Share

Bab 3

Author: Makjos
Aku mengeluarkan selembar kertas putih dan mulai merancang desain perhiasan baru di atas kertas. Begitu struktur perhiasan dan pemilihan bahannya selesai kupikirkan, aku pun mulai menggoreskan pena.

Entah sudah berapa lama berlalu, tetapi aku masih saja menatap karya indah yang terlukis di atas kertas putih itu.

Itu adalah sebuah cincin. Badan cincinnya terbuat dari lilitan benang emas ungu yang halus, hiasannya berupa bunga violet dari platinum, bertatahkan batu permata ungu langka. Saat dikenakan, cincin itu memberikan kesan misterius dan anggun. Aku memberinya nama Ciuman Violet.

Tiba-tiba, seseorang berseru kaget, "Wow! Molly lagi-lagi merancang desain baru. Yang ini cantik banget!"

Aku mengernyit sedikit. Desain baru?

"Astaga, desain ini terlalu indah!"

"Kak Jane, adikmu hebat sekali! Aku benar-benar iri sama kamu!"

Di kantor terdengar seruan kekaguman satu demi satu. Aku melihat mereka semua memegang ponsel. Aku pun mengeluarkan ponsel dan membuka media sosial, tepat melihat unggahan story dari Molly.

[ Aku akan terus berusaha merancang lebih banyak karya yang semakin indah untuk ditampilkan kepada semua orang. Karya Ciuman Violet ini kupersembahkan untuk kalian semua. ]

Aku melihat gambarnya. Mataku membelalak karena terkejut. Ini adalah desain yang baru saja kupikirkan, tetapi Molly justru selangkah lebih dulu memublikasikannya.

Entah siapa melewati mejaku, orang itu tiba-tiba mengambil desain yang baru saja kugambar. "Cepat lihat, desain ini sama persis dengan yang baru saja Molly unggah di story!"

Orang-orang di sekitar langsung berkumpul. "Benar-benar sama persis!"

Aku terkejut. Aku baru saja hendak berdiri untuk merebut kembali desain itu, tetapi aku malah didorong orang lain. "Jane, kamu nggak mungkin mau menjiplak desain adikmu, 'kan?"

Orang-orang di samping seperti mendengar gosip besar, lalu mulai ramai membicarakannya. "Astaga, biasanya kelihatan rapi dan sopan, nggak nyangka benar-benar melakukan plagiarisme."

Tiba-tiba, seseorang di tengah kerumunan berkata dengan keras, "Kalian nggak sadar? Desain Jane dari dulu memang mirip dengan desain Molly."

Orang-orang yang hadir mulai mencari desain lamaku yang terdahulu, lalu membandingkannya dengan milik Molly. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut kembali desainku.

"Ini memang punyaku! Justru Molly yang menjiplak desainku, dari dulu selalu dia!"

Saat itu, Molly tiba-tiba masuk dari luar pintu. Dia berdiri di tengah kerumunan, mengenakan rok pendek putih. Matanya memerah, air matanya mengalir. Suaranya pun bergetar.

"Kak, kenapa kamu menjiplak karyaku? Aku tahu kamu nggak suka sama aku, tapi itu semua adalah hasil jerih payahku. Aku yang susah payah mendesainnya. Sejak Kakak pulang, Kakak begitu nggak suka padaku. Kakak marah sama Ayah dan Ibu ya?"

Sikapnya yang lembut dan manja membuat semua orang yang hadir tak kuasa merasa kasihan padanya. Ucapan-ucapannya memicu kemarahan publik di tempat itu. Tiba-tiba, seseorang dari belakang mendorongku dengan keras.

Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke depan. Kepalaku membentur meja kerja. Darah segar mengalir di sepanjang pipiku dan menetes ke lantai.

Molly maju, lalu berjongkok di depanku, seolah-olah ingin membantuku berdiri. Begitu menyentuhku, dia tiba-tiba terjatuh ke belakang.

Aku sampai terperangah. Gadis ini serius? Begitu banyak orang yang melihat, dia malah berakting seperti ini?

Molly berpura-pura lemah, membuka mata lebar-lebar, menatapku dengan wajah menyedihkan. "Kak, kenapa kamu mendorongku? Aku cuma mau bantu kamu berdiri ...."

Orang-orang di sekeliling langsung khawatir Molly terluka. Mereka menunjuk ke arahku sambil berteriak keras,

"Jane, jangan keterlaluan! Sudah menjiplak masih nggak mau mengaku? Kamu marah karena malu ya?"

"Makanya! Molly, jangan pedulikan dia. Orang nggak tahu malu kayak begini pantas jatuh!"

Molly perlahan berdiri, berkata dengan nada teraniaya, "Bagaimanapun dia tetap kakakku. Aku nggak apa-apa ...."

Sudut bibirku terangkat sedikit, lalu aku menatap Molly yang berpura-pura menyedihkan itu. "Maaf Molly, aku salah paham sama kamu. Sini, mendekat sedikit, ada yang ingin kubicarakan."

Molly mendekat dengan wajah penuh kesedihan. Aku tersenyum menatapnya. Tepat saat dia mendekat, aku menamparnya dengan keras.

Karena inersia, dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai. "Aduh, kok ceroboh sekali? Aku cuma mendorongmu sedikit lho."

Molly duduk di lantai sambil menutupi wajahnya. Dengan bantuan rambut yang terurai di kedua sisi, dia menatapku dengan tatapan penuh kebencian melalui celah rambut, lalu mengangkat kepala dan kembali memasang wajah polos tak bersalah.

Aku sudah tak punya waktu untuk terus meladeninya. Saat perhatian orang-orang di sekitar masih tertuju pada Molly, aku mengabaikan mereka, berdiri, dan ingin segera meninggalkan tempat penuh masalah ini.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takkan Mengulang Kesalahan yang Sama Di Kehidupan Berikutnya   Bab 10

    Dia menatapku sambil mengerutkan kening. "Jangan coba-coba main tipu muslihat. Serahkan patung dewa itu padaku. Setelah kamu mati, aku akan berdoa untukmu dan aku akan menggantikanmu, terus duduk mantap di posisi kepala desainer, melewati hidup yang lebih baik."Aku menatap ekspresi puas di wajahnya. Mataku mengandung senyuman. Saat berikutnya, aku langsung menghantamkan patung dewa itu ke tanah.Di udara terdengar jeritan mengerikan. "Arghhh!"Segumpal kabut hitam pun lenyap begitu saja di udara.Molly menatapku dengan ketakutan. Dia menjerit histeris saat melihat patung dewa yang hancur di lantai. "Ah! Jangan!"Dia menatapku dengan penuh kebencian, seolah-olah ingin menerkam dan mencabik-cabik diriku.Saat dia hendak menerjang ke arahku, tirai panggung terbuka.Para penonton di bawah mengetahui semua yang baru saja terjadi. Para wartawan satu per satu mengeluarkan ponsel mereka untuk memotret.Ayah dan ibu kami yang berada di bawah panggung pun menatap Molly dengan wajah tak percaya.

  • Takkan Mengulang Kesalahan yang Sama Di Kehidupan Berikutnya   Bab 9

    Begitu aku membukanya, benar saja, aku melihat patung dewa itu.Patung ini berwarna hitam legam, berwajah garang, mirip kucing sekaligus rubah, dengan dua taring panjang. Aura di seluruh ruangan langsung terasa jauh lebih dingin.Saat aku mengangkat patung dewa sesat itu dan hendak membantingnya hingga hancur, tiba-tiba patung itu berbicara, "Jane, ini nenekmu. Aku nenekmu. Nenek sangat merindukanmu. Temani Nenek sebentar ya"Mataku membelalak karena terkejut, bulu kudukku meremang. Benda ini bahkan bisa menirukan suara kerabatku. Aku tak memedulikan hal lain lagi dan hendak menghantamkannya ke lantai.Saat itu, Molly tiba-tiba mendorong pintu ruang istirahat hingga terbuka. Dia mendengar panggilan dari dewa sesat itu dan bergegas datang.Aku memeluk patung dewa sesat itu dan mengancamnya agar dia mundur. Jika tidak, aku akan menghancurkannya.Keadaanku membuat Molly ketakutan. Dia segera menyingkir, takut aku benar-benar menghancurkan patung dewa itu.Dengan memanfaatkan kesempatan in

  • Takkan Mengulang Kesalahan yang Sama Di Kehidupan Berikutnya   Bab 8

    Sebenarnya sama sekali tidak ada CCTV. Aku hanya menggertaknya. Aku mendengus dingin, lalu melangkah ke arah Molly. Aku langsung mencengkeram rambutnya dan menariknya ke belakang.Tatapannya dipenuhi ketakutan. "Aah! Apa yang kamu lakukan?"Aku melayangkan tamparan keras ke wajahnya. Suara tamparan yang nyaring pun bergema di ruang tamu. "Lain kali sebelum pakai cara seceroboh ini, pakai dulu otakmu!"Karena insiden konyol ini, aku kehilangan selera makan dan langsung naik ke lantai atas.Pada hari kompetisi, ibu dan ayahku pergi menemani Molly. Ini justru menjadi kesempatan bagus bagiku untuk mencari patung dewa sesat itu.Aku mencari dari satu kamar ke kamar lainnya. Sampai akhirnya tersisa satu kamar, kamar Molly.Aku mendorong pintu dan masuk. Seluruh ruangan ditata dengan sangat indah. Aku memegang alat ritual itu, menyapu pandangan ke setiap sudut kamar.Hingga aku berhenti di depan sebuah lukisan, gelang ular sebagai alat ritual itu mulai terasa panas, seakan-akan hidup kembali.

  • Takkan Mengulang Kesalahan yang Sama Di Kehidupan Berikutnya   Bab 7

    Aku tepat berpapasan dengan Molly yang sedang naik ke lantai atas. "Kak, kamu ngapain di depan kamarku?"Hatiku menegang, lalu aku tersenyum menatapnya. "Katanya selama ini Ayah dan Ibu membelikan banyak perhiasan untukmu. Kebetulan akhir-akhir ini aku lagi nggak ada inspirasi desain, jadi kepikiran mau cari inspirasi di kamarmu."Perkataanku membuat Molly yang semula waspada langsung merasa senang. Aku mau menggambar desain lagi. Selama dia bisa mendahuluiku, dia juga bisa punya karya baru.Dia maju dan menggandeng lenganku. "Ibu khusus bikin satu ruang inspirasi buatku. Aku ajak kakak lihat."Aku menahan rasa mual di dalam hati, berpura-pura tersenyum sambil mengangguk padanya.Kami tiba di ruangan yang dia maksud. Dulu ini adalah kamar tamu di rumah, sekarang sudah diubah menjadi tempat penyimpanan perhiasan milik Molly. Isinya memenuhi seluruh ruangan.Aku memandangi ruangan penuh perhiasan itu. Perasaanku sulit diungkapkan. Kasih sayang orang tua padanya benar-benar berlebihan."K

  • Takkan Mengulang Kesalahan yang Sama Di Kehidupan Berikutnya   Bab 6

    Jadi, ternyata dulu mereka berdalih menjemputku pulang ke rumah bukan untuk menebus kasih sayang yang hilang selama lebih dari 20 tahun, melainkan ada tujuan lain. Hatiku perlahan menjadi mati rasa dan dingin.Aku berlutut di lantai dan memberi hormat pada Nenek Tantri. "Tolong beri tahu aku cara untuk memecahkannya."Dia mengusap kepalaku. "Besok kamu kembali. Aku akan memberimu sebuah pusaka untuk membantumu menemukan patung dewa sesat itu. Setelah menghancurkannya, semuanya akan beres. Orang yang memasang jebakan akan terkena serangan balik.""Tak sampai sehari, tubuhnya akan meledak dan dia akan mati. Hal itu nggak perlu kamu pikirkan. Orang jahat pasti mendapat akhir yang pantas"Aku mengangguk. Setelah mengantar Nenek Tantri pergi, aku kembali ke kamar seorang diri. Aku memeluk lutut, duduk di atas ranjang dengan tatapan dingin. Tunggu saja, aku akan membuat kalian semua membayar harganya!Mengikuti perkataan Nenek Tantri, keesokan paginya aku berpamitan pada nenekku dan kembali

  • Takkan Mengulang Kesalahan yang Sama Di Kehidupan Berikutnya   Bab 5

    Setelah membereskan barang, aku membeli tiket paling pagi dan pulang ke kampung. Kereta belum tiba. Dari kejauhan aku sudah melihat sosok yang menunggu di pintu masuk desa. Tanpa sadar, mataku menjadi basah.Aku menelepon nenekku, terdiam lama sebelum akhirnya mengucapkan satu kalimat, "Aku kangen Nenek."Dari seberang telepon terdengar tawa bahagia, lalu berubah menjadi nada penuh kasih sayang. "Pulanglah, Sayang. Nenek buatkan semur daging kesukaanmu."Di kehidupan sebelumnya, nenekku yang tinggal di kampung ini entah dari mana mengetahui kabar aku kecelakaan. Dia bersedih sangat lama dan jatuh sakit. Tubuhnya pun tak lagi seperti dulu dan tak lama kemudian dia meninggal dunia.Begitu turun dari kereta, nenekku langsung maju dan mengambil barang bawaanku. "Ayo, ayo, kita pulang. Nenek lagi masak semur daging."Rumah yang ditingali nenekku memang tidak besar, tetapi seluruh masa kecilku tertampung di sana. Hari-hari berikutnya, aku dengan cepat kembali menjalani kehidupan di kampung.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status