Share

7. Para Pecundang

Author: Pancur Lidi
last update publish date: 2026-02-21 21:44:27

Talang Mayan akhirnya tiba di wilayah kecil jauh dari pusat Sekte Empu daripada para tetua yang lain. Tempat ini dipenuhi oleh pohon berdaun kecil lancip, semak belukar, dan batuan terjal. Tidak seperti yang didugaan Talang Mayan. Jika semua Tetua tinggal di atas bukit tinggi, Tetua Nyi Loro Ati malah tinggal di dataran rendah yang gersang.

“Guru sudah pulang!” terdengar para brandalan yang memanggil Nyi Loro Ati berulang kali, “Guru, Guru .., apa mereka tidak memberimu satupun murid lagi, hahaha?”

“Hahaha, aku mebawa satu bocah,” jawab Nyi Loro Ati.

“Heh ..,” satu senior langsung menatap Talang Mayan yang berjalan di belakang Nyi Loro Ati. “Bocah, sepertinya kau kurang beruntung ya? Apa yang membawamu ke sini. Biar aku tebak, kau pasti pecundang, hahaha. Jangan berkecil hati, karena bukan hanya dirimu saja, lihat semuanya! Mereka juga pecundang.”

Talang Mayan hanya bisa tersenyum dalam diam. Namun dia tidak menyesal, tidak pula berkecil hati. Dulu dia pernah menjadi murid terbaik dengan guru paling hebat, tapi apa yang dia dapatkan setelah itu, gurunya memanfaatkan dirinya.

Jadi, meskipun mungkin Nyi Loro Ati dianggap sebagai salah satu tetua yang lemah, tapi Talang Mayan berpikir dia adalah guru yang baik. Di dunia persilatan, sangat sulit mencari orang yang baik.

“Bocah, siapa namamu?” tanya pria tinggi kurus, berambut jabrik, mata jendul dan bibir yang tebal itu langsung menepuk pundak Talang Mayang dengan sikap jenaka. “Namaku Carungking.”

“Namaku Gundalini,” sambung pria botak  pendek di sebelahnya.

“Salam kakak senior semuanya, namaku Talang Mayan.”

“Baiklah, Talang Mayan. Ikut aku!” Gundalini menarik bahu Talang Mayan untuk menunjukan kamar barunya di Sekte tersebut. “Kau tahu, meskipun kita semua pecundang, tapi jangan khawatir, sebagai seniormu di sini, aku jamin tidak ada yang berani macam-macam denganmu.”

“Eleh,” timpal Carungking, “Jangan percaya dengannya, kau akan tahu setelah berteman dengannya cukup lama.”

“Kau, jangan menghancurkan martabatku di depan Talang Mayan!” Gundalini membentak Carungkin dengan perasaan kesal.

Gundalini dan Carungking merupakan murid pertama Nyi Loro Ati. Setelah beberapa tahun lamanya, mereka bahkan masih berada di level Elite, dengan energi spritual sebanyak 15 cakra saja.

Sementara itu, usia mereka mungkin sudah lebih dari 17 tahun, mungkin juga 20 tahunan. Benar-benar bakat yang buruk, pikir Talang Mayan.

Sebagai murid senior, Carungking dan Gundalini tidak bisa bersaing dengan murid-murid utama di keluarga yang lain. Karena itulah, Keluarga Belati tidak pernah mengikuti kompetisi apapun yang diadakan di Sekte Empu. Baik itu kompetisi pembuatan senjata, maupun kompetisi bela diri.

“Ini adalah kamarmu, istirahatlah dan besok kau harus bekerja seperti yang lainnya!” Carungking membuka kamar yang berdebu, daun pintu yang terkulai karena rusak di beberapa sisi, kasur yang lembab, dan meja yang sudah digerogoti oleh tikus. “Bersihkan sendiri, tidak mungkin aku yang senior membersihkan kamarmu, bukan?”

“Ini lebih dari cukup, terima kasih Senior sekalian.”

Gundalani dan Carungking pergi meninggalkan Talang Mayan di kamarnya. Mereka berbincang-bincang tentang Talang Mayan. Menurut mereka berdua, Talang Mayan itu berbeda. Dia tidak bodoh seperti kebanyak murid yang dibawa oleh Nyi Loro Ati.

Lebih pendiam, berwajah datar, tatapan tajam dan senyum yang dingin. Orang seperti itu hanya akan ditemukan di tiga keluarga terbaik yang mengendalikan Sekte Empu, seperti Keluarga Panah, Pedang dan Tombak.

“Jadi, apa menurutmu dia akan betah tinggal bersama kita?” Carungking sedikit ragu.

“Selagi kau tidak mencuri uangnya-“

“Siapa yang kau bilang mencuri, bukankah kau sendiri yang suka mencuri logam dari murid yang lain?”

“Ah, jangan mengungkit hal itu lagi, yang berlalu biarlah berlalu,” timpal Gundalini.

“Masalahnya, logam itu milikku, dasar kepala botak.”

Sementara itu, Talang Mayan hanya tertawa dari balik pintu saat mendengar ocehan dua seniornya barusan. Dia merasa momen-momen seperti tidak pernah ditemukan di Sekte Aliran Sesatnya dulu. Entah kenapa, kebodohan orang-orang di tempat ini membuat Talang Mayan malah merasa lebih hidup.

Hal pertama yang dilakukan oleh Talang Mayan hari itu, adalah memperbaiki seluruh ruangan kamarnya. Mengganti tiang meja, menambal pintu yang rapuh, dan menjemur kasur lembab yang baunya seperti lumpur kering.

Hingga menjelang malam, Talang Mayan akhirnya selesai merapikan tempat tidurnya. Setelah dunia menjadi lebih sepi dan hening, Talang Mayan duduk bermeditasi, dan fokus pikirannya kini tertuju pada jimat yang diberikan Lebah Perak penunggu Pilar Batu Hitam tadi siang.

Suah.

Jimat itu melayang di hadapan Talang Mayan. Ukiran dan tulisan-tulisan yang sulit untuk dipahami terlihat lebih jelas pada malam ini.

“Sebenarnya apa manfaat jimat ini?” gumam Talang Mayan.

Dia membaca askara kuno pada jimat tersebut, dan entah kenapa dia tidak mengerti maksudnya. Talang Mayan terdiam sejenak, dan menyimpulkan bahwa jimat itu mungkin akan menunjukan identitasnya jika dia sudah membangkitkan 10 cakra energi spiritualnya.

“Aku rasa tidak,” gumam Talang Mayan, “kekuatan jimat biasanya langsung aktif bahkan jika manusia tidak memiliki energi spiritual. Jika aku bisa memecahkan rahasia dari jimat ini, mungkin aku bisa mengatahui tujuannya.”

Malam ini, Talang Mayan benar-benar gagal memahami jimat sakral yang tersimpan di keningnya itu.

Ketika siang hari, Carungking dan Gundalini langsung menyerahkan beberapa tugas yang harus diselesaikan oleh Talang Mayan sebelum mengikuti pelajaran dari Nyi Loro Ati.

“Kau harus mengangkut air dari sungai ke dalam tong, membersihkan halaman utama Keluarga Belati, dan memberi makan ayam-ayam di kandang!” Gundalini dan Carungking bermaksud utuk mengerjai Talang Mayan, karena tugas ini sebenarnya cukup berat jika dilakukan oleh seorang bocah usia 10 tahun.

Namun, siapa yang menduga, Talang Mayan menyanggupi pekerjaan tersebut. Dengan senyum tipisnya, dia mulai mengambil wadah air dan mulai bekerja. Kebetulan, ada sungai kecil tidak jauh dari tempat ini, jadi tugas ini tidak akan terlalu sulit bagi Talang Mayan.

Setelah beberapa waktu yang lama, Talang Mayan mulai membersihkan halaman utama, dilanjutkan membersihkan kandang ayam dan memberi pakan. Tugas-tugas seperti ini bagi Talang Mayan bukan masalah besar, karena baginya ini jauh lebih ringan dibandingkan latihan keras yang diberikan mantan gurunya dahulu.

Barulah di tengah hari, Talang Mayan akhirnya masuk ke dalam bangunan besar yang semuanya terbuat dari batu dan tanah liat. Mirip seperti goa, yang dibuat oleh murid-murid Keluarga Belati.

Di sana, Nyi Loro Ati dan beberapa murid lain sedang berkumpul dengan tungku perapian yang menyala di hadapan mereka.

“Hari ini, aku ingin kalian membuat sebuah belati kualitas menengah, siapapun yang gagal akan menerima hukuman berat!” kata Nyi Loro Ati dengan nada suara yang membuat sendi-sendi muridnya menjadi ngilu, “Gundalini, kau harus mengajari Talang Mayan cara membuatnya.”

“Tapi Guru, Belati Kualitas Menengah memiliki syarat khusus, seorang penempa sudah memilki energi spiritual,” kata Gundalani.

“Guru, mungkin lebih baik jika Talang Mayan mendapatkan pelajaran dasar terlebih dahulu, membuat belati biasa.”

“Dia sudah membangkitkan energi spiritualnya sebanyak dua cakra.”

“Apa, dia sudah membangkitkan energinya?” semua orang di dalam ruangan itu langsung menatap ke arah Talang Mayan dengan rasa tidak percaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   99. Kedatangan Pemuda Angkuh

    Satu minggu telah berlalu sejak markas Jantung Iblis berhasil ditaklukan oleh Parasura dan prajurit Indraprasta. Beberapa waktu belakang, misi itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan para anggota Parasura dan para pejabat yang ada di istana.Penyerahan mendali penghargaan dibagikan oleh Patih Wira bagi Intan Selake dan yang lainnya. Tentu saja, karena ini adalah misi level S yang sangat sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan pendekar maupun para prajurit.Namun diantara daftar itu, tidak ada nama Talang Mayan di papan pengumuman. Setelah dia kembali dari misinya, Talang Mayan tetaplah Talang Mayan, tanpa topeng hitam tanpa jubahnya. Dia hanya mendapatkan nilai kontribusi level B, sebagaimana kelasnya saat ini.Namun mengenai Pendekar bertopeng hitam itu, tetap saja menjadi perbincangan di kalangan para prajurit yang menyaksikan kehebatannya.“Jika saja, dia adalah anggota Parasura, mungkin dia akan mendapatkan mendali penghargaan seperti yang lain,” gumam beberapa prajurit yang sedan

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   98. Mandi di Sungai

    Malam itu, hubungan antara Talang Mayan dan Putri Intan Selake terasa lebih hangat. Siapa yang menduga, jika Intan Selake merupakan gadis yang gemar berbicara, penuh canda jenaka, dan sesekali menunjukan sifat marah sebagaimana wanita pada umumnya.Di sisi lain, Talang Mayan dengan hati sedingin es yang nyaris tidak memiliki emosi sama sekali, kini menjadi lebih lunak di hadapan gadis tersebut. Ya, tidak banyak orang yang bisa membuat hatinya menjadi lebih hangat, hanya bisa dihitung oleh lima jari tangan saja.Namun malam ini, rasanya sedikit berbeda. Setiap kali Talang Mayan mengintip wajah Intan Selake dari celah lubang topeng, jantungnya terasa akan melompat keluar dari dadanya sendiri.Malam itu, Putri Intan Selake tidur bersandar di batang pohon. Melihatnya, Talang Mayan melepaskan jubah hitamnya, dan menyelimuti tubuh gadis tersebut.Sebagai orang yang peminum, Talang Mayan tidak pernah bisa benar-benar tidur dengan nyenyak, apa lagi ada sosok gadis yang harus dia jaga malam i

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   97. Ikan Bakar

    Dalam kesendiriannya setelah mengalahkan Jantung Iblis, mendadak Putri Intan Selake muncul di belakang Talang Mayan, di Desa Raya Keling yang kini sudah tidak memiliki warganya lagi.Kala itu, Talang Mayan terlihat duduk di kursi panjang dengan arak di tangannya. Setelah pertarungan yang melelahkan, pemuda itu berencana untuk berisitirahat beberapa hari di sini sebelum kembali ke Istana Indraprasta untuk melaporkan hasil misi.Namun dia tidak menduga, -yang dikira semua orang sudah kembali ke Istana, rupanya Putri Intan Selake diam-diam mengikuti pemuda tersebut.“Tuan Putri ..,” ucap Talang Mayan, sedikit tersedak oleh arak yang dia minum.“Kau sudah mengetahui namaku, tapi aku belum mengetahui namamu,” ucap Putri Intan Selake, dan diapun duduk di sebelah Talang Mayan sembari meletakan pedang pusaka es di pangkuannya.“Apalah arti sebuah nama,” kata Talang Mayan, “kadang kala seseorang bisa melupakannya dengan sangat mudah?”“Aku mendengar semua tentang Pendekar Bertopeng Hitam yang

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   96. Akhir dari Jantung Iblis

    “Astaga, berapa banyak barang berharga yang dimiliki orang ini?!” Senopati Anom yang dari tadi selalu memasang standar kehormatan yang tinggi di hadapan para pendekar, akhirnya memasang wajah yang konyol ketika melihat Cakram Sudra yang keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan.Dengan mata terbelalak tak percaya, dan mulut sedikit terbuka, hingga mungkin lalat bisa masuk tanpa dia sadari, Senopati itu kembali berkata, “dua harta pusaka, itu tidak ternilai dengan apapun, tidak dengan harta, jabatan dan status.”Sementara itu, Putri Intan Selake melirik ke arah Talang Mayan sejenak, hatinya berdebar saat merasakan gejolak dari Cakram Sudra.Lalu menyeranglah gadis itu lebih dahulu ke arah para tetua yang berdiri congak di atas markas mereka. Energi yang dingin membekukan udara dalam hitungan detik, memutihkan seluruh udara di sekitar tempat itu.Markas itu dengan cepat menjadi bangunan es yang berkilauan saat ini, tapi bahkan serangan yang sesungguhnya belum menyentuh para tetua it

