Share

Tubuh dan Nama Baru

Penulis: Pancur Lidi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-20 14:42:33

Rumah yang sempit penuh dengan beberapa pria tua yang menatapnya dengan perasaan bercampur aduk. Menit berikutnya, pemuda ini akhirnya menyadari satu hal, dia masih hidup.

Namun, kehidupan ini sangat jauh dari apa yang dia bayangkan. Dia menggantikan jiwa seorang anak kecil yang tewas di dalam timbunan tambang bebatuan, tanpa kelahiran seperti yang diceritakan oleh gurunya.

“Dia kehilangan ingatannya ..,” ucap seorang wanita tua yang bungkuk setelah memeriksa kondisi kepala pemuda tersebut. “Kepalanya mengalami cedera serius, membuat semua ingatannya menghilang.”

“Nyi Rabiah ..,” seorang pria tua lain yang sedikit lebih besar dan lebih kekar menatap wajah ‘pemuda itu’ dengan ekspresi yang bercampur aduk, ada kesedihan di matanya, ada juga kebahagiaan di senyumnya, dan semua ekspresi itu membuat ‘pemuda’ itu merasa tidak nyaman. “Bagiku, kembalinya Talang Mayan ke rumah, sudah lebih dari cukup. Aku berterima kasih kepada kalian semua, karena sudah membantuku menyelamatkan dirinya.”

‘Talang Mayan?’ Pemburu Darah akhirnya mengerti, siapa nama tubuh yang dia gunakan saat ini. Orang tua yang menangis di hadapannya, itu pasti Ayah Talang Mayan, dan mungkin juga satu-satunya keluarga yang dimiliki tubuh bocah ini.

Membayangkan betapa hancurnya pria tua ini jika mengetahui bahwa sebenarnya putranya sudah tewas sat itu, dan kini jiwa yang ada di dalam tubuh ini adalah orang lain, membuat Pemburu Darah harus menyimpan rapat rahasia ini. Tetaplah menjadi rahasia, dan sampai kapanpun akan tersimpan rapat.

Malam itu, rasanya lebih damai dari malam-malam yang pernah dilalui oleh Pemburu Darah. Tidak ada pengintaian, tidak ada perburuan berdarah, dan tentu tidak ada lagi pembunuhan keji.

Di kamar, meskipun sederhana dan kecil, untuk pertama kalinya, dia merasa lebih hidup di dunia ini. Ayahnya bercerita panjang lebar, menyatukan potongan-potongan kenangan masa lalu untuk merangsang ingatan putranya.

Namun, jiwa ini bukan lagi putranya, ini adalah jiwa pembunuh berdarah dingin yang selama 10 tahun menjadi momok menakutkan bagi para pendekar sekte aliran putih.

Banyak cerita yang akhirnya perlahan dipahami olehnya. Misalnya, Talang Mayan merupakan putra yang tidak diinginkan oleh keluarga ibunya, mengusir ayahnya dari rumah dan berakhir di tempat ini. Sebagai seorang buruh tambang Sekte Empu.

Malam semakin larut, pria tua itu berniat pergi ke rumah Mandor Tambang untuk mengambil upah kerja hariannya. Ada biaya yang harus dikeluarkan untuk besok pagi, untuk pengobatan, dan tentu pula untuk makanan.

“Tunggulah sebentar, Ayah tidak akan lama!” pria itu mengelus kepalanya dengan lembut meskipun tangannya penuh dengan kapalan, “jangan keluar rumah, udara malam ini sangat dingin.”

Pemburu Darah tidak mengangguk, tidak pula menggeleng, dia hanya menatap kepergian pria tua itu dengan pandangan yang haru. Meskipun nasib tubuh bocah ini tidak jauh berbeda dengan nasibnya dulu, tapi ada satu hal yang tidak dia dapatkan. Ketulusan seorang ayah dalam merawat putranya.

“Mungkinkah takdir memberiku satu kesempatan lagi untuk menjalani kehidupan ini?” gumam Pemburu Darah, “Tubuh ini .., aku harap pemilik tubuh ini tenang di alam sana, jangan khawatir aku akan melanjutkan perjalanan hidup yang pahit ini untukmu.”

Pemburu Darah mulai berdamai dengan keadaannya. Dia akan menerima nama ini sebagai namanya -Talang Mayan- dan secara tulus menganggap pria tua itu adalah Ayahnya sendiri. Mungkin butuh beberapa penyesuaian, adaptasi yang sulit, tapi demi membalas kebaikan pria itu dan janji terhadap pemilik tubuh ini, dia akan memulainya dari awal lagi.

“Talang Mayan, aku akan melanjutkan kehidupanmu,” ucap dirinya, menarik nafas panjang, dan tersenyum dalam diam.

Siang harinya, Talang Mayan keluar dari rumah sederhana. Hal pertama yang membuatnya merasa hidup adalah ketika cahaya mentari menerpa wajahnya. Rasa hangatnya hampir saja terlupakan.

Meski tempat itu dikelilingi oleh bukit-bukit tandus, bebatuan besar, tapi perasaan nyaman dan tenang menyelimuti jiwa Talang Mayan.

Dia menatap setiap jari jemari kecilnya, melihat kakinya yang dekil, dan tahu betul, kehidupan Talang Mayan sebenarnya jauh dari kata makmur. Namun, dia tidak akan menyerah begitu saja, Talang Mayan memiliki ingatan masa lalu yang masih lengkap.

Hanya butuh proses dan waktu, dia akan membuat tubuh kecil ini menjadi lebih kuat.

“Hanya tulang biasa,” ucap dirinya menggelengkan kepalanya dengan berat, “untung ototku jauh lebih baik.”

Karena Talang Mayan terbiasa bekerja di tambang membantu Ayahnya, secara alami ototnya menjadi lebih kuat meskipun kurus, tapi sayang sekali, tidak dengan tulangnya. Butuh asupan nutrisi untuk menciptakan tulang kering yang padat dan keras.

“Nak, kemarilah!” Mundru memanggil Talang Mayan dengan wajah berseri, “Aku baru saja membuatkan sup jamur tiram kesukaanmu.”

“Sup Jamur Tiram?” Talang Mayan bergumam lirih.

‘Sepertinya, dia bahkan melupakan makanan kesukaanya,’ Namun Mundru nama asli Ayah Talang Mayan, tidak menunjukan kekecewaan, apapun yang terjadi, bocah kecil di depannya tetaplah putra semata wayangnya.

“Ayah, kau tidak pulang tadi malam,” ucap Talang Mayan, duduk di depan Ayahnya yang dibatasi oleh meja dari papan kayu sederahan.

“Ah siapa bilang? Aku sudah pulang ketika kau tertidur lelap-“

Bohong, Talang Mayan jelas tidak tidur semalaman panjang, hanya menunggu kepulangan Mundru yang katanya sedang meminta upah buruh tambang. Lagipula, sup jamur tiram ini sepertinya baru dipanaskan, ini bukan sup yang baru di masak.

Apakah Mundru mendapatkan masalah? Talang Mayan menarik nafas panjang, lebih lagi dia melihat ada ruam lebam di kening Ayahnya. Mungkin, seseorang telah menyakiti pria itu tadi malam.

“Ayo makan, malah bengong ..,” Mundru menyodorkan satu mangkuk sup jamur tiram, “Hari ini, kau istirahat saja, meskipun lukamu tidak terlalu parah, tapi kondisimu sangat lemah, Nak.”

Setiap hari, Mundru dan Talang Mayan pergi ke area pertambangan biji besi, sebagai buruh. Dari sana mereka mendapatkan upah, untuk melanjutkan kehidupan di tempat ini.

Mundru bercerita, dia bukanlah pria yang cerdas, dia tidak memiliki bakat untuk menjadi pendekar, menjadi cendikiawan, atau bahkan menjadi pedagang. Meskipun kehidupan di sini sangat keras, tapi hanya disinilah dia bisa mendapatkan uang, dan membesarkan Talang Mayan seorang diri, tanpa istri. Sayangnya, Talang Mayan merasa ayahnya sedang berbohong.

Setelah Mundru meninggalkan rumah sederahananya, Talang Mayan memperhatikan setiap detil bukit di tempat itu. Hanya beberapa saat saja, dia sudah tahu bahwa tempat ini dulunya pernah menjadi pusat Sekte Aliran Sesat Bulan Darah, dimana dia dibesarkan dan menjadi pembunuh berdarah dingin.

“Sudah berapa lama aku tertidur?” gumam Talang Mayan, “Kemana perginya orang-orang itu setelah mendapatkan darah iblis di tubuhku? Apakah dia benar-benar menjadi dewa?”

Saat membayangkan wajah mantan gurunya, emosi di dalam jiwanya mendadak berkobar, tangannya mengepal erat, dan terdengar suara ‘krak’ ketika rahangnya mengeras. “Bahkan meskipun 100 ribu tahun lamanya. Mendapatkan 100 ribu masalah dan penderitaan, atau seribu kali dilahirkan, aku akan menyelesaikan dendam ini.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Norma Yunita
ok seru semoga memuaskan seperti lanting beruga
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   117. Kabar yang lucu

    Pertemuan para petinggi anggota Bintang Kejora Merah diadakan di sebuah tempat terpencil yang tiada tertulis di catatan maupun tergambar di dalam peta. Sudah beberapa lama mereka menunggu di atas kursi batu, menghadap kobaran api yang menyala, tidak pernah padam sekalipun.Kursinya ada lima buah, tapi yang duduk di sana hanya tiga orang saja.“Jantung Iblis telah dikalahkan oleh Indraprasta ..,” salah satu dari tiga orang itu akhirnya membuka suara. “Satu kursi telah kosong, kita harus mencari penggantinya.”“Aku dengar, Jantung Iblis dikalahkan oleh pendekar Parasura yang dibentuk oleh Patih Wira beberapa bulan yang lalu. Mereka adalah kumpulan murid terbaik dari segala sekte aliran putih.” Salah satu dari orang yang duduk di sana mengenakan pakaian merah darah, dengan sarung tangan berbentuk cakar naga.“Kehebatan mereka dikatakan dapat menggulingkan sebuah kerajaan, omong kosong!” timpal salah satu dari yang lain, dan kali ini seorang wanita dengan kipas perunggu menimpali pria tad

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   116. Pengakuan Yang Jujur

    Di hari lain, Tiwas Kuncir keluar dari kamarnya dengan tatapan yang penuh dengan dendam. Keluarnya dia dari kamar, disambut oleh banyak pendekar Racun Hati, tapi aura pria itu kini berubah.Dia tidak nampak seperti pria tua yang bengis, tapi malah seperti wanita tua yang penuh dengan dendam kesumat. Sakunira mengiringi langkah kakinya dengan perasaan tidak menentu, dan sesekali melirik ke arah beberapa bawahannya agar tidak menyinggung Tiwas Kuncir.“Tuan ..,” salah satu bawahannya mendekat, sedikit berjalan membungkuk, “Begini Tuan, pertemuan antar anggota Bintang Kejora Merah akan berlangsung besok siang. Tuan..,”Wush.Tiwas Kuncir langsung membunuh pria itu dengan sadis. Semua orang langsung tercengang, dan sontak membuat ratusan pendekar ciut nyalinya.“Bintang Kejora Merah, aku tidak peduli lagi dengan semuanya, yang aku inginkan adalah kematian pemuda itu. Kerahkan semua orang untuk memburunya! Jelajahi setiap jengkal tanah Indraprasta, tangkap dia hidup-hidup, dan biarkan aku

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   115. Menjadi Wanita

    Aksi kejar-kejaran terjadi antara Talang Mayan dan pendekar Racun Hati. Hingga pada akhirnya, ke duanya berhasil menghindari mereka dengan bersembunyi di dalam jurang yang cukup gelap.Di sana, Talang Mayan menurunkan Intan Selake, sementara gadis itu hanya menangis cengeng sembari membenarkan seluruh pakaiannya. Saat itu, Talang Mayan langsung pergi menjauh, berdiri di antara celah-celah cadas sembari memantau ke adaan di permukaan atas.Dari pantauan Mata Batinnya, Talang Mayan menemukan beberapa pendekar Racun Hati sedang mengamati permukaan jurang. Di saat itulah, Talang Mayan langsung menarik tubuh Intan Selake, dan bersembunyi lebih dalam pada celah batu yang berukuran sangat cempit.Kedua tubuh mereka kini berhimpitan, “hussttt ..,” bisik Talang Mayan di telinga gadis itu, “mereka ada di atas sana.”Jantung Intan Selake berdebar-debar dengan situasi ini. Wajahnya mungkin memerah, mungkin malu, mungkin pula panik, tapi saat ini situasinya membuat gadis itu terus berpelukan denga

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   114. Kesucian Yang Terjaga

    Belati Dasaka keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan, dan roh senjata itu tertawa girang. Energi menakutkan menyeruak memenuhi seluruh bagian belati itu, menciptakan percikan kilatan hitam yang menggetarkan jiwa.Sesaat, getaran halus menjalar di dinding ruangan itu, sebelum akhirnya dinding-dingding itu menjadi retak seribu.“Hahahaa!!!” tawa Dasakala memekakan telinga Talang Mayan, “Aku merasakan lawan yang cukup sepadan.”Ya, semenjak Dasakala menyerap energi spiritual dari senjata pimpinan Jantung Iblis, tanpa disadari oleh Talang Mayan, ternyata kekuatan Dasakala meningkat sangat pesat. Aura haus darah yang kental kini hampir tidak bisa dikendalikan.Sementara itu, di kamar pribadinya, Ki Tiwas Kuncir memandangi sekujur tubuh Intan Selake yang tergeletak tidak berdaya di atas pembarian. Kaki dan tangan gadis itu terbelenggu oleh jaring laba-laba, dan meskipun dia meronta sekuat tenaga, gadis itu sudah jatuh dalam perngkap menjijikan pimpinan Racun Hati.“Yuhuhuhuh ..,” Pri

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   113. Tidak Beradab

    “Hoiii .., siapa yang mau jadi pasangan wanita menakutkan seperti dