MasukSenyum licik yang terukir di bibir Chloe terasa jauh lebih menyengat daripada pecahan porselen yang baru saja berserakan di lantai. Wanita itu tidak mundur selangkah pun meski pecahan keramik membentur ujung gaun tidur sutranya yang merah membara. Ia mengusap rambut panjangnya ke belakang dengan gerakan lambat, menatap Christian yang berdiri tersengal-sengal di tengah kehancuran ruang santai mereka."Kamu sebut aku pembawa sial, Christian?" tanya Chloe dengan suara rendah yang meluncur tenang namun sarat akan bisa beracun.Christian menatapnya dengan dada naik turun, kedua tangannya terkepal erat di samping paha dengan urat-urat yang menonjol tebal."Kamu memang sial! Kehadiranmu menghancurkan seluruh keberuntunganku!" gertak Christian dengan nada serak yang menahan luapan amarah di dalam tenggorokannya.Chloe tertawa pelan, tawa sinis yang menggema nyaring menembus dinginnya malam di kediaman Ashford yang kian suram."Lucu sekali mendengar pria yang tidak berguna menyalahkan wa
Ujung kalimat tajam dari mulut Chloe menyambar sisa kesabaran Christian yang sudah setipis kertas. Hawa panas meluap dari dalam dadanya, membakar seluruh akal sehat yang tersisa di balik kepalanya yang pening akibat wiski. Pria itu menatap Chloe dengan sorot mata yang penuh kegilaan murni, membiarkan rahangnya menegang kaku hingga urat-urat di lehernya menonjol tebal."Kamu bilang apa tadi?" geram Christian dengan suara serak yang bergetar hebat.Chloe menyilangkan kedua tangannya di depan dada, membusungkan bahunya tanpa rasa takut meski tubuh Christian mendominasi ruang di depannya."Kamu dengar sendiri, Christian! Aku tidak akan mengulangnya!" tantang Chloe dengan dagu terangkat tinggi, memamerkan raut wajah penuh penghinaan."Sejak kamu masuk ke dalam hidupku, seluruh urusanku tidak pernah ada yang beres!" bentak Christian dengan nada suara melengking yang memecah keheningan rumah mewah tersebut.Pria itu menghentakkan kakinya kasar, memangkas jarak di antara mereka hingga u
Kemarahan Christian mendadak berada di titik teratas sewaktu mendengar pengakuan tajam yang keluar dari mulut Chloe.Ruang santai kediaman Ashford yang biasanya megah kini terasa sangat sempit dan panas oleh kebencian yang meluap dari dua orang yang saling menyimpan dendam. Christian melangkah pelan mendekati Chloe, memutar badan wanita itu hingga punggung Chloe terdesak kaku menempel pada pinggiran lemari pajangan kayu yang dingin. Otot rahang Christian menegang keras, sepasang matanya yang merah berdarah tampak berkilat liar di bawah remang lampu hias ruangan."Pria yang hampir hancur?" ulak Christian dengan nada suara yang teramat rendah, memantul tajam tepat di depan wajah Chloe.Chloe berjuang keras menegakkan kepalanya, namun getaran di dagunya tidak bisa disembunyikan sewaktu hembusan napas berbau alkohol milik Christian menyapu kulit pipinya."Kamu pikir kamu siapa bisa bicara begitu padaku, Chloe?" lanjut Christian sambil menancapkan jari telunjuknya ke arah dada wanita
Christian melepaskan cengkeramannya pada bahu Chloe dengan dorongan kasar hingga wanita itu terhuyung ke belakang membentur sandaran sofa. Napas Christian memburu kasar, menyebarkan aroma wiski yang teramat pekat di dalam ruang santai yang semula tenang. Sepasang matanya yang merah berdarah menatap Chloe dari atas ke bawah dengan sorot keji yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya."Lepaskan aku, Christian!" jerit Chloe sambil memegangi bahunya yang terasa panas dan memerah bekas cengkeraman suaminya."Kenapa? Kamu merasa terhina?" cemooh Christian dengan tawa sumbang yang sangat dingin dan menusuk.Pria itu melangkah satu pijakan lebih dekat, membungkukkan badan dan menancapkan pandangannya persis di depan wajah Chloe yang mulai pucat pasi."Coba kamu kaca dirimu sendiri malam ini, Chloe!" gertak Christian dengan nada suara rendah yang dipenuhi racun. "Tiffany cuma butuh beberapa bulan bersama Ethan Vance untuk mengandung penerus utama keluarga mereka. Sementara kamu?"Chloe
Derap langkah kaki Christian Ashford terdengar gontai dan tak beraturan sewaktu pria itu menerobos masuk melewati pintu depan rumah mewahnya. Aroma tajam alkohol menyengat menyebar cepat di udara, membawa bau wiski murah dan hawa dingin malam yang menusuk kulit. Jas hitam yang ia kenakan sudah kusut berantakan, sementara dasi mewahnya tergantung longgar di leher dengan kancing kemeja atas yang terbuka sembarangan.Satu tangannya yang kekar masih memegang leher botol minuman keras yang tersisa seperempat, sementara tangan lainnya mencengkeram pegangan pintu untuk menopang tubuhnya yang limbung.Christian terhuyung-huyung melintasi ruang tamu yang luas dan sepi, menginjak karpet bulu tebal tanpa memedulikan langkah kakinya yang berat. Sorot matanya merah padam, dipenuhi kilat kekecewaan, dendam, dan kemarahan murni yang membakar habis sisa kesadarannya sejak meninggalkan ruang kerjanya. Pria itu terus menggerutu pelan di balik katupan giginya yang rapat, merancaukan nama Tiffany dan
Keheningan malam di ruang kerja utama kediaman Ashford mendadak terasa begitu mencekam dan menindas. Hawa dingin dari pendingin udara menusuk hingga ke tulang, namun tidak sanggup mendinginkan darah panas yang bergolak di dalam dada Christian Ashford. Pria itu duduk sendirian di balik meja kayu jati berukuran besar, dikelilingi botol-botol minuman keras yang sudah kosong tak tersisa.Layar ponsel pintar yang menyala terang di atas meja terus menampilkan deretan unggahan terbaru dari berbagai portal berita hiburan dan media sosial.Foto-foto megah dari jamuan privat klan Sinclair mendominasi halaman depan seluruh platform berita online. Di sana, wajah Tiffany terlihat begitu berseri, duduk anggun dalam balutan gaun krem mewah sambil diapit oleh Ethan Vance dan keluarga besar Sinclair yang tersenyum penuh kebanggaan. Judul-judul berita berukuran besar menyorot kabar kehamilan Tiffany sebagai berita paling panas yang menggegerkan dunia bisnis elite kota.Christian memandangi foto-fot
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be







