LOGINCengkeraman tangannya pada tepi daun pintu kayu menegang sangat kencang, memancarkan kekuatan fisik yang begitu besar hingga kayu jati tebal itu mengeluarkan decit retakan halus yang memilu."Itu mustahil!" geram Ethan dengan nada suara yang meluncur sangat rendah, tajam, dan bergetar hebat oleh amarah yang membakar jiwanya dari dalam.Suara baritonnya tidak lagi terdengar santai atau penuh keputusasaan, melainkan berubah menjadi geraman monster yang baru saja dibangunkan dari tidur panjangnya. Sorot matanya yang legam kini dipenuhi oleh kilatan membunuh yang ditujukan pada nama wanita yang telah memicu kekacauan gila ini di dalam rumah tangganya.Pria itu memajukan wajahnya lebih dekat, menekankan setiap kata yang keluar dari tenggorokannya dengan kejujuran yang mentah, dingin, dan mematikan."Itu mustahil!" bantah Ethan keras, suaranya menggelegar menembus keheningan lorong, matanya menusuk lurus ke dalam pandangan Tiffany tanpa rasa ragu sedikit pun. "Aku tidak pernah menyentu
Tiffany mendengus kasar, kekehan sinis yang teramat pedas meluncur lepas dari sela bibirnya yang pucat.Egonya terasa tercabik dan terluka parah melihat bagaimana Ethan masih sanggup memasang raut wajah polos tanpa dosa di hadapannya. Pria itu tampak begitu mahir memainkan peran sebagai korban dari sikap dinginnya, seolah-olah seluruh kekacauan ini murni berasal dari kegilaan atau logika medis Tiffany yang tak masuk akal. Rasa muak yang membuncah di dalam dada wanita itu kian tak tertahankan, meremukkan sisa-sisa kesabaran yang coba dia pertahankan selama seminggu terakhir.Darah di dalam tubuh Tiffany mendidih hebat, membakar habis sisa-sisa kehati-hatian yang dia jaga ketat sepanjang malam.Dia menepis batas jarak di antara mereka, memotong celah sempit di ambang pintu secara brutal dengan melangkah maju satu tapak penuh. Dada rampingnya kini hampir menempel kencang pada dada bidang Ethan yang keras bagaikan dinding batu. Hawa panas dari kemarahan yang meluap-luap terpancar dari
Napas berburu milik Ethan menerpa hangat di sekitar dahi dan hidung Tiffany, membawa serta aroma parfum kayu yang pekat berpadu bau dingin hujan dari luar. Pria itu masih mengunci posisinya tanpa berniat memberikan ruang sedikit pun. Sepasang matanya yang legam membara oleh frustrasi yang menumpuk, menuntut jawaban tegas atas pengabaian yang menyiksa perasaannya selama tujuh hari terakhir.Tiffany merasakan dadanya makin terimpit oleh tekanan emosi dan fisik suaminya.Punggungnya yang menempel rapat pada daun pintu kayu jati terasa makin kaku. Dia menatap lurus ke dalam iris mata Ethan, menolak untuk gentar atau menunjukkan sedikit saja kelemahan di hadapan pria yang selama ini bertindak seolah sanggup menguasai seluruh jalan hidupnya. Kebisuan yang dia jaga ketat sepanjang minggu ini akhirnya hancur oleh kejenuhan dan kekecewaan yang sudah berada di batas puncak."Kamu benar-benar ingin tahu kenapa aku mendiamkanmu?" tanya Tiffany dengan intonasi suara yang mendadak meliuk penuh
Udara malam di lorong sayap barat mansion mendadak terasa makin menyengat dan pekat. Daun pintu kayu jati tebal yang hendak ditutup oleh Tiffany terhenti kaku di tempatnya. Guncangan keras dari sentakan tangan besar Ethan membuat engsel pintu berdecit samar, memecah keheningan koridor yang remang.Tiffany mengeratkan cengkeraman jarinya pada gagang kuningan. Seluruh otot tangannya menegang saat dia berusaha mengerahkan sisa tenaganya untuk mendorong pintu itu agar tertutup rapat. Namun, ketahanan fisiknya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuatan masif yang dihantamkan oleh suaminya dari arah luar.Daun pintu itu sama sekali tidak bergeming satu milimeter pun."Singkirkan tanganmu, Ethan," ucap Tiffany dengan suara yang amat tenang, namun di balik ketenangan itu tersembunyi hawa dingin yang sanggup membekukan udara di sekeliling mereka."Tidak sebelum kamu menatap mataku dan bicara seperti manusia normal," balasan Ethan terdengar rendah, serak, dan penuh dengan doron
Dalam hitungan detik, pintu ganda ruang makan dari kayu jati tebal tertutup rapat, menyisakan Ethan seorang diri di dalam ruangan yang amat luas dan dingin itu.Pria itu menyambar gelas kristal berisi air dingin di atas meja, lalu melemparnya kencang ke arah dinding pualam di sampingnya dengan seluruh tenaga yang dia miliki.PRANGGG!Pecahan kristal halus berhamburan ke seluruh lantai marmer, membiaskan pendar cahaya lampu gantung ke segala arah bersamaan dengan cipratan air yang membasahi dinding. Ethan berdiri dari kursinya dengan napas yang berburu kencang dan kasar. Dadanya yang bidang naik-turun menahan gumpalan emosi, rasa lapar yang menguasai jiwa, serta kemarahan yang meluap-luap tanpa penyaluran.Permainan pengabaian dan tindakan serba dingin yang dimainkan oleh Tiffany benar-benar telah menyeret otaknya ke ujung tanduk kewarasan.Dia tidak bisa membiarkan kondisi serba tidak pasti dan menyiksa ini berlarut-larut lebih lama lagi di dalam rumah tangganya. Selama satu min
Lalu kenapa mendadak Tiffany kembali memperlakukannya persis seperti orang asing yang tak kasat mata dan tak berharga?Apakah ada kesalahannya yang tidak dia sadari selama berada di luar negeri? Ataukah wanita ini memang sengaja ingin menghancurkan dinding kewarasannya secara perlahan dengan memainkan syaraf emosinya? Tatapan dingin tanpa emosi dari sepasang mata jernih Tiffany saat ini terasa jauh lebih menusuk dan menyiksa daripada bilah belati beracun yang dihunuskan tepat ke tengah dadanya.Ethan menggerakkan tangannya yang tegap ke atas meja, menggenggam tepian pualam yang dingin hingga buku-buku jarinya memutih pucat dan pembuluh darahnya menonjol keluar."Tiffany," panggil Ethan dengan suara rendah yang berat dan serak, bergetar hebat oleh campuran antara kemarahan yang membara dan permohonan yang tertahan kencang di tenggorokan.Tiffany tidak menyahut atau memberikan respons sekecil apa pun atas panggilan tersebut.Wanita itu menggeser piring porselennya yang baru terisi
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang
Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur







