Inicio / Pendekar / Talang Mayan / 8. Terburu-buru

Compartir

8. Terburu-buru

Autor: Pancur Lidi
last update Última actualización: 2026-02-21 21:49:05

Cakra adalah satuan untuk mengukur kekuatan Energi Spiritual. Seorang pendekar bela diri di level Tanpa tanding paling tidak memiliki 61 hingga 90 cakra di dalam tubuhnya. Pendekar Pilih Tanding memiliki cakra 31-60, dan di level tanding memiliki cakra 10-30 cakra.

Untuk jumlah cakra dari 1-9 disebut sebagai pendekar rendah, atau juga disebut sebagai pondasi bela diri. Keluarga Belati yang dipimpin oleh Nyi Loro Ati tidak memiliki satupun murid yang memiliki cakra lebih dari 30, artinya tidak ada satupun yang berada di level pilih tanding pada jalur kependekaran.

Meskipun sebenarnya, Sekte Empu lebih menekankan pada pembuatan senjata daripada bela diri, akan tetapi jumlah energi spiritual yang berhasil dibangkitkan oleh murid, akan mempengaruhi kualitas dari senjata yang mereka ciptakan.

Contoh sederhana, belati yang dialiri energi spiritual sebanyak 31 lingkaran akan menghasilkan daya hancur lebih kuat dibandingkan belati yang dialiri oleh energi spiritual sebanyak 10 lingkaran cakra.

Selain itu, kebutuhan energi spiritual berperan penting saat diadakan pengujian kualitas sebuah senjata. Jangan sampai, senjata yang diklaim berada di level menengah, malah meledak ketika diberikan energi spiritual sebanyak 20 cakra.

“Karena Talang Mayan sudah membangkitkan energi spiritualnya, aku tidak lagi khawatir,” ucap Gundalini.

Gundalini dan Carungking tampak sangat bersemangat saat mengajari Talang Mayan dalam membuat belati pertamanya. Mereka menjelaskan berbagai macam karakteristik logam, suhu api yang diperlukan, dan bahkan jumlah pukulan palu yang dibutuhkan untuk membentuk belati tersebut.

Selain itu, ada banyak jenis palu yang dibutuhkan oleh seorang pembuat senjata. Mulai dari palu ukuran besar, hingga palu ukuran yang sangat kecil. Masing-masing palu memiliki kegunaannya sendiri-sendiri, dan tidak bisa diganti dengan palu yang lain.

“Aku hanya mengerti cara membunuh,” gumam Talang Mayan, “ketrampilan ini membuatku berada pada titik nol besar. Aku tidak tahu apapun tentang logam.”

Dulu, jika ingin mendapatkan senjata berkualitas, Talang Mayan hanya perlu merebutnya dari tangan orang lain, dan tentu saja membunuh mereka. Bagi Talang Mayan, sebilah pedang yang berkualitas mampu menahan benturan logam sebanyak 1000 kali, jika kurang, dia akan menggantinya dengan pedang yang lain.

“Gunakan palu di sana ..,” kata Gundalini, menegur Talang Mayan yang salah dalam memilih palu, “kau akan menghancurkan mata belati dengan palu sebesar itu, bocah.”

“Ah, baiklah aku mengerti.” Talang Mayan tidak membantah sama sekali, dia mengikuti setiap intruksi yang dijelaskan oleh dua seniornya.

Meskipun sering kali ke dua orang itu berdebat hanya karena masalah bara api atau masalah palu, tapi bagi Talang Mayan kedua orang itu tetaplah senior yang memiliki pengetahuan jauh di atas dirinya. Karena itu dia harus menghormati mereka berdua.

Dua hari telah berlalu, belati yang dibuat oleh Talang Mayan akhirnya berhasil diselesaikan. Sayangnya, bentuknya benar-benar jelek. Ketika Nyi Loro Ati menguji belati itu, dia langsung memasang wajah masam.

“Talang Mayan, apa yang kau ketahui tentang belati?” tanya dirinya dengan pandangan mata yang tajam.

“Pedang kecil untuk membunuh secara diam-diam,” jawab Talang Mayan.

“Bagi pendekar bela diri, jawabanmu memang tepat, tapi bagi seorang penempa senjata kau harus tahu bahwa belati bukan hanya sebuah senjata sembunyi. Belati adalah simbol dari ketenangan, kesabaran dan juga kecerdasan. Belati tidak muncul pertama kali dalam medan pertempuran, sering kali dia menunggu waktu yang tepat untuk digunakan. Butuh kesabaran untuk menggunakannya, karena itulah pendekar yang menggunakan belati dianggap memiliki kecerdasan di atas rata-rata.”

Menurut Nyi Loro Ati, pendekar yang menggunakan belati tidak akan langsung menunjukan kemampuannya, atau juga bersikap sombong di hadapan orang lain. Sejatinya, belati adalah simbol dari kepribadian pengguna dan penempanya.

Namun, ketika belati sudah dicabut dari sarungnya, maka pantang baginya masuk tanpa merenggut nyawa. Belati adalah pertahanan terakhir bagi seorang pendekar, tapi kadang kala justru menjadi penyelamat mereka ketika senjata lain tidak bisa melindungi pemiliknya.

“Aku bisa melihat pribadimu hanya dari belati yang kau buat, Talang Mayan,” ucap Nyi Loro Ati, dengan makna yang lebih dalam dan menyentuh jiwa Talang Mayan, “Bocah, aku yakin kau sudah melewati banyak masalah dalam hidupmu, tapi percayalah, sifatmu yang tergesa-gesa akan merugikan dirimu sendiri.”

Hanya itu yang dikatakan oleh Nyi Loro Ati, tanpa kalimat yang lebih jelas dan mudah dipahami. Namun, Talang Mayan mengerti maksud dari ucapan gurunya ini. Dia sadar, dia memang ceroboh dan tergesa-gesa dalam membuat belati pertamanya.

Belati level menengah dibuat hanya dengan dua hari, itu adalah omong kosong. Nyi Loro Ati bahkan menciptakan belatinya dengan waktu 6 bulan lamanya. Dia memperbaiki belati itu setiap hari, kemudian mengujinya, lalu memperbaikinya lagi hingga dirasa sudah sempurna.

Namun dengan hanya dua hari, itu bukan belati level menengah, itu adalah pisau dapur yang digunakan untuk memotong bawang.

“Maafkan aku, Guru ..,” Talang Mayan langsung membungkuk di hadapan wanita tua itu, “murid ini mengaku salah, setelah ini murid berjanji akan bekerja lebih baik lagi.”

Nyi Loro Ati tersenyum saat mendengar penuturan dari mulut Talang Mayan.  Di dalam hatinya, dia memuji kepribadian Talang Mayan yang dianggap jauh lebih dewasa daripada murid-muridnya yang lain.

Mengakui kesalahan merupakan hal yang sulit untuk dilakukan oleh seorang manusia. Butuh jiwa yang sangat bijaksana untuk melakukannya.

Semua orang tentu saja punya salah, itu lumrah. Namun, yang terbaik dari yang paling baik adalah, mengakui kesalahannya dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi.

“Belati merupakan senjata yang paling tidak digemari oleh para pendekar dan para prajurit kerajaan, kita hidup dari menjual belati yang peminatnya sangat sedikit sekali. Namun, paling tidak, ciptakanlah belati untuk dirimu sendiri, Talang Mayan. Yang terbaik, yang tidak pernah dibuat oleh orang lain, dan hanya ada satu-satunya di dunia ini.”

Talang Mayan langsung terdiam seolah dia sedang berfikir keras saat ini. Ucapan gurunya penuh sarat makna, dan menurut Talang Mayan, seorang penempa hanya akan dipuaskan oleh senjata yang dibuat seolah-olah untuk dirinya sendiri, sehingga setiap belati yang lahir dari tangannya akan memiliki perbedaan dari belati-belati yang lain.

“Setelah kau berhasil menciptakan belati yang kau anggap sudah sempurna, dan teruji kualitasnya, aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” ucap Nyi Loro Ati. “Dimana kau bisa mendapatkan logam-logam terbaik.”

Talang Mayan langsung merasa senang saat mendengar janji gurunya. Logam terbaik adalah bahan baku utama, sebagai seorang pandai besi, siapa yang tidak menginginkan logam terbaik?

Setelah kembali ke kamarnya, Talang Mayan mulai mengambil alat tulis dan mengambar seketsa belati yang akan dia ciptakan. Dia mulai berimajinasi tentang belati, yang membuat seolah-olah pikirannya dapat melihat dengan jelas bentuk belati yang akan dia ciptakan.

“Aku akan membuat belati yang tidak pernah dibuat di tempat ini.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Talang Mayan   21. Bangunan Kuno

    Satu hari lamanya di dalam goa tersebut, tapi gerombolan para siluman belum juga menyurut. Talang Mayan berfikir keras, apa yang memicu para siluman ini keluar dari sarangnya. Atau apakah ada jenis siluman yang memiliki kesadaran seperti manusia yang memberikan perintah kepada siluman-siluman ini?“Aku belum pernah mendengarnya,” gumam Talang Mayan, “siluman yang memiliki kesadaran. Sekarang tidak ada yang bisa aku lakukan di sini, keluar dari goa hanya akan membuatku tewas di makan siluman. Dengan kemampuanku seperti ini, aku hanya bisa membunuh 10 siluman level rendahan saja.”Di kehidupan pertamanya, Talang Mayan meningkatkan level energi sepiritual dengan menyerap mustika siluman. Hal itu bisa dia lakukan karena darah iblis yang mengalir di dalam nadinya, dapat menetralkan efek samping mustika tersebut.Namun, di kehidupan ini, jangankan darah iblis, hanya untuk memiliki 30 cakra spiritual harus berlatih tahunan di dalam ruangan tersembunyi.“Saudara Mayan, apa yang kau pikirkan?”

  • Talang Mayan   20. Rahasia Sekte

    Talang Mayan menemukan goa cukup luas setelah dia berhasil menghindari para siluman. Sekarang, di dalam goa itu, dia meletakan Rindu Ati di atas batu. Kondisi gadis itu masih lemah, tapi racun di tubuhnya telah menghilang.Hanya menunggu waktu, dia akan sadar. Namun di sisi lain, perasaan Talang Mayan menjadi tidak menentu. Dia masih tidak mengerti, kenapa membantu Rindu Ati. Dia adalah putri dari keluarga Pedang, keluarga yang menginginkan dirinya mati.Jika bukan Gurunya, Nyi Loro Ati telah menyembunyikan keberadaan Talang Mayan selama 6 tahun lamanya, remaja itu mungkin sudah menyatu dengan tanah. 6 tahun tinggal di ruang rahasia, itu seperti penjara yang menyiksa.Dia tidak pernah melihat matahari, tidak pula rembulan malam. Talang Mayan bahkan tidak lagi mengetahui bedanya siang dan malam saat di ruang rahasia tersebut. Namun, tekadnya untuk bertahan hidup, membuat Talang Mayan bertahan, berlatih dan patuh terhadap Nyi Loro Ati.Sekarang di hadapannya, sosok gadis dari keluarga P

  • Talang Mayan   19. Kepungan

    Talang Mayan kembali memeriksa beberapa mayat untuk mencari penawar racun dari senjata yang mereka miliki. Dengan pengalamannya yang cukup banyak, Talang Mayan akhirnya mendapatkan penawar itu yang di simpan di dalam gigi palsu.‘Cara yang cerdik,’ ucap Talang Mayan.Untuk berjaga-jaga di hari depan, Talang Mayan segera mengambil semua penawar racun dari gigi-gigi palsu para pendekar aliran hitam, sebelum kemudian dia berlari lagi menunju murid Sekte Empu.“Kau sudah kembali?” Pelisik menatap Talang Mayan yang pergi dan kembali hanya dalam beberapa detik saja.Talang Mayan tidak menjawab apapun, dia langsung menyerahkan satu penawar kepada Wayang Sari untuk diberikan kepada Rindu Ati. Lalu menyerahkan satunya lagi kepada Duguk Ireng.Merasa tidak diperhatikan, Pelisik merasa kesal. Dia menduga apakah Talang Mayan sengaja mengacuhkan dirinya, karena statusnya yang bukan berasal dari keluarga inti Sekte Empu? Atau karena kekuatannya berada di level yang lebih rendah dari Rindu Ati dan W

  • Talang Mayan   18. Siluman Kepiting

    Ada gejolak bergerak liar di dalam pantai, sementara Duguk Ireng masih sibuk berburu ikan di antara terumbung karang.Talang Mayan menarik dua belati miliknya, kemudian bergegas mendekati pantai, tapi di saat yang sama pula, muncul sosok monster ikan dari dalam air. Seperti kepiting tapi memiliki ekor kalajengking.Hanya satu jengkal saja, ya satu jengkal saja! jarak antara kematian dengan kepala Duguk Ireng, sebelum kemudian Talang Mayan berhasil tiba tepat waktu, dan memotong ekor kepiting tersebut.Mahluk itu meraung kesakitan, terdengar seperti suara desisan ular besar yang bersiap melahap mangsanya. “Pergi ke daratan!” Talang Mayan berkata dingin, dijawab balik dengan suara gemetar dari mulut Duguk Ireng.Ketika Duguk Ireng berlari pontang-pangting meninggalkan bibir pantai, Talang Mayan harus berhadapan dengan kepiting itu untuk ke dua kalinya. Sial, mahluk mengerikan ini meskipun sudah terluka, tapi dua capit besar miliknya sangat berbahaya.Hanya dengan satu kali capitan saja,

  • Talang Mayan   17. Perjalanan Bersama

    Esok paginya, Talang Mayan sudah meninggalkan Kota Pagar Banyu untuk melanjutkan perjalannya. Namun siapa sangka, dia kembali bertemu dengan rombongan murid Sekte Empu di gerbang kota.“Tuan Pemburu ..,” Rindu Ati menyapa pemuda bertopeng itu lebih dulu, “sepertinya kita bertemu lagi.”Talang Mayan menatap gadis itu beberapa saat, kemudian dia menyapukan pandangan ke arah empat remaja yang lain. Pandangan Talang Mayan jatuh ke wajah Pelisik, ada rasa kesal di hati pemuda itu setiap kali melihat wajah sepupunya tersebut. Ibu gadis ini sudah membuat banyak masalah dengan Ayahnya, dan bahkan gadis itu sering kali merendahkannya setiap kali mendapatkan kesempatan.Mendapat tatapan sedingin embun pagi, Pelisik langsung menundukan kepalanya, benar-benar tidak berani menatap balik mata Talang Mayan.“Senior ..,” seorang pemuda yang dua tangannya sedang terikat oleh perban, kini memberi hormat, “terima kasih, kau sudah menyelematkan kami semua. Saya, Murantang tidak akan melupakan budi baik S

  • Talang Mayan   16. Bandul Melati

    Rindu Ati dan empat temannya tidak berani melawan perintah Talang Mayan. Mereka, mengambil harta rampasan di tangan jasad perampok, dan pergi meninggalkan Talang Mayan.Urusan mayat, itu soal mudah. Talang Mayan mengumpulkan semua mayat menjadi satu tumpukan besar, melucuti semua harta yang mereka miliki, dan mengambil uang yang ada di saku celananya.Dengan ekspresi datar, Talang Mayan membakar seluruh mayat itu. Membiarkannya membusuk hanya akan menjadikan sarang penyakit dan virus yang menular. Lagipula, paling tidak jasad mereka akan berguna untuk menyuburkan tanah atau memberi makan pohon-pohon di dalam hutan ini.“Lumayan,” ucap Talang Mayan, saat menghitung kepingan uang logam yang dikumpulkan menjadi satu, “ratusan gepeng.”Gepeng adalah sebutan uang koin di dataran Indraprasta. Terbuat dari perak bercampur emas.Meninggalkan kobaran api yang melahap tubuh para perampok, Talang Mayan kembali ke Kota Pagar Banyu. Dengan kepingan gepeng di sakunya, dia tidak lagi khawatir untuk

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status