Share

Bab 10

Author: Sena
Hari keberangkatan di tiket pesawat itu bertepatan dengan hari ketika Bima mengusulkan untuk mendaftarkan pernikahan mereka.

Laila sudah bersiap sejak pagi. Ia mengambil satu-satunya tas terakhir yang tersisa di apartemen itu. Ia berdiri di depan pintu, lalu menoleh untuk terakhir kalinya ke tempat yang telah ia huni lebih dari empat tahun itu. Kemudian tanpa ragu sedikit pun, ia berbalik dan melenggang pergi.

Laila memang tidak berniat mendaftarkan pernikahan dengan Bima. Tapi bagaimana pun juga, mereka pernah saling mencintai, jadi ia ingin memberi dirinya sendiri sebuah penutupan.

Maka, hari itu ia datang lebih awal dan duduk sendirian di kursi Kantor Catatan Sipil, menunggu Bima.

Jam 8.00, sebuah pesan masuk dari Bima.

[Maaf, Laila, jalanan macet. Aku bakal terlambat.]

Jam 9.00, Aya mengunggah status di media sosial.

[Maafkan aku, sayang. Jika aku tak bisa memberimu keluarga yang utuh, maka aku lebih memilih tidak membiarkan kamu datang ke dunia ini.]

Disertai foto bukti pendaftaran aborsi.

Jam 10.00, Laila menelepon Bima, tapi ditolak. Kemudian ia menelepon sopir. Sang sopir mengangkat, dengan gugup mengatakan bahwa Bima sedang berada di rumah sakit.

Jam 11.00, sebuah video viral muncul di internet dengan judul, [Seorang CEO menemani kekasihnya dengan penuh kelembutan.]

Laila membuka video yang tersebar itu. Di layar ponselnya, menampilkan Bima yang sedang melindungi perut Aya dengan satu tangan, ekspresi wajahnya penuh kelembutan.

“Hati-hati tangganya, pelan-pelan ya, sayang,” katanya dalam video itu.

Dan di sampingnya, Aya tersenyum bahagia.

Jam 12.00, Aya mengirim pesan ke Laila. Pesan itu berisi foto Bima yang sedang memeluknya.

[Kamu tidak sedang menunggu sendirian di Kantor Catatan Sipil, kan? Hehe. Kalau iya, tunggu saja sampai dunia berakhir.]

Tentu saja Laila tak perlu menunggu sampai dunia berakhir. Pesawatnya berangkat pukul dua siang. Jika tidak segera ke bandara, ia akan tertinggal.

Laila pun menarik napas pelan, lalu mengeluarkan buku catatannya. Membuka halaman terakhir yang masih kosong, lalu ia menulis dengan perlahan.

[Memaafkan ke-99. Aku memaafkannya karena tidak lagi mencintaiku.]

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan satu baris lagi.

[Semua kesempatan telah habis. Aku tidak akan pernah memaafkan Bima lagi.]

Setelah menulisnya, ia menutup buku itu dan meletakkan cincin dari Bima di atasnya.

Seorang petugas yang melihatnya sendirian, tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Nona, Anda mau mengurus pendaftaran pernikahan? Apa suami Anda terhalang sesuatu?”

“Mungkin,” jawab Laila sambil tersenyum tipis.

Ia menatap petugas itu dan berkata dengan nada ringan, “Bisa tolong sampaikan buku catatan dan cincin ini kepada seseorang bernama Bima Brahmana?”

“Bima Brahmana? Suami Anda?”

“Bukan,” jawab Laila. “Dia hanya orang asing.”

Begitu kata-kata itu terucap, Laila bangkit tanpa ragu dan melangkah pergi.

Kota Jaya memang selalu diselimuti hujan, tak terkecuali hari ini. Di tengah gerimis yang turun tanpa henti, Laila melangkah maju dengan kepala tegak, hingga sosoknya perlahan menghilang di antara kerumunan.

Selamat tinggal, Kota Jaya. Mulai hari ini, aku tak punya ikatan lagi dengan kota ini…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 29

    Acara pertunangan Laila dan Hendri digelar dengan suasana yang hangat dan penuh keintiman. Meski hanya pertunangan, Hendri tetap mengundang tim perancang busana internasional ternama dan secara khusus meminta mereka merancang gaun pertunangan untuk Laila.Seorang gadis memang tak pernah bisa tahan jika dihadapkan dengan pakaian yang indah, terlebih lagi Laila sendiri berlatar belakang desain. Saat mengenakan gaun itu, hati Laila langsung dipenuhi kegembiraan. Ia bahkan spontan berjinjit dan mengecup pipi Hendri.“Pak Hendri benar-benar royal. Terima kasih!”Setelah ciuman di pipi itu, Laila hendak pergi, namun Hendri segera menariknya kembali ke dalam pelukan sambil tersenyum nakal.“Ucapan terima kasihmu terlalu asal. Aku tidak terima.”Laila tertawa. “Lalu Pak Hendri mau yang seperti apa?”Hendri mendekat ke telinga Laila, berbisik pelan, “Malam ini…”Wajah Laila langsung memerah. Setelah mendengar kelanjutannya, ia melotot kesal.“Dasar mesum!”Hendri tertawa lepas, lalu mencuri dua

