مشاركة

Menguji Rasa

مؤلف: Lass
last update تاريخ النشر: 2026-08-04 16:19:48

"Kak. Aku pulang duluan ya." Helena berpamitan pulang pada Aluna.

Aluna mengangguk. Ia melirik jam tangannya, pukul lima sore. Semua karyawan berjalan melewati Aluna yang tengah sibuk di meja kerjanya.

"Aluna. Kamu yakin nggak mau ditemenin?" Revan merasa khawatir pada temannya itu karena harus lembur sampai malam.

"Makasih kak. Aku sudah biasa lembur sendirian kok," jawabnya sambil memberikan senyuman penuh keyakinan.

Revan mengacak pelan rambut Aluna seperti kakak iseng, lalu melenggang pergi sambil bersiul kecil. “Kunci pintu kalau udah mau pulang!” serunya sebelum benar-benar menghilang.

Aluna mendesah pelan, membenarkan rambutnya yang berantakan. Kantor perlahan berubah sunyi, suara keyboard yang tadi bersahutan kini tinggal miliknya sendiri. Cahaya senja yang tadi membanjiri ruangan melalui dinding kaca perlahan memudar. Jingga berubah tembaga, tembaga berubah ungu. Lalu perlahan ditelan biru gelap.

Inilah alasan mengapa ia jarang benar-benar membenci lembur. Di jam-jam seperti ini, ketika semua orang sudah pulang dan dunia terasa menjauh, ia bisa menikmati langit senja sendirian. Terpisah kaca tebal, seolah ada jarak aman antara dirinya dan segala kerumitan hidup di luar sana. Baginya, tidak ada yang lebih jujur daripada langit menjelang malam. Indah, tapi sebentar.

Jam di layar komputernya menunjukkan pukul 21.07. Aluna masih mengetik. Sesekali ia meregangkan lehernya, memutar bahu yang mulai kaku. Lampu di ruang kerja sengaja ia redupkan, hanya menyisakan cahaya meja dan bias lampu kota dari luar.

Di ruangan kaca di ujung koridor, seseorang belum pulang. Arka berdiri dengan secangkir kopi di tangannya. Dari balik kaca, ia melihat siluet Aluna—rambut panjangnya jatuh ke satu sisi, wajahnya diterangi cahaya layar, jemarinya bergerak cepat.

Ia tidak sadar sedang diperhatikan.

Dan Arka tidak sadar sejak kapan ia terlalu lama memperhatikannya.

Pintu ruangannya terbuka pelan. Cahaya terang dari dalam ruangan CEO itu langsung menyilaukan mata Aluna. Ia menyipit, menoleh—lalu terdiam. “Bapak… belum pulang?” tanyanya spontan.

Arka berjalan mendekat tanpa menjawab pertanyaan itu. “Kenapa kamu suka gelap-gelapan?” Suaranya rendah. Satu tangannya bertumpu pada sandaran kursi Aluna, yang lain menyentuh meja. Posisi itu membuat Aluna seperti terkurung di antara meja dan tubuhnya.

Aluna pura-pura tetap fokus pada layar. “Lebih nyaman saja, Pak.”

Arka menatapnya beberapa detik. “Cepat kemasi barang-barangmu. Semua berkasnya juga.”

Aluna menoleh bingung.

“Ikuti saya.” Tanpa penjelasan Arka sudah melangkah pergi.

Aluna hanya bisa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya panik sendiri. Ia merapikan kertas-kertas, memasukkan laptop ke tas, lalu berlari kecil menyusul Arka yang sudah berdiri di dalam lift. “Memangnya mau ke mana, Pak?”

“Kamu pikir apa?” Arka menatap lurus ke depan. “Tetap ngerjain deadline kamu.”

Aluna mengerucutkan bibirnya kesal. Lift turun dalam diam yang canggung.

Di parkiran, Arka membuka pintu mobilnya. “Masuk.”

Aluna ragu.

“Kita nggak punya banyak waktu,” lanjut Arka tegas. “Kamu mau selesai jam tiga pagi di kantor?” Logikanya masuk akal, perasaannya tidak. Tapi ia tetap masuk.

Perjalanan diisi sunyi. Kota malam berpendar di luar kaca mobil. Aluna hanya menatap bayangannya sendiri yang samar di jendela. Arka beberapa kali meliriknya. Tanpa sadar, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar dengan pagar tinggi dan pencahayaan hangat.

“Ini rumah siapa, Pak?” tanya Aluna pelan.

“Rumah saya, jawabannya singkat.

Jantung Aluna berdegup sedikit lebih cepat.

Namun ia mencoba berpikir profesional. Mungkin memang hanya ingin menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.

Rumah itu luas, interiornya modern, bersih, rapi. Seperti tidak benar-benar dihuni. Arka menunjuk sofa ruang tengah. “Kerjakan di situ.” Lalu ia naik ke lantai atas untuk membersihkan diri.

Tak lama, seorang wanita tua datang membawa segelas jus jeruk. “Terima kasih,” ucap Aluna sopan.

Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki turun dari tangga. Aluna mendongak. Arka kini mengenakan kaus hitam polos dan celana santai. Rambutnya sedikit basah. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi yang bukan CEO—bukan jas mahal, bukan sepatu formal, bukan aura ruang rapat. Hanya seorang pria.

Arka duduk di seberangnya. “Kamu lapar?”

“Lumayan, Pak. Tapi nanti saja di rumah.”

Arka tidak menjawab. Ia meraih ponsel, memesan sesuatu. Tak lama, bel berbunyi. Makanan cepat saji memenuhi meja. Martabak coklat keju, kentang goreng, beberapa camilan. Dan satu kotak susu coklat dingin. “Makan.”

Aluna canggung. Tapi ia tetap mengambil martabak. Ia melirik kotak susu itu yang hanya satu.

“Itu buat kamu.”

Aluna berhenti mengunyah. Pipi mengembung penuh martabak. “Makasih, Pak…” Dalam hati ia bergumam, Darimana dia tahu?

Pekerjaan akhirnya selesai lebih cepat karena mereka membahasnya bersama. Jam dinding klasik berdentang pelan—dua belas tepat.

Ponsel Aluna sejak tadi bergetar.

Arka memperhatikannya. “Dari tadi sibuk. Pacar kamu bawel?”

Aluna tanpa sadar menjawab cepat, “Suami saya, Pak.”

Hening.

Tangannya tetap sibuk merapikan tas. “Dia khawatir.”

Sesuatu di dada Arka terasa tertarik.

Suami...

“Kalau begitu saya pamit dulu, Pak. Terima kasih.”

Aluna berjalan ke luar gerbang dan memesan ojek online.

Arka berdiri di belakangnya, diam. Motor datang. Namun Arka lebih dulu menghampiri driver itu, berbicara singkat, menyodorkan uang. Motor itu pun pergi.

Aluna melongo. “Loh? Kok pergi?” Ia hampir berlari mengejar. Tiba-tiba suara mesin motor lain berhenti di depannya.

“Naik.”

“Pak, nggak usah. Saya naik ojek online saja.”

“Naik, Aluna.” Nada itu tidak memberi ruang.

“Saya nggak mau merepotkan Bapak. Lagipula… saya nggak mau tetangga salah paham. Suami saya juga—”

“Kamu itu pintar mengarang naskah,” potong Arka. “Tapi bodoh urusan pribadi.”

Aluna membeku.

“Mereka akan mengira saya ini ojek online,” lanjutnya kesal.

Aluna terdiam lalu perlahan naik ke motor itu. Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali membentur helm Arka karena rem mendadak. “Pak!” protesnya kesal.

“Pegangan yang benar.”

“Udah paling bener pulang pakai ojek online,” gumamnya.

Arka mendengarnya dan entah kenapa, sudut bibirnya hampir terangkat. Motor berhenti di persimpangan dekat rumah Aluna. Ia turun cepat. “Terima kasih, Pak.” Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan menjauh.

Arka tetap diam di atas motornya, menatap punggung itu sampai menghilang di balik gang sempit.

“Jadi ini tempatmu pulang…” Arka menyandarkan dadanya pada stang motor, matanya mengikuti setiap langkah Aluna sampai perempuan itu menghilang di balik tembok kusam. Entah kenapa, ada sesuatu yang mengusik dadanya.

Malam semakin larut. Dan untuk kedua kalinya hari itu, ia sadar—Yang ia lakukan bukan lagi sekadar memastikan deadline selesai.

Ia sedang menguji batas. Batas profesional, batas kesabaran. Dan mungkin… batas hati seseorang yang seharusnya tidak ia sentuh.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Tak Setara   Menjinakkan Kucing Liar

    Aluna terdiam sesaat mencoba untuk mengumpulkan keberaniannya. "Saya ingin mengundurkan diri." Tangannya menyodorkan amplop coklat. Sontak Damar terkejut, "saya tidak salah dengar, Aluna?" tanyanya tak percaya. "Saya sudah memikirkan ini baik-baik. Dan keputusan saya sudah bulat, untuk resign dari pekerjaan saya." Suaranya lembut seolah ada rasa takut didalam dirinya. Damar menatapnya dengan heran, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Memangnya ada masalah apa sampai kamu ingin resign, Aluna?" Aluna tertunduk, "saya ada masalah keluarga yang mengharuskan saya untuk tinggal dirumah." Sebuah kalimat yang menjadi pilihan terakhir dari banyaknya daftar alasan yang sudah ia susun di kepalanya. Damar menghela nafas, "padahal dulu waktu kita tidak sengaja bertemu, saya melihat ada kegigihan dalam dirimu. Namun sekarang kamu harus meninggalkan pekerjaan mu setelah susah payah mendapatkannya," Lanjutnya. Mendengar itu, air mata Aluna mengalir begitu saja tanpa ia min

  • Tak Setara   Antara Harga Diri Dan Impian

    Kakinya melangkah dengan tergesa, tubuhnya terhuyung, ia berusaha menahannya agar tidak terjatuh. Sesampainya di lobby parkir, tangannya melambai kearah taksi yang berada tak jauh darinya. Di dalam mobil ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Tangannya mengepal disela duduknya, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Aluna masih tidak percaya dengan kejadian yang baru dia alami. "Apakah dunia kerja memang seperti ini?" Gumamnya. Hal yang paling menyakitkan baginya adalah, melihat sisi yang berbeda dari atasannya. Orang yang terlihat mengagumkan, berwibawa dan gentleman—Ternyata menyimpan sisi gelap dari dalam dirinya. Pria yang membuat semua orang berpikir bahwa ia adalah laki-laki sempurna, ternyata tidak lebih dari sekedar penjahat. Menyadarinya seorang diri, adalah hal yang paling menyakitkan bagi Aluna. "Kita sudah sampai mbak." Suara supir taksi mengagetkan lamunannya. Aluna segera merapikan dirinya sebelum menget

  • Tak Setara   Manipulatif

    Apa yang Bapak lakukan," tanyanya panik. Kedua tangannya masih menutupi wajahnya. "Kenapa kamu menutupi wajah mu?" tanya Arka datar, seolah apa yang dia lakukan adalah sesuatu yang biasa. Aluna mengintip sedikit dari celah jarinya, ingin memastikan bahwa atasannya masih memakai pakaian. Ia melihatnya memakai celana boxer, kemudian menurunkan kedua tangannya dari wajahnya. "Bapak mau apa?" Suaranya bergetar, ada rasa takut dari dalam dirinya. "Cuma mau lihat kamu." Sorot matanya tajam. Aluna melangkah ingin menuju pintu, namun Arka menahan pundaknya, membuat Aluna tidak bisa bergerak. "Tolong jangan lakukan ini, Pak." suaranya memohon. "Lakukan apa?" Bertanya seolah ia tidak melakukan apa-apa. Aluna terdiam, matanya sedang menahan sesuatu. Pandangannya hanya tertunduk ke bawah. Tiba-tiba tangan Arka menyentuh dagu Aluna, membuatnya mendongak ke atas dan kini mereka saling bertatap mata. Arka menatap dalam perempuan yang hampir menangis itu, ia bisa merasakan tubuhnya gemetar.

  • Tak Setara   Sisi Gelap Yang Mulai Terlihat

    Lobi Hotel Madson malam itu dipenuhi cahaya hangat dan aroma parfum mahal yang samar. Langkah Aluna terasa sedikit kaku di atas lantai marmer yang mengilap. Di sampingnya, Arka berjalan tenang dengan setelan rapi dan ekspresi yang tak pernah benar-benar terbaca. Mereka tidak menuju kamar, melainkan ruang meeting di lantai tiga. Pintu kayu besar dengan plakat bertuliskan Private Meeting sudah menunggu di ujung koridor. Di dalam, dua perwakilan klien telah duduk. Jas rapi, wajah serius, tatapan menilai. Arka menyapa lebih dulu. Tegas dan profesional. “Terima kasih sudah meluangkan waktu sebelum keberangkatan Anda besok pagi,” ucapnya, menjabat tangan satu per satu. “Kami akan langsung ke inti presentasi.” Ia memberi isyarat halus pada Aluna. Aluna menarik napas pelan, membuka laptopnya, lalu menyambungkan slide ke layar besar di dinding. Tangannya sempat terasa dingin, tapi suaranya tetap terjaga stabil saat mulai berbicara. Ia menjelaskan alur campaign dengan runtut. Strategi pos

  • Tak Setara   Atas Nama Profesional

    Di kantor. Revan tengah duduk di meja kerja Aluna. Ia menunggu perempuan pemilik meja itu datang, sampai bunyi denting lift memecah lamunannya. Aluna keluar dari lift dengan cup latte di tangannya. "Kak Revan? Sedang apa?" Aluna yang baru sampai heran melihat Revan duduk di mejanya. "Sedang menunggu." Jemarinya mengetuk-ngetuk meja. "Menunggu apa?" alisnya mengerut. "Sesuatu yang dirampas dariku." Ekspresinya datar. Aluna bingung dengan ucapan Revan, "kalau ngomong itu yang jelas kak. Jangan bikin orang mikir," ucapnya kesal. "Minggir! Pemilik meja mau duduk." Aluna meletakkan tas dan cup kopi diatas mejanya, mengusir atasannya dengan gestur bercanda. Revan terkekeh, lalu beranjak dari duduknya. Membiarkan perempuan yang sedari tadi ia tunggu itu, kembali dengan setumpuk pekerjaannya. Aluna menenggak kopi yang sedari tadi ia bawa. Melihat itu, Revan teringat momen pada saat di taman kota. Saat bosnya menelepon untuk segera kembali ke kantor, Revan bergegas dan dengan berat hati

  • Tak Setara   Kopi Dan Taktik

    "Aluna...." Revan mendekati meja perempuan yang tengah sibuk mengetik keyboardnya. "Kenapa lagi kak Revan." Matanya masih fokus pada layar komputer. "Udah jam makan siang nih. Kamu masih aja sibuk." "Iya bentar lagi. Nanggung nih." "Cari makan di luar yuk." Aluna berpikir beberapa saat, "yaudah yuk." Ia mengemasi beberapa barangnya. Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya di rumah makan Padang. Aluna mengajak Revan ke taman kota yang berada tidak jauh dari tempat mereka makan siang. "Kamu mau ngapain disini," tanya Revan sambil menyedot es cekek di tangannya. "Aku mau baca buku bentar, mumpung masih banyak waktu sebelum kembali ke kantor." Ia mengeluarkan buku bersampul hijau itu dari dalam tasnya. "Kamu suka baca ya." Ia memperhatikan Aluna membaca bukunya. "Cuma suka baca novel aja sih," jelasnya. "Novel genre apa?" "Romance," jawabnya singkat. "Sejak ka..." Kalimatnya terpotong, mulutnya tertutup oleh telapak tangan Aluna. "Kalau kak Revan nanya mulu, kapan aku bi

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status