INICIAR SESIÓNTalang Mayan akhirnya tiba di wilayah kecil jauh dari pusat Sekte Empu daripada para tetua yang lain. Tempat ini dipenuhi oleh pohon berdaun kecil lancip, semak belukar, dan batuan terjal. Tidak seperti yang didugaan Talang Mayan. Jika semua Tetua tinggal di atas bukit tinggi, Tetua Nyi Loro Ati malah tinggal di dataran rendah yang gersang.
“Guru sudah pulang!” terdengar para brandalan yang memanggil Nyi Loro Ati berulang kali, “Guru, Guru .., apa mereka tidak memberimu satupun murid lagi, hahaha?”
“Hahaha, aku mebawa satu bocah,” jawab Nyi Loro Ati.
“Heh ..,” satu senior langsung menatap Talang Mayan yang berjalan di belakang Nyi Loro Ati. “Bocah, sepertinya kau kurang beruntung ya? Apa yang membawamu ke sini. Biar aku tebak, kau pasti pecundang, hahaha. Jangan berkecil hati, karena bukan hanya dirimu saja, lihat semuanya! Mereka juga pecundang.”
Talang Mayan hanya bisa tersenyum dalam diam. Namun dia tidak menyesal, tidak pula berkecil hati. Dulu dia pernah menjadi murid terbaik dengan guru paling hebat, tapi apa yang dia dapatkan setelah itu, gurunya memanfaatkan dirinya.
Jadi, meskipun mungkin Nyi Loro Ati dianggap sebagai salah satu tetua yang lemah, tapi Talang Mayan berpikir dia adalah guru yang baik. Di dunia persilatan, sangat sulit mencari orang yang baik.
“Bocah, siapa namamu?” tanya pria tinggi kurus, berambut jabrik, mata jendul dan bibir yang tebal itu langsung menepuk pundak Talang Mayang dengan sikap jenaka. “Namaku Carungking.”
“Namaku Gundalini,” sambung pria botak pendek di sebelahnya.
“Salam kakak senior semuanya, namaku Talang Mayan.”
“Baiklah, Talang Mayan. Ikut aku!” Gundalini menarik bahu Talang Mayan untuk menunjukan kamar barunya di Sekte tersebut. “Kau tahu, meskipun kita semua pecundang, tapi jangan khawatir, sebagai seniormu di sini, aku jamin tidak ada yang berani macam-macam denganmu.”
“Eleh,” timpal Carungking, “Jangan percaya dengannya, kau akan tahu setelah berteman dengannya cukup lama.”
“Kau, jangan menghancurkan martabatku di depan Talang Mayan!” Gundalini membentak Carungkin dengan perasaan kesal.
Gundalini dan Carungking merupakan murid pertama Nyi Loro Ati. Setelah beberapa tahun lamanya, mereka bahkan masih berada di level Elite, dengan energi spritual sebanyak 15 cakra saja.
Sementara itu, usia mereka mungkin sudah lebih dari 17 tahun, mungkin juga 20 tahunan. Benar-benar bakat yang buruk, pikir Talang Mayan.
Sebagai murid senior, Carungking dan Gundalini tidak bisa bersaing dengan murid-murid utama di keluarga yang lain. Karena itulah, Keluarga Belati tidak pernah mengikuti kompetisi apapun yang diadakan di Sekte Empu. Baik itu kompetisi pembuatan senjata, maupun kompetisi bela diri.
“Ini adalah kamarmu, istirahatlah dan besok kau harus bekerja seperti yang lainnya!” Carungking membuka kamar yang berdebu, daun pintu yang terkulai karena rusak di beberapa sisi, kasur yang lembab, dan meja yang sudah digerogoti oleh tikus. “Bersihkan sendiri, tidak mungkin aku yang senior membersihkan kamarmu, bukan?”
“Ini lebih dari cukup, terima kasih Senior sekalian.”
Gundalani dan Carungking pergi meninggalkan Talang Mayan di kamarnya. Mereka berbincang-bincang tentang Talang Mayan. Menurut mereka berdua, Talang Mayan itu berbeda. Dia tidak bodoh seperti kebanyak murid yang dibawa oleh Nyi Loro Ati.
