MasukMalam itu, hubungan antara Talang Mayan dan Putri Intan Selake terasa lebih hangat. Siapa yang menduga, jika Intan Selake merupakan gadis yang gemar berbicara, penuh canda jenaka, dan sesekali menunjukan sifat marah sebagaimana wanita pada umumnya.Di sisi lain, Talang Mayan dengan hati sedingin es yang nyaris tidak memiliki emosi sama sekali, kini menjadi lebih lunak di hadapan gadis tersebut. Ya, tidak banyak orang yang bisa membuat hatinya menjadi lebih hangat, hanya bisa dihitung oleh lima jari tangan saja.Namun malam ini, rasanya sedikit berbeda. Setiap kali Talang Mayan mengintip wajah Intan Selake dari celah lubang topeng, jantungnya terasa akan melompat keluar dari dadanya sendiri.Malam itu, Putri Intan Selake tidur bersandar di batang pohon. Melihatnya, Talang Mayan melepaskan jubah hitamnya, dan menyelimuti tubuh gadis tersebut.Sebagai orang yang peminum, Talang Mayan tidak pernah bisa benar-benar tidur dengan nyenyak, apa lagi ada sosok gadis yang harus dia jaga malam i
Dalam kesendiriannya setelah mengalahkan Jantung Iblis, mendadak Putri Intan Selake muncul di belakang Talang Mayan, di Desa Raya Keling yang kini sudah tidak memiliki warganya lagi.Kala itu, Talang Mayan terlihat duduk di kursi panjang dengan arak di tangannya. Setelah pertarungan yang melelahkan, pemuda itu berencana untuk berisitirahat beberapa hari di sini sebelum kembali ke Istana Indraprasta untuk melaporkan hasil misi.Namun dia tidak menduga, -yang dikira semua orang sudah kembali ke Istana, rupanya Putri Intan Selake diam-diam mengikuti pemuda tersebut.“Tuan Putri ..,” ucap Talang Mayan, sedikit tersedak oleh arak yang dia minum.“Kau sudah mengetahui namaku, tapi aku belum mengetahui namamu,” ucap Putri Intan Selake, dan diapun duduk di sebelah Talang Mayan sembari meletakan pedang pusaka es di pangkuannya.“Apalah arti sebuah nama,” kata Talang Mayan, “kadang kala seseorang bisa melupakannya dengan sangat mudah?”“Aku mendengar semua tentang Pendekar Bertopeng Hitam yang
“Astaga, berapa banyak barang berharga yang dimiliki orang ini?!” Senopati Anom yang dari tadi selalu memasang standar kehormatan yang tinggi di hadapan para pendekar, akhirnya memasang wajah yang konyol ketika melihat Cakram Sudra yang keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan.Dengan mata terbelalak tak percaya, dan mulut sedikit terbuka, hingga mungkin lalat bisa masuk tanpa dia sadari, Senopati itu kembali berkata, “dua harta pusaka, itu tidak ternilai dengan apapun, tidak dengan harta, jabatan dan status.”Sementara itu, Putri Intan Selake melirik ke arah Talang Mayan sejenak, hatinya berdebar saat merasakan gejolak dari Cakram Sudra.Lalu menyeranglah gadis itu lebih dahulu ke arah para tetua yang berdiri congak di atas markas mereka. Energi yang dingin membekukan udara dalam hitungan detik, memutihkan seluruh udara di sekitar tempat itu.Markas itu dengan cepat menjadi bangunan es yang berkilauan saat ini, tapi bahkan serangan yang sesungguhnya belum menyentuh para tetua it
Harta yang sangat berharga. Inilah kalimat yang terlintas dalam benak para pendekar dan para prajurit yang menyaksikan kemenangan Talangan Mayan atas pimpinan tertinggi Jantung Iblis.Belati Dasakala, adalah harta berharga yang membuat orang lain merasa iri, sekaligus takut berhadapan dengan Talang Mayan. Semua pendekar di level tanpa tanding, bisa merasakan roh senjata yang bersemayam di dalam belati itu, bukan berasal dari jiwa siluman.“Jiwa yang begitu liar, jahat, dan kuat,”kata salah satu dari tetua Jantung Iblis, “tidak salah lagi, itu adalah Jiwa Dasakala.”“Bocah itu terlalu beruntung, bisa menjadikan Dasakala sebagai roh senjata miliknya.”“Beruntung?” Senopati Anom yang mendengar perkataan para tetua Jantung Iblis lansung menyela, “Tidak ada keberuntungan di dunia ini. Jika kau mendapatkan sesuatu yang berharga, itu karena hasil dari penderitaan yang kau alami di masa lalu.”Senopati Anom kemudian mengangkat telapak tangannya ke atas, di saat yang sama pula, semua prajurit
Rewak mulai menggunakan potensi pedang jantung iblis kehancuran, tapi di sisi lain, Talang Mayan dengan Belati Dasakala yang terbang dengan kehendaknya sendiri tidak menunjukan rasa gentar sedikitpun.Belati Dasakala terbang ke langit, kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi dan langsung bertemu dengan pedang Rewak yang dikenal sangat menakutkan. Dalam adu kekuatan senjata, energi yang benturan yang dihasilkan oleh ke duanya berhasil menyapu bersih medan pertempuran di sekitar mereka.Tanah terkelupas, gelombang kejut menghempaskan segala benda, dan di situ, Rewak harus menahan tekanan energi belati yang terus menyerangnya dari segala arah.-Jurus Lingkaran Maut-Talang Mayan tidak membuang-buang kesempatan, di saat belati Dasakala sibuk menyerang dan membatasi pergerakan Rewak, Talang Mayan justru memanfaatkan situasi itu untuk melancarkan serangan yang tidak terduga.Tanpa dua belati, Talang Mayan terpaksa menggunakan semua sayap-sayap lebah untuk melengkapi serangannya.“Cih,” Re
Semua tetua Jantung Iblis hanya bisa menahan amarah saat murid-murid kesayangan mereka dibunuh oleh Talang Mayan dengan cara yang tidak mereka mengerti sama sekali. Meskipun para murid itu masih berada di level Pilih Tanding, tapi mereka sudah berada di level puncak yang setengah langkah lagi mencapai level tanpa tanding.Sementara itu, Talang Mayan sendiri hanyalah pemuda kemarin sore yang kebetulan memiliki keberuntungan sehingga kini memiliki energi spiritual sebanyak 61 cakra.Namun di sisi lain, Putri Intan Selake yang melihat tindak tanduk Talang Mayan dalam menghadapi musuh-musuhnya, malah terpukau dan semakin bertambah kagum. Meskipun energi spiritual pemuda itu jauh di bawanya, tapi teknik, pengalaman, ketenangan dan mungkin beberapa hal yang lain, jauh melampaui putri itu sendiri.“Seharusnya, kau tidak mengutus pendekar pilih tanding untuk melawanku,” kata Talang Mayan, yang kini menghentikan langkah kakinya tepat di hadapan Pimpinan Jantung Iblis yang terkenal menyeramkan
Talang Mayan menggunakan bakat alaminya, indra spiritual dan mengirim ketakutan kepada Dasakala yang sombong dan angkuh. Mahluk buas itu jatuh berlutut di hadapan Talang Mayan, bahkan sebelum dia sempat menyadari bahwa belati pemuda itu sudah berada di lehernya.Rasa takut itu menyelimutinya, berka
“Dewa Semaranta!!!” tiba-tiba suara Dasakala terdengar menggelegar dari dalam penjara kepompong miliknya. “Sudah berapa ratus tahun tidak bertemu denganmu, meskipun kau hanyalah avatarnya saja, setiap kali melihatmu aku selalu ingin membunuhmu.”Mata Dasakala yang tertutup tiba-tiba terbuka, mengel
Cakram Sudra tidak hanya menghancurkan serangan lawan, tapi juga hampir membunuh pendekar itu hingga tercabik-cabik, jika bukan salah satu dari tetua Jantung Iblis segera menyambar tubuh muridnya.Namun di saat yang sama pula, senjata pusaka itu malah mengincar beberapa pendekar yang berada dekat d
Berjalan bersama dengan para budak, kini Talang Mayan tiba di dapur utama. Ada puluhan pekerja dapur, diawasi oleh lusinan pendekar yang bermata tajam. Talang Mayan segera meletakan bakul beras. Diam diam memotong rantai di kakinya, lalu menyelinap pergi dari ruangan itu. Dia berjalan di antara r







