Home / Fantasi / Takdir sang Nona Pewaris / Bab 130 Sandaran Hidup

Share

Bab 130 Sandaran Hidup

Author: Nadira Dewy
last update publish date: 2026-09-19 19:24:16
Sejak beberapa hari terakhir, Ailin mulai memperhatikan perubahan Tuan Ken.

Pria itu memang tidak berubah secara terang-terangan. Ia masih bekerja seperti biasa, masih berbicara seperlunya, dan masih menjalankan urusan rumah tangga tanpa banyak mengeluh.

Namun bagi seorang istri yang sudah agak lama hidup bersamanya, perubahan kecil tetap sulit disembunyikan.

Tuan Ken lebih sering berada di ruang kerjanya dan yang paling mengganggu pikiran Ailin adalah satu hal.

Beberapa kali ia melihat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 133 Saling Bertentangan

    Pagi itu, Ailin sebenarnya tidak berniat mencari Linira. Ia hanya ingin memastikan Tuan Ken benar-benar pergi bekerja. Namun ketika melewati lorong samping rumah, langkahnya tiba-tiba terhenti. Dari kejauhan, ia melihat Tuan Ken berdiri di dekat pintu samping, dan di hadapannya adalah Linira. Ailin membeku. Lagi-lagi Putrinya berdiri terlalu dekat dengan Tuan Ken. Bahkan ketika Tuan Ken hendak pergi, Linira masih menahannya dengan berbagai alasan kecil. “Tuan Ken, hati-hati.” “Aku tahu.” “Jangan terlalu memaksakan diri.” Tuan Ken hanya mengangguk, lalu Linira mencium pipi dan bibirnya. “Sampai jumpa nanti malam, sayang...” Tuan Ken tersenyum. “Iya, jaga dirimu.” Ailin mengepalkan tangan. Pemandangan itu saja sudah cukup membuat dadanya sesak. Tujuh hari, selama tujuh hari itu dia seperti orang bodoh, ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua kecurigaannya salah. Ia berusaha percaya kepada putrinya. Tetapi sekarang, ia tidak bisa lagi memejamkan mata.

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 132 Desahan Kebenaran

    Selama tujuh hari, Ailin tidak mengatakan apa pun kepada Linira lagi. Ia hanya mengawasi dari jauh. Setiap kali Tuan Ken pulang, Ailin memperhatikan siapa yang pertama kali mencarinya. Setiap kali Linira meninggalkan kamar, Ailin memperhatikan ke mana putrinya pergi, dan setiap kali pintu ruang kerja Tuan Ken tertutup lebih lama dari biasanya, dada Ailin terasa semakin sesak. Malam itu, akhirnya sesuatu terjadi. Ailin yang sejak awal sudah bersiap di tempat tersembunyi melihat Linira keluar dari kamarnya. Langkah putrinya pelan. Ia melihat ke kanan dan kiri sebelum berjalan menuju ruang kerja Tuan Ken. Ailin membeku. “Linira...” Jantungnya berdegup keras. Selama tujuh hari ia menunggu bukti dan sekarang, putrinya sendiri berjalan menuju tempat yang selama ini ia curigai. Linira berhenti di depan pintu. Setelah memastikan keadaan sekitar, ia masuk. Pintu tertutup. Ailin berdiri terpaku. Untuk beberapa saat ia hanya menatap pintu tersebut. Ada bagian dalam dirinya yang i

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 131 Tidak Akan Memaafkan Mu

    Malam setelah mengantarkan teh untuk Tuan Ken, Ailin masih berdiri di tengah ruangan itu. Tatapannya menyapu ruangan sekali lagi. Tidak ada apa pun seperti sebelumnya, namun kali ini, pikirannya justru tertuju pada satu nama. Linira. Ailin mengingat beberapa hari terakhir. Linira yang tiba-tiba sering turun saat makan malam. Linira yang mulai memperhatikan kapan Tuan Ken pulang. Linira yang beberapa kali meminta Tuan Ken membantunya mengambil sesuatu. Linira yang bahkan sekarang semakin sering berada di sekitar ruang kerja pria itu. Sebelumnya Ailin menganggap semua itu sebagai bagian dari proses pemulihan putrinya. Tetapi sekarang, semuanya terasa berbeda. “Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?” Ailin mengerutkan kening. Ia teringat bagaimana Linira memandang Tuan Ken setiap kali pria itu berbicara kepadanya. Dulu ia tidak memperhatikannya. Namun setelah kecurigaan muncul, setiap gerakan kecil terasa mencurigakan. Cara Linira tersenyum, cara Linira mem

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 130 Sandaran Hidup

    Sejak beberapa hari terakhir, Ailin mulai memperhatikan perubahan Tuan Ken. Pria itu memang tidak berubah secara terang-terangan. Ia masih bekerja seperti biasa, masih berbicara seperlunya, dan masih menjalankan urusan rumah tangga tanpa banyak mengeluh. Namun bagi seorang istri yang sudah agak lama hidup bersamanya, perubahan kecil tetap sulit disembunyikan. Tuan Ken lebih sering berada di ruang kerjanya dan yang paling mengganggu pikiran Ailin adalah satu hal. Beberapa kali ia melihat Linira keluar dari arah ruang kerja Tuan Ken. Meskipun rumor berkembang bhawa Tuan Ken dan wanita selingkuhnya sampai melakukan hubungan badan, Ailin masih yakin kalau orang itu pasti bukan Linira. Awalnya Ailin menganggap itu kebetulan saja. Namun semakin sering terjadi, semakin sulit baginya untuk mengabaikannya. Suatu sore, Ailin berdiri di depan pintu ruang kerja Tuan Ken. Ia mengetuk sekali namun tidak ada jawaban. Ailin langsung membuka pintu. Ruangan itu kosong. Tuan Ken

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 129 Wanita Penggoda

    “Tuan Ken, menurut mu, aku orang yang bagaimana? Apa aku memiliki kekurangan yang begitu jelas?” Mendengar itu, Tuan Ken pun menggeleng kepala. “Tidak ada. Kau cantik, lembut saat bicara, kau gadis yang manja dan manis. Hanya saja...” Linira pun mengerutkan keningnya. “Apa? Hanya saja apa? Kenapa berhenti di tengah begitu? Apa Tuan tahu aku jadi makin penasaran?” Tuan Ken pun menghela napasnya. “Linira... kalau kita jadi sedekat ini, aku takut nantinya akan jadi hal yang tidak pantas. Aku sudah menikahi Ibumu, aku tidak boleh memikirkan apa lagi melakukan hal yang tidak pantas padamu.” Mendengar itu, Linira paham benar bahwa pengaruhnya pada Tuan Ken benar-benar bekerja dengan sangat baik. Dia pun kembali berakting, ekspresinya terlihat sedih sekarang. “Aku tahu. Aku juga sangat paham kau adalah suami Ibuku, Ayah tiriku. Aku coba menguatkan diri agar tidak berpikir macam-macam, aku cuma ingin menjadi anak yang berbakti. Tapi, setiap kali dekat dengan anda, jantungku berdegu

  • Takdir sang Nona Pewaris   Bab 128 Tempat Bergantung

    Sejak malam itu, sikap Linira terhadap Tuan Ken semakin berubah. Dia menjadi jauh lebih sering berada di dekat pria itu. Ketika Tuan Ken sedang sarapan, Linira akan datang lebih dahulu dan duduk di meja yang sama. Ketika Tuan Ken pulang dari pekerjaannya, Linira selalu menjadi orang yang menyambutnya. Bahkan hal-hal kecil pun tidak luput dari perhatiannya. “Tuan Ken, kau terlihat lelah.” Linira berdiri di sampingnya sambil tersenyum. “Aku bisa meminta pelayan menyiapkan teh.” “Tidak perlu. Kau sendiri harus beristirahat.” “Tidak apa-apa.” Linira mengambil cangkir dan menyerahkannya kepadanya. “Kalau Tuan Ken sakit, siapa yang akan mengurus semua pekerjaan di rumah ini?” Tuan Ken menatapnya. “Kau terlalu banyak memikirkan orang lain, Linira.” Linira tersenyum. “Mungkin karena selama ini tidak banyak orang yang memikirkan ku seperti yang kau lakukan.” Kalimat sederhana itu membuat Tuan Ken terdiam. Linira menyadarinya. Dia tahu kalimat seperti itu selalu membuat pr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status