INICIAR SESIÓNTalang Mayan keluar dari kilauan cahaya yang meredup dengan perasaan aneh. Setelah jimat aneh tadi, kepalanya merasa sedikit sakit. Jimat itu tidak memiliki tampilan pisik yang nyata, dan kini jimat itu berada di tulang tengkoraknya, di tengah kening yang tidak bisa dilihat orang lain.
Semua peserta melempar pandangan penuh tanda tanya ke arah Talang Mayan, berpifikir apakah pemuda itu lulus ujian mental. Namun, kenapa tidak ada gambaran ilusi dari pilar batu hitam itu. Hanya cahaya merah yang terang.
Paraswara merasa ada yang salah dengan Talang Mayan, tapi apa? Talang Mayan adalah bocah 10 tahun, tidak mungkin mampu menaklukan pilar batu hitam dengan level dua cakra pada jalur kependekaran.
Sesaat, Paraswara tidak memberikan komentar apapun. Dia memandangi pilar batu hitam yang semakin redup, seolah tanaman yang layu setelah terkena racun mematikan.
“Mungkin ada yang salah dengan pilar batu hitam,” gumam Paraswara.
Ujian calon murid akhirnya selesai dilakukan. Hanya ada 10 peserta yang dinyatakan lolos dalam ujian ini, dan peserta terbaik jatuh kepada Kuncoro, diikuti oleh Pelisik yang berhasil bertahan lebih dari 5 tarikan nafas di depan Pilar Batu Hitam.
Namun, ada satu peserta yang tidak bisa dianggap sebagai peserta yang lolos, atau pula yang gagal. Dia adalah Talang Mayan. Nasibnya belum diputuskan saat ini, sehingga dia hanya berdiri di sana sendirian menatap ke arah pilar batu hitam.
“Kalian berdua ..,” Paraswara tersenyum penuh arti, ketika menatap ke arah Kuncoro dan Pelisik, “Saat ini, kalian memiliki hak untuk memilih salah satu dari 6 ketrampilan Sekte Empu.”
6 ketrampilan yang mewakili enam senjata, dan juga enam keluarga inti penguasa Sekte Empu.
“Di sana ..,” Paraswara mengarahkan pandangannya ke atas dimana seorang tetua berpakaian putih bergaris emas berdiri dengan aura yang berwibawa, “Dia adalah kepala keluarga Inti yang bernama Ki Pamanahan, Jabatannya adalah grandmaster dan berada di level Pilih Tanding pada jalur kependekaran.”
Saat ini, Ki Pamanahan merupakan tetua terkuat yang ada di Sekte Empu, sekaligus pencipta senjata level tinggi dengan jabatan Grandmaster. Jika Kuncoro dan Pelisik tertarik menguasai seni penciptaan panah, dan ilmu bela diri yang berkonsentrasi dengan panah, menjadi murid keluarga ini merupakan pilihan yang paling tepat.
Reputasi keluarga Pemanah sebagai tonggak terkuat di Sekte Empu telah bertahan selama beberapa belas tahun, dan tidak ada satupun Tetua yang bisa bersaing dengannya.
“Kami akan bergabung dengan Keluarga Pemanah,” ucap Kuncoro dan Pelisik sembari membungkuk memberi hormat di hadapan Ki Pamanahan. “Guru, mohon bimbingannya.”
Ki Pamanahan tertawa bangga, tahun ini dua murid dengan bakat terbaik kembali memilih keluarganya. Inilah alasan kenapa keluarga ini selalu memiliki murid-murid jenius setiap tahunnya.
Selain Kuncoro dan Pelisik, 8 peserta lain tidak mendapatkan hak untuk memilih kepada siapa mereka akan mengabdi. Tuan mana yang akan mengangkat mereka menjadi murid dan bagian dari keluarganya?
Namun, bakat mereka berada di atas rata-rata. Mereka sudah berhasil berjuang sejauh ini, membuktikan bahwa 8 orang ini memiliki masa depan yang lebih baik dari puluhan peserta yang sudah gagal.
“Aku akan meminta dua orang di sana ..,” Ki Ribas menunjuk dua pemuda bertubuh jangkung yang berdiri di belakang Kuncoro dan Pelisik. “Kalian akan menjadi anggota keluarga Pedang.”
“Aku hanya butuh satu orang di sana.” Kali ini, Ki Wulung menunjuk pria tinggi.
“Kau, dan kau ..,” Ki Bogem mengambil dua orang anak laki-laki bertubuh besar, dan kemudian satu orang gadis kecil yang memiliki kebiasaan mengunyah makanan. “Kalian bertiga, mulai hari ini akan menjadi murid resmi di keluarga Gadah.”
Sekarang hanya ada tersisa 2 peserta lagi yang belum mendapatkan tuannya. Ahirnya, seorang wanita dengan kapak di pundaknya meminta satu orang pria terakhir untuk menjadi murid resminya.
Namun, wanita yang bernama Nyi Suketan itu juga memberikan pilihan kepada pria terakhir untuk menjadi muridnya jika dia berkenan.
“Sekte Empu awalnya dikuasai oleh lima keluarga, hingga akhirnya satu keluarga muncul dan jadilah enam keluarga yang menopang sekte ini,” ucap Nyi Suketan, “Namun, perlu kalian ketahui, Keluarga Belati tidak memiliki reputasi baik selama belasan tahun terakhir. Kau bocah kecil, karena kau bocah terakhir, aku memberikan kelonggaran kepadamu untuk memilih antara keluarga Kapak atau keluarga Belati.”
Mendengar penjelasan Nyi Suketan, bocah terakhir langsung memberi hormat, “izinkan aku bergabung dengan Keluarga Kapak.”
Nyi Suketan tersenyum tipis, dia melirik ke arah wanita tua di sebelahnya, kepala keluarga Belati, Nyi Loro Ati. “Sepertinya, tahun ini masih sama seperti tahun-tahun yang lalu, Loro Ati.”
Nyi Loro Ati dari Keluarga Belati hanya bisa tersenyum pahit. Sudah lima tahun terakhir, keluarganya tidak mendapatkan satupun murid yang mau bergabung dengannya, karena murid-murid jenius rata-rata memilih lima keluarga yang lain.
Dari total hampir seribu murid resmi, Keluarga Belati hanya memiliki 8 murid sejauh ini. Murid-murid yang kurang berbakat, bodoh dan tidak memiliki ambisi sebagai pencipta senjata atau pula sebagai pendekar.
Namun, Talang Mayan masih berdiri di sana, tanpa kejelasan statusnya. Tidak ada yang ingin mengangkatnya menjadi murid resmi. Apakah karena dia tidak memiliki bakat? Atau apakah dia tidak memiliki keberuntungan.
Dia berhasil mengenggam busur panah emas milik Paraswara, bahkan membangkitkan energi spiritualnya saat itu juga. Namun masalahnya, saat ujian di hadapan Pilar Batu Hitam, tidak ada gambaran ilusi yang ditampilkan.
Semua tetua tidak tahu, apakah pilar batu hitam bermasalah, atau apakah anak ini yang bermasalah?
“Hahaha ..,” Kuncoro mengejek Talang Mayan, dan menyebut bocah itu sudah membuang-buang waktu dengan datang ke pusat Sekte. “Lebih baik kau kembali ke pertambangan, jaga Ayahmu yang sakit-sakitan. Kau merusak pemandangan di sini, Talang Mayan.”
“Talang Mayan, jika kau masih memiliki cukup rasa malu, alangkah lebih baiknya kau segera pergi. Tidak ada satupun tetua yang menginginkanmu.”
Talang Mayan tidak bereaksi sama sekali, dia menatap Nyi Loro Ati dengan pandangan penuh arti. Mengetahui jika Talang Mayan sebenarnya memiliki potensi dan berharap menjadi muridnya, wanita tua itu hanya tersenyum kecil.
“Aku akan menjadikan bocah itu sebagai muridku,” ucap Nyi Loro Ati.
Talang Mayan tersenyum tipis.
“Bocah, sepertinya kau kurang beruntung hari ini. Kau mendapatkan guru sepertiku.” Nyi Loro Ati menarik nafas panjang saat mendengar tawa jenaka dari lima tetua yang lain.
“Kau memang pantas dengan bocah itu,” ucap Nyi Suketan sembari pergi meninggalkan altar Sekte Empu. “Muridku, ikut aku.”
Talang Mayan membungkuk memberi hormat kepada Nyi Loro Ati, tapi hanya dibalas dengan helaan nafas yang berat dari gurunya itu. “Mari ikut aku, dan temui beberapa kakak seniormu, Bocah.”
“Dengan senang hati, Guru,” ucap Talang Mayan.
Satu hari lamanya di dalam goa tersebut, tapi gerombolan para siluman belum juga menyurut. Talang Mayan berfikir keras, apa yang memicu para siluman ini keluar dari sarangnya. Atau apakah ada jenis siluman yang memiliki kesadaran seperti manusia yang memberikan perintah kepada siluman-siluman ini?“Aku belum pernah mendengarnya,” gumam Talang Mayan, “siluman yang memiliki kesadaran. Sekarang tidak ada yang bisa aku lakukan di sini, keluar dari goa hanya akan membuatku tewas di makan siluman. Dengan kemampuanku seperti ini, aku hanya bisa membunuh 10 siluman level rendahan saja.”Di kehidupan pertamanya, Talang Mayan meningkatkan level energi sepiritual dengan menyerap mustika siluman. Hal itu bisa dia lakukan karena darah iblis yang mengalir di dalam nadinya, dapat menetralkan efek samping mustika tersebut.Namun, di kehidupan ini, jangankan darah iblis, hanya untuk memiliki 30 cakra spiritual harus berlatih tahunan di dalam ruangan tersembunyi.“Saudara Mayan, apa yang kau pikirkan?”
Talang Mayan menemukan goa cukup luas setelah dia berhasil menghindari para siluman. Sekarang, di dalam goa itu, dia meletakan Rindu Ati di atas batu. Kondisi gadis itu masih lemah, tapi racun di tubuhnya telah menghilang.Hanya menunggu waktu, dia akan sadar. Namun di sisi lain, perasaan Talang Mayan menjadi tidak menentu. Dia masih tidak mengerti, kenapa membantu Rindu Ati. Dia adalah putri dari keluarga Pedang, keluarga yang menginginkan dirinya mati.Jika bukan Gurunya, Nyi Loro Ati telah menyembunyikan keberadaan Talang Mayan selama 6 tahun lamanya, remaja itu mungkin sudah menyatu dengan tanah. 6 tahun tinggal di ruang rahasia, itu seperti penjara yang menyiksa.Dia tidak pernah melihat matahari, tidak pula rembulan malam. Talang Mayan bahkan tidak lagi mengetahui bedanya siang dan malam saat di ruang rahasia tersebut. Namun, tekadnya untuk bertahan hidup, membuat Talang Mayan bertahan, berlatih dan patuh terhadap Nyi Loro Ati.Sekarang di hadapannya, sosok gadis dari keluarga P
Talang Mayan kembali memeriksa beberapa mayat untuk mencari penawar racun dari senjata yang mereka miliki. Dengan pengalamannya yang cukup banyak, Talang Mayan akhirnya mendapatkan penawar itu yang di simpan di dalam gigi palsu.‘Cara yang cerdik,’ ucap Talang Mayan.Untuk berjaga-jaga di hari depan, Talang Mayan segera mengambil semua penawar racun dari gigi-gigi palsu para pendekar aliran hitam, sebelum kemudian dia berlari lagi menunju murid Sekte Empu.“Kau sudah kembali?” Pelisik menatap Talang Mayan yang pergi dan kembali hanya dalam beberapa detik saja.Talang Mayan tidak menjawab apapun, dia langsung menyerahkan satu penawar kepada Wayang Sari untuk diberikan kepada Rindu Ati. Lalu menyerahkan satunya lagi kepada Duguk Ireng.Merasa tidak diperhatikan, Pelisik merasa kesal. Dia menduga apakah Talang Mayan sengaja mengacuhkan dirinya, karena statusnya yang bukan berasal dari keluarga inti Sekte Empu? Atau karena kekuatannya berada di level yang lebih rendah dari Rindu Ati dan W
Ada gejolak bergerak liar di dalam pantai, sementara Duguk Ireng masih sibuk berburu ikan di antara terumbung karang.Talang Mayan menarik dua belati miliknya, kemudian bergegas mendekati pantai, tapi di saat yang sama pula, muncul sosok monster ikan dari dalam air. Seperti kepiting tapi memiliki ekor kalajengking.Hanya satu jengkal saja, ya satu jengkal saja! jarak antara kematian dengan kepala Duguk Ireng, sebelum kemudian Talang Mayan berhasil tiba tepat waktu, dan memotong ekor kepiting tersebut.Mahluk itu meraung kesakitan, terdengar seperti suara desisan ular besar yang bersiap melahap mangsanya. “Pergi ke daratan!” Talang Mayan berkata dingin, dijawab balik dengan suara gemetar dari mulut Duguk Ireng.Ketika Duguk Ireng berlari pontang-pangting meninggalkan bibir pantai, Talang Mayan harus berhadapan dengan kepiting itu untuk ke dua kalinya. Sial, mahluk mengerikan ini meskipun sudah terluka, tapi dua capit besar miliknya sangat berbahaya.Hanya dengan satu kali capitan saja,
Esok paginya, Talang Mayan sudah meninggalkan Kota Pagar Banyu untuk melanjutkan perjalannya. Namun siapa sangka, dia kembali bertemu dengan rombongan murid Sekte Empu di gerbang kota.“Tuan Pemburu ..,” Rindu Ati menyapa pemuda bertopeng itu lebih dulu, “sepertinya kita bertemu lagi.”Talang Mayan menatap gadis itu beberapa saat, kemudian dia menyapukan pandangan ke arah empat remaja yang lain. Pandangan Talang Mayan jatuh ke wajah Pelisik, ada rasa kesal di hati pemuda itu setiap kali melihat wajah sepupunya tersebut. Ibu gadis ini sudah membuat banyak masalah dengan Ayahnya, dan bahkan gadis itu sering kali merendahkannya setiap kali mendapatkan kesempatan.Mendapat tatapan sedingin embun pagi, Pelisik langsung menundukan kepalanya, benar-benar tidak berani menatap balik mata Talang Mayan.“Senior ..,” seorang pemuda yang dua tangannya sedang terikat oleh perban, kini memberi hormat, “terima kasih, kau sudah menyelematkan kami semua. Saya, Murantang tidak akan melupakan budi baik S
Rindu Ati dan empat temannya tidak berani melawan perintah Talang Mayan. Mereka, mengambil harta rampasan di tangan jasad perampok, dan pergi meninggalkan Talang Mayan.Urusan mayat, itu soal mudah. Talang Mayan mengumpulkan semua mayat menjadi satu tumpukan besar, melucuti semua harta yang mereka miliki, dan mengambil uang yang ada di saku celananya.Dengan ekspresi datar, Talang Mayan membakar seluruh mayat itu. Membiarkannya membusuk hanya akan menjadikan sarang penyakit dan virus yang menular. Lagipula, paling tidak jasad mereka akan berguna untuk menyuburkan tanah atau memberi makan pohon-pohon di dalam hutan ini.“Lumayan,” ucap Talang Mayan, saat menghitung kepingan uang logam yang dikumpulkan menjadi satu, “ratusan gepeng.”Gepeng adalah sebutan uang koin di dataran Indraprasta. Terbuat dari perak bercampur emas.Meninggalkan kobaran api yang melahap tubuh para perampok, Talang Mayan kembali ke Kota Pagar Banyu. Dengan kepingan gepeng di sakunya, dia tidak lagi khawatir untuk







