Share

Bab 48. Pergilah!

Penulis: Ine Time
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 07:00:06

“Bilang tidak suka?” Yuze bergumam pelan sembari melangkah menjauh dari kamar kakaknya. Sudut bibirnya terangkat tipis, mencemooh penyangkalan Shen Mo barusan. “Yang benar saja. Siapa yang mau dia tipu dengan wajah sepucat itu?”

“Suka?”

Suara datar itu muncul tiba-tiba dari balik pilar. Yuze tersentak, tubuhnya refleks menegang. Ia menoleh cepat dan menemukan Xiwu sudah berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang menuntut penjelasan.

“Kakak ipar?" Yuze mengusa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 154. Jika Memiliki Kekuasaan.

    Jemarinya gemetar ketika akhirnya Roulan membuka gulungan kertas yang ditinggalkan Gu Ning.Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika menatap potret wajah yang terlukis indah di atas kertas tersebut.“Li… Xiwu,” gumamnya nyaris tidak terdengar.Roulan mengusap tepian kertas yang terasa agak lusuh. Ada bekas lipatan halus di beberapa bagian, sementara permukaan kertas di sekitar lukisan tampak sedikit lebih kusam daripada bagian lainnya.Seolah-olah potret itu bukan sekadar lukisan yang disimpan di dalam sebuah gulungan.Seseorang telah berkali-kali menyentuhnya dan Roulan tahu persis siapa orang itu.Gu Han.Roulan menahan napas. Pandangannya tidak beranjak dari wajah Xiwu yang terlukis indah di hadapannya.Guratan pada lukisan itu begitu halus. Hampir menyerupai wajah aslinya. Senyum tipis yang menghiasi bibir Xiwu, sorot mata lembut, bahkan helaian rambut yang jatuh di sisi pipinya digambarkan dengan begitu teliti.Terlalu indah untuk sebuah lukisan yang dibuat tanpa alasan.Roulan

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 153. Sebuah Peringatan.

    “Lukanya sudah kering. Kenapa kau terus memaksaku menggunakan salep itu lagi?”​“Yang Mulia, salep yang ini berbeda dengan salep sebelumnya. Salep ini khusus untuk menghilangkan bekas lukanya,” sahut Yun Que telaten, makin mendekatkan wajah demi mengoleskan tipis-tipis salep di kulit pipi Yuze.Makin Yuze berusaha mengalihkan pandangan dari wajah Yun Que yang kini terpaut begitu dekat dengannya, semakin sering pula matanya melirik pada iris mata pelayan itu secara refleks.“Apa masih lama? Kakak ipar menunggu kita di luar,” gumam Yuze, berdeham pelan untuk menutupi kecanggungannya.“Sebentar lagi, Yang Mulia.”“Lagipula, aku ini lelaki. Wajar kalau memiliki sedikit bekas luka.”Yun Que menggeleng. “Wajah Yang Mulia adalah hal yang sangat berharga. Bahkan semua orang tidak boleh menatapnya langsung. Jadi, Yang Mulia harus menjaga baik-baik wajah Yang Mulia.”Jantung Yuze berdesir pelan. Ia berdeham lagi, lalu membuang muka ke arah lain dengan pura-pura acuh. “Apa menurutmu, wajahku ini

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 152. Masihkah Kau Mencintaiku?

    Malam telah turun. Cahaya lentera yang menggantung di sepanjang koridor memantulkan bayangan panjang di lantai batu, sementara udara membawa aroma bunga malam dari taman yang mulai sunyi. “Yang Mulia, makan malam akan segera dihidangkan. Apa Yang Mulia ingin membersihkan diri terlebih dahulu?” Roulan hanya melirik sebelum akhirnya berkata, “Ya, aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu.” Pelayan membungkuk lalu maju selangkah. Dengan hati-hati, ia melepaskan tusuk rambut giok putih yang sejak sore menghiasi kepala Roulan. Setelah itu, jemarinya perlahan membuka sanggul yang tertata rapi, membiarkan rambut hitam Roulan jatuh melewati punggungnya. Satu per satu perhiasan yang melekat di tubuh Roulan kemudian dilepaskan. Cincin dari jemarinya, gelang dari pergelangan tangannya, hingga kalung yang melingkar di lehernya. “Hapus riasanku.” “Baik, Yang Mulia.” Roulan membiarkan pelayan membersihkan sisa riasan di wajahnya. Kain lembut yang dibasahi air hangat perlahan menyapu pipi d

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 151. Krisan Kering.

    “Seharusnya sedari awal Yang Mulia menolak undangan itu.”Xiwu tidak berkomentar. Ia hanya melirik Yun Que yang sibuk memilah dan menyusun potongan kain sesuai dengan warnanya.“Sejak kepergian Yang Mulia, Jenderal Gu selalu saja menunda pernikahannya dengan Yang Mulia Putri Roulan. Hamba tidak suka mereka mengaitkan masalah Jenderal Gu dengan Yang Mulia Putri Mahkota.”“Mereka?” Xiwu menaikkan sebelah alisnya.Yun Que mengangguk. “Semua pelayan dan prajurit istana selalu membicarakan itu. Mereka mengatakan Jenderal Gu cemburu karena Yang Mulia Putri Mahkota menikah dengan lelaki lain.”“Ternyata setelah kepergianku ke Beishan, Liyang tidak benar-benar tenang.”“Yang Mulia sudah sangat berbahagia dengan Yang Mulia Pangeran Mahkota, tidak perlu memikirkan Jenderal Gu lagi.”Xiwu tertawa pelan. “Seingatku, dulu kau yang terus berusaha melarangku menikahi Shen Mo. Sekarang kau sudah berbalik arah rupanya.”Sebelum menyahut, Yun Que terlebih dahulu menoleh ke arah pintu yang terbuka, di m

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 150. Jamuan Minum Teh.

    Meja pualam bundar diletakkan di tengah gazebo, dikelilingi empat kursi kayu berukir yang menghadap langsung ke kolam teratai.Beberapa pelayan berdiri tidak jauh dari sana, sementara seorang dayang sibuk menuangkan air panas ke dalam poci porselen yang telah diisi kuntum bunga krisan.Roulan telah duduk di salah satu sisi meja bersama Gu Han. Ia mengenakan hanfu berwarna biru muda dengan sulaman bunga plum pada bagian lengan.Rambutnya ditata sederhana, disempurnakan oleh tusuk rambut giok putih yang biasa dikenakannya.Di hadapannya telah tersedia beberapa piring berisi buah-buahan segar, dan kue-kue kecil yang sengaja dipilihnya sendiri untuk jamuan sore itu. Semuanya telah ditata sempurna.Sesekali pandangan Roulan bergulir ke arah jalan setapak di luar paviliun.Menanti.Hingga tak lama kemudian, derap langkah teratur terdengar dari kejauhan. Roulan segera menoleh.Dari ujung lorong, Xiwu dan Shen Mo berjalan berdampingan menuju taman. Di belakang mereka, Shan Liang dan Yun Que m

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 149. Urusan yang Telah Selesai.

    Xiwu menopang dagunya di atas meja pualam, menatap pasrah pada tumpukan potongan kain warna-warni yang menggunung di hadapannya. "Kenapa A’Que membawa sebanyak ini? Aku jadi bingung,” gumam Xiwu seraya membolak-balik selembar kain sutra merah muda. “Momo, apa kau bisa membantuku?” Shen Mo meletakkan buku yang sejak tadi dibacanya ke atas meja. Pandangannya beralih pada tumpukan kain, kemudian kepada istrinya yang tengah cemberut manis. Lelaki itu bangkit berdiri, melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan meraih selembar kain sutra berwarna merah tua yang pekat. Shen Mo berlutut pelan di samping kursi Xiwu, lalu menyejajarkan kain merah itu di samping pipi mulus istrinya. Ia mengamati sesaat, lalu mengangguk mantap. "Ini cocok." Xiwu menyipitkan mata. "Sungguh?" Tanpa menjawab, Shen Mo mengembalikan kain merah itu dan meraih lembaran lain. Sehelai sutra berwarna biru gelap berhias benang perak. Ia kembali menyejajarkannya di dekat wajah Xiwu. "Ini juga cocok," ujarnya polos.

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 09. Di Antara Dua Pedang.

    “Gege!”Suara Shen Yuze memecah kebisingan, tetapi Shen Mo tidak menyahut. Lelaki itu bergerak dalam keheningan yang mematikan.Setiap ayunan pedangnya presisi, menjatuhkan lawan dengan satu tebasan tanpa satu pun gerakan sia-sia. Medan pertempuran seolah terbelah secara alami s

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 08. Pertemuan di Perbatasan.

    Debu halus terangkat ke udara setiap kali roda kereta menyapu tanah tandus perbatasan yang retak.Di belakang, barisan pasukan Liyang berdiri kaku bagai monumen bisu, sementara di sisi lain, bendera Beishan berkibar tajam. Suaranya seperti cambuk yang membelah angin gersang.Kereta Xiwu berhenti. S

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 07. Langkah yang Tidak Bisa Ditarik Kembali.

    Langkah mereka terdengar teratur di sepanjang koridor istana yang panjang, gema sepatu mereka berbalas dengan dinding batu yang dingin. Tirai sutra tergantung di antara pilar-pilar merah, bergoyang pelan tertiup angin sore.Roulan berjalan di samping Gu Han, sedikit di depan, suaranya mengalir ring

  • Takdir Kedua Sang Putri Mahkota   Bab 06. Aku Tidak Memilihmu.

    Yun Que masuk dengan langkah cepat, peluh membasahi dahinya meski udara paviliun masih sejuk oleh dupa yang baru dinyalakan.“Yang Mulia!”Ia berhenti di tengah ruangan, napasnya belum sepenuhnya stabil, seolah ragu apakah kabar itu layak diucapkan.Xiwu mengangkat pandangan, tenang seperti biasa k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status