LOGINSenin pagi selalu sama—jalanan padat, udara penuh asap, klakson bersahut-sahutan tanpa ampun. Orang-orang berjalan cepat dengan wajah tegang, seolah sedang mengejar sesuatu. Harapan di ujung jalan… atau sekadar rupiah yang membuat hidup tetap bertahan.
Di antara kerumunan itu, Aluna berjalan dengan map cokelat di tangannya. Sudah setengah lusuh, sudutnya tertekuk, warnanya memudar. Entah sudah berapa banyak gedung yang ia datangi bersama map itu. Kemeja putih dan celana hitamnya rapi, meski keringat mulai membasahi pelipisnya. Tali sepatu yang sedikit menjuntai membuatnya beberapa kali hampir tersandung. Aluna melirik jam ditangannya, "ternyata sudah hampir siang." Ia menghela nafas panjang. Sudah waktunya untuk kembali pulang dengan hasil yang mengecewakan. "Hari ini pun masih sama. Membawa kembali map lusuh ini," gumamnya kesal. Ia menendang kaleng soda yang menghalangi langkahnya. Bug. Kaleng soda itu tidak sengaja mengenai salah seorang pria paruh baya. Aluna yang begitu sadar langsung menghampiri dan meminta maaf, "aduh Pak, maafin saya. Saya tidak sengaja." Tubuhnya setengah membungkuk. "Lain kali lihat-lihat dulu. Untung kena lengan, gimana kalau kepala saya yang kena." Pria itu mengusap-usap lengannya yang terasa nyeri. "Iya Pak, maaf." Merasa bersalah dan malu. "Lagi cari kerja?" tanyanya. "Iya." jawabnya singkat. "Udah dapat?" "Alhamdulillah, dapet capeknya." tersenyum malu. Pria itu tertawa kecil, "sebenarnya di perusahaan saya sedang ada lowongan. Coba saja, siapa tahu rejeki." Sebuah kartu nama berpindah tangan. Aluna membolak-baliknya, membaca cepat. "Terima kasih, Pak. Besok saya coba datang." "Semoga berhasil ya." Pria itu berlalu meninggalkan perempuan itu. *** Aluna menghela nafas panjang sebelum membuka pintu rumahnya. "Aku pulang." "Sayang, kamu udah pulang? Gimana hari ini?" "Masih samaaa." Mereka menjawab bersamaan lalu saling tertawa. Gavin seolah sudah hafal dengan nasib istrinya yang selalu gagal dalam mencari pekerjaan. "Udah-udah. Nggak usah dipikirin. Mungkin ini bukan hari keberuntungan kamu." Gavin mengacak rambut Aluna. Aluna cemberut sebentar, lalu masuk ke dapur. Wajan, sayur, suara minyak mendesis. Rutinitas seorang ibu rumah tangga terasa makin berat ketika angka-angka pengeluaran menari di kepalanya. Sewa rumah, cicilan motor, tagihan listrik. Dan rencana menunda momongan, meski usia pernikahan mereka sudah empat tahun. Empat tahun sejak senja itu. “Aluna.” Gavin berlutut di bawah langit jingga. Kotak merah kecil terbuka di tangannya. “Kamu mau menikah denganku?” Aluna menutup mulutnya, mata berkaca-kaca. “Iya. Aku mau.” Senja menjadi saksi indah penuh janji. Mereka berdua berpelukan diantara hangatnya senja. Gavin sudah mempersiapkan momen indah itu. Melamar wanita impiannya dibawah langit senja. *** "Kali ini aku harus berhasil membawa kabar gembira untuk Gavin." Kakinya mulai melangkah masuk ke sebuah gedung yang tampak berkilauan dari luar. Napasnya tidak beraturan, matanya mencari dimana ruangan yang akan ia tuju. "Maaf, ada yang bisa saya bantu?" Seorang satpam mendatangi Aluna yang tengah celingak-celinguk. "Maaf, Pak. Saya mau melamar pekerjaan disini. Karena saya dapat informasi bahwa perusahaan ini sedang membutuhkan karyawan." Nadanya terdengar sangat sopan. "Oh, mau melamar, ya. Ikuti saya." Aluna berjalan mengikuti langkah satpam dari belakang. Mereka memasuki sebuah kantor, disana Aluna diarahkan, berbincang dengan HRD, membaca berkas, menandatangani, lalu berakhir dengan sebuah jabatan tangan. "Selamat bergabung." Prosesnya terlalu singkat untuk sebuah interview. Tetapi akhirnya Aluna bisa bernafas lega karena diterima bekerja. Ia pulang dengan wajah sumringah, mengetuk pintu, memeluk suaminya, mengabarkan tentang hari ini. Mereka merayakan dengan sebotol bir. Hari pertama kerja. Lemari pakaian berantakan seperti habis diguncang gempa. Kemeja putih? Terlalu biasa. Blus biru? Terlalu mencolok. Pilihan akhirnya jatuh pada kemeja hitam dan rok span putih. Pantofel hitam melengkapi. Rambut panjangnya tergerai rapi. Aluna siap untuk berangkat setalah memesan taksi online. Gavin sudah lebih dulu pergi bekerja pagi-pagi sekali. Pelukan hangat dari suaminya menjadikan semangat yang berkobar di dalam diri Aluna, walaupun sebenarnya keraguan dan ketidakpercayaan dirinya lebih besar. Kantor Aethera modern dan elegan. Training hari pertama berjalan lancar. Beberapa karyawan baru duduk berderet mendengarkan penjelasan visi dan misi perusahaan. "Loh itu kan Bapak yang enggak sengaja aku lempar kemarin." gumam Aluna. Hari-hari berikutnya berjalan lebih baik dari yang ia bayangkan. Profilnya bahkan muncul di intranet perusahaan. Profil Karyawan – Aethera Creative Lab Nama: Aluna Pramesti Posisi: Content Writer – Marketing Division Bergabung sejak: 2024 Aluna Pramesti bergabung dengan Aethera Creative Lab sebagai Content Writer di divisi Marketing. Dengan ketertarikan mendalam pada dunia sastra dan perangkai kata, Aluna dikenal mampu mengubah konsep strategis menjadi narasi yang hangat, relevan, dan memiliki daya emosional yang kuat. Baginya, setiap brand memiliki cerita, dan setiap cerita berhak disampaikan dengan cara yang manusiawi. Ketelitian, kepekaan rasa, serta kemampuannya memahami sudut pandang audiens menjadi kekuatan utama dalam setiap campaign yang ia tangani. Di lingkungan kerja, Aluna dikenal ramah dan profesional. Ia mampu bekerja dalam tekanan, terbuka terhadap revisi, serta konsisten menjaga kualitas tulisannya. Ketekunannya dalam menyempurnakan detail menjadikannya salah satu penulis yang diandalkan dalam proyek-proyek strategis perusahaan. Bagi Aluna, menulis bukan sekadar pekerjaan—melainkan cara untuk memberi makna pada hal-hal yang sering luput diperhatikan.Arka sedang berdiri di ambang pintu berwarna putih itu. Wajahnya terlihat ragu, tangannya beberapa kali terangkat namun kembali turun.Beberapa hari belakangan, Aluna terlihat tidak baik. Wajahnya selalu tampak pucat, semangat yang dulu selalu terpancar di dalam dirinya seolah lenyap begitu saja. Badannya tampak lebih kurus.Arka mengkhawatirkan perempuan itu. Malam ini ia berniat untuk mengunjunginya, hanya mengetahui keadaannya dari orang lain tidak cukup membuat khawatirnya mereda.Kali ini ia ingin memastikannya sendiri. Ia menarik nafas sebelum akhirnya pintu itu ia ketuk. Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka dari dalam.Sosok perempuan menyapa, wajah itu—Seketika membuat Arka bergegas mendorong pintu lebih lebar, pria itu masuk sebelum dipersilahkan masuk lebih dulu."Aluna.. kamu tidak apa-apa?" Tangannya memegang wajah Aluna, paperbag yang ia bawa terjatuh begitu saja ke lantai.Aluna menatapnya dengan heran. "Saya baik.""Kamu terlihat pucat," ucap Arka ragu.Aluna menu
Pikirannya bergerak liar. Menghitung… mengingat… mencoba menyusun potongan waktu yang terasa kabur. Wajahnya perlahan pucat.untuk pertama kalinya… ia menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan dari kehamilan itu sendiri. Ia tidak tahu siapa ayah dari anak yang sedang ia kandung.***Tok.. tok. Pintu ruangan itu diketuk dari luar."Masuk." Sahut Arka dari dalam.Damar berjalan menuju meja kerja Arka."Bagaimana?" tanya Arka .Damar duduk di sofa berhadapan dengan Arka."Dia terlihat lebih baik, tapi..." Kalimatnya tertahan.Membuat Arka semakin penasaran."Tapi anehnya, kenapa dia ada diruang USG?"Lanjut Damar."Apa sakitnya parah?" tanya Arka, kedua tangannya menutupi sebagian wajahnya, terlihat frustasi."Saya belum sempat bertanya, dia sudah masuk lebih dulu," jelas pria itu."Oke.. terima kasih atas bantuannya," kata Arka kemudian. "Maaf karena sudah merepotkan Anda dihari libur." Pria itu tersenyum pada sekretarisnya.Arka terlalu mengkhawatirkan Aluna sejak kejadian di kanto
Cuaca di kantor siang itu cukup membuat wajah Aluna memerah. Pendingin ruangan yang terletak di beberapa sudut seolah tidak berfungsi dengan baik.Aluna memijat-mijat pelipisnya, sesekali mengelus dadanya karena sedikit mual. Layar komputer dihadapannya membuatnya semakin pusing, wajahnya terlihat pucat. Akhir-akhir ini ia merasa tidak enak badan, beberapa tumpukan pekerjaan membuatnya lebih sering begadang hingga larut.Aluna mengangkat gelas kopi di mejanya, ternyata kosong. Ia ingin membuat kopi untuk meredakan pusing di kepalanya. Namun saat ia berdiri dari duduknya justru penglihatannya berkunang-kunang. Ia mencoba mengabaikan, dan melangkah ke area open space untuk membuat kopi. Tiba-tiba langkahnya goyah, ia terhuyung dan jatuh begitu saja di lantai yang dingin itu.Semua orang berkerumun. Revan yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri kerumunan itu. Aluna—Ia melihat perempuan itu tergelatak. Revan langsung membopongnya ke sofa yang berada di ruang santai. Membaringka
"Oh iya," Aluna menoleh pada pria disampingnya, "saya lupa ingin mengucapkan selamat atas pertunangan Bapak, sekali lagi.. selamat atas pertunangannya."Arka menghentikan sendok es yang hampir akan masuk ke mulutnya. "Lebih baik.. kamu tarik kembali ucapan itu." Katanya lirih.Seketika Aluna memonyongkan bibirnya, menarik nafas yang begitu dalam.Arka bingung melihatnya. "Kamu sedang apa?""Menarik ucapan saya."Mereka tertawa bersamaan. Malam itu terasa hangat bagi Arka. Hangat dengan cara yang asing—sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini, ia terbiasa dengan restoran mewah, hidangan mahal yang disajikan dengan sempurna.Seblak—bahkan namanya pun terdengar asing di telinganya. Rasa pertama yang menyentuh lidahnya terasa aneh. Pedas, sedikit pahit, dan jauh dari apa yang biasa ia nikmati.Ia tidak terbiasa. Namun, melihat Aluna makan dengan begitu lahap, entah kenapa membuatnya ikut tersenyum… dan ingin mencoba lagi.Arka sebenarnya bisa saja membawa perempuan itu ke
Dua Minggu telah berlalu sejak terakhir kali Aluna menangis di kamar hotel. Hari ini kakinya berhenti didepan pintu yang dulu pernah menjadi bagian dari ia tumbuh bersama seseorang yang ia cintai.Aluna mengetuk pintu itu. Tak lama pintu pun terbuka, sosok pria berdiri dibaliknya.Gavin—Matanya terbelalak, perasaan haru tergambar jelas di wajahnya. Sudah hampir sebulan ia tidak melihat wajah istrinya."Aluna." Gavin langsung memeluk erat tubuh Aluna.Perempuan itu tidak melepaskannya, ia hanya diam dengan tatapan kosongnya."Aku ingin masuk." Kata Aluna singkat.Gavin menuntunnya masuk kerumah. Aluna menyapu seluruh ruangan itu, matanya berkaca-kaca. Rumah yang dulu menjadi tempat ia menghabiskan waktu bersama Gavin, tawa, canda itu masih melekat disetiap sudut ruangan.Foto-foto pernikahan yang berjejer ditembok, membuatnya semakin sesak. Ia menatap Gavin dengan begitu dalam, sampai..."Aku datang untuk memberikan ini." Tangannya menyodorkan secarik kertas.Gavin membuka kertas itu,
Matanya berat, nyaris tak ingin terbuka. Tubuhnya terasa remuk, menahan dirinya untuk tetap diam di tempat. Namun pikirannya tak memberi ampun. Ia terus menariknya kembali—pada satu kenyataan yang, bahkan untuk diingat pun terasa menyakitkan.Tangannya mencengkeram sesuatu tanpa sadar. Matanya terbuka perlahan, napasnya sempat tertahan oleh rasa kaget yang tiba-tiba datang. Ia menunduk, menatap apa yang menjadi alas kepalanya—sepasang kaki, yang terasa hangat. Pandangannya bergerak pelan, mencoba memahami keadaan.Mobil.Seketika ia tersentak. Tubuhnya dipaksa bangun, meski nyeri langsung menjalar. Dan di hadapannya—Arka tertidur, masih dalam posisi duduk. Dadanya naik turun perlahan, wajahnya terlihat lelah.Aluna terdiam, baru sekarang ia menyadari… ia menghabiskan waktu entah berapa lama, tertidur di pangkuan pria itu. Aluna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasa malu menjalar di wajahnya. Ia menyenderkan punggungnya di jok mobil, menatap wajah pria yang sedang tert







