LOGIN“Arga,” gumam Raka pelan. Arga hanya mengulas senyum. Dia mengulurkan tangannya dengan begitu ramah. “Pasti Kapten Raka ya?” tanya Arga pelan. Namun Raka tidak langsung menjawab. Matanya terus menatap Arga dengan tajam. “Saya Arga, editor yang membantu Bu Aluna.” raka buru-buru menoleh pada Aluna yang masih bergeming. “Editor?” tanya Raka dengan suara tercekat. “Maksudnya?” Arga menarik kembali uluran tangannya. “Sudah lama, Bu Aluna tidak memberi kabar,” katanya ringan. “Katanya mau ngajuin naskah baru, tapi saya hubungi tidak bisa.” “Aku?” tanya Aluna, nyaris berteriak. Arga mengangguk samar. “Bukankah setelah kisah Kapten Raka berakhir, Bu Aluna berencana mengajukan naskah baru?” tanya Arga lagi. “Dulu sempat membahas tentang cerita yang berjudul Diary Penulis Fiksi.” “A-aku penulis?” tanya Aluna pelan. Arga tidak langsung menjawab. Matanya menyipit tanpa sadar. Perlahan tangannya meraih sesuatu di dalam tasnya. Sebuah buku bercetak tebal dengan judul Kapten Raka karya Al
Suasana hening dalam sekejap. Tangan Aluna masih memegang tangan Raka. Bahkan jauh lebih erat dari sebelumnya. Lampu jalan yang bersinar temaram, menyorot tepat di wajah Aluna. Dia sedikit mengerjap. Mereka kini sudah berada di depan rumah sakit tempat Aluna bekerja. “Ini—” kalimat itu menggantung. Matanya mengedar memperhatikan setiap sisi. Aluna melirik Raka yang juga belum sepenuhnya sadar. “Raka… kita udah bener-bener keluar dari dunia itu?” Raka tidak langsung menjawab. Dia melepaskan tangan Aluna, lalu maju beberapa langkah. Dunia yang sama seperti yang ia tinggali sebelumnya. “Aku nggak tahu, Luna,” katanya nyaris seperti bisikan. “Semuanya sama. Aku nggak bisa membedakanya.” Aluna ikut melangkah maju. Angin malam menyentuh wajahnya pelan. Tidak ada retakan di langit, tidak ada kalimat-kalimat aneh yang muncul tiba-tiba, dan tidak ada juga perasaan seperti sedang diawasi. Semuanya terlalu normal. Aluna menggenggam tangan Raka, membuat pria itu menoleh ke arahnya. “Raka,
Tidak ada yang langsung menjawab. Baik Aluna ataupun Raka, mereka justru saling bertemu tatap dan tak percaya apa yang Rengganis katakan. “Dr. Aluna,” ujar Rengganis. Gadis itu maju satu langkah. Dia meraih kedua tangan Aluna. “Bahagia, ya…” katanya. Aluna menggeleng tanpa sadar. Dia melepaskan tangan Rengganis dari tangannya. “Jangan ngomong kayak orang yang mau pergi,” bisiknya lirih. Kedua matanya sudah memanas. “Aku nggak suka. Kita bisa pikirin jalan keluar lain.” Senyum Rengganis perlahan memudar. Namun gadis itu tidak terlihat terkejut. Seolah dia memang sudah menduga Aluna akan mengatakan hal itu. “Aku cuma pengen lihat akhir cerita ini,” katanya pelan. “Aku udah banyak bikin kalian menderita. Sekarang, aku bakal nepatin janji aku—” “Nggak!” potong Aluna tegas. Dadanya sudah naik turun dengan sangat cepat. Dia mundur satu langkah. “Kamu pikir semuanya sesederhana itu? Lihat! Sindi, orang tua aku bahkan ada di dunia ini. Terus kamu minta aku balik ke dunia sama Raka,
Aluna mengangguk samar. Walau sulit, dia berusaha mengulas senyum.Keduanya langsung menuju UGD—dimana orang bernama Rengganis ada di sana. “Aluna!” Sindi langsung menarik tangan Aluna yang baru saja masuk ke dalam lobi. “Lama banget datangnya. Ayo buruan. Dia nunggu kamu di ruang istirahat staf.” Aluna mengernyit. Dia menahan dirinya. Membuat Sindi refleks ikut mundur selangkah. “Kenapa jadi di ruang istirahat?” tanya Aluna heran. Kedua alisnya sudah saling bertaut. “Bukannya dia sakit?” Sindi tidak langsung menjawab. Dia bahkan masih bingung dengan apa yang dia lihat. “Kenapa malah ngelamun?” suara berat Raka membuat Sindi mengerjap pelan. Dia melirik Raka yang sudah melipat kedua tangannya di depan dada. “Kamu bilang tadi dia kritis, terus kenapa bukan di UGD atau ICU, malah di ruang istirahat staf.”“Aneh,” ujar Sindi pelan. “Aneh banget pokoknya. Pertama kali dia datang, mukanya pucat kayak nggak ada darah yang mengalir di tubuhnya. Tapi pas aku… pas aku…” Sindi menggantung
Raka tidak memberi Aluna kesempatan untuk berpikir terlalu lama. Pria itu segera mengambil kunci mobil dan jaketnya. Wajahnya masih tegang. Bahkan sejak mendengar nama Rengganis beberapa menit yang lalu, Raka belum benar-benar bisa berpikir jernih. Mobil melaju dengan cepat tanpa banyak bicara. Raka sesekali melirik Aluna yang sudah pucat pasi. “Luna…” Raka menggenggam tangan Aluna yang sudah dingin. Wanita itu menoleh perlahan. “Tenang, ya. Kita kan belum tahu dia Rengganis yang kamu kenal atau bukan.” Aluna tidak langsung menjawab. Namun matanya tiba-tiba memicing saat melihat jalanan di depan mereka yang tampak transparan. “Ra-Raka…” tangan Aluna menunjuk ke arah depan dengan gemetar. “Itu apa? Kenapa jalannya jadi gitu?” Raka buru-buru memalingkan wajahnya. Alih-alih menghentikan laju mobil, dia justru menancap gas semakin dalam. “Pegangan, Aluna!” seru Raka. Aluna refleks mencengkeram dashboard mobil. Napasnya tercekat ketika jalan raya di depan mereka mulai berubah. A
Raka menatap Aluna dengan mata yang sudah merah. Rasa bersalah yang ia tanggung akibat melenyapkan Aisar masih menghantui. Dia tidak ingin menambah lagi, dengan mengorbankan Rengganis. “Apa lagi dia manusia dari awal,” ujar Raka lirih. Kening yang berkerut, kini mulai mengendur. Raka menunduk dalam. “Mana mungkin aku tega mengurungnya di tempat ini.” Aluna tidak langsung menjawab. Rencana Rengganis memang gila. Dia bahkan sempat menolaknya, tapi saat bertemu dengan Raka lagi, perasaannya untuk ingin tetap bersamanya semakin besar. “Aku tahu,” gumam Aluna lirih. “Aku juga tahu ini salah, Raka. Tapi mau sampai kapan? Mau sampai kapan kita terus dihantui rasa takut?”Belum sempat Raka menjawab, tiba-tiba ponsel Aluna berdering. Keduanya refleks menoleh ke arah nakas, dimana ponsel itu tergeletak dengan layar menyala. “Sindi,” ujar Aluna sambil memperlihatkan layar ponselnya. “Kayaknya penting, udah ada banyak panggilan masuk dari dia ternyata.”Raka mengangguk. “Angkat aja,” katanya.
Di bawah, Arga dan Sabrina sudah duduk tenang seperti sebelumnya. Sabrina tampak anggun dengan aura dingin yang sulit disentuh. Dia duduk dengan kaki disilangkan, gaun biru tua membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara rambutnya terikat rapi tanpa satu helai pun yang lepas.
Tubuh Raka langsung menegang. Pupilnya melebar dengan napas yang sudah tercekat. Lagi-lagi petunjuk tentang anggota militer. Siapa yang berani menginjak harga dirinya sampai sejauh ini. “Tapi itu mimpi.” Suara Raka melemah dan tidak setegas sebelumnya. Seolah dia sedan
Halaman kantor polisi sektor itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa motor terparkir dan satu mobil patroli yang berdiri di dekat gerbang. Aluna masih duduk di dalam mobilnya. Kedua tangannya memegang setir dengan lemah. Napasnya belum benar-benar stabil setelah kejadian tadi. Ia menatap ke
Mobil Aluna melaju cukup cepat di jalan raya yang masih dipenuhi kendaraan pagi hari. Matahari sudah naik lebih tinggi, tapi udara kota masih terasa sedikit dingin. Mungkin efek dari pagi tadi yang sempat turun hujan. Kedua tangan Aluna mencengkeram stir dengan erat. Ia tidak benar-benar tahu k







