LOGIN
Pintu kamar terbuka dengan bunyi klik pelan. Ruangan itu luas, dengan meja kerja di dekat jendela dan lampu kuning yang hangat. Tirai setengah tertutup, memperlihatkan gemerlap kota di luar.
“Duduk di sana,” kata Arka, menunjuk kursi di meja kerja. Aluna menurut, ia segera membuka laptop, mencoba fokus pada file presentasi yang tadi dipuji klien dan diminta direvisi. Arka berdiri di belakangnya, memeriksa layar dari atas bahunya. “Terlalu cepat di bagian awareness,” ucapnya pelan. “Geser dua minggu.” Jaraknya terlalu dekat. Aluna bisa merasakan hangat napasnya samar di sisi kepala. Ia menggeser kursi sedikit ke depan, pura-pura untuk meraih mouse. “Seperti ini, Pak?” Arka tidak langsung menjawab. Ia justru memindahkan tangannya ke meja, bertumpu di sisi kursi Aluna, membuat ruang geraknya semakin sempit. “Kamu tegang?” tanyanya tiba-tiba. “Saya hanya ingin cepat selesai, Pak." “Bagus.” Nada suaranya rendah. “Saya suka orang yang serius dengan pekerjaannya.” Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi entah kenapa, Aluna tidak merasa bangga. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang aneh. Hanya suara ketikan dan dengungan AC. Setelah revisi hampir selesai, Arka akhirnya menjauh. Ia berjalan ke arah minibar, mengambil dua botol air mineral. “Kamu tahu kenapa saya ajak kamu malam ini?” tanyanya tanpa menoleh. Aluna berhenti mengetik. “Karena saya yang menyusun proposalnya.” “Bukan hanya itu.” Suasana terasa Hening. Arka berbalik, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. “Kamu berbeda dari yang lain.” Kalimat itu menggantung di udara. "Kamu tetap kerjakan. Saya ingin mandi sebentar." Arka melangkah ke kamar mandi. Aluna merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Entah karena kalimat yang diucapkan bosnya tadi atau sesuatu yang tidak ia ketahui. Namun demi sebuah tuntutan pekerjaan, ia tetap harus terlihat profesional dan membuang pikiran negatif di kepalanya. Sampai kemudian suara Arka terdengar dari balik pintu kamar mandi. "Aluna," teriaknya dari dalam. Aluna yang mendengar namanya dipanggil sontak menjawab, "iya, Pak?" "Saya mau minta tolong." Aluna berlari kecil menuju pintu kamar mandi untuk mendengar lebih jelas, "minta tolong apa, Pak?" "Tolong ambilkan saya handuk diatas sofa. Saya lupa." Deg... Seketika dadanya berdegup tak biasa, ada rasa malu dan aneh didalam benaknya. Bagaimana bisa seorang CEO lupa membawa handuk saat mandi, gumamnya. Ia melirik handuk yang tergeletak diatas sofa samping ranjang. Kemudian mengambilnya, "Pak, ini handuknya." Suaranya sedikit memekik. Pintu kamar mandi terbuka dari dalam, Aluna langsung menyodorkan handuknya dengan berhati-hati agar dirinya tidak terlihat. Alih-alih menunggu handuk itu diraih dari dalam, tiba-tiba tangannya ditarik masuk kedalam kamar mandi. Aluna menjerit sesaat, matanya tertutup oleh kedua tangannya, jantungnya berdegup sangat kencang. Karena saat ini, Aluna sudah berada di kamar mandi, tubuhnya bersandar ditembok, dan Arka sedang berada dihadapannya. "Apa yang Bapak lakukan," tanyanya panik. Kedua tangannya masih menutupi wajahnya. "Kenapa kamu menutupi wajah mu?" tanya Arka datar, seolah apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang biasa. Aluna mengintip sedikit dari celah jarinya, ingin memastikan bahwa atasannya masih memakai pakaian. Ia melihatnya memakai celana boxer, kemudian menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. "Bapak mau apa?" Suaranya bergetar, ada rasa takut dari dalam dirinya. "Cuma mau lihat kamu." Sorot matanya tajam. Aluna melangkah ingin menuju pintu, namun Arka menahan pundaknya, membuat Aluna tidak bisa bergerak. "Tolong jangan lakukan ini, Pak." suaranya memohon. "Lakukan apa?" Bertanya seolah ia tidak melakukan apa-apa. Aluna terdiam, matanya sedang menahan sesuatu. Pandangannya hanya tertunduk ke bawah. Tiba-tiba tangan Arka menyentuh dagu Aluna, membuatnya mendongak ke atas dan kini mereka saling bertatap mata. Arka menatap dalam perempuan yang hampir menangis itu, ia bisa merasakan tubuhnya gemetar. Tapi kemudian Arka melepaskan tangannya dari bahu Aluna, melihat kesempatan itu, sontak Aluna langsung berlari keluar dari kamar mandi. Arka memakai handuk yang terjatuh di lantai, menutupi tubuhnya kemudian mengikuti Aluna. Aluna sudah berdiri didepan pintu, ia berusaha untuk keluar dari kamar itu. Namun ternyata pintunya tidak bisa dibuka. "Kamu mau kemana? Pekerjaan kamu belum selesai." Aluna yang merasa ketakutan hanya diam dan tidak mampu menjawab. Arka melangkah perlahan mendekati Aluna yang diam mematung disamping pintu. Tangannya terangkat menyentuh pipi Aluna, melihat reaksi atasannya itu, air mata yang sedari tadi ia bendung akhirnya jatuh. Melihat reaksi Aluna membuat Arka terkekeh pelan, "kamu kalau sedang begini ternyata lucu juga ya." Mendengar kalimat itu Aluna menatap kesal bosnya, ia merasa dipermainkan dan diperlakukan tidak baik. Bahkan ia tidak pernah menyangka jika bosnya bisa berbuat seperti ini. Melihat tatapan sinis dari Aluna, tanpa banyak bicara ia meraih pinggangnya lalu mengangkat tubuh itu dengan satu tarikan kuat. Dalam hitungan detik, tubuhnya sudah bertumpu di atas pundaknya, menggantung dengan kepala di belakang dan kaki di depan. Kemudian Arka menjatuhkan tubuh itu diatas ranjang. Aluna berteriak dan memberontak. Ia hendak lari dari atas ranjang sebelum akhirnya tubuh Arka menahan tubuhnya. Arka membungkuk diatas tubuhnya Aluna, tangannya menahan kedua tangan Aluna, membuat perempuan itu tidak bisa bergerak. Aluna menangis karena tidak bisa berbuat apa-apa, pikirannya penuh oleh hal-hal yang menakutkan. "Aluna. Lihat saya." Ia masih menangis dan memalingkan wajahnya. "Jika kamu ingin malam ini segera selesai, tatap saya." Aluna mendengar sebuah harapan kecil, yang membuatnya terpaksa menatap wajah Arka. Tatapan mereka saling beradu, yang satu dengan linangan air mata dan satunya dengan sebuah tatapan iba tetapi dikuasai oleh egonya. Arka mendekatkan wajahnya perlahan, tatapannya tertuju pada bibir dengan liptint pink milik Aluna. Melihat reaksi itu, Aluna berteriak dan memalingkan wajahnya kembali. "Pak, tolong jangan lakukan itu," isaknya. "Memangnya kenapa? Bukankah atasan melakukan dengan bawahannya... itu hal biasa?" "Tapi kenapa harus saya?" suaranya terdengar serak. "Karena kamu adalah bawahan ku." "Bawahan bukan berarti seseorang yang bisa seenaknya direndahkan."Kini suaranya terdengar lebih lantang. Mendengar itu, Arka tertawa kecil. “Memangnya apa yang kamu pertahankan?” Arka menatapnya lekat. “Harga diri?” Aluna menarik napas, berusaha menahan gemetar di suaranya. “Saya hanya ingin Bapak berhenti.” “Hanya menyentuh sedikit saja kamu sudah bereaksi seperti ini?” Arka tersenyum miring. “Kamu terlalu sensitif.” “Itu bukan sentuhan yang pantas, Pak.” Kini suaranya lebih tegas. “Dan ini bukan tempatnya.” “Kamu ada di sini karena pekerjaan. Dan saya atasanmu.”Arka sedang berdiri di ambang pintu berwarna putih itu. Wajahnya terlihat ragu, tangannya beberapa kali terangkat namun kembali turun.Beberapa hari belakangan, Aluna terlihat tidak baik. Wajahnya selalu tampak pucat, semangat yang dulu selalu terpancar di dalam dirinya seolah lenyap begitu saja. Badannya tampak lebih kurus.Arka mengkhawatirkan perempuan itu. Malam ini ia berniat untuk mengunjunginya, hanya mengetahui keadaannya dari orang lain tidak cukup membuat khawatirnya mereda.Kali ini ia ingin memastikannya sendiri. Ia menarik nafas sebelum akhirnya pintu itu ia ketuk. Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka dari dalam.Sosok perempuan menyapa, wajah itu—Seketika membuat Arka bergegas mendorong pintu lebih lebar, pria itu masuk sebelum dipersilahkan masuk lebih dulu."Aluna.. kamu tidak apa-apa?" Tangannya memegang wajah Aluna, paperbag yang ia bawa terjatuh begitu saja ke lantai.Aluna menatapnya dengan heran. "Saya baik.""Kamu terlihat pucat," ucap Arka ragu.Aluna menu
Pikirannya bergerak liar. Menghitung… mengingat… mencoba menyusun potongan waktu yang terasa kabur. Wajahnya perlahan pucat.untuk pertama kalinya… ia menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan dari kehamilan itu sendiri. Ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang sedang ia kandung.***Tok.. tok. Pintu ruangan itu diketuk dari luar."Masuk." Sahut Arka dari dalam.Damar berjalan menuju meja kerja Arka."Bagaimana?" tanya Arka .Damar duduk di sofa berhadapan dengan Arka."Dia terlihat lebih baik, tapi..." Kalimatnya tertahan.Membuat Arka semakin penasaran."Tapi anehnya, kenapa dia ada diruang USG?"Lanjut Damar."Apa sakitnya parah?" tanya Arka, kedua tangannya menutupi sebagian wajahnya, terlihat frustasi."Saya belum sempat bertanya, dia sudah masuk lebih dulu," jelas pria itu."Oke.. terima kasih atas bantuannya," kata Arka kemudian. "Maaf karena sudah merepotkan Anda dihari libur." Pria itu tersenyum pada sekretarisnya.Arka terlalu mengkhawatirkan Aluna sejak kejadian di kanto
Cuaca di kantor siang itu cukup membuat wajah Aluna memerah. Pendingin ruangan yang terletak di beberapa sudut seolah tidak berfungsi dengan baik.Aluna memijat-mijat pelipisnya, sesekali mengelus dadanya karena sedikit mual. Layar komputer dihadapannya membuatnya semakin pusing, wajahnya terlihat pucat. Akhir-akhir ini ia merasa tidak enak badan, beberapa tumpukan pekerjaan membuatnya lebih sering begadang hingga larut.Aluna mengangkat gelas kopi di mejanya, ternyata kosong. Ia ingin membuat kopi untuk meredakan pusing di kepalanya. Namun saat ia berdiri dari duduknya justru penglihatannya berkunang-kunang. Ia mencoba mengabaikan, dan melangkah ke area open space untuk membuat kopi. Tiba-tiba langkahnya goyah, ia terhuyung dan jatuh begitu saja di lantai yang dingin itu.Semua orang berkerumun. Revan yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri kerumunan itu. Aluna—Ia melihat perempuan itu tergelatak. Revan langsung membopongnya ke sofa yang berada di ruang santai. Membaringka
"Oh iya," Aluna menoleh pada pria disampingnya, "saya lupa ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Bapak, sekali lagi.. selamat atas pertunangannya."Arka menghentikan sendok es yang hampir akan masuk ke mulutnya. "Lebih baik.. kamu tarik kembali ucapan itu." Katanya lirih.Seketika Aluna memonyongkan bibirnya, menarik nafas yang begitu dalam.Arka bingung melihatnya. "Kamu sedang apa?""Menarik ucapan saya."Mereka tertawa bersamaan. Malam itu terasa hangat bagi Arka. Hangat dengan cara yang asing—sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini, ia terbiasa dengan restoran mewah, hidangan mahal yang disajikan dengan sempurna.Seblak—bahkan namanya pun terdengar asing di telinganya. Rasa pertama yang menyentuh lidahnya terasa aneh. Pedas, sedikit pahit, dan jauh dari apa yang biasa ia nikmati.Ia tidak terbiasa. Namun, melihat Aluna makan dengan begitu lahap, entah kenapa membuatnya ikut tersenyum… dan ingin mencoba lagi.Arka sebenarnya bisa saja membawa perempuan itu ke
Dua Minggu telah berlalu sejak terakhir kali Aluna menangis di kamar hotel. Hari ini kakinya berhenti didepan pintu yang dulu pernah menjadi bagian dari ia tumbuh bersama seseorang yang ia cintai.Aluna mengetuk pintu itu. Tak lama pintu pun terbuka, sosok pria berdiri dibaliknya.Gavin—Matanya terbelalak, perasaan haru tergambar jelas di wajahnya. Sudah hampir sebulan ia tidak melihat wajah istrinya."Aluna." Gavin langsung memeluk erat tubuh Aluna.Perempuan itu tidak melepaskannya, ia hanya diam dengan tatapan kosongnya."Aku ingin masuk." Kata Aluna singkat.Gavin menuntunnya masuk kerumah. Aluna menyapu seluruh ruangan itu, matanya berkaca-kaca. Rumah yang dulu menjadi tempat ia menghabiskan waktu bersama Gavin, tawa, canda itu masih melekat disetiap sudut ruangan.Foto-foto pernikahan yang berjejer ditembok, membuatnya semakin sesak. Ia menatap Gavin dengan begitu dalam, sampai..."Aku datang untuk memberikan ini." Tangannya menyodorkan secarik kertas.Gavin membuka kertas itu,
Matanya berat, nyaris tak ingin terbuka. Tubuhnya terasa remuk, menahan dirinya untuk tetap diam di tempat. Namun pikirannya tak memberi ampun. Ia terus menariknya kembali—pada satu kenyataan yang, bahkan untuk diingat pun terasa menyakitkan.Tangannya mencengkeram sesuatu tanpa sadar. Matanya terbuka perlahan, napasnya sempat tertahan oleh rasa kaget yang tiba-tiba datang. Ia menunduk, menatap apa yang menjadi alas kepalanya—sepasang kaki, yang terasa hangat. Pandangannya bergerak pelan, mencoba memahami keadaan.Mobil.Seketika ia tersentak. Tubuhnya dipaksa bangun, meski nyeri langsung menjalar. Dan di hadapannya—Arka tertidur, masih dalam posisi duduk. Dadanya naik turun perlahan, wajahnya terlihat lelah.Aluna terdiam, baru sekarang ia menyadari… ia menghabiskan waktu entah berapa lama, tertidur di pangkuan pria itu. Aluna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa malu menjalar di wajahnya. Ia menyenderkan punggungnya di jok mobil, menatap wajah pria yang sedang tert







