai..."Aku datang untuk memberikan ini." Tangannya menyodorkan secarik kertas.Gavin membuka kertas itu,

  • Tak Setara   Keputusan Yang Keliru

    Matanya berat, nyaris tak ingin terbuka. Tubuhnya terasa remuk, menahan dirinya untuk tetap diam di tempat. Namun pikirannya tak memberi ampun. Ia terus menariknya kembali—pada satu kenyataan yang, bahkan untuk diingat pun terasa menyakitkan.Tangannya mencengkeram sesuatu tanpa sadar. Matanya terbuka perlahan, napasnya sempat tertahan oleh rasa kaget yang tiba-tiba datang. Ia menunduk, menatap apa yang menjadi alas kepalanya—sepasang kaki, yang terasa hangat. Pandangannya bergerak pelan, mencoba memahami keadaan.Mobil.Seketika ia tersentak. Tubuhnya dipaksa bangun, meski nyeri langsung menjalar. Dan di hadapannya—Arka tertidur, masih dalam posisi duduk. Dadanya naik turun perlahan, wajahnya terlihat lelah.Aluna terdiam, baru sekarang ia menyadari… ia menghabiskan waktu entah berapa lama, tertidur di pangkuan pria itu. Aluna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa malu menjalar di wajahnya. Ia menyenderkan punggungnya di jok mobil, menatap wajah pria yang sedang tert

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status