Masuk"Kalau saja kamu tidak datang," gumam Ethan menggelengkan kepalanya menolak membayangkan kemungkinan buruk tersebut."Aku mungkin masih menjadi monster tanpa hati sampai detik ini."Tiffany tersenyum manis, memajukan wajahnya lalu mengecup singkat bibir suaminya."Tapi aku datang, Ethan," potong Tiffany menghapus semua keraguan di kepala suaminya."Kamu tidak pernah terlambat. Kamu selalu datang tepat waktu untuk menyelamatkanku dari segalanya."Wanita itu melingkarkan kedua lengannya di leher Ethan, merapatkan tubuhnya hingga ia bisa merasakan detak jantung pria itu berdetak seirama dengan jantungnya."Semua penderitaan di masa laluku ... semua air mata yang pernah aku keluarkan karena keluargaku ...."Tiffany menarik napas panjang, menatap langit senja yang perlahan mulai berubah menjadi warna ungu gelap."Semuanya sepadan. Aku rela melewati ribuan malam yang menyakitkan di masa lalu asalkan pada akhirnya aku bisa bertemu denganmu."Pengakuan tulus itu menghantam dada Ethan
Tiffany tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang menghampirinya.Aroma maskulin perpaduan kayu cendana dan mint segar langsung menyergap indra penciumannya, mengirimkan sengatan hangat ke seluruh aliran darahnya.Itu adalah aroma suaminya. Aroma pria yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya.Dua lengan kekar perlahan menyusup dari arah belakang.Ethan Vance melingkarkan lengannya di pinggang Tiffany dengan gerakan yang sangat protektif dan posesif.Pria itu menarik punggung istrinya hingga menempel rapat ke dada bidangnya, menghapus jarak di antara mereka tanpa sisa sedikit pun.Suhu tubuh Ethan yang selalu terasa panas langsung menyelimuti tubuh Tiffany, mengusir hawa dingin angin sore dalam seketika.Ethan menundukkan kepalanya, menyandarkan dagunya dengan nyaman di atas bahu kanan sang istri.Hidung mancung pria itu menyusup ke sela-sela rambut Tiffany, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang paling ia puja di dunia ini."Kamu berdiri di sini sendiri
Ethan dan Tiffany berdiri berdampingan di antara kedua boks tersebut.Mereka memandangi wajah damai anak-anak mereka dalam diam, meresapi setiap detik keajaiban hidup yang terbentang di depan mata.Rasa syukur kembali memenuhi dada Tiffany.Ia tidak pernah lelah mengucapkan terima kasih pada takdir karena telah memberikannya kesempatan kedua yang luar biasa ini.Semua penderitaan dan air mata di kehidupan pertamanya telah terbayar lunas dengan kebahagiaan yang tidak terhingga.Ethan mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur berbentuk bulan sabit yang memancarkan cahaya redup di sudut ruangan."Ayo kita istirahat," ajak Ethan menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar anak.Mereka masuk ke dalam kamar utama yang letaknya hanya terhalang satu pintu penghubung.Kamar itu sudah dirapikan oleh pelayan. Seprai putih bersih terpasang rapi, dan aroma minyak aromaterapi menguar dari alat pelembap udara di atas meja.Tiffany berjalan menuju meja rias, melepaskan perhiasan
Begitu mereka tiba di taman belakang, Dante langsung membuang alat peniup gelembung sabunnya ke atas rumput.Bayi gempal berjas mini itu berlari tertatih-tatih menghampiri ayahnya dengan tangan terentang lebar."Papa! Papa!" panggil Dante dengan suara cadel yang sangat menggemaskan.Ethan berjongkok menyambut putranya, menangkap tubuh kecil itu lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara."Kamu mengerjai kakekmu terus, hm? Lihat, baju kakek jadi basah kena air sabunmu," tegur Ethan pura-pura memasang wajah galak.Dante sama sekali tidak takut. Bayi itu malah menarik hidung ayahnya sambil tertawa riang memamerkan gigi-gigi susunya."Tidak apa-apa, Ethan. Biarkan saja dia bermain. Kapan lagi aku bisa mandi air sabun di taman seindah ini," sahut Arthur bangkit berdiri dari kursinya.Pria tua itu memegang pinggangnya yang mulai terasa pegal, namun senyum bahagia tidak pernah luntur dari wajahnya.Eleonor menghampiri Arthur, mengusap punggung pria itu dengan penuh perhatian kasih sa
"Jangan pikirkan sampah-sampah itu lagi, Tiffany. Mereka sudah busuk di tempatnya masing-masing," tekan Ethan dengan suara bariton yang sangat berat."Aku sudah memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa melihat cahaya matahari dengan tenang seumur hidup."Tiffany kembali menatap wajah suaminya, menggelengkan kepalanya untuk meluruskan kekeliruan pikiran pria itu."Bukan itu maksudku, Sayang," potong Tiffany lembut menangkup dada bidang suaminya."Aku menangis karena aku merasa sangat bersyukur. Aku membandingkan kengerian hidupku yang dulu dengan surga yang aku miliki malam ini."Wanita itu berjinjit sedikit, merangkul leher suaminya dan menempelkan kening mereka dengan sangat erat."Dulu, aku mati di atas lantai dingin dengan membawa kebencian yang membakar jiwaku," ungkap Tiffany mencurahkan isi hatinya yang paling dalam."Aku mengira hidupku memang ditakdirkan untuk menderita dan dikhianati."Ethan mendengarkan setiap ucapan istrinya dalam diam penuh perhatian.
Angin malam yang sejuk berembus pelan, membelai lembut helaian rambut Tiffany yang tergerai di bahunya.Wanita cantik itu menutup kelopak matanya rapat-rapat, meresapi setiap detik kedamaian yang mengalir deras dalam aliran darahnya.Suara tawa riang Dante dan Davina dari halaman bawah terdengar bagaikan alunan melodi paling merdu yang pernah menyentuh gendang telinganya.Pikiran Tiffany perlahan ditarik mundur, melintasi lorong waktu menuju kepingan memori kelam yang dulunya selalu berhasil membuatnya terbangun sambil menangis histeris.Memori tentang kehidupan pertamanya yang hancur berkeping-keping tanpa sisa.Kehidupan di mana ia adalah seorang istri yang dibutakan oleh cinta palsu, menyerahkan seluruh hidupnya pada pria bernama Christian.Tiffany mengingat dengan sangat jelas bagaimana Christian, suaminya di masa lalu, menghancurkan perusahaan keluarga dengan sengaja demi membiayai gaya hidup mewah wanita simpanannya.Wanita simpanan itu tidak lain adalah Chloe, saudari t
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan







