Se connecterDerap langkah kaki Ethan yang membentur ubin putih lorong UGD mendadak terhenti saat pintu geser di depannya berbunyi klik pelan. Seolah-olah waktu ditarik kencang, perhatian Ethan terhisap sepenuhnya ke arah celah pintu yang perlahan terbuka. Hawa dingin dari dalam ruang penanganan menyembur keluar, membawa aroma antiseptik yang tajam dan menusuk hidung.Sesosok pria berjas putih panjang yang merupakan dokter senior sekaligus rekan sejawat Tiffany melangkah keluar dengan raut wajah santai.Dokter senior itu menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, menarik napas dalam-dalam lalu memasang senyum lebar yang sangat cerah. Tidak ada riak kecemasan atau raut panik sedikit pun yang terpancar dari wajah pria paruh baya berkacamata tebal tersebut. Sikap santai dokter itu berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan hawa ketegangan mematikan yang menyelimuti seluruh lorong sejak tadi.Melihat senyuman lebar itu, bukannya merasa tenang, napas Ethan justru makin terengah ol
Perintah brutal Ethan bergaung nyaring di dalam mobil, disusul raungan mesin yang kian melengking membelah keheningan malam. Marcus menginjak pedal gas tanpa ragu sedikit pun, menerobos pembatas jalan plastik hingga hancur berantakan dihantam bumper depan sedan hitam tersebut. Mobil meluncur kencang memotong jalur kosong, menyalip jajaran kendaraan yang tersendat, lalu berbelok tajam memasuki pelataran luas Rumah Sakit Pusat.Dua unit ranjang dorong darurat beserta puluhan staf medis berseragam hijau sudah berbaris siaga di depan pintu kaca UGD.Sebelum roda mobil benar-benar berhenti berputar, Ethan sudah memutar gagang pintu dan keluar sambil menggendong erat tubuh Tiffany. Hawa dingin malam menyengat kulit, namun peluh dingin di dahi Ethan tak juga berkurang sewaktu ia melangkah lebar menyerahkan istrinya ke atas ranjang dorong."Nyonya Vance berumur berapa tahun? Apa ada riwayat alergi atau benturan fisik sebelumnya?" tanya salah satu perawat senior dengan nada cepat seraya me
Roda-roda besar mobil sedan hitam itu mencengkeram aspal basah dengan decitan keras saat membelok tajam di persimpangan utama. Marcus menekan pedal gas sejadi-jadinya, membuat mesin bersilinder besar meraung membelah malam yang makin larut. Jalanan kota yang sudah sepi dari lalu lalang kendaraan umum berubah menjadi jalur bebas hambatan bagi kendaraan mewah yang dipacu dalam kecepatan ekstrem tersebut.Di dalam kabin penumpang, guncangan keras hampir tak terasa karena sistem suspensi mobil yang teramat mahal.Namun bagi Ethan, setiap detikan waktu dan setiap milimeter pergerakan mobil terasa begitu lambat menyiksa. Ia merapatkan tubuh Tiffany ke dadanya, menggunakan dua lengannya yang kokoh untuk memagari tubuh istrinya dari pengaruh guncangan jalan raya. Telapak tangan Ethan tak pernah berhenti mengusap bahu dan lengan Tiffany, berusaha memberikan kehangatan murni di tengah dinginnya malam."Ethan ... perut aku makin mual," bisik Tiffany dengan napas yang makin memburu pendek-pen
Pintu mobil sedan hitam itu tertutup rapat dengan dentuman halus yang kedap udara, memotong habis segala sisa riuh rendah dan kehebohan dari aula pesta perayaan. Ethan langsung menarik tubuh lemas Tiffany ke dalam dekapannya, membungkus wanita itu rapat-rapat dengan jas tebalnya yang masih menyimpan hangat tubuh. Suasana di dalam kabin sedan mewah mendadak berubah sangat pekat, hanya diisi oleh suara napas terengah-engah dari dua manusia yang tersedot ke dalam pusaran kepanikan.Ethan meletakkan kepala Tiffany di dada bidangnya, membiarkan jemari tangannya merengkuh erat bahu dan pinggang sang istri.Ia mengusap punggung Tiffany dengan gerakan naik turun yang konstan, berusaha menyalurkan seluruh sisa kehangatan tubuhnya agar rasa dingin yang membelenggu wanita itu memudar. Sensasi guncangan berulang dari tubuh Tiffany membuat jantung Ethan berdegup kencang tanpa ritme yang teratur. Setiap kali wanita di pelukannya memejamkan mata makin rapat, dada Ethan serasa dihantam oleh bongka
Pintu jati berukuran raksasa membentur dinding dengan dentuman keras yang menggema ke seluruh lorong. Ethan melangkah keluar dari aula pesta tanpa memedulikan tatapan shock dua petugas keamanan yang berdiri mematung di samping daun pintu. Langkah kakinya begitu cepat, panjang, dan tergesa-gesa, mengikis jarak menuju area parkir VIP di depan gedung pertemuaan."Tiffany? Sayang, dengar suara aku, kan?" panggil Ethan, suaranya bergetar hebat di dekat telinga istrinya.Dekapan pria itu makin ketat, seolah takut jika longgar sedikit saja, wanita di pangkuannya akan menghilang. Tiffany menyandarkan kepalanya yang terasa seberat batu di dada tegap Ethan. Napas wanita itu terengah-engah, pendek dan patah-patah, menyapu kulit leher Ethan yang kini dibasahi peluh dingin."Mual ... Ethan, perut aku rasanya diputar-putar," bisik Tiffany sangat pelan, suaranya hampir tak terdengar akibat lemas yang luar biasa."Sabar, Sayang. Tahan sebentar, kita langsung jalan sekarang," sahut Ethan cepat, m
Ethan sama sekali tidak memedulikan nilai kesepakatan bisnis bernilai triliunan rupiah yang seharusnya ia tuntaskan malam ini. Segala urusan negosiasi, koneksi dengan para konglomerat ternama, serta wibawa profesional yang ia bangun bertahun-tahun meluap tanpa sisa dari pikirannya. Pusat semesta Ethan kini hanya menyisakan sosok wanita pucat yang terkulai lemas di dekapannya.Pria itu menyelipkan satu lengannya yang kekar di bawah lipatan lutut Tiffany, sementara tangan satunya lagi menopang punggung ramping sang istri dengan sangat kokoh.Ethan mengangkat tubuh Tiffany dengan gaya menggendong pengantin, mendekap wanita itu erat-erat di dadanya tanpa memedulikan gaun satin biru malam istrinya yang sedikit tersingkap. Kepala Tiffany bersandar pasrah pada dada bidang Ethan, napasnya yang pendek dan memburu menyapu kulit leher suaminya. Tubuh wanita itu bergetar hebat, diserang rasa pusing yang memutarbalikkan isi perutnya secara mendadak.Arthur Sinclair melangkah maju dua langkah d
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang
Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin







