Share

65. Mayan vs Ki Ribas 2

Author: Pancur Lidi
last update publish date: 2026-03-10 22:52:37

“Ki Pamanahan, pemuda ini memiliki kemampuan bela diri yang sangat baik,” ucap Ki Wukung, kepala keluarga Tombak. “Dengan level spiritualnya yang jauh di bawah Ki Ribas, dia bisa memberikan perlawanan dan bertahan dari serangan-serangan mematikan.”

Ki Wukung merupakan orang yang jarang sekali memberikan komentar terhadap murid-murid berbakat di Sekte Empu. Tidak ada yang terlalu menarik untuk diperhatikan olehnya, tidak ada yang membuat hatinya benar-benar menyukai anak muda.

Bahkan, Wayang Sa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   111. Perguruan Racun Hati

    Talang Mayan berniat menambang kudanya pada batu sebesar paha yang berada tepat di depan pintu masuk goa. Namun, tiba-tiba hal tak terdua terjadi. Dua kuda itu langsung meringkih, mengangkat dua kakinya, dan meluncur secepat mungkin, meninggalkan dua tuannya di sana.“Hoi ..!” Talang Mayan berusaha memanggil dua kuda itu, tapi hewan sialan itu tidak peduli dengan panggilan, seolah telinganya menjadi tuli. “Sepertinya, mereka ketakutan ..,” gumam pemuda tersebut.Di satu sisi, Intan Selake hanya bisa menghela nafas panjang, melihat hewan tunggangannya perlahan menghilang di telan padang tandus yang kering dan panas.‘Sialan, penghianat keji itu pasti mati ..,’ Talang Mayan menyipitkan matanya sebelum kemudian menoleh ke arah Intan Selake yang tersenyum pahit.“Hemmm ..,” Talang Mayan mengelus dagunya berulang kali, “Aku penasaran kenapa kuda-kuda itu melarikan diri, pasti ada yang tidak beres dengan goa ini.”Intan Selake setuju, meskipun dia tidak tahu apa yang menghuni goa itu, tapi

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   110. Perjalanan ke Pesisir Pantai Utara

    Seiring waktu yang mereka lewati antara Satrio Pamungkas dan Wayang Sari, hal itu menumbuhkan benih-benih suka di hati Satrio Pamungkas. Awalnya hanya sekedar kagum, tapi pertemuan setiap hari yang terjadi di antara keduanya, membuat bibit-bibit itu mulai tumbuah menjadi subur.Satrio Pamungkas tidak lagi melihat Wayang Sari sebagai gadis judes yang kasar dan keras kepala, tapi melihat dia sebagai sosok bidadari yang memiliki daya tarik tersendiri. Dia mungkin tidak secantik Intan Selake, atau semanis Rindu Ati adik Talang Mayan, tapi bagi Satrio Pamungkas, Wayang Sari jauh lebih menarik hatinya dibanding dengan dua gadis itu.Sekali lagi Satrio Pamungkas mengungkapkan perasaanya di hadapan Wayang Sari, dan dengan wajah sedikit tertunduk, pemuda itu menatap Wayang Sari dengan penuh harap.“Aku fikir, otakmu memang bermasalah, Pamungkas,” jawab Wayang Sari sembari memalingkan wajahya ke arah lain, “Pergi sana dan berobat!”“Ya, otakku memang bermasalah,” jawab Satrio Pamungkas, “Tapi a

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   109. Penghormatan Bagi Mereka Yang Gugur

    Hari berikutnya, Talang Mayan menghadap kepada Senopati Mandra. Ruang pertemuan itu dihadiri oleh banyak orang, prajurit dan para pendekar Parasura. Mata mereka tertuju kepada Talang Mayan dengan perasaan kagum.Putri Intan Selake di temani oleh Wayang Sari hanya tersenyum kecil, sementara Satrio Pamungkas mengangkat ibu jarinya ke arah Talang Mayan.Kemudian satu persatu para prajurit mulai bertepuk tangan, mengiringi langkah kaki Talang Mayan di sepanjang barisan rapi di dalam ruang pertemuan itu.“Saudara Talang Mayan ..,” Senopati Mandra berkata dengan nada tenang dan penuh kekaguman, “Tindakanmu yang penuh resiko dan keberanian tidak tertandingi, telah melindungi sekaligus memukul mundur para mahluk buas itu. Sebagai panglima tertinggi dan penanggung jawab benteng utara, aku mewakili semua pasukan untuk memberikan penghormatan yang sebesar-besarnya kepadamu.”“Hahahaha ..,” Talang Mayan tertawa kecil, “apa yang kau katakan, Senopati Mandra, kenapa begitu resmi?”“Kau adalah pahl

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   108. Hampir Tidak Terkendali

    Matilah! Talang Mayan mengatupkan dua telapak tangannya, di saat yang sama, cakram sudra mulai mengincar semua siluman yang ada di tempat itu, baik di dalam tanah maupun yang ada di permukaan tanah.Cakram sudra itu sendiri kini berukuran sangat besar, akibat dari semua logam yang berputar mengelilinginya.“Hoi, Hoi, senjata macam apa yang dia gunakan saat ini?!” Satrio Pamungkas merasa panik ketika cakram sudra menyerang ke arah mereka, -bukan ke arah para prajurit tapi ke arah siluman-siluman banteng.“Cepat tiarap, atau kita akan tersapu oleh serangannya!” teriak Wayang Sari.Di ikuti suara teriakan panik, semua prajurit maupun pendekar langsung berpose tiarap ketika cakram sudra terbang di ketinggian satu meter dari permukaan tanah.“Mayan!” Putri Intan Selake berseru keras, “Jangan sampai senjatamu malah menghancurkan benteng kita!”“Aku tahu,” jawab Talang Mayan, tapi suaranya terdengar gemetar. Saat ini, mengendalikan cakram sudra seperti mengendalikan batu bulat yang menggelin

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   107. Tiga Gelombang Badai

    Belum pula selesai menghabisi siluman serigala, ada juga siluman semut dan kini ditambah siluman banteng. Situasi kini menjadi lebih tegang, lebih lagi para prajurit tidak pernah menghadapi tiga jenis siluman secara bersaaman.Kini, mereka mulai kehabisan anak panah. Satu persatu prajurit terpaksa melepaskan busur di tangannya, mengganti dengan senjata jarak dekat seperti tombak, pedang atau pula kapak.Sementara itu, Wayang Sari, Satrio Pamungkas yang berada di luar benteng pertahanan tampaknya hanya bisa pasrah saat gelombang siluman banteng bergerak semakin dekat.Menyadari teman-temannya dalam bahaya, Talang Mayan meminta Putri Intan Selake untuk membantu yang lain, sementara dia akan menghadapi siluman semut seorang diri.“Mereka lebih membutuhkanmu,” kata Talang Mayan.Meskipun berat hati meninggalkan Talang Mayan sendirian, pada akhirnya Putri Intan Selake kembali mundur ke barisan belakang, dan bergabung bersama dengan yang lain.Sampai akhirnya, terdengar suara teriakan dari

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   106. Gelombang Kedua

    Dua pendekar Parasura kini berada di luar Benteng Pertahanan, Talang Mayan dan Putri Intan Selake. Sungguh hal nekad yang membuat semua prajurit merasa ngeri melihat keduanya dengan gagah berani menantang maut.Namun, Wayang Sari juga memutuskan untuk terjun langsung ke medan perang. Dengan tombaknya, dia menghadapi gerombolan siluman semut yang menyerang mereka seperti tiada habisnya.“Tunggu aku!” Satrio Pamungkas sudah membulatkan tekadnya, dan akhirnya memutuskan untuk terjun langsung ke medan perang. Tindakan pemuda itu akhirnya diikuti oleh seluruh pendekar Parasura yang lain.Bom. Saat Satrio Pamungkas mendarat di belakang Wayang Sari, untuk sejenak nafasnya terhenti, dan jantungnya berdetak tidak karuan. Dia merasakan bahaya mengintainya dari segala arah, menciutkan nyalinya untuk sesaat.Namun, nasi sudah menjadi bubur. Setelah terjun ke medan perang, satu-satunya yang bisa dilakukan olehnya hanyalah betarung habis-habisan.“Kalian semua, pertahankan pondasi benteng!” perinta

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   94. Belati yang liar

    Rewak mulai menggunakan potensi pedang jantung iblis kehancuran, tapi di sisi lain, Talang Mayan dengan Belati Dasakala yang terbang dengan kehendaknya sendiri tidak menunjukan rasa gentar sedikitpun.Belati Dasakala terbang ke langit, kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi dan langsung bertemu

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   92. Di hadapan Ketakutan

    “Dia ... dialah pendekar yang sudah menyelamatkan desa kami, Tuan.” Dua gadis cantik desa Raya Keling segera melaporkanya kepada Senopati Anom. Menurut gadis itu, jika bukan karena pendekar bertopeng itu, Desa Raya Keling mungkin benar-benar hancur saat ini di tangan Demang Raya Keling.Karena dia

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   88. Kedatangan Intan Selake

    Di luar sana. Keadaan tampak tegang, Sekte Jantung Iblis mendapatkan tamu dari Istana Indraprasta, setelah dua gadis yang diutus oleh Talang Mayan 3 bulanan yang lalu, malah mendatangi Istana dan melaporkan keadaan desa mereka kepada Kelompok Parasura.Saat ini, lebih dari 10 Pendekar Parasura diki

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   86. Arti Teman

    “Dewa Semaranta!!!” tiba-tiba suara Dasakala terdengar menggelegar dari dalam penjara kepompong miliknya. “Sudah berapa ratus tahun tidak bertemu denganmu, meskipun kau hanyalah avatarnya saja, setiap kali melihatmu aku selalu ingin membunuhmu.”Mata Dasakala yang tertutup tiba-tiba terbuka, mengel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status