MasukBelum senoat melangkah, Aluna kembali teringat ucapan Raka sebelumnya.
"Dia beneran nggak bisa percaya sama aku," keluhnya, seraya meremas jemarinya lalu kembali melangkah. "Ah, sudahlah. Kayak nggak kenal aja deh tokoh Raka gimana dinginnya." Udara di luar gedung pengadilan militer terasa jauh lebih dingin dibandingkan di dalam. Langkah Aluna berhenti sejenak di anak tangga terakhir. Angin sore berembus pelan, mengibaskan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya. Sepanjang perjalanan, Aluna terus saja merasa gelisah karena diperhatikan oleh orang yang bahkan tidak ia kenal. Semakin cepat dia melangkan, maka orang itu juga akan mempercepat langkahnya juga. Berulang kali Aluna berbalik badan, tapi dia sama sekali tidak melihat keberadaan orang itu secara nyata. Hanya aura dan aroma parfumnya yang masih mengudara. “Tenang, belum tentu orang yang sama,” gumamnya pelan. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu kalau semuanya sudah berubah sekarang. Langkah sepatu militer kembali terdengar dari belakangnya. Aluna tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aura dingin yang mengikuti langkah itu terlalu familiar. Pria itu berjalan melewatinya tanpa mengatakan apa pun. Seolah Aluna tidak ada di sana. Tepat ketika dia hampir mencapai mobil militernya, langkahnya tiba-tiba berhenti. Raka menoleh ke arah Aluna dengan mata yang sedikit memicing karena sinar matahari. “Kenapa kamu masih berdiri di situ?” “Oh,” gumam Aluna kikuk. Dia baru sadar dirinya memang masih berdiri di tangga. “Aku hanya sedang berpikir.” Raka tidak terlihat tertarik dengan jawabannya. Dia membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalamnya. Tepat ketika dia hampir menutup pintu mobil dia kembali melirik Aluna. “Kalau sudah selesai berpikir, pulanglah,” katanya. "Jangab melakukan hal aneh yang akan membuat kamu menyesal." "Lurus banget," cicit Aluna lesu. "Dia sama sekali nggak tertarik gitu buat bersikap sedikit lembut sama aku." Gumaman itu hanya didengar oleh angin di sekitarnya. Karena Raka sudah benar-benar pergi. Aluna sedikit mengernyit. Di momen ini dia lumayan emosional pada Raka. Dia mendengus karena Raka benar-benar tidak mengantarnya pulang. Walaupun di dalam novel, hal ini sudah terbiasa untuk Aluna. Tapi untuknya, ini sangat menjengkelkan. Raka tidak mengatakan apa pun lagi. Mesin mobil menyala. Beberapa detik kemudian kendaraan militer itu sudah meninggalkan halaman gedung pengadilan. Menyisakan Aluna sendirian di anak tangga terakhir. Dia menatap ke arah jalan yang kosong itu beberapa saat, lalu tertawa hambar. “Ternyata benar-benar sama seperti di novel.” Aluna menarik napas panjang. Dia menyugar rambutnya yang terurai. “Oke. Ingat Aluna, di cerita asli dia nggak pernah mencintai kamu. Pernikahan kalian hanya kewajiban yang tidak bisa ditolak, tidak lebih. Jadi jangan baper,” gerutu Aluna merutuki dirinya yang terhanyut dalam emosi. Dia akhirnya mulai berjalan menuju tempat parkir. Mobil hitam miliknya sudah menunggu di sana. Sopir keluarga berdiri di samping pintu dengan sikap hormat. “Nyonya Aluna.” “Pulang,” kata Aluna singkat. Mobil itu mulai bergerak meninggalkan gedung pengadilan. Perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Pemandangan kota bergerak perlahan di luar jendela. Gedung-gedung tinggi, lampu lalu lintas, orang-orang yang berjalan di trotoar. Semuanya terasa sangat nyata. Masih sulit bagi Aluna untuk percaya bahwa dunia ini sebenarnya hanya latar dalam sebuah novel. Namun setiap kali dia melihat wajahnya di kaca mobil, dia tahu ini bukan mimpi. Wajah yang menatap balik padanya bukan wajahnya yang dulu. Melainkan wajah Aluna Rengganis. Tokoh wanita antagonis yang mati dengan tragis. Aluna menatap refleksi dirinya cukup lama. “Aku benar-benar masuk ke sini.” Sudah tiga minggu sejak hari itu. Hari ketika dia membuka mata dan menemukan dirinya berada di kamar besar rumah dinas militer. Awalnya dia mengira itu hanya mimpi aneh. Namun ingatan tentang cerita novel itu datang perlahan. Yang awalnya samar, berubah menjadi lebih jelas dan detail. Bahkan setiap karakter, tragedi sangat jelas tergambar di ingatannya. Termasuk tragedi di mana Aluna Rengganis harus mati secara mengenaskan. Ingatan tentang bab itu masih jelas di kepalanya. Dalam cerita asli, setelah perceraian disetujui, Aluna pergi meninggalkan rumah dengan penuh kemarahan. Beberapa minggu kemudian mobilnya mengalami kecelakaan. Mobil itu menabrak pembatas jalan di tikungan pegunungan. Api membakar kendaraan itu. Dan Aluna Rengganis mati di tempat. "Tapi aku nggak mau kalau harus mati di sini," teriaknya dalam hati. "Mama ... Ayah ... aku kangen kalian."Aluna hampir saja tertawa miris. Kalau dia mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia adalah jiwa dari dunia lain yang masuk ke tubuh ini, Raka mungkin akan langsung memanggil psikiater militer, atau bahkan menyeretnya ke rumah sakit jiwa. “Anggap saja aku baru sadar sesuatu,” jawab Aluna. Perlahan, wajahnya terangkat. Dari mulai kaki, badan dan kini berhenti di wajah Raka yang sudah berdiri tepat di depannya. Aluna kembali menelan ludah dengan sangat susah payah. Namun tanpa diduga, Raka kini justru berjalan menuju meja makan, lalu duduk di salah satu kursinya. Gerakan sederhana itu, membuat Aluna semakin merasa gugup. Apa lagi ketika Raka mengambil sendok dan mencicipi sup panas itu, Aluna langsung menahan napasnya, dengan mata membulat sempurna. “Ini terlalu asin,” katanya kemudian. “Kamu terlalu banyak mencampurkan garam di sini.” Raut wajah Aluna yang semula tegang, kini berubah tak bergairah. Tentu saja. Dia sendiri tidak percaya pada hasil karyanya. Aluna meletak
“Hemmm,” Aluna menarik napas berat. Walau dia masih terasa asing di rumah itu, dua tidak bisa berdiam diri selamanya di dalam kamar. Dan sialnya, di kehidupan sebelumnya, dia belum pernah menginjakkan kakinua ke dapur. Dia hanya memakan makanan dari hasil online food, atau berteriak minta makan, kala sedang berlibur ke rumah orang tuanya. Dan di dalam kehidupan sebelumnya, Aluna adalah seorang dokter bedah. Dia terbiasa membaca hasil CT scan organ, dan berdiri di depan meja operasi dengan taruhan hidup dan mati seseorang. Dan itu lebih mudah untuknya, dibandingkan ketika dia harus berdiri di depan kompor, membaca resep dan perbumbuan yang belum sepenuhnya dia kenal. Tapi kini Aluna sudah berdiri di dapur yang selama tiga bulan ini menjadi tempat menuangkan ide-ide masakannya. Dia berdiri dengan ekspresi serius, menatap buku resep di ponselnya seperti sedang mempelajari strategi perang. “Oke, dua sendok garam,” katanya dengan kening yang sedikit berkerut. “Eh, dua apa sa
Lampu taman memantulkan cahaya kuning lembut di lantai batu yang dingin, tapi untuk Alana, udara terasa jauh lebih berat dari pada beberapa detik sebelumnya. Tangannya masih memegang ponsel dengan layar yang masih menyala. Di sana, pesan itu masih terpampang jelas: ‘Seharusnya kamu sudah mati hari ini.’ Dan di bawahnya, sebuah foto mobil hitam yang tadi dia lihat di luar pagar rumah. Alana menepuk-nepuk kepalanya kasar. Dia berusaha mengingat kejadian di novel. Dalam novel yang dia baca, kematian Aluna terjadi pada 30 Agustus dalam kecelakaan mobil di tikungan pegunungan. Dan itu bukan hari ini. Jadi kenapa seseorang mengirim pesan seperti ini? “Apa kecelakaan di novel bukan kecelakaan pertama?” bisik Aluna bimbang. Matanya masih menatap layar ponsel. Ketika Aluna baru saja akan masuk ke dalam rumah, langkah kaki kembali terdengar dari belakangnya. “Kenapa kamu berdiri di luar?” Aluna menoleh. Dia langsung bisa menatap Raka yang kini berdiri di belakangnya. Lampu dari da
Aluna menatap tangga itu beberapa saat sebelum akhirnya tertawa pelan. “Dia benar-benar dingin.” Aluna memainkan jemarinya. Dia senang karena fakta bahwa Raka yang masih memperlakukannya seperti orang asing, berarti alur ceritanya belum berubah terlalu jauh. Dan itu bagus. Karena jika Raka tiba-tiba berubah sekarang, justru akan sangat mencurigakan. Aluna berdiri dan membawa cangkirnya ke dapur. Tepat ketika ia kembali ke ruang tamu, langkahnya tiba-tiba berhenti. Matanya jatuh pada kalender kecil di meja. Menampilkan tanggal hari ini dengan sangat jelas. Aluna menatap tanggal itu cukup lama. Kemudian perlahan duduk di sofa lagi dengan tanggal terlipas di pangkuan. Pikirannya kembali bekerja sekarang. Dia harus mulai mencari tahu tentang dua hal yang sangat penting yang bisa mengubah alur cerita ini. Tentang siapa yang ingin membunuhnya, dan tentang alasan kenapa dia harus dibunuh. Karena dalam cerita asli, kematian Aluna hampir tidak dibahas lagi setelah itu. Seolah hidupnya
Malam turun perlahan di kota itu. Lampu-lampu jalan mulai menyala, memantulkan cahaya kuning redup di aspal yang sedikit basah oleh hujan sore tadi. Di dalam rumah dinas militer, suasana terasa jauh lebih sunyi daripada di luar. Rumah besar itu memiliki ruang tamu luas dengan jendela tinggi, lantai marmer yang dingin, dan perabotan mahal yang tertata rapi, tapi entah kenapa, semuanya terasa sangat kosong, terlebih itu untuk Aluna. Rumah itu sudah seperti bangunan tanpa kehidupan. Aluna berdiri di depan jendela ruang tamu. Tangannya memegang cangkir teh yang sudah mulai dingin, dengan tatapan tertuju pada halaman depan rumah yang gelap dan sepi. Pikirannya masih terjebak pada mobil hitam yang terparkir di luar pagar siang tadi. “Udah Aluna, tenang aja,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Tiga bulan lagi baru kecelakaan itu terjadi. Masih ada waktu. Jangan panik dulu.” Bahkan ketika dia mengatakan itu, hatinya tidak benar-benar tenang. Dalam cerita asli, setelah mencabut gu
Penyesalkan macam apa yang sedang menggerogoti kepercayaan diri ya sekarang? Kenapa dia harus berada di dalam novel ini? Jika memang harus berpindah ke novel, kenapa dia tidak berpindah ke novel romantis dengan nuansa indah dipenuhi bunga-bunga mekar. "Aku emang suka novel ini, tapi nggak ada niatan juga buat masuk kesini," cicit Aluna lagi Tatapan Aluna turun pada layar kecil di bagian belakang kursi mobil. Di sana tertera tanggal hari ini: ‘12 Mei.’ Tubuh Aluna menegang. Jantungnya berdegup sedikit lebih keras. Dia kembali ingat sesuatu. Di dalam novel, kecelakaan itu terjadi pada tanggal 30 Agustus. Masih ada waktu tiga bulan sebelum kecelakaan itu terjadi. Aluna menatap tanggal itu cukup lama, lalu menyeka keringat yang hampir saja masuk ke mata. Tiga bulan adalah waktu yang sedikit, tapi jika dia tetap mengikuti alur cerita asli, dia pasti akan mati. Dan kalau dia mengubah alur itu, mungkin semuanya bisa berbeda dan semua isi novel jelas akan berubah. Mobil akhirn







