مشاركة

Tak Setara
Tak Setara
مؤلف: Lass

Dunia Baru

مؤلف: Lass
last update تاريخ النشر: 2026-08-04 15:35:46

Senin pagi selalu sama—jalanan padat, udara penuh asap, klakson bersahut-sahutan tanpa ampun. Orang-orang berjalan cepat dengan wajah tegang, seolah sedang mengejar sesuatu. Harapan di ujung jalan… atau sekadar rupiah yang membuat hidup tetap bertahan.

Di antara kerumunan itu, Aluna berjalan dengan map cokelat di tangannya. Sudah setengah lusuh, sudutnya tertekuk, warnanya memudar. Entah sudah berapa banyak gedung yang ia datangi bersama map itu.

Kemeja putih dan celana hitamnya rapi, meski keringat mulai membasahi pelipisnya. Tali sepatu yang sedikit menjuntai membuatnya beberapa kali hampir tersandung.

Aluna melirik jam ditangannya, "ternyata sudah hampir siang." Ia menghela nafas panjang.

Sudah waktunya untuk kembali pulang dengan hasil yang mengecewakan.

"Hari ini pun masih sama. Membawa kembali map lusuh ini," gumamnya kesal.

Ia menendang kaleng soda yang menghalangi langkahnya.

Bug.

Kaleng soda itu tidak sengaja mengenai salah seorang pria paruh baya.

Aluna yang begitu sadar langsung menghampiri dan meminta maaf, "aduh Pak, maafin saya. Saya tidak sengaja." Tubuhnya setengah membungkuk.

"Lain kali lihat-lihat dulu. Untung kena lengan, gimana kalau kepala saya yang kena." Pria itu mengusap-usap lengannya yang terasa nyeri.

"Iya Pak, maaf." Merasa bersalah dan malu.

"Lagi cari kerja?" tanyanya.

"Iya." jawabnya singkat.

"Udah dapat?"

"Alhamdulillah, dapet capeknya." tersenyum malu.

Pria itu tertawa kecil, "sebenarnya di perusahaan saya sedang ada lowongan. Coba saja, siapa tahu rejeki."

Sebuah kartu nama berpindah tangan.

Aluna membolak-baliknya, membaca cepat.

"Terima kasih, Pak. Besok saya coba datang."

"Semoga berhasil ya." Pria itu berlalu meninggalkan perempuan itu.

***

Aluna menghela nafas panjang sebelum membuka pintu rumahnya.

"Aku pulang."

"Sayang, kamu udah pulang? Gimana hari ini?"

"Masih samaaa." Mereka menjawab bersamaan lalu saling tertawa.

Gavin seolah sudah hafal dengan nasib istrinya yang selalu gagal dalam mencari pekerjaan. "Udah-udah. Nggak usah dipikirin. Mungkin ini bukan hari keberuntungan kamu." Gavin mengacak rambut Aluna.

Aluna cemberut sebentar, lalu masuk ke dapur. Wajan, sayur, suara minyak mendesis. Rutinitas seorang ibu rumah tangga terasa makin berat ketika angka-angka pengeluaran menari di kepalanya. Sewa rumah, cicilan motor, tagihan listrik. Dan rencana menunda momongan, meski usia pernikahan mereka sudah empat tahun.

***

Empat tahun sejak senja itu.

“Aluna.” Gavin berlutut di bawah langit jingga. Kotak merah kecil terbuka di tangannya. “Kamu mau menikah denganku?”

Aluna menutup mulutnya, mata berkaca-kaca. “Iya. Aku mau.”

Senja menjadi saksi indah penuh janji. Mereka berdua berpelukan diantara hangatnya senja. Gavin sudah mempersiapkan momen indah itu. Melamar wanita impiannya dibawah langit senja.

***

"Kali ini aku harus berhasil membawa kabar gembira untuk Gavin."

Kakinya mulai melangkah masuk ke sebuah gedung yang tampak berkilauan dari luar. Nafasnya tidak beraturan, matanya mencari dimana ruangan yang akan ia tuju.

"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Seorang satpam mendatangi Aluna yang tengah celingak-celinguk.