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   95. Menolak Menyerah

    Harta yang sangat berharga. Inilah kalimat yang terlintas dalam benak para pendekar dan para prajurit yang menyaksikan kemenangan Talangan Mayan atas pimpinan tertinggi Jantung Iblis.Belati Dasakala, adalah harta berharga yang membuat orang lain merasa iri, sekaligus takut berhadapan dengan Talang Mayan. Semua pendekar di level tanpa tanding, bisa merasakan roh senjata yang bersemayam di dalam belati itu, bukan berasal dari jiwa siluman.“Jiwa yang begitu liar, jahat, dan kuat,”kata salah satu dari tetua Jantung Iblis, “tidak salah lagi, itu adalah Jiwa Dasakala.”“Bocah itu terlalu beruntung, bisa menjadikan Dasakala sebagai roh senjata miliknya.”“Beruntung?” Senopati Anom yang mendengar perkataan para tetua Jantung Iblis lansung menyela, “Tidak ada keberuntungan di dunia ini. Jika kau mendapatkan sesuatu yang berharga, itu karena hasil dari penderitaan yang kau alami di masa lalu.”Senopati Anom kemudian mengangkat telapak tangannya ke atas, di saat yang sama pula, semua prajurit

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   94. Belati yang liar

    Rewak mulai menggunakan potensi pedang jantung iblis kehancuran, tapi di sisi lain, Talang Mayan dengan Belati Dasakala yang terbang dengan kehendaknya sendiri tidak menunjukan rasa gentar sedikitpun.Belati Dasakala terbang ke langit, kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi dan langsung bertemu dengan pedang Rewak yang dikenal sangat menakutkan. Dalam adu kekuatan senjata, energi yang benturan yang dihasilkan oleh ke duanya berhasil menyapu bersih medan pertempuran di sekitar mereka.Tanah terkelupas, gelombang kejut menghempaskan segala benda, dan di situ, Rewak harus menahan tekanan energi belati yang terus menyerangnya dari segala arah.-Jurus Lingkaran Maut-Talang Mayan tidak membuang-buang kesempatan, di saat belati Dasakala sibuk menyerang dan membatasi pergerakan Rewak, Talang Mayan justru memanfaatkan situasi itu untuk melancarkan serangan yang tidak terduga.Tanpa dua belati, Talang Mayan terpaksa menggunakan semua sayap-sayap lebah untuk melengkapi serangannya.“Cih,” Re

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   75. Desa Raya Keling

    Talang Mayan membaca misi rank B miliknya. Dia dan dua rekannya ditugaskan untuk mengintai sebuah desa yang berada cukup jauh di wilayah barat Indraprasta. Menurut laporan pejabat daerah, akhir-akhir ini mereka melihat beberapa orang yang mencurigakan datang ke tempat itu.Tugasnya cukup mudah, men

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   74. Kedudukan Para Pendekar

    “Maaf Patih Wira,” ucap Wayang Sari, mengangkat jari telunjuk dari kursinya, “sebelum itu, apa aku boleh tahu berapa besar gaji yang akan kami dapatkan?”“Pertanyaan bagus, meskipun sedikit tidak sopan,” gumam beberapa pendekar yang lain, “jika gajinya lebih kecil dari pada tinggal di Sekte, aku ti

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   73. Organisasi Parasura

    “Tu tu tuan, kau adalah Ayah Rindu Ati?! Dan kau, saudara laki-lakinya?” Satrio Pamungkas rasanya ingin melarikan diri ke ujung dunia dan bersembunyi di lubang semut karena merasa malu.Pemuda kurang ajar ini, bagaimana bisa dia tidak memiliki adab sama sekali di hadapan orang tua dari gadis yang d

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   72. Mencari Makanan

    Setibanya di pusat Ibu Kota, Talang Mayan menyarankan untuk pergi ke Toko Rancak Manggareh yang berada tidak jauh dari Istana. Menurutnya, makanan di sana sangat lezat, dan arak yang mereka jual hampir tidak ada duanya.“Kau pernah ke Toko Rancak Manggareh? Memang benar, mereka menyediakan makanan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status