LOGINBisik-bisik kagum di lorong bagian administrasi rumah sakit perlahan memudar seiring berjalannya waktu, berganti dengan bergulirnya minggu demi minggu yang makin memperjelas kebahagiaan di kediaman Vance.Memasuki trimester kedua kehamilan, bentuk tubuh Tiffany mengalami perubahan yang kian nyata dan menggemaskan. Perutnya yang dulu hanya membuncit tipis kini sudah membulat sempurna, memunculkan aura keibuan yang kian memikat siapa saja yang memandangnya. Perubahan fisik itu berbanding lurus dengan keanehan selera makannya yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat dari biasanya.Sensitivitas lidahnya pada masakan mewah berbahan impor tinggi mendadak hilang, berganti dengan keinginan kuat menyantap jajanan rakyat.Malam itu, jam dinding berukir perak di ruang tengah kediaman Vance baru saja menunjukkan pukul sembilan malam lewat sedikit. Tiffany duduk bersandar di sofa empuk sambil membelai lembut perut bulatnya, menatap layar televisi yang menampilkan tayangan kuliner ma
Deru mesin sedan hitam yang membelah jalanan kota akhirnya berhenti sempurna di depan teras utama kediaman Vance.Tanpa menunggu pengawal membukakan pintu, Ethan melangkah keluar dengan terburu-buru, membawa kecemasan besar yang masih membakar dadanya sejak membaca pesan singkat di ruang rapat tadi. Pria tegap itu melintasi lorong kediaman dengan langkah lebar dan cepat, menaiki anak tangga menuju kamar tidur utama tanpa memedulikan tatapan heran dari para pelayan rumah.Ia mendorong pintu kamar secara perlahan agar tidak menimbulkan suara gaduh, lalu mematung sejenak di balik ambang pintu.Di atas ranjang empuk berukuran raksasa, sosok Tiffany terbaring miring dengan selimut katun yang menutup separuh tubuhnya. Wanita hamil muda itu rupanya telah tertidur sangat pulas, wajah cantiknya tampak begitu tenang dengan napas yang teratur halus. Rasa cemas yang tadinya menghimpit dada Ethan seketika meleleh, digantikan oleh kehangatan luar biasa yang merayap menenangkan jiwanya.Ethan m
Suasana di dalam ruang rapat utama di lantai paling atas gedung pencakar langit Vance Group terasa begitu tegang dan mencekam.Lampu gantung berbentuk kristal memancarkan cahaya putih yang dingin, menimpa meja kayu mahoni raksasa tempat puluhan petinggi perusahaan dan pemegang saham kelas atas duduk berjajar. Di ujung meja, layar proyektor raksasa menampilkan grafik saham, nilai investasi, serta berkas akuisisi mega proyek bernilai triliunan rupiah yang melibatkan tiga konglomerat besar. Ketegangan menyelimuti setiap sudut ruangan karena keputusan akhir berada penuh di tangan satu orang yang duduk di kursi utama.Ethan Vance duduk tenang di balik meja kepemimpinannya, memancarkan aura dingin yang sangat dominan dan mengintimidasi siapa saja.Kemeja hitam yang dibalut jas abu-abu gelap terpasang sempurna di tubuh tegapnya, mempertegas kewibawaan mutlak sang penguasa bisnis dunia bawah. Jarinya ketukan perlahan di atas permukaan meja, menciptakan ketukan teratur yang membuat para di
Uap tipis dari nasi goreng yang baru diangkat dari wajan melayang lembut di antara mereka, membawa aroma gurih bawang dan kutilang manis yang langsung memenuhi indra penciuman Tiffany.Tiffany menyendok sedikit nasi goreng buatan Ethan dengan sendok porselen putih, membawa suapan hangat itu ke dalam mulutnya dengan hati-hati.Ethan menahan napasnya di samping sang istri, matanya menatap lekat setiap perubahan kecil pada raut wajah Tiffany yang sedang mengunyah perlahan. Keheningan singkat di ruang makan megah itu terasa jauh lebih menegangkan bagi Ethan daripada saat memimpin kesepakatan bisnis bernilai triliunan rupiah di meja rapat.Senyum merekah indah di bibir Tiffany, sepasang matanya berbinar terang penuh rasa puas yang tak sanggup disembunyikan."Ini enak sekali, Ethan! Aromanya sama sekali tidak membuatku mual," puji Tiffany gembira sebelum kembali menyendok suapan kedua yang lebih besar.Helahan napas lega keluar dari dada bidang Ethan, membuat bahunya yang tegap mendad
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah kaca jendela ruang makan utama kediaman Vance, menyinari meja kayu jati yang sudah tertata rapi.Di atas meja tersebut, lima piring hidangan kelas atas buatan koki pribadi bertaraf internasional tersaji sangat cantik dengan asap tipis yang masih mengepul halus. Namun, bukannya menikmati makanan lezat tersebut, Tiffany justru menutup hidungnya rapat-rapt dengan sapu tangan sutra putih sambil memalingkan wajahnya ke samping. Rasa mual yang teramat sangat seketika menyerang dada dan tenggorokannya begitu aroma rempah masakan koki menyengat indra penciumannya yang makin sensitif."Bawa jauh-jauh makanan ini ... aku mual sekali mencium aromanya," rintih Tiffany dengan wajah pucat pasi dan mata yang berkaca-kaca menahan rasa tidak nyaman.Koki kepala kediaman Vance yang berdiri di samping meja makan seketika memucat, tubuhnya gemetar hebat menatap reaksi sang nyonya muda."Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya Tiffany ...
Suasana kamar tidur utama di lantai atas kediaman Vance begitu tenang, hanya dihiasi dengkur halus dari pendingin udara yang berhembus lembut.Jam dinding digital di atas meja rias menunjukkan pukul dua dini hari lewat sedikit, membingkai kegelapan malam dengan pendar cahaya biru yang samar. Ethan terlelap rapat dengan lengan kekarnya yang berotot melingkar protektif di atas perut Tiffany yang mulai sedikit membuncit hangat. Tiba-tiba, sebuah siku kecil menyenggol lambungnya secara berulang, menghancurkan tidur lelap sang penguasa dunia bawah dalam hitungan detik.Mata tajam Ethan seketika terbuka lebar, berkilat waspada di dalam kegelapan kamar seolah-olah bahaya maut baru saja mengintai di balik jendela.Insting bertahannya yang sudah terlatih bertahun-tahun di medan pertempuran membuat seluruh otot tubuhnya menegang sigap. Tangan kanannya secara refleks meraba balik bantal, siap menyambar gagang pistol rakitan khusus yang selalu ia simpan di sana. Namun, bukannya letupan senjat
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang







