Share

3. Tanggal Kematian

Author: Min Ye-Rin
last update publish date: 2026-03-11 05:25:00

Belum senpat melangkah, Aluna kembali teringat ucapan Raka sebelumnya.

"Dia beneran nggak bisa percaya sama aku," keluhnya, seraya meremas jemarinya lalu kembali melangkah. "Ah, sudah lah. Kayak nggak kenal aja deh tokoh Raka gimana dinginnya."

Udara di luar gedung pengadilan militer terasa jauh lebih dingin dibandingkan di dalam. Langkah Aluna berhenti sejenak di anak tangga terakhir. Angin sore berembus pelan, mengibaskan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya.

Sepanjang perjalanan, Aluna terus saja merasa gelisah karena diperhatikan oleh orang yang bahkan tidak ia kenal. Semakin cepat dia melangkan, maka orang itu juga akan mempercepat langkahnya juga.

Berulang kali Aluna berbalik badan, tapi dia sama sekali tidak melihat keberadaan orang itu secara nyata. Hanya aura dan aroma parfumnya yang masih mengudara.

“Tenang, belum tentu orang yang sama,” gumamnya pelan. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu kalau semuanya sudah berubah sekarang.

Langkah sepatu militer kembali terdengar dari belakangnya. Aluna tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aura dingin yang mengikuti langkah itu terlalu familiar.

Pria itu berjalan melewatinya tanpa mengatakan apa pun. Seolah Aluna tidak ada di sana. Tepat ketika dia hampir mencapai mobil militernya, langkahnya tiba-tiba berhenti. Raka menoleh ke arah Aluna dengan mata yang sedikit memicing karena sinar matahari.

“Kenapa kamu masih berdiri di situ?”

“Oh,” gumam Aluna kikuk. Dia baru sadar dirinya memang masih berdiri di tangga. “Aku hanya sedang berpikir.”

Raka tidak terlihat tertarik dengan jawabannya. Dia membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalamnya. Tepat ketika dia hampir menutup pintu mobil dia kembali melirik Aluna.

“Kalau sudah selesai berpikir, pulanglah,” katanya. "Jangan melakukan hal aneh yang akan membuat kamu menyesal."

"Lurus banget," cicit Aluna lesu. "Dia sama sekali nggak tertarik gitu buat bersikap sedikit lembut sama aku." Gumaman itu hanya didengar oleh angin di sekitarnya. Karena Raka sudah benar-benar pergi.

Aluna sedikit mengernyit. Di momen ini dia lumayan emosional pada Raka. Dia mendengus karena Raka benar-benar tidak mengantarnya pulang. Walaupun di dalam novel, hal ini sudah terbiasa untuk Aluna. Tapi untuknya, ini sangat menjengkelkan.

Raka tidak mengatakan apa pun lagi. Mesin mobil menyala. Beberapa detik kemudian kendaraan militer itu sudah meninggalkan halaman gedung pengadilan. Menyisakan Aluna sendirian di anak tangga terakhir.

Dia menatap ke arah jalan yang kosong itu beberapa saat, lalu tertawa hambar.

“Ternyata benar-benar sama seperti di novel.” Aluna menarik napas panjang. Dia menyugar rambutnya yang terurai.

“Oke. Ingat Aluna, di cerita asli dia nggak pernah mencintai kamu. Pernikahan kalian hanya kewajiban yang tidak bisa ditolak, tidak lebih. Jadi jangan baper,” gerutu Aluna merutuki dirinya yang terhanyut dalam emosi.

Dia akhirnya mulai berjalan menuju tempat parkir. Mobil hitam miliknya sudah menunggu di sana. Sopir keluarga berdiri di samping pintu dengan sikap hormat.

“Nyonya Aluna.”

“Pulang,” kata Aluna singkat. Mobil itu mulai bergerak meninggalkan gedung pengadilan.

Perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Pemandangan kota bergerak perlahan di luar jendela. Gedung-gedung tinggi, lampu lalu lintas, orang-orang yang berjalan di trotoar. Semuanya terasa sangat nyata. Masih sulit bagi Aluna untuk percaya bahwa dunia ini sebenarnya hanya latar dalam sebuah novel.

Namun setiap kali dia melihat wajahnya di kaca mobil, dia tahu ini bukan mimpi. Wajah yang menatap balik padanya bukan wajahnya yang dulu. Melainkan wajah Aluna Rengganis. Tokoh wanita antagonis yang mati dengan tragis.

Aluna menatap refleksi dirinya cukup lama. “Aku benar-benar masuk ke sini.”

Sudah tiga minggu sejak hari itu. Hari ketika dia membuka mata dan menemukan dirinya berada di kamar besar rumah dinas militer.

Awalnya dia mengira itu hanya mimpi aneh. Namun ingatan tentang cerita novel itu datang perlahan. Yang awalnya samar, berubah menjadi lebih jelas dan detail.

Bahkan setiap karakter, tragedi sangat jelas tergambar di ingatannya. Termasuk tragedi di mana Aluna Rengganis harus mati secara mengenaskan.

Ingatan tentang bab itu masih jelas di kepalanya. Dalam cerita asli, setelah perceraian disetujui, Aluna pergi meninggalkan rumah dengan penuh kemarahan.

Beberapa minggu kemudian mobilnya mengalami kecelakaan. Mobil itu menabrak pembatas jalan di tikungan pegunungan. Api membakar kendaraan itu. Dan Aluna Rengganis mati di tempat.

"Tapi aku nggak mau kalau harus mati di sini," teriaknya dalam hati. "Mama ... Ayah ... aku kangen kalian."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 189. Akhir Cerita Ini

    “Arga,” gumam Raka pelan. Arga hanya mengulas senyum. Dia mengulurkan tangannya dengan begitu ramah. “Pasti Kapten Raka ya?” tanya Arga pelan. Namun Raka tidak langsung menjawab. Matanya terus menatap Arga dengan tajam. “Saya Arga, editor yang membantu Bu Aluna.” raka buru-buru menoleh pada Aluna yang masih bergeming. “Editor?” tanya Raka dengan suara tercekat. “Maksudnya?” Arga menarik kembali uluran tangannya. “Sudah lama, Bu Aluna tidak memberi kabar,” katanya ringan. “Katanya mau ngajuin naskah baru, tapi saya hubungi tidak bisa.” “Aku?” tanya Aluna, nyaris berteriak. Arga mengangguk samar. “Bukankah setelah kisah Kapten Raka berakhir, Bu Aluna berencana mengajukan naskah baru?” tanya Arga lagi. “Dulu sempat membahas tentang cerita yang berjudul Diary Penulis Fiksi.” “A-aku penulis?” tanya Aluna pelan. Arga tidak langsung menjawab. Matanya menyipit tanpa sadar. Perlahan tangannya meraih sesuatu di dalam tasnya. Sebuah buku bercetak tebal dengan judul Kapten Raka karya Al

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 188. Kembali Ke Dunia Nyata

    Suasana hening dalam sekejap. Tangan Aluna masih memegang tangan Raka. Bahkan jauh lebih erat dari sebelumnya. Lampu jalan yang bersinar temaram, menyorot tepat di wajah Aluna. Dia sedikit mengerjap. Mereka kini sudah berada di depan rumah sakit tempat Aluna bekerja. “Ini—” kalimat itu menggantung. Matanya mengedar memperhatikan setiap sisi. Aluna melirik Raka yang juga belum sepenuhnya sadar. “Raka… kita udah bener-bener keluar dari dunia itu?” Raka tidak langsung menjawab. Dia melepaskan tangan Aluna, lalu maju beberapa langkah. Dunia yang sama seperti yang ia tinggali sebelumnya. “Aku nggak tahu, Luna,” katanya nyaris seperti bisikan. “Semuanya sama. Aku nggak bisa membedakanya.” Aluna ikut melangkah maju. Angin malam menyentuh wajahnya pelan. Tidak ada retakan di langit, tidak ada kalimat-kalimat aneh yang muncul tiba-tiba, dan tidak ada juga perasaan seperti sedang diawasi. Semuanya terlalu normal. Aluna menggenggam tangan Raka, membuat pria itu menoleh ke arahnya. “Raka,

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 187. Perpisahan

    Tidak ada yang langsung menjawab. Baik Aluna ataupun Raka, mereka justru saling bertemu tatap dan tak percaya apa yang Rengganis katakan. “Dr. Aluna,” ujar Rengganis. Gadis itu maju satu langkah. Dia meraih kedua tangan Aluna. “Bahagia, ya…” katanya. Aluna menggeleng tanpa sadar. Dia melepaskan tangan Rengganis dari tangannya. “Jangan ngomong kayak orang yang mau pergi,” bisiknya lirih. Kedua matanya sudah memanas. “Aku nggak suka. Kita bisa pikirin jalan keluar lain.” Senyum Rengganis perlahan memudar. Namun gadis itu tidak terlihat terkejut. Seolah dia memang sudah menduga Aluna akan mengatakan hal itu. “Aku cuma pengen lihat akhir cerita ini,” katanya pelan. “Aku udah banyak bikin kalian menderita. Sekarang, aku bakal nepatin janji aku—” “Nggak!” potong Aluna tegas. Dadanya sudah naik turun dengan sangat cepat. Dia mundur satu langkah. “Kamu pikir semuanya sesederhana itu? Lihat! Sindi, orang tua aku bahkan ada di dunia ini. Terus kamu minta aku balik ke dunia sama Raka,

