LOGIN"Sialan..." umpat Olivia lirih.
Suaranya nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri yang berdegup kencang bagai dihantam palu. Tubuhnya yang terbaring kaku di lantai gua berkerikil mendadak tak sanggup digerakkan. Rasa lelah dan kelaparan yang melilit perutnya mendadak menguap, tergantikan oleh ketakutan murni.
Dua titik cahaya merah menyala itu makin mendekat. Bayangan besar berbulu lebat perlahan keluar dari kegelapan ceruk gua. Seekor Monster Berduri, monster tingkat rendah yang sering ditulis dalam novel The Legend of Astra, sedang menatapnya dengan liur yang menetes ke tanah.
"Kenapa harus ketemu monster di saat tubuhku begini?!" ringis Olivia seraya merayap mundur perlahan di tanah lembap.
Groarrr!
Monster itu menggeram rendah, memamerkan deretan taring tajam yang berkilat di bawah tembusan cahaya bulan dari mulut gua. Langkah kakinya yang berakar kuku tajam mengikis batuan gua dengan bersuara nyaring.
"Jangan mendekat..." bisik Olivia, tangannya bergerilya cepat di lantai gua, mencari benda apa pun untuk dijadikan senjata.
Jemarinya menyentuh gagang pisau dapur kusam yang sempat ia selipkan di balik celemeknya. Tanpa berpikir panjang, Olivia menyambar pisau itu dan menegakkan tubuhnya, berlutut sambil memasang kuda-kuda gemetar.
Monster Berduri itu melompat menerjang!
"Pergi!" teriak Olivia histeris.
Olivia mengibaskan pisau dapurnya secara liar ke udara. Ujung pisau kusamnya tak sengaja menggores hidung monster tersebut.
Yelp!
Monster itu melompat mundur, memekik kesakitan saat darah segar menetes dari hidungnya. MATA merahnya makin berapi-api, tersulut amarah yang luar biasa.
"Berhasil?" gumam Olivia tak percaya, menatap pisau berdarah di tangannya.
Namun, kegembiraan singkat itu sirna seketika. Monster itu kembali mengambil ancang-ancang, siap melancarkan serangan balasan yang jauh lebih mematikan. Duri-duri tajam di punggungnya berdiri tegak.
Olivia menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya yang kurus kering tak akan sanggup menahan satu cengkeraman lagi. Tenaganya sudah berada di titik nol.
"Kalau aku mati di sini... perjalanan transmigrasiku konyol sekali," ringisnya seraya mengepalkan tangan erat-erat.
Tepat saat Monster itu melompat untuk menerkam lehernya, sebuah siulan nyaring memecah keheningan malam dari arah luar gua!
Tuk!
Sebuah anak panah berujung besi meluncur melintasi kegelapan, menancap tepat di mata kiri Monster Berduri tersebut!
Auuuowww!
Monster itu meraung kesakitan, limbung di udara sebelum akhirnya ambruk membentur dinding gua dengan keras. Ia menggeliat sebentar di tanah sebelum akhirnya kaku tak bernyawa.
Olivia melongo tak percaya, dadanya naik turun memburu napas. "Anak panah?"
Derap langkah kaki terburu-buru mendekat dari mulut gua. Olivia refleks menggenggam pisaunya makin erat, memundurkan tubuhnya rapat ke dinding batu.
"Di dalam sini! Suaranya dari gua ini!" teriak sebuah suara asing dari luar.
"Periksa cepat! Jangan sampai buruan kita lepas!" sahut suara lainnya.
Dua obor api dinyalakan, menerangi kegelapan gua yang pengap. Dua orang pria berbadan tegap dengan pakaian pemburu dari kulit binatang melangkah masuk. Di tangan mereka menggenggam busur panah dan tombak.
Pria bermata satu yang memegang busur menatap bangkai Monster Berduri, lalu mengalihkan pandangannya pada Olivia yang terduduk lemah dengan wajah penuh jelaga dan darah.
"Cuma anak pelayan miskin?" gumam pemburu bermata satu itu terheran-heran. "Hei, Gadis kecil! Apa yang kamu lakukan di dalam gua tempat bersarangnya monster?!"
Olivia menatap kedua pemburu itu dengan waspada. "Saya... saya cuma menumpang tidur..."
"Menumpang tidur?" pemburu kedua tertawa keras. "Kamu hampir jadi makan malam monster ini, Bodoh! Kamu kabur dari mana malam-malam begini dengan baju kumuh begitu?"
"Saya dari Perbatasan Vance," sahut Olivia jujur, mencoba menyusun kebohongan yang masuk akal. "Kedai tempat saya bekerja diserbu prajurit. Saya takut dan lari ke hutan."
Kedua pemburu itu saling pandang sejenak. Pemburu bermata satu menurunkan busurnya, lalu mendekati Olivia dan menatap kantong celemeknya yang agak menggembung.
"Perbatasan Vance sedang kacau karena penggeledahan militer," ucap pemburu bermata satu itu pelan. "Tapi tunggu... apa yang ada di balik kain celemekmu itu?"
Olivia refleks menutup celemeknya dengan kedua tangan. "Bukan apa-apa! Cuma kain lap!"
"Jangan bohong!" pemburu kedua melangkah maju, mengacungkan tombaknya tepat ke dada Olivia. "Serahkan barang berhargamu kalau mau selamat! Kami tidak menolongmu secara gratis!"
Rasa takut kembali menyelimuti dada Olivia. Baru saja lepas dari cengkeraman Grok, prajurit, dan monster, kini ia berhadapan dengan pemburu liar yang rakus!
"Saya tidak punya uang banyak!" seru Olivia seraya memundurkan langkahnya yang sudah mentok di dinding batu.
"Geledah dia!" perintah pemburu bermata satu.
Pemburu bertombak merangsek maju dan menarik kasar celemek Olivia. Tali celemek itu putus! Kantong kain berisikan satu keping perak hadiah dari Kapten Brandon terpelanting jatuh ke lantai gua.
CLINK!
Bunyi kepingan perak yang beradu dengan batu menggema nyaring.
"Satu keping perak murni!" pemburu bermata satu menyambar uang itu dari tanah dengan mata berbinar serakah. "Anak pelayan miskin dari mana yang punya perak seberharga ini?!"
"Kembalikan!" jerit Olivia histeris, berusaha merebut uangnya kembali. "Itu uang saya untuk beli makanan!"
PLAK!
Pemburu bertombak menampar pipi Olivia hingga gadis itu tersungkur ke lantai batu. Bibirnya pecah menyisakan rasa amis darah di mulutnya.
"Tutup mulutmu, Gadis!" bentak pemburu itu garang. "Uang ini jadi bayaran karena kami sudah menyelamatkan nyawamu dari Monster! Mengerti?!"
Olivia mengusap sudut bibirnya yang berdarah, menatap kedua pemburu itu dengan tatapan membunuh. Kepingan perak itu adalah satu-satunya harapannya untuk bertahan hidup di dunia jahat ini. Jika uang itu hilang, ia akan mati kelaparan di jalanan.
"Serahkan perak itu..." mendesis Olivia, suaranya mendadak berubah sangat dingin.
"Apa katamu?" pemburu bermata satu terkekeh mengejek. "Kamu mau melawan kami dengan pisau dapur tumpulmu itu?"
"Aku bilang... kembalikan!"
Olivia menyambar segenggam pasir gua dan melemparkannya ke wajah pemburu bertombak.
"Argh! Mata saya!" jerit pemburu itu seraya mundur sempoyongan.
Olivia melompat maju, meraih pisau dapurnya dan menusukkannya ke paha pemburu bermata satu!
JLEB!
"Ugh! Sialan kamu, Pelayan gila!" pangkas pemburu bermata satu seraya meringis kesakitan. Uang peraknya terlepas dan menggelinding ke arah ceruk gua yang lebih dalam.
"Uangku!" seru Olivia seraya merayap mengejar kepingan peraknya.
Ia berhasil meraih kepingan perak itu di dalam kegelapan. Namun, saat Olivia hendak berbalik untuk kabur, suara gemuruh hebat mendadak terdengar dari atas langit-langit gua!
BOOM!
Batuan atap gua retak dan berjatuhan akibat guncangan hebat dari luar. Pemburu yang murka mendadak menghentikan langkahnya, menatap ke atas dengan wajah pucat pasi.
"Tanah longsor?!" teriak pemburu itu panik.
"Lari keluar! Gua ini mau runtuh!" seru temannya seraya berlari kencang menuju pintu keluar.
Batu-batu raksasa berjatuhan dari atap, menutupi jalan keluar gua dengan cepat. Olivia terperangkap di dalam ceruk gua yang makin gelap dan menyempit!
"Tidak! Pintu keluarnya!" jerit Olivia panik.
BRUK!
Sebuah batu besar jatuh persis di depan mata Olivia, menyumbat total celah udara dan mengurungnya di dalam kegelapan abadi bersama debu tebal yang membumbung tinggi.
Sinar matahari pagi yang menembus kaca patri tinggi ruang sidang utama mansion Vance tak mampu mencairkan udara dingin yang mengendap di sana. Di tengah ruangan, sebuah meja panjang berpelitur kelam menjadi pembatas tegas antara kekuasaan, keadilan, dan persidangan.Tetua Catherine duduk tegak dengan kipas lipat sutra bermotif keemasan di genggamannya, sementara Tetua Roderick sesekali mengelus janggut putih panjangnya seraya menatap dingin ke satu titik. Di ujung meja yang berseberangan, Julian berdiri tegap dengan jubah hitam kebesarannya, memegang map tebal bersampul kulit. Sementara itu, di tengah ruangan, Lady Margaret berdiri diapit dua pengawal berzirah baja tegap, wajah cantiknya mengeras tanpa penyesalan."Julian, apa sebenarnya arti dari semua pementasan drama pagi ini?" tegur Tetua Catherine dengan suara tinggi yang bergema di langit-langit batu. "Menahan pengawas mansion di kamarnya sendiri dan memanggil seluruh pekerja dari sayap dapur hingga kebun?""Ini bukan drama, Tet
BAB 18KELEMBUTAN SANG BARONJulian masih menggenggam kain kasa basah. Jemarinya bergerak amat pelan, mengusap sisa noda karat dan bercak darah kering di pelipis Olivia. Setiap kali jari ramping sang Baron tak sengaja menyentuh kulit halus itu, napas Olivia mendadak tertahan.Kamar di sebelah ruangan pribadi Julian ini amat hening. Udara dingin malam tertahan di luar kaca jendela yang tebal, tergantikan oleh wangi lembut minyak kayu cendana dan aroma rosemary yang samar dari perapian."Tuan... Baron..." bisik Olivia parau. Tenggorokannya terasa seperti tergores pasir kasar."Jangan banyak bergerak dulu," potong Julian cepat. Suaranya rendah, jauh dari nada menggelegar yang beberapa menit lalu meruntuhkan pintu besi di ruang bawah tanah. "Dokter Smith sedang mengambil ramuan penawar nyeri yang lebih kuat di ruang medis."Olivia memalingkan wajahnya sedikit, mencoba menatap langit-langit berukir rumit. Tempat tidur berkanopi ini terlalu mewah. Kasurnya begitu empuk, amat berbanding terb
"Racun! Pengawal, tangkap wanita ini!" teriakan Bibi Margaret memecah kekacauan di aula makan malam.Suasana berubah menjadi kepanikan massal. Tetua Henry masih terbatuk hebat, kejang di atas lantai marmer dengan busa bercampur bercak darah di sudut bibirnya. Garis-garis kehitaman di lehernya kian menjalar. Tetua Roderick dan Catherine mengundur mundur dari meja makan, wajah mereka diliputi ketakutan dan amarah."Julian! Selamatkan Tetua Henry!" seru Tetua Roderick dengan suara bergetar."Seseorang panggil Dokter Smith! Dan juga panggil penyihir penyembuh sekarang juga!" perintah Julian tegas seraya menahan tubuh Tetua Henry agar tidak tersedak cairannya sendiri. Matanya sekilas melirik Olivia yang berdiri mematung di sudut ruangan, wajah gadis itu pucat pasi bagai mayat."Julian, tidak ada waktu lagi!" sela Margaret dengan nada tajam. "Gadis kedai kumuh ini jelas-jelas penyusup yang berniat menghabisi para tetua! Aku akan mengurusnya sendiri sebelum dia mencoba melarikan diri!""Tung
Olivia menunduk sopan di hadapan para tetua sebelum melangkah keluar dari aula makan malam. Gesekan pintu jati tebal yang tertutup rapat di belakangnya seolah menjadi batas antara tekanan politik aula dan kebebasan di wilayah alkimia kuliner. Ia menghela napas panjang, menetralkan denyut jantungnya yang melaju kencang.Langkah kakinya mantap menyusuri koridor batu dingin menuju Dapur Sayap Barat. Pemandangan di dalam dapur kali ini berubah drastis. Asisten koki senior yang tadinya hanya berdiri bersedekap dan mencibir kini bergerak canggung dan serba salah. Hans, asisten koki tertua dengan jemari yang penuh kapalan, berdeham pelan seraya mendekati Olivia."Nona Olivia..." panggil Hans dengan nada suara yang jauh lebih segan. "Kami melihat reaksi Tetua Henry dan lainnya dari balik tirai. Maafkan atas kesombongan dan sikap kasar kami sebelumnya."Olivia tersenyum hangat, mengibaskan tangannya pelan. "Tidak apa-apa, Tuan. Yang terpenting sekarang adalah menyajikan hidangan utama dan penu
Julian mempererat cengkeraman jarinya pada jemari Olivia yang terasa makin dingin di sampingnya. Tatapan matanya tak berkedip menatap Margaret yang berdiri angkuh di puncak tangga marmer."Aku tidak pernah kehilangan akal sehatku, Bibi," ujar Julian dingin, menekan setiap kata. "Pilihan kokiku adalah hak mutlakku sebagai penguasa Mansion Vance."Margaret melipat kedua tangannya di dada, melayangkan senyum meremehkan. "Hak mutlak? Julian, jangan lupa bahwa tradisi keluarga Vance mewajibkan setiap kepala koki diuji oleh pengawas kediaman sebelum melangkah ke dapur utama. Apa kau lupa aturan itu? Memang saat ini jabatan itu kosong akibat Robert pensiun. Tapi bukan berarti kau bisa memungut sembarangan lalu menjadikannya koki utama di sini."Olivia bergeser pelan, berdiri sejajar di samping Julian. Meskipun wajahnya pucat, sorot matanya yang cokelat jernih tetap memancarkan ketenangan luar biasa."Tuan Baron," bisik Olivia pelan, memanggil dengan nada lembut yang menenangkan gejolak emosi
POV: Julian VanceKereta kuda Keluarga Vance akhirnya melewati gerbang besi hitam raksasa dengan lambang serigala emas. Dari balik jendela kaca berlapis sutra, aku bisa melihat napas Olivia yang tertahan pelan. Mata cokelatnya yang biasa memancarkan ketenangan kini berbinar takjub menatap sekeliling."Ini... tempat tinggal Anda, Tuan Baron?" bisiknya hampir tak terdengar.Aku tersenyum tipis. "Selamat datang di kediamanku, Olivia. Dan kumohon, panggil aku Julian..." Melihat senyum canggung di bibirnya, aku makin yakin dia akan tetap memanggilku Tuan Baron.Kereta melaju perlahan menelusuri jalan setapak berkerikil putih yang membelah kawasan perkebunan mansion. Di sisi kiri dan kanan, pepohonan ek tua berdiri megah menaungi hamparan kebun bunga mawar putih dan mawar biru yang mekar sempurna. Kelopak-kelopak bunga yang basah disapa embun memancarkan aroma manis yang menenangkan, beradu dengan aroma kayu pinus dari perbukitan belakang kawasan."Tempat ini sangat luas... dan asri sekali