"Maaf, Pak. Saya mau melamar pekerjaan disini. Karena saya dapat informasi bahwa perusahaan ini sedang membutuhkan karyawan."

Nadanya terdengar sangat sopan. "Oh, mau melamar, ya. Ikuti saya."

Aluna berjalan mengikuti langkah satpam dari belakang. Mereka memasuki sebuah kantor, disana Aluna diarahkan, berbincang dengan HRD, membaca berkas, menandatangani, lalu berakhir dengan sebuah jabatan tangan.

"Selamat bergabung."

Prosesnya singkat. Terlalu singkat untuk sebuah interview. Tetapi akhirnya Aluna bisa bernafas lega karena diterima bekerja. Ia pulang dengan wajah sumringah, mengetuk pintu, memeluk suaminya, mengabarkan tentang hari ini. Mereka merayakan dengan sebotol bir.

***

Hari pertama kerja.

Lemari pakaian berantakan seperti habis diguncang gempa. Kemeja putih? Terlalu biasa. Blus biru? Terlalu mencolok. Pilihan akhirnya jatuh pada kemeja hitam dan rok span putih. Pantofel hitam melengkapi. Rambut panjangnya tergerai rapi.

Aluna siap untuk berangkat setalah memesan taksi online. Gavin sudah lebih dulu pergi bekerja pagi-pagi sekali. Pelukan hangat dari suaminya menjadikan semangat yang berkobar di dalam diri Aluna, walaupun sebenarnya keraguan dan ketidakpercayaan dirinya lebih besar.

Kantor Aethera modern dan elegan. Training hari pertama berjalan lancar. Beberapa karyawan baru duduk berderet mendengarkan penjelasan visi dan misi perusahaan.

"Loh itu kan Bapak yang enggak sengaja aku lempar kemarin." gumam Aluna.

Hari-hari berikutnya berjalan lebih baik dari yang ia bayangkan. Profilnya bahkan muncul di intranet perusahaan.

Profil Karyawan – Aethera Creative Lab

Nama: Aluna Pramesti

Posisi: Content Writer – Marketing Division

Bergabung sejak: 2024

Aluna Pramesti bergabung dengan Aethera Creative Lab sebagai Content Writer di divisi Marketing. Dengan ketertarikan mendalam pada dunia sastra dan perangkai kata, Aluna dikenal mampu mengubah konsep strategis menjadi narasi yang hangat, relevan, dan memiliki daya emosional yang kuat.

Baginya, setiap brand memiliki cerita, dan setiap cerita berhak disampaikan dengan cara yang manusiawi. Ketelitian, kepekaan rasa, serta kemampuannya memahami sudut pandang audiens menjadi kekuatan utama dalam setiap campaign yang ia tangani.

Di lingkungan kerja, Aluna dikenal ramah dan profesional. Ia mampu bekerja dalam tekanan, terbuka terhadap revisi, serta konsisten menjaga kualitas tulisannya. Ketekunannya dalam menyempurnakan detail menjadikannya salah satu penulis yang diandalkan dalam proyek-proyek strategis perusahaan.

Bagi Aluna, menulis bukan sekadar pekerjaan—melainkan cara untuk memberi makna pada hal-hal yang sering luput diperhatikan.

Aluna dipandang sebagai karyawan yang teladan, gigih serta memiliki sopan santun yang baik.

Tidak membutuhkan waktu lama untuknya berbaur dengan rekan kerjanya.

Helena—Junior Writer.

Posisinya yang berada dibawah Aluna, membuat Helena mengidolakan seniornya itu. Ia ingin menjadi karyawan profesional seperti Aluna. Ia merasa Aluna adalah pembimbing yang baik, sabar dan ramah.

"Draf pertama itu mentah. Jangan ragu mengubah, menyusun ulang, membuang kata. Kadang, menulis bagus itu bukan soal menambah, tapi mengurangi," ucap Aluna saat membimbingnya.

Helena mengangguk kagum.

Kedekatan mereka semakin intens, melakukan semuanya bersama, makan siang, istirahat, saling sharing hal apapun. Bahkan kedekatan itu tidak hanya didalam kantor. Di luar kantor mereka bukan hanya rekan kerja tetapi sahabat yang saling peduli satu sama lain.

Suatu hari di jam makan siang.

"Aluna." Sahut seorang pria yang melambaikan tangannya pada Aluna, "makan siang bareng, yuk."

"Kak Revan, kemana-mana ngintilin aku mulu." Alena meneruskan langkahnya.

"Habisnya wajah mu itu, wajah-wajah orang kesepian. Makanya aku ikutin kemana-mana."

"Dih, sembarangan," merasa kesal.

Aluna tertawa kecil.

Revan menyipitkan mata. “Tapi serius deh, kamu tuh santai banget ya tiap direvisi. Kalau aku jadi kamu, aku sudah bikin puisi patah hati.”

“Aku memang suka nulis puisi, Kak.”

“Judulnya apa? ‘CEO dan 1000 Coretan Merah’?”

Aluna akhirnya tertawa lepas.

Tiba-tiba suasana hening ketika bayangan seseorang berdiri di belakang mereka. “Kalau sudah selesai diskusinya, Aluna bisa ke ruangan saya.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Tak Setara   Menjinakkan Kucing Liar

    Aluna terdiam sesaat mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya. "Saya ingin mengundurkan diri." Tangannya menyodorkan amplop coklat. Sontak Damar terkejut, "saya tidak salah dengar, Aluna?" tanyanya tak percaya. "Saya sudah memikirkan ini baik-baik. Dan keputusan saya sudah bulat, untuk resign dari pekerjaan saya." Suaranya lembut seolah ada rasa takut didalam dirinya. Damar menatapnya dengan heran, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Memangnya ada masalah apa sampai kamu ingin resign, Aluna?" Aluna tertunduk, "saya ada masalah keluarga yang mengharuskan saya untuk tinggal dirumah." Sebuah kalimat yang menjadi pilihan terakhir dari banyaknya daftar alasan yang sudah ia susun di kepalanya. Damar menghela nafas, "padahal dulu waktu kita tidak sengaja bertemu, saya melihat ada kegigihan dalam dirimu. Namun sekarang kamu harus meninggalkan pekerjaan mu setelah susah payah mendapatkannya," Lanjutnya. Mendengar itu, air mata Aluna mengalir begitu saja tanpa ia min

  • Tak Setara   Antara Harga Diri Dan Impian

    Kakinya melangkah dengan tergesa, tubuhnya terhuyung, ia berusaha menahannya agar tidak terjatuh. Sesampainya di lobby parkir, tangannya melambai kearah taksi yang berada tak jauh darinya. Di dalam mobil ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Tangannya mengepal disela duduknya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Aluna masih tidak percaya dengan kejadian yang baru dia alami. "Apakah dunia kerja memang seperti ini?" Gumamnya. Hal yang paling menyakitkan baginya adalah, melihat sisi yang berbeda dari atasannya. Orang yang terlihat mengagumkan, berwibawa dan gentleman—Ternyata menyimpan sisi gelap dari dalam dirinya. Pria yang membuat semua orang berpikir bahwa ia adalah laki-laki sempurna, ternyata tidak lebih dari sekedar penjahat. Menyadarinya seorang diri, adalah hal yang paling menyakitkan bagi Aluna. "Kita sudah sampai mbak." Suara supir taksi mengagetkan lamunannya. Aluna segera merapikan dirinya sebelum menget

  • Tak Setara   Manipulatif

    Apa yang Bapak lakukan," tanyanya panik. Kedua tangannya masih menutupi wajahnya. "Kenapa kamu menutupi wajah mu?" tanya Arka datar, seolah apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang biasa. Aluna mengintip sedikit dari celah jarinya, ingin memastikan bahwa atasannya masih memakai pakaian. Ia melihatnya memakai celana boxer, kemudian menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. "Bapak mau apa?" Suaranya bergetar, ada rasa takut dari dalam dirinya. "Cuma mau lihat kamu." Sorot matanya tajam. Aluna melangkah ingin menuju pintu, namun Arka menahan pundaknya, membuat Aluna tidak bisa bergerak. "Tolong jangan lakukan ini, Pak." suaranya memohon. "Lakukan apa?" Bertanya seolah ia tidak melakukan apa-apa. Aluna terdiam, matanya sedang menahan sesuatu. Pandangannya hanya tertunduk ke bawah. Tiba-tiba tangan Arka menyentuh dagu Aluna, membuatnya mendongak ke atas dan kini mereka saling bertatap mata. Arka menatap dalam perempuan yang hampir menangis itu, ia bisa merasakan tubuhnya gemetar.

  • Tak Setara   Sisi Gelap Yang Mulai Terlihat

    Lobi Hotel Madson malam itu dipenuhi cahaya hangat dan aroma parfum mahal yang samar. Langkah Aluna terasa sedikit kaku di atas lantai marmer yang mengilap. Di sampingnya, Arka berjalan tenang dengan setelan rapi dan ekspresi yang tak pernah benar-benar terbaca. Mereka tidak menuju kamar, melainkan ruang meeting di lantai tiga. Pintu kayu besar dengan plakat bertuliskan Private Meeting sudah menunggu di ujung koridor. Di dalam, dua perwakilan klien telah duduk. Jas rapi, wajah serius, tatapan menilai. Arka menyapa lebih dulu. Tegas dan profesional. “Terima kasih sudah meluangkan waktu sebelum keberangkatan Anda besok pagi,” ucapnya, menjabat tangan satu per satu. “Kami akan langsung ke inti presentasi.” Ia memberi isyarat halus pada Aluna. Aluna menarik napas pelan, membuka laptopnya, lalu menyambungkan slide ke layar besar di dinding. Tangannya sempat terasa dingin, tapi suaranya tetap terjaga stabil saat mulai berbicara. Ia menjelaskan alur campaign dengan runtut. Strategi pos

  • Tak Setara   Atas Nama Profesional

    Di kantor. Revan tengah duduk di meja kerja Aluna. Ia menunggu perempuan pemilik meja itu datang, sampai bunyi denting lift memecah lamunannya. Aluna keluar dari lift dengan cup latte di tangannya. "Kak Revan? Sedang apa?" Aluna yang baru sampai heran melihat Revan duduk di mejanya. "Sedang menunggu." Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. "Menunggu apa?" alisnya mengerut. "Sesuatu yang dirampas dariku." Ekspresinya datar. Aluna bingung dengan ucapan Revan, "kalau ngomong itu yang jelas kak. Jangan bikin orang mikir," ucapnya kesal. "Minggir! Pemilik meja mau duduk." Aluna meletakkan tas dan cup kopi diatas mejanya, mengusir atasannya dengan gestur bercanda. Revan terkekeh, lalu beranjak dari duduknya. Membiarkan perempuan yang sedari tadi ia tunggu itu, kembali dengan setumpuk pekerjaannya. Aluna menenggak kopi yang sedari tadi ia bawa. Melihat itu, Revan teringat momen pada saat di taman kota. Saat bosnya menelepon untuk segera kembali ke kantor, Revan bergegas dan dengan berat hati

  • Tak Setara   Kopi Dan Taktik

    "Aluna...." Revan mendekati meja perempuan yang tengah sibuk mengetik keyboardnya. "Kenapa lagi kak Revan." Matanya masih fokus pada layar komputer. "Udah jam makan siang nih. Kamu masih aja sibuk." "Iya bentar lagi. Nanggung nih." "Cari makan di luar yuk." Aluna berpikir beberapa saat, "yaudah yuk." Ia mengemasi beberapa barangnya. Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya di rumah makan Padang. Aluna mengajak Revan ke taman kota yang berada tidak jauh dari tempat mereka makan siang. "Kamu mau ngapain disini," tanya Revan sambil menyedot es cekek di tangannya. "Aku mau baca buku bentar, mumpung masih banyak waktu sebelum kembali ke kantor." Ia mengeluarkan buku bersampul hijau itu dari dalam tasnya. "Kamu suka baca ya." Ia memperhatikan Aluna membaca bukunya. "Cuma suka baca novel aja sih," jelasnya. "Novel genre apa?" "Romance," jawabnya singkat. "Sejak ka..." Kalimatnya terpotong, mulutnya tertutup oleh telapak tangan Aluna. "Kalau kak Revan nanya mulu, kapan aku bi

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status