Lebih pendiam, berwajah datar, tatapan tajam dan senyum yang dingin. Orang seperti itu hanya akan ditemukan di tiga keluarga terbaik yang mengendalikan Sekte Empu, seperti Keluarga Panah, Pedang dan Tombak.
“Jadi, apa menurutmu dia akan betah tinggal bersama kita?” Carungking sedikit ragu.
“Selagi kau tidak mencuri uangnya-“
“Siapa yang kau bilang mencuri, bukankah kau sendiri yang suka mencuri logam dari murid yang lain?”
“Ah, jangan mengungkit hal itu lagi, yang berlalu biarlah berlalu,” timpal Gundalini.
“Masalahnya, logam itu milikku, dasar kepala botak.”
Sementara itu, Talang Mayan hanya tertawa dari balik pintu saat mendengar ocehan dua seniornya barusan. Dia merasa momen-momen seperti tidak pernah ditemukan di Sekte Aliran Sesatnya dulu. Entah kenapa, kebodohan orang-orang di tempat ini membuat Talang Mayan malah merasa lebih hidup.
Hal pertama yang dilakukan oleh Talang Mayan hari itu, adalah memperbaiki seluruh ruangan kamarnya. Mengganti tiang meja, menambal pintu yang rapuh, dan menjemur kasur lembab yang baunya seperti lumpur kering.
Hingga menjelang malam, Talang Mayan akhirnya selesai merapikan tempat tidurnya. Setelah dunia menjadi lebih sepi dan hening, Talang Mayan duduk bermeditasi, dan fokus pikirannya kini tertuju pada jimat yang diberikan Lebah Perak penunggu Pilar Batu Hitam tadi siang.
Suah.
Jimat itu melayang di hadapan Talang Mayan. Ukiran dan tulisan-tulisan yang sulit untuk dipahami terlihat lebih jelas pada malam ini.
“Sebenarnya apa manfaat jimat ini?” gumam Talang Mayan.
Dia membaca askara kuno pada jimat tersebut, dan entah kenapa dia tidak mengerti maksudnya. Talang Mayan terdiam sejenak, dan menyimpulkan bahwa jimat itu mungkin akan menunjukan identitasnya jika dia sudah membangkitkan 10 cakra energi spiritualnya.
“Aku rasa tidak,” gumam Talang Mayan, “kekuatan jimat biasanya langsung aktif bahkan jika manusia tidak memiliki energi spiritual. Jika aku bisa memecahkan rahasia dari jimat ini, mungkin aku bisa mengatahui tujuannya.”
Malam ini, Talang Mayan benar-benar gagal memahami jimat sakral yang tersimpan di keningnya itu.
Ketika siang hari, Carungking dan Gundalini langsung menyerahkan beberapa tugas yang harus diselesaikan oleh Talang Mayan sebelum mengikuti pelajaran dari Nyi Loro Ati.
“Kau harus mengangkut air dari sungai ke dalam tong, membersihkan halaman utama Keluarga Belati, dan memberi makan ayam-ayam di kandang!” Gundalini dan Carungking bermaksud utuk mengerjai Talang Mayan, karena tugas ini sebenarnya cukup berat jika dilakukan oleh seorang bocah usia 10 tahun.
Namun, siapa yang menduga, Talang Mayan menyanggupi pekerjaan tersebut. Dengan senyum tipisnya, dia mulai mengambil wadah air dan mulai bekerja. Kebetulan, ada sungai kecil tidak jauh dari tempat ini, jadi tugas ini tidak akan terlalu sulit bagi Talang Mayan.
Setelah beberapa waktu yang lama, Talang Mayan mulai membersihkan halaman utama, dilanjutkan membersihkan kandang ayam dan memberi pakan. Tugas-tugas seperti ini bagi Talang Mayan bukan masalah besar, karena baginya ini jauh lebih ringan dibandingkan latihan keras yang diberikan mantan gurunya dahulu.
Barulah di tengah hari, Talang Mayan akhirnya masuk ke dalam bangunan besar yang semuanya terbuat dari batu dan tanah liat. Mirip seperti goa, yang dibuat oleh murid-murid Keluarga Belati.
Di sana, Nyi Loro Ati dan beberapa murid lain sedang berkumpul dengan tungku perapian yang menyala di hadapan mereka.
“Hari ini, aku ingin kalian membuat sebuah belati kualitas menengah, siapapun yang gagal akan menerima hukuman berat!” kata Nyi Loro Ati dengan nada suara yang membuat sendi-sendi muridnya menjadi ngilu, “Gundalini, kau harus mengajari Talang Mayan cara membuatnya.”
“Tapi Guru, Belati Kualitas Menengah memiliki syarat khusus, seorang penempa sudah memilki energi spiritual,” kata Gundalani.
“Guru, mungkin lebih baik jika Talang Mayan mendapatkan pelajaran dasar terlebih dahulu, membuat belati biasa.”
“Dia sudah membangkitkan energi spiritualnya sebanyak dua cakra.”
“Apa, dia sudah membangkitkan energinya?” semua orang di dalam ruangan itu langsung menatap ke arah Talang Mayan dengan rasa tidak percaya.
Satu hari lamanya di dalam goa tersebut, tapi gerombolan para siluman belum juga menyurut. Talang Mayan berfikir keras, apa yang memicu para siluman ini keluar dari sarangnya. Atau apakah ada jenis siluman yang memiliki kesadaran seperti manusia yang memberikan perintah kepada siluman-siluman ini?“Aku belum pernah mendengarnya,” gumam Talang Mayan, “siluman yang memiliki kesadaran. Sekarang tidak ada yang bisa aku lakukan di sini, keluar dari goa hanya akan membuatku tewas di makan siluman. Dengan kemampuanku seperti ini, aku hanya bisa membunuh 10 siluman level rendahan saja.”Di kehidupan pertamanya, Talang Mayan meningkatkan level energi sepiritual dengan menyerap mustika siluman. Hal itu bisa dia lakukan karena darah iblis yang mengalir di dalam nadinya, dapat menetralkan efek samping mustika tersebut.Namun, di kehidupan ini, jangankan darah iblis, hanya untuk memiliki 30 cakra spiritual harus berlatih tahunan di dalam ruangan tersembunyi.“Saudara Mayan, apa yang kau pikirkan?”
Talang Mayan menemukan goa cukup luas setelah dia berhasil menghindari para siluman. Sekarang, di dalam goa itu, dia meletakan Rindu Ati di atas batu. Kondisi gadis itu masih lemah, tapi racun di tubuhnya telah menghilang.Hanya menunggu waktu, dia akan sadar. Namun di sisi lain, perasaan Talang Mayan menjadi tidak menentu. Dia masih tidak mengerti, kenapa membantu Rindu Ati. Dia adalah putri dari keluarga Pedang, keluarga yang menginginkan dirinya mati.Jika bukan Gurunya, Nyi Loro Ati telah menyembunyikan keberadaan Talang Mayan selama 6 tahun lamanya, remaja itu mungkin sudah menyatu dengan tanah. 6 tahun tinggal di ruang rahasia, itu seperti penjara yang menyiksa.Dia tidak pernah melihat matahari, tidak pula rembulan malam. Talang Mayan bahkan tidak lagi mengetahui bedanya siang dan malam saat di ruang rahasia tersebut. Namun, tekadnya untuk bertahan hidup, membuat Talang Mayan bertahan, berlatih dan patuh terhadap Nyi Loro Ati.Sekarang di hadapannya, sosok gadis dari keluarga P
Talang Mayan kembali memeriksa beberapa mayat untuk mencari penawar racun dari senjata yang mereka miliki. Dengan pengalamannya yang cukup banyak, Talang Mayan akhirnya mendapatkan penawar itu yang di simpan di dalam gigi palsu.‘Cara yang cerdik,’ ucap Talang Mayan.Untuk berjaga-jaga di hari depan, Talang Mayan segera mengambil semua penawar racun dari gigi-gigi palsu para pendekar aliran hitam, sebelum kemudian dia berlari lagi menunju murid Sekte Empu.“Kau sudah kembali?” Pelisik menatap Talang Mayan yang pergi dan kembali hanya dalam beberapa detik saja.Talang Mayan tidak menjawab apapun, dia langsung menyerahkan satu penawar kepada Wayang Sari untuk diberikan kepada Rindu Ati. Lalu menyerahkan satunya lagi kepada Duguk Ireng.Merasa tidak diperhatikan, Pelisik merasa kesal. Dia menduga apakah Talang Mayan sengaja mengacuhkan dirinya, karena statusnya yang bukan berasal dari keluarga inti Sekte Empu? Atau karena kekuatannya berada di level yang lebih rendah dari Rindu Ati dan W
Ada gejolak bergerak liar di dalam pantai, sementara Duguk Ireng masih sibuk berburu ikan di antara terumbung karang.Talang Mayan menarik dua belati miliknya, kemudian bergegas mendekati pantai, tapi di saat yang sama pula, muncul sosok monster ikan dari dalam air. Seperti kepiting tapi memiliki ekor kalajengking.Hanya satu jengkal saja, ya satu jengkal saja! jarak antara kematian dengan kepala Duguk Ireng, sebelum kemudian Talang Mayan berhasil tiba tepat waktu, dan memotong ekor kepiting tersebut.Mahluk itu meraung kesakitan, terdengar seperti suara desisan ular besar yang bersiap melahap mangsanya. “Pergi ke daratan!” Talang Mayan berkata dingin, dijawab balik dengan suara gemetar dari mulut Duguk Ireng.Ketika Duguk Ireng berlari pontang-pangting meninggalkan bibir pantai, Talang Mayan harus berhadapan dengan kepiting itu untuk ke dua kalinya. Sial, mahluk mengerikan ini meskipun sudah terluka, tapi dua capit besar miliknya sangat berbahaya.Hanya dengan satu kali capitan saja,
Esok paginya, Talang Mayan sudah meninggalkan Kota Pagar Banyu untuk melanjutkan perjalannya. Namun siapa sangka, dia kembali bertemu dengan rombongan murid Sekte Empu di gerbang kota.“Tuan Pemburu ..,” Rindu Ati menyapa pemuda bertopeng itu lebih dulu, “sepertinya kita bertemu lagi.”Talang Mayan menatap gadis itu beberapa saat, kemudian dia menyapukan pandangan ke arah empat remaja yang lain. Pandangan Talang Mayan jatuh ke wajah Pelisik, ada rasa kesal di hati pemuda itu setiap kali melihat wajah sepupunya tersebut. Ibu gadis ini sudah membuat banyak masalah dengan Ayahnya, dan bahkan gadis itu sering kali merendahkannya setiap kali mendapatkan kesempatan.Mendapat tatapan sedingin embun pagi, Pelisik langsung menundukan kepalanya, benar-benar tidak berani menatap balik mata Talang Mayan.“Senior ..,” seorang pemuda yang dua tangannya sedang terikat oleh perban, kini memberi hormat, “terima kasih, kau sudah menyelematkan kami semua. Saya, Murantang tidak akan melupakan budi baik S
Rindu Ati dan empat temannya tidak berani melawan perintah Talang Mayan. Mereka, mengambil harta rampasan di tangan jasad perampok, dan pergi meninggalkan Talang Mayan.Urusan mayat, itu soal mudah. Talang Mayan mengumpulkan semua mayat menjadi satu tumpukan besar, melucuti semua harta yang mereka miliki, dan mengambil uang yang ada di saku celananya.Dengan ekspresi datar, Talang Mayan membakar seluruh mayat itu. Membiarkannya membusuk hanya akan menjadikan sarang penyakit dan virus yang menular. Lagipula, paling tidak jasad mereka akan berguna untuk menyuburkan tanah atau memberi makan pohon-pohon di dalam hutan ini.“Lumayan,” ucap Talang Mayan, saat menghitung kepingan uang logam yang dikumpulkan menjadi satu, “ratusan gepeng.”Gepeng adalah sebutan uang koin di dataran Indraprasta. Terbuat dari perak bercampur emas.Meninggalkan kobaran api yang melahap tubuh para perampok, Talang Mayan kembali ke Kota Pagar Banyu. Dengan kepingan gepeng di sakunya, dia tidak lagi khawatir untuk







