FAZER LOGINDi hari lain, Tiwas Kuncir keluar dari kamarnya dengan tatapan yang penuh dengan dendam. Keluarnya dia dari kamar, disambut oleh banyak pendekar Racun Hati, tapi aura pria itu kini berubah.Dia tidak nampak seperti pria tua yang bengis, tapi malah seperti wanita tua yang penuh dengan dendam kesumat. Sakunira mengiringi langkah kakinya dengan perasaan tidak menentu, dan sesekali melirik ke arah beberapa bawahannya agar tidak menyinggung Tiwas Kuncir.“Tuan ..,” salah satu bawahannya mendekat, sedikit berjalan membungkuk, “Begini Tuan, pertemuan antar anggota Bintang Kejora Merah akan berlangsung besok siang. Tuan..,”Wush.Tiwas Kuncir langsung membunuh pria itu dengan sadis. Semua orang langsung tercengang, dan sontak membuat ratusan pendekar ciut nyalinya.“Bintang Kejora Merah, aku tidak peduli lagi dengan semuanya, yang aku inginkan adalah kematian pemuda itu. Kerahkan semua orang untuk memburunya! Jelajahi setiap jengkal tanah Indraprasta, tangkap dia hidup-hidup, dan biarkan aku
Aksi kejar-kejaran terjadi antara Talang Mayan dan pendekar Racun Hati. Hingga pada akhirnya, ke duanya berhasil menghindari mereka dengan bersembunyi di dalam jurang yang cukup gelap.Di sana, Talang Mayan menurunkan Intan Selake, sementara gadis itu hanya menangis cengeng sembari membenarkan seluruh pakaiannya. Saat itu, Talang Mayan langsung pergi menjauh, berdiri di antara celah-celah cadas sembari memantau ke adaan di permukaan atas.Dari pantauan Mata Batinnya, Talang Mayan menemukan beberapa pendekar Racun Hati sedang mengamati permukaan jurang. Di saat itulah, Talang Mayan langsung menarik tubuh Intan Selake, dan bersembunyi lebih dalam pada celah batu yang berukuran sangat cempit.Kedua tubuh mereka kini berhimpitan, “hussttt ..,” bisik Talang Mayan di telinga gadis itu, “mereka ada di atas sana.”Jantung Intan Selake berdebar-debar dengan situasi ini. Wajahnya mungkin memerah, mungkin malu, mungkin pula panik, tapi saat ini situasinya membuat gadis itu terus berpelukan denga
Belati Dasaka keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan, dan roh senjata itu tertawa girang. Energi menakutkan menyeruak memenuhi seluruh bagian belati itu, menciptakan percikan kilatan hitam yang menggetarkan jiwa.Sesaat, getaran halus menjalar di dinding ruangan itu, sebelum akhirnya dinding-dingding itu menjadi retak seribu.“Hahahaa!!!” tawa Dasakala memekakan telinga Talang Mayan, “Aku merasakan lawan yang cukup sepadan.”Ya, semenjak Dasakala menyerap energi spiritual dari senjata pimpinan Jantung Iblis, tanpa disadari oleh Talang Mayan, ternyata kekuatan Dasakala meningkat sangat pesat. Aura haus darah yang kental kini hampir tidak bisa dikendalikan.Sementara itu, di kamar pribadinya, Ki Tiwas Kuncir memandangi sekujur tubuh Intan Selake yang tergeletak tidak berdaya di atas pembarian. Kaki dan tangan gadis itu terbelenggu oleh jaring laba-laba, dan meskipun dia meronta sekuat tenaga, gadis itu sudah jatuh dalam perngkap menjijikan pimpinan Racun Hati.“Yuhuhuhuh ..,” Pri
“Hoiii .., siapa yang mau jadi pasangan wanita menakutkan seperti dirimu!” teriak Talang Mayan yang langsung berusaha membebaskan diri dari jerat jaring laba-laba di dua tangannya, dan meskipun tidak berhasil, dia selalu berusaha sekuat tenaga.Melihat hal itu, Sakunanira malah tertawa semakin genit dan mulai mengelus leher hingga dada Talang Mayan. Di sisi lain, pemuda itu merasakan rasa jijik yang luar biasa, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri, dan darahnya nyaris membeku.Seumur hidupnya, Talang Mayan tidak pernah dirayu oleh seorang gadis sebegitunya, dan hari ini, pengalaman pertamanya malah dilakukan oleh manusia setengah siluman yang jelas-jelas mengerikan. Ah, meskipun jika berada pada wujud manusia dia juga cukup cantik, tapi tetap saja, ketika dia berubah menjadi setengah laba-laba raut wajahnya lebih parah dari siluman itu sendiri.“Tolong cari pemuda lain saja ..,” kata Talang Mayan, hampir merengek di hadapan Sakunira, “sebenarnya, aku tidak menyukai .., aku tidak meny
Sementara itu, Talang Mayan harus rela mengikuti Intan Selake yang penuh semangat saat menjelajahi goa yang begitu dalam. Meskipun ada perasaan khawatir, nyatanya rasa penasaran yang dimiliki gadis itu mengalahkan rasa takutnya.Talang Mayan menggunakan Mata Batin nya untuk menganalisa lorong goa yang begitu panjang, hanya untuk memastikan bahwa mereka berjalan di rute yang lebih aman.Semakin dalam, situasi di lorong goa menjadi semakin gelap. Udara bersih terasa menipis, membuat keduanya harus mengatur nafas sedemikian rupa.Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kedua orang itu menemukan tiga cabang lorong yang dipenuhi oleh sarang laba-laba.“Kita akan menjelajahi lorong tengah ..,” kata Intan Selake.Talang Mayan mengedarkan mata batinya, dan meskipun dia tidak bisa melihat tanda-tanda bahaya, akan tetapi firasatnya mengatakan bahwa tempat ini sangat berbahaya.Tidak ada lorong yang lebih baik dari lorong yang lain. Semuanya menyimpan potensi yang sama-sama berbahaya, meskipun
Talang Mayan berniat menambang kudanya pada batu sebesar paha yang berada tepat di depan pintu masuk goa. Namun, tiba-tiba hal tak terdua terjadi. Dua kuda itu langsung meringkih, mengangkat dua kakinya, dan meluncur secepat mungkin, meninggalkan dua tuannya di sana.“Hoi ..!” Talang Mayan berusaha memanggil dua kuda itu, tapi hewan sialan itu tidak peduli dengan panggilan, seolah telinganya menjadi tuli. “Sepertinya, mereka ketakutan ..,” gumam pemuda tersebut.Di satu sisi, Intan Selake hanya bisa menghela nafas panjang, melihat hewan tunggangannya perlahan menghilang di telan padang tandus yang kering dan panas.‘Sialan, penghianat keji itu pasti mati ..,’ Talang Mayan menyipitkan matanya sebelum kemudian menoleh ke arah Intan Selake yang tersenyum pahit.“Hemmm ..,” Talang Mayan mengelus dagunya berulang kali, “Aku penasaran kenapa kuda-kuda itu melarikan diri, pasti ada yang tidak beres dengan goa ini.”Intan Selake setuju, meskipun dia tidak tahu apa yang menghuni goa itu, tapi
Di sisi lain, terlihat seorang gadis berdiri di atas tebing menghadap ke arah Istana Indraprasta sembari memainkan beberapa kupu-kupu yang terbang disekitarnya.“Tuan Putri, kau tidak ingin mengunjungi Yang Mulia Raja? Setelah lima tahun lamanya, ini hari pertamamu berkunjung ke Istana.” tanya seor
Talang Mayan mendatangi petugas pendaftaran dan menyerahkan surat rekomendasi dari prajurit yang diutus ke Kota Pagar Banyu. Melihat surat tersebut, petugas langsung mengerti, bahwa pemuda bertopeng di depannya adalah pendekar pengelana tanpa dukungan dari sekte besar di belakangnya.“Kau tidak pun
Tidak ada sumber daya, ramuan, atau sejenisnya untuk meningkatkan Bakat Alami seorang pendekar. Meningkatkan bakat alami dan energi spiritual tentu saja berbeda. Hanya melewati pertarungan, seorang pendekar dapat melihat kelemahan dan kelebihan dari bakat yang dia miliki. Dengan begitu, seorang pe
Mereka akhirnya berpisah di jalan setepak setelah berhasil keluar dari gerombolan siluman. Sebelum berpisah, Rindu Ati mendekati Talang Mayan, seakan ingin memeluk pemuda tersebut, tapi menyadari empat murid yang lain masih berada di sana, dia langsung mengurungkan niatnya.“Rindu Ati, sampai jumpa







