LOGINJemarinya gemetar ketika akhirnya Roulan membuka gulungan kertas yang ditinggalkan Gu Ning.Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika menatap potret wajah yang terlukis indah di atas kertas tersebut.“Li… Xiwu,” gumamnya nyaris tidak terdengar.Roulan mengusap tepian kertas yang terasa agak lusuh. Ada bekas lipatan halus di beberapa bagian, sementara permukaan kertas di sekitar lukisan tampak sedikit lebih kusam daripada bagian lainnya.Seolah-olah potret itu bukan sekadar lukisan yang disimpan di dalam sebuah gulungan.Seseorang telah berkali-kali menyentuhnya dan Roulan tahu persis siapa orang itu.Gu Han.Roulan menahan napas. Pandangannya tidak beranjak dari wajah Xiwu yang terlukis indah di hadapannya.Guratan pada lukisan itu begitu halus. Hampir menyerupai wajah aslinya. Senyum tipis yang menghiasi bibir Xiwu, sorot mata lembut, bahkan helaian rambut yang jatuh di sisi pipinya digambarkan dengan begitu teliti.Terlalu indah untuk sebuah lukisan yang dibuat tanpa alasan.Roulan
“Lukanya sudah kering. Kenapa kau terus memaksaku menggunakan salep itu lagi?”“Yang Mulia, salep yang ini berbeda dengan salep sebelumnya. Salep ini khusus untuk menghilangkan bekas lukanya,” sahut Yun Que telaten, makin mendekatkan wajah demi mengoleskan tipis-tipis salep di kulit pipi Yuze.Makin Yuze berusaha mengalihkan pandangan dari wajah Yun Que yang kini terpaut begitu dekat dengannya, semakin sering pula matanya melirik pada iris mata pelayan itu secara refleks.“Apa masih lama? Kakak ipar menunggu kita di luar,” gumam Yuze, berdeham pelan untuk menutupi kecanggungannya.“Sebentar lagi, Yang Mulia.”“Lagipula, aku ini lelaki. Wajar kalau memiliki sedikit bekas luka.”Yun Que menggeleng. “Wajah Yang Mulia adalah hal yang sangat berharga. Bahkan semua orang tidak boleh menatapnya langsung. Jadi, Yang Mulia harus menjaga baik-baik wajah Yang Mulia.”Jantung Yuze berdesir pelan. Ia berdeham lagi, lalu membuang muka ke arah lain dengan pura-pura acuh. “Apa menurutmu, wajahku ini
Malam telah turun. Cahaya lentera yang menggantung di sepanjang koridor memantulkan bayangan panjang di lantai batu, sementara udara membawa aroma bunga malam dari taman yang mulai sunyi. “Yang Mulia, makan malam akan segera dihidangkan. Apa Yang Mulia ingin membersihkan diri terlebih dahulu?” Roulan hanya melirik sebelum akhirnya berkata, “Ya, aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu.” Pelayan membungkuk lalu maju selangkah. Dengan hati-hati, ia melepaskan tusuk rambut giok putih yang sejak sore menghiasi kepala Roulan. Setelah itu, jemarinya perlahan membuka sanggul yang tertata rapi, membiarkan rambut hitam Roulan jatuh melewati punggungnya. Satu per satu perhiasan yang melekat di tubuh Roulan kemudian dilepaskan. Cincin dari jemarinya, gelang dari pergelangan tangannya, hingga kalung yang melingkar di lehernya. “Hapus riasanku.” “Baik, Yang Mulia.” Roulan membiarkan pelayan membersihkan sisa riasan di wajahnya. Kain lembut yang dibasahi air hangat perlahan menyapu pipi d
“Seharusnya sedari awal Yang Mulia menolak undangan itu.”Xiwu tidak berkomentar. Ia hanya melirik Yun Que yang sibuk memilah dan menyusun potongan kain sesuai dengan warnanya.“Sejak kepergian Yang Mulia, Jenderal Gu selalu saja menunda pernikahannya dengan Yang Mulia Putri Roulan. Hamba tidak suka mereka mengaitkan masalah Jenderal Gu dengan Yang Mulia Putri Mahkota.”“Mereka?” Xiwu menaikkan sebelah alisnya.Yun Que mengangguk. “Semua pelayan dan prajurit istana selalu membicarakan itu. Mereka mengatakan Jenderal Gu cemburu karena Yang Mulia Putri Mahkota menikah dengan lelaki lain.”“Ternyata setelah kepergianku ke Beishan, Liyang tidak benar-benar tenang.”“Yang Mulia sudah sangat berbahagia dengan Yang Mulia Pangeran Mahkota, tidak perlu memikirkan Jenderal Gu lagi.”Xiwu tertawa pelan. “Seingatku, dulu kau yang terus berusaha melarangku menikahi Shen Mo. Sekarang kau sudah berbalik arah rupanya.”Sebelum menyahut, Yun Que terlebih dahulu menoleh ke arah pintu yang terbuka, di m
Meja pualam bundar diletakkan di tengah gazebo, dikelilingi empat kursi kayu berukir yang menghadap langsung ke kolam teratai.Beberapa pelayan berdiri tidak jauh dari sana, sementara seorang dayang sibuk menuangkan air panas ke dalam poci porselen yang telah diisi kuntum bunga krisan.Roulan telah duduk di salah satu sisi meja bersama Gu Han. Ia mengenakan hanfu berwarna biru muda dengan sulaman bunga plum pada bagian lengan.Rambutnya ditata sederhana, disempurnakan oleh tusuk rambut giok putih yang biasa dikenakannya.Di hadapannya telah tersedia beberapa piring berisi buah-buahan segar, dan kue-kue kecil yang sengaja dipilihnya sendiri untuk jamuan sore itu. Semuanya telah ditata sempurna.Sesekali pandangan Roulan bergulir ke arah jalan setapak di luar paviliun.Menanti.Hingga tak lama kemudian, derap langkah teratur terdengar dari kejauhan. Roulan segera menoleh.Dari ujung lorong, Xiwu dan Shen Mo berjalan berdampingan menuju taman. Di belakang mereka, Shan Liang dan Yun Que m
Xiwu menopang dagunya di atas meja pualam, menatap pasrah pada tumpukan potongan kain warna-warni yang menggunung di hadapannya. "Kenapa A’Que membawa sebanyak ini? Aku jadi bingung,” gumam Xiwu seraya membolak-balik selembar kain sutra merah muda. “Momo, apa kau bisa membantuku?” Shen Mo meletakkan buku yang sejak tadi dibacanya ke atas meja. Pandangannya beralih pada tumpukan kain, kemudian kepada istrinya yang tengah cemberut manis. Lelaki itu bangkit berdiri, melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangan meraih selembar kain sutra berwarna merah tua yang pekat. Shen Mo berlutut pelan di samping kursi Xiwu, lalu menyejajarkan kain merah itu di samping pipi mulus istrinya. Ia mengamati sesaat, lalu mengangguk mantap. "Ini cocok." Xiwu menyipitkan mata. "Sungguh?" Tanpa menjawab, Shen Mo mengembalikan kain merah itu dan meraih lembaran lain. Sehelai sutra berwarna biru gelap berhias benang perak. Ia kembali menyejajarkannya di dekat wajah Xiwu. "Ini juga cocok," ujarnya polos.
“Hati-hati, turunkan semuanya,” titah Gao De memperhatikan satu per satu kotak diturunkan dari kereta. Ia melongok ke dalam kereta, lalu mendekati Gu Han yang berdiri mematung.“Jenderal Gu, semua kotak sudah hamba turunkan sesuai dengan permintaan Putri Mahkota Li Xiwu.”Gu Han diam. Matanya mena
“Yang Mulia.”Suara itu cukup untuk membuat seluruh ruangan terasa menegang. Kasim yang berjaga di dalam mundur beberapa langkah. Gao De yang berada di sisi ruangan pun menunduk lebih dalam dari biasanya.Tangan Kaisar Li Zhenyuan masih berada di atas gulungan laporan yang belum selesai dibaca, te
“Yang Mulia Putri Mahkota tiba.”Tanpa menunggu izin lebih lanjut, Xiwu melangkah masuk. Di dalam, Roulan sudah berdiri. Gadis itu tampak sedikit terkejut, tetapi dengan cepat menenangkan diri.Ia segera menunduk hormat, gerakannya halus, hampir seperti kebiasaan yang telah melekat sejak lama. “Ham
Langkahnya tenang ketika keluar dari aula utama. Dadanya pun terasa lebih longgar.Langit yang sejak pagi kelabu akhirnya runtuh, mengguyur halaman istana dengan deras. Menemani keputusan yang diambil Xiwu dengan penuh kesadaran.Di sampingnya, Yun Que segera membuka payung, menyesuaikan langkah ag