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 28

    Hubungan asmara Laila dan Hendri terjalin secara alami. Tak ada pengakuan cinta yang resmi, tak ada momen dramatis yang dibuat-buat. Perasaan di antara mereka tumbuh perlahan, seperti aliran air yang tenang namun pasti.Di hari rancangan akhir pemandian air panas disetujui, seluruh tim berkumpul untuk merayakan keberhasilan itu dalam sebuah jamuan. Di tengah suasana hangat dan tawa yang riuh, Hendri tiba-tiba mengeluarkan sebuah cincin berlian besar, berkilau sebesar telur merpati. Lalu, dengan sedikit pengaruh alkohol, mengangkatnya ke hadapan Laila.“Laila, maukah kamu menikah denganku?”Lukas yang melihat pemandangan itu langsung mendengus dingin. “Menikahi adikku tidak semudah itu. Kamu pikir cukup dengan cincin murahan seperti itu?”Tak disangka, Hendri sudah menyiapkan semuanya. Ia kemudian memberi isyarat singkat pada asistennya, dan tak lama kemudian sebuah map tebal diserahkan ke tangannya. Hendri langsung mengoper map itu ke Lukas.“Ini dua puluh persen saham perusahaanku. Su

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 27

    Mendengar semua kebenaran yang diucapkan Bima, bukan hanya terkejut, tapi Laila juga merasa semuanya begitu tak masuk akal. Hal-hal yang dulu tak pernah bisa ia pahami, kini justru menjadi jelas dalam sekejap. Ternyata Bima bukan tiba-tiba berhenti mencintainya, melainkan sejak awal, Bima memilih untuk tidak lagi mencintainya.Laila terkekeh pelan seraya berkata, “Jadi selama ini kamu yakin aku akan selalu berada di sisimu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena kamu merasa aku berutang padamu, ya?”“Kamu menganggapku sebagai kompensasi dari Keluarga Permata, sebagai barang yang seharusnya menjadi milikmu, benar begitu?”Bahasanya kasar, tapi logikanya tepat. Bima terdiam, tak ada satu kata pun sanggahan keluar dari mulutnya.Saat itu juga, Laila benar-benar memahami situasi. Ia menatap Bima, menelusuri wajahnya dengan saksama. Seolah Laila melihatnya untuk terakhir kali.“Bima, sekarang aku sadar, selama ini aku tidak benar-benar memahamimu. Mungkin selama bertahun-tahun ini, yang k

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 26

    Pupil mata Aya mendadak membesar. Pertanyaan yang datang tiba-tiba itu membuat suaranya mulai bergetar.“A-aku… aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan.”Laila melanjutkan dengan nada bicara yang stabil dan tenang, “Kamu menyuap dokter di Kota Jaya untuk memalsukan semuanya. Karena itu, di setiap momen penting kamu selalu mengeluh perutmu sakit, agar Bima datang menemui kamu. Kalau tebakanku tidak salah, pada hari kami hendak mendaftarkan pernikahan pun, kamu sengaja membesar-besarkan kondisimu, sampai-sampai Bima begitu khawatir dan lupa sama sekali untuk pergi ke Kantor Catatan Sipil, benar bukan?”Sebenarnya, Laila sudah lama mencurigai hal ini. Sejak melihat Aya mampu bangun dan bergerak dengan leluasa sesaat setelah "operasi keguguran" selesai. Apalagi dia juga sempat melihat Aya diam-diam menyelipkan uang tunai kepada dokter yang menanganinya di rumah sakit, kecurigaan Laila menjadi semakin kuat.Ia pun mencoba menguji kebenarannya. Laila menyiapkan uang 40 juta dan memberikan

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 25

    “Tidak mungkin! Kamu pasti bicara seperti itu karena kamu masih marah!”Bima sama sekali tidak bisa menerima jawaban Laila. Selama ini, dia berani bersikap semena-mena dan bermain gila-gilaan dengan Aya, itu berdasarkan satu keyakinan mutlak bahwa Laila cinta mati padanya. Termasuk saat Laila kembali ke Kota Hana. Bima terus mengganggu Laila, terus memaksakan diri muncul di hadapan Laila, karena ia yakin Laila masih mencintainya.Namun, tadi Laila lebih memilih Hendri ketika bahaya datang, dan kata-kata yang ia ucapkan tanpa ragu itu benar-benar membuat Bima merasakan kepanikan mutlak untuk pertama kalinya.Laila kembali berbicara, suaranya masih tenang dan tegas. “Aku tidak sedang bicara karena emosi. Semua yang kukatakan adalah kebenaran.”Bima yang sudah kehilangan kendali tetap menggeleng keras, menolak percaya kalimat-kalimat yang diucapkan Laila.“Baik! Kalau begitu katakan padaku, sejak kapan kamu tidak mencintaiku? Dan kenapa?”“Sejak pertama kali aku tahu tentang hubungan gela

  • Takdir Memisahkan Kita   Bab 24

    Setelah acara lelang berakhir dan jamuan malam dimulai, Laila baru melangkahkan kaki untuk keluar ketika seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh, dan mendapati Bima berdiri di sana. Di tangan Bima tergenggam gelang giok jadeite yang baru saja ia menangkan dalam lelang. Kemudian ia mengulurkannya ke arah Laila.“Laila, kamu sudah 99 kali memaafkanku, aku bersedia menebus semuanya satu per satu, asal kamu mau memberiku satu kesempatan lagi.”“Cincin lamaran yang kuberikan padamu itu sebenarnya sudah kupilih sejak beberapa tahun lalu. Meski tidak besar, itu adalah wujud niatku untuk menikahimu. Sedangkan yang diperlihatkan Aya padamu, itu dia beli sendiri dengan kartu kreditku. Aku tahu hal itu sangat melukaimu, jadi anggap saja gelang giok ini sebagai permintaan maafku.”Setelah berpisah dengan Laila, Bima justru semakin menyadari betapa baiknya Laila padanya, dan betapa penting keberadaan Laila dalam hidup Bima. Bima dengan cepat dapat memastikan satu hal, ia tak bisa keh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status