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 186. Aku suka Dunia ini

    Aluna mengangguk samar. Walau sulit, dia berusaha mengulas senyum.Keduanya langsung menuju UGD—dimana orang bernama Rengganis ada di sana. “Aluna!” Sindi langsung menarik tangan Aluna yang baru saja masuk ke dalam lobi. “Lama banget datangnya. Ayo buruan. Dia nunggu kamu di ruang istirahat staf.” Aluna mengernyit. Dia menahan dirinya. Membuat Sindi refleks ikut mundur selangkah. “Kenapa jadi di ruang istirahat?” tanya Aluna heran. Kedua alisnya sudah saling bertaut. “Bukannya dia sakit?” Sindi tidak langsung menjawab. Dia bahkan masih bingung dengan apa yang dia lihat. “Kenapa malah ngelamun?” suara berat Raka membuat Sindi mengerjap pelan. Dia melirik Raka yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu bilang tadi dia kritis, terus kenapa bukan di UGD atau ICU, malah di ruang istirahat staf.”“Aneh,” ujar Sindi pelan. “Aneh banget pokoknya. Pertama kali dia datang, mukanya pucat kayak nggak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Tapi pas aku… pas aku…” Sindi menggantung

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten    Bab 185. Dunia yang kembali berubah

    Raka tidak memberi Aluna kesempatan untuk berpikir terlalu lama. Pria itu segera mengambil kunci mobil dan jaketnya. Wajahnya masih tegang. Bahkan sejak mendengar nama Rengganis beberapa menit yang lalu, Raka belum benar-benar bisa berpikir jernih. Mobil melaju dengan cepat tanpa banyak bicara. Raka sesekali melirik Aluna yang sudah pucat pasi. “Luna…” Raka menggenggam tangan Aluna yang sudah dingin. Wanita itu menoleh perlahan. “Tenang, ya. Kita kan belum tahu dia Rengganis yang kamu kenal atau bukan.” Aluna tidak langsung menjawab. Namun matanya tiba-tiba memicing saat melihat jalanan di depan mereka yang tampak transparan. “Ra-Raka…” tangan Aluna menunjuk ke arah depan dengan gemetar. “Itu apa? Kenapa jalannya jadi gitu?” Raka buru-buru memalingkan wajahnya. Alih-alih menghentikan laju mobil, dia justru menancap gas semakin dalam. “Pegangan, Aluna!” seru Raka. Aluna refleks mencengkeram dashboard mobil. Napasnya tercekat ketika jalan raya di depan mereka mulai berubah. A

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   Bab 184. Orang Yang Ingin Berkorban

    Raka menatap Aluna dengan mata yang sudah merah. Rasa bersalah yang ia tanggung akibat melenyapkan Aisar masih menghantui. Dia tidak ingin menambah lagi, dengan mengorbankan Rengganis. “Apa lagi dia manusia dari awal,” ujar Raka lirih. Kening yang berkerut, kini mulai mengendur. Raka menunduk dalam. “Mana mungkin aku tega mengurungnya di tempat ini.” Aluna tidak langsung menjawab. Rencana Rengganis memang gila. Dia bahkan sempat menolaknya, tapi saat bertemu dengan Raka lagi, perasaannya untuk ingin tetap bersamanya semakin besar. “Aku tahu,” gumam Aluna lirih. “Aku juga tahu ini salah, Raka. Tapi mau sampai kapan? Mau sampai kapan kita terus dihantui rasa takut?”Belum sempat Raka menjawab, tiba-tiba ponsel Aluna berdering. Keduanya refleks menoleh ke arah nakas, dimana ponsel itu tergeletak dengan layar menyala. “Sindi,” ujar Aluna sambil memperlihatkan layar ponselnya. “Kayaknya penting, udah ada banyak panggilan masuk dari dia ternyata.”Raka mengangguk. “Angkat aja,” katanya.

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   6. Diam-diam Memperhatikan

    Aluna menatap tangga itu beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pelan. “Dia benar-benar dingin.” Aluna memainkan jemarinya. Dia senang karena fakta bahwa Raka yang masih memperlakukannya seperti orang asing, berarti alur ceritanya belum berubah terlalu jauh. Dan itu bagus. Karena jika Raka tiba-t

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   5. Kapten Raka

    Malam turun perlahan di kota itu. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning redup di aspal yang sedikit basah oleh hujan sore tadi. Di dalam rumah dinas militer, suasana terasa jauh lebih sunyi daripada di luar. Rumah besar itu memiliki ruang tamu luas dengan jendela tinggi, la

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   4. Tanggal Kematian Part 2

    Penyesalkan macam apa yang sedang menggerogoti kepercayaan diri ya sekarang? Kenapa dia harus berada di dalam novel ini? Jika memang harus berpindah ke novel, kenapa dia tidak berpindah ke novel romantis dengan nuansa indah dipenuhi bunga-bunga mekar. "Aku emang suka novel ini, tapi nggak ada ni

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   1. Titik Balik Segalanya.

    “Gugatan cerai atas nama Aluna Rengganis terhadap Kapten Raka Juang Mahardika telah diproses selama dua minggu,” kata petugas itu formal sambil membuka map di depannya. Tatapannya berpindah pada Aluna. “Apakah Anda tetap ingin melanjutkan gugatan ini?” Ruangan pengadilan militer itu cukup sun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status