LOGINCakra adalah satuan untuk mengukur kekuatan Energi Spiritual. Seorang pendekar bela diri di level Tanpa tanding paling tidak memiliki 61 hingga 90 cakra di dalam tubuhnya. Pendekar Pilih Tanding memiliki cakra 31-60, dan di level tanding memiliki cakra 10-30 cakra.
Untuk jumlah cakra dari 1-9 disebut sebagai pendekar rendah, atau juga disebut sebagai pondasi bela diri. Keluarga Belati yang dipimpin oleh Nyi Loro Ati tidak memiliki satupun murid yang memiliki cakra lebih dari 30, artinya tidak ada satupun yang berada di level pilih tanding pada jalur kependekaran.
Meskipun sebenarnya, Sekte Empu lebih menekankan pada pembuatan senjata daripada bela diri, akan tetapi jumlah energi spiritual yang berhasil dibangkitkan oleh murid, akan mempengaruhi kualitas dari senjata yang mereka ciptakan.
Contoh sederhana, belati yang dialiri energi spiritual sebanyak 31 lingkaran akan menghasilkan daya hancur lebih kuat dibandingkan belati yang dialiri oleh energi spiritual sebanyak 10 lingkaran cakra.
Selain itu, kebutuhan energi spiritual berperan penting saat diadakan pengujian kualitas sebuah senjata. Jangan sampai, senjata yang diklaim berada di level menengah, malah meledak ketika diberikan energi spiritual sebanyak 20 cakra.
“Karena Talang Mayan sudah membangkitkan energi spiritualnya, aku tidak lagi khawatir,” ucap Gundalini.
Gundalini dan Carungking tampak sangat bersemangat saat mengajari Talang Mayan dalam membuat belati pertamanya. Mereka menjelaskan berbagai macam karakteristik logam, suhu api yang diperlukan, dan bahkan jumlah pukulan palu yang dibutuhkan untuk membentuk belati tersebut.
Selain itu, ada banyak jenis palu yang dibutuhkan oleh seorang pembuat senjata. Mulai dari palu ukuran besar, hingga palu ukuran yang sangat kecil. Masing-masing palu memiliki kegunaannya sendiri-sendiri, dan tidak bisa diganti dengan palu yang lain.
“Aku hanya mengerti cara membunuh,” gumam Talang Mayan, “ketrampilan ini membuatku berada pada titik nol besar. Aku tidak tahu apapun tentang logam.”
Dulu, jika ingin mendapatkan senjata berkualitas, Talang Mayan hanya perlu merebutnya dari tangan orang lain, dan tentu saja membunuh mereka. Bagi Talang Mayan, sebilah pedang yang berkualitas mampu menahan benturan logam sebanyak 1000 kali, jika kurang, dia akan menggantinya dengan pedang yang lain.
“Gunakan palu di sana ..,” kata Gundalini, menegur Talang Mayan yang salah dalam memilih palu, “kau akan menghancurkan mata belati dengan palu sebesar itu, bocah.”
“Ah, baiklah aku mengerti.” Talang Mayan tidak membantah sama sekali, dia mengikuti setiap intruksi yang dijelaskan oleh dua seniornya.
Meskipun sering kali ke dua orang itu berdebat hanya karena masalah bara api atau masalah palu, tapi bagi Talang Mayan kedua orang itu tetaplah senior yang memiliki pengetahuan jauh di atas dirinya. Karena itu dia harus menghormati mereka berdua.
Dua hari telah berlalu, belati yang dibuat oleh Talang Mayan akhirnya berhasil diselesaikan. Sayangnya, bentuknya benar-benar jelek. Ketika Nyi Loro Ati menguji belati itu, dia langsung memasang wajah masam.
“Talang Mayan, apa yang kau ketahui tentang belati?” tanya dirinya dengan pandangan mata yang tajam.
“Pedang kecil untuk membunuh secara diam-diam,” jawab Talang Mayan.
“Bagi pendekar bela diri, jawabanmu memang tepat, tapi bagi seorang penempa senjata kau harus tahu bahwa belati bukan hanya sebuah senjata sembunyi. Belati adalah simbol dari ketenangan, kesabaran dan juga kecerdasan. Belati tidak muncul pertama kali dalam medan pertempuran, sering kali dia menunggu waktu yang tepat untuk digunakan. Butuh kesabaran untuk menggunakannya, karena itulah pendekar yang menggunakan belati dianggap memiliki kecerdasan di atas rata-rata.”
Menurut Nyi Loro Ati, pendekar yang menggunakan belati tidak akan langsung menunjukan kemampuannya, atau juga bersikap sombong di hadapan orang lain. Sejatinya, belati adalah simbol dari kepribadian pengguna dan penempanya.
Namun, ketika belati sudah dicabut dari sarungnya, maka pantang baginya masuk tanpa merenggut nyawa. Belati adalah pertahanan terakhir bagi seorang pendekar, tapi kadang kala justru menjadi penyelamat mereka ketika senjata lain tidak bisa melindungi pemiliknya.
“Aku bisa melihat pribadimu hanya dari belati yang kau buat, Talang Mayan,” ucap Nyi Loro Ati, dengan makna yang lebih dalam dan menyentuh jiwa Talang Mayan, “Bocah, aku yakin kau sudah melewati banyak masalah dalam hidupmu, tapi percayalah, sifatmu yang tergesa-gesa akan merugikan dirimu sendiri.”
Hanya itu yang dikatakan oleh Nyi Loro Ati, tanpa kalimat yang lebih jelas dan mudah dipahami. Namun, Talang Mayan mengerti maksud dari ucapan gurunya ini. Dia sadar, dia memang ceroboh dan tergesa-gesa dalam membuat belati pertamanya.
Belati level menengah dibuat hanya dengan dua hari, itu adalah omong kosong. Nyi Loro Ati bahkan menciptakan belatinya dengan waktu 6 bulan lamanya. Dia memperbaiki belati itu setiap hari, kemudian mengujinya, lalu memperbaikinya lagi hingga dirasa sudah sempurna.
Namun dengan hanya dua hari, itu bukan belati level menengah, itu adalah pisau dapur yang digunakan untuk memotong bawang.
“Maafkan aku, Guru ..,” Talang Mayan langsung membungkuk di hadapan wanita tua itu, “murid ini mengaku salah, setelah ini murid berjanji akan bekerja lebih baik lagi.”
Nyi Loro Ati tersenyum saat mendengar penuturan dari mulut Talang Mayan. Di dalam hatinya, dia memuji kepribadian Talang Mayan yang dianggap jauh lebih dewasa daripada murid-muridnya yang lain.
Mengakui kesalahan merupakan hal yang sulit untuk dilakukan oleh seorang manusia. Butuh jiwa yang sangat bijaksana untuk melakukannya.
Semua orang tentu saja punya salah, itu lumrah. Namun, yang terbaik dari yang paling baik adalah, mengakui kesalahannya dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.
“Belati merupakan senjata yang paling tidak digemari oleh para pendekar dan para prajurit kerajaan, kita hidup dari menjual belati yang peminatnya sangat sedikit sekali. Namun, paling tidak, ciptakanlah belati untuk dirimu sendiri, Talang Mayan. Yang terbaik, yang tidak pernah dibuat oleh orang lain, dan hanya ada satu-satunya di dunia ini.”
Talang Mayan langsung terdiam seolah dia sedang berfikir keras saat ini. Ucapan gurunya penuh sarat makna, dan menurut Talang Mayan, seorang penempa hanya akan dipuaskan oleh senjata yang dibuat seolah-olah untuk dirinya sendiri, sehingga setiap belati yang lahir dari tangannya akan memiliki perbedaan dari belati-belati yang lain.
“Setelah kau berhasil menciptakan belati yang kau anggap sudah sempurna, dan teruji kualitasnya, aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” ucap Nyi Loro Ati. “Dimana kau bisa mendapatkan logam-logam terbaik.”
Talang Mayan langsung merasa senang saat mendengar janji gurunya. Logam terbaik adalah bahan baku utama, sebagai seorang pandai besi, siapa yang tidak menginginkan logam terbaik?
Setelah kembali ke kamarnya, Talang Mayan mulai mengambil alat tulis dan mengambar seketsa belati yang akan dia ciptakan. Dia mulai berimajinasi tentang belati, yang membuat seolah-olah pikirannya dapat melihat dengan jelas bentuk belati yang akan dia ciptakan.
“Aku akan membuat belati yang tidak pernah dibuat di tempat ini.”
Pertemuan para petinggi anggota Bintang Kejora Merah diadakan di sebuah tempat terpencil yang tiada tertulis di catatan maupun tergambar di dalam peta. Sudah beberapa lama mereka menunggu di atas kursi batu, menghadap kobaran api yang menyala, tidak pernah padam sekalipun.Kursinya ada lima buah, tapi yang duduk di sana hanya tiga orang saja.“Jantung Iblis telah dikalahkan oleh Indraprasta ..,” salah satu dari tiga orang itu akhirnya membuka suara. “Satu kursi telah kosong, kita harus mencari penggantinya.”“Aku dengar, Jantung Iblis dikalahkan oleh pendekar Parasura yang dibentuk oleh Patih Wira beberapa bulan yang lalu. Mereka adalah kumpulan murid terbaik dari segala sekte aliran putih.” Salah satu dari orang yang duduk di sana mengenakan pakaian merah darah, dengan sarung tangan berbentuk cakar naga.“Kehebatan mereka dikatakan dapat menggulingkan sebuah kerajaan, omong kosong!” timpal salah satu dari yang lain, dan kali ini seorang wanita dengan kipas perunggu menimpali pria tad
Di hari lain, Tiwas Kuncir keluar dari kamarnya dengan tatapan yang penuh dengan dendam. Keluarnya dia dari kamar, disambut oleh banyak pendekar Racun Hati, tapi aura pria itu kini berubah.Dia tidak nampak seperti pria tua yang bengis, tapi malah seperti wanita tua yang penuh dengan dendam kesumat. Sakunira mengiringi langkah kakinya dengan perasaan tidak menentu, dan sesekali melirik ke arah beberapa bawahannya agar tidak menyinggung Tiwas Kuncir.“Tuan ..,” salah satu bawahannya mendekat, sedikit berjalan membungkuk, “Begini Tuan, pertemuan antar anggota Bintang Kejora Merah akan berlangsung besok siang. Tuan..,”Wush.Tiwas Kuncir langsung membunuh pria itu dengan sadis. Semua orang langsung tercengang, dan sontak membuat ratusan pendekar ciut nyalinya.“Bintang Kejora Merah, aku tidak peduli lagi dengan semuanya, yang aku inginkan adalah kematian pemuda itu. Kerahkan semua orang untuk memburunya! Jelajahi setiap jengkal tanah Indraprasta, tangkap dia hidup-hidup, dan biarkan aku
Aksi kejar-kejaran terjadi antara Talang Mayan dan pendekar Racun Hati. Hingga pada akhirnya, ke duanya berhasil menghindari mereka dengan bersembunyi di dalam jurang yang cukup gelap.Di sana, Talang Mayan menurunkan Intan Selake, sementara gadis itu hanya menangis cengeng sembari membenarkan seluruh pakaiannya. Saat itu, Talang Mayan langsung pergi menjauh, berdiri di antara celah-celah cadas sembari memantau ke adaan di permukaan atas.Dari pantauan Mata Batinnya, Talang Mayan menemukan beberapa pendekar Racun Hati sedang mengamati permukaan jurang. Di saat itulah, Talang Mayan langsung menarik tubuh Intan Selake, dan bersembunyi lebih dalam pada celah batu yang berukuran sangat cempit.Kedua tubuh mereka kini berhimpitan, “hussttt ..,” bisik Talang Mayan di telinga gadis itu, “mereka ada di atas sana.”Jantung Intan Selake berdebar-debar dengan situasi ini. Wajahnya mungkin memerah, mungkin malu, mungkin pula panik, tapi saat ini situasinya membuat gadis itu terus berpelukan denga
Belati Dasaka keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan, dan roh senjata itu tertawa girang. Energi menakutkan menyeruak memenuhi seluruh bagian belati itu, menciptakan percikan kilatan hitam yang menggetarkan jiwa.Sesaat, getaran halus menjalar di dinding ruangan itu, sebelum akhirnya dinding-dingding itu menjadi retak seribu.“Hahahaa!!!” tawa Dasakala memekakan telinga Talang Mayan, “Aku merasakan lawan yang cukup sepadan.”Ya, semenjak Dasakala menyerap energi spiritual dari senjata pimpinan Jantung Iblis, tanpa disadari oleh Talang Mayan, ternyata kekuatan Dasakala meningkat sangat pesat. Aura haus darah yang kental kini hampir tidak bisa dikendalikan.Sementara itu, di kamar pribadinya, Ki Tiwas Kuncir memandangi sekujur tubuh Intan Selake yang tergeletak tidak berdaya di atas pembarian. Kaki dan tangan gadis itu terbelenggu oleh jaring laba-laba, dan meskipun dia meronta sekuat tenaga, gadis itu sudah jatuh dalam perngkap menjijikan pimpinan Racun Hati.“Yuhuhuhuh ..,” Pri
“Hoiii .., siapa yang mau jadi pasangan wanita menakutkan seperti dirimu!” teriak Talang Mayan yang langsung berusaha membebaskan diri dari jerat jaring laba-laba di dua tangannya, dan meskipun tidak berhasil, dia selalu berusaha sekuat tenaga.Melihat hal itu, Sakunanira malah tertawa semakin genit dan mulai mengelus leher hingga dada Talang Mayan. Di sisi lain, pemuda itu merasakan rasa jijik yang luar biasa, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri, dan darahnya nyaris membeku.Seumur hidupnya, Talang Mayan tidak pernah dirayu oleh seorang gadis sebegitunya, dan hari ini, pengalaman pertamanya malah dilakukan oleh manusia setengah siluman yang jelas-jelas mengerikan. Ah, meskipun jika berada pada wujud manusia dia juga cukup cantik, tapi tetap saja, ketika dia berubah menjadi setengah laba-laba raut wajahnya lebih parah dari siluman itu sendiri.“Tolong cari pemuda lain saja ..,” kata Talang Mayan, hampir merengek di hadapan Sakunira, “sebenarnya, aku tidak menyukai .., aku tidak meny
Sementara itu, Talang Mayan harus rela mengikuti Intan Selake yang penuh semangat saat menjelajahi goa yang begitu dalam. Meskipun ada perasaan khawatir, nyatanya rasa penasaran yang dimiliki gadis itu mengalahkan rasa takutnya.Talang Mayan menggunakan Mata Batin nya untuk menganalisa lorong goa yang begitu panjang, hanya untuk memastikan bahwa mereka berjalan di rute yang lebih aman.Semakin dalam, situasi di lorong goa menjadi semakin gelap. Udara bersih terasa menipis, membuat keduanya harus mengatur nafas sedemikian rupa.Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kedua orang itu menemukan tiga cabang lorong yang dipenuhi oleh sarang laba-laba.“Kita akan menjelajahi lorong tengah ..,” kata Intan Selake.Talang Mayan mengedarkan mata batinya, dan meskipun dia tidak bisa melihat tanda-tanda bahaya, akan tetapi firasatnya mengatakan bahwa tempat ini sangat berbahaya.Tidak ada lorong yang lebih baik dari lorong yang lain. Semuanya menyimpan potensi yang sama-sama berbahaya, meskipun
Cakram Sudra tidak hanya menghancurkan serangan lawan, tapi juga hampir membunuh pendekar itu hingga tercabik-cabik, jika bukan salah satu dari tetua Jantung Iblis segera menyambar tubuh muridnya.Namun di saat yang sama pula, senjata pusaka itu malah mengincar beberapa pendekar yang berada dekat d
Esok harinya, Carungking dan Gundalini menemui Talang Mayan yang duduk termenung di depan teras kamarnya. Kedua pemuda ini mengucapkan bela sungkawa atas kematian Mundru, dan meminta maaf karena mereka tidak sempat mengikuti ritual pemakaman.Talang Mayan tidak ingin Carungking dan Gundalini merasa
“Talang Mayan .., Ayahmu ..,” seorang pria tua mendekati bocah itu dengan nada bergetar.Talang Mayan langsung berlari ke dalam rumah, mendapati Ayahnya sudah terbaring tidak bernyawa. Melihat hal ini, tubuh Talang Mayan langsung jatuh terkulai. Matanya meneteskan air mata kesedihan, dia menggigit
Mundru mendengar kabar bahwa putranya kini telah diterima sebagai murid resmi Sekte Empu, tidak bisa menahan rasa bahagia di tengah-tengah luka dalam yang dialaminya. Seolah, kabar baik itu menjadi obat bagi dirinya, dan seakan setengah beban hidupnya mulai terangkat.Sebagai Ayah, kini dia tidak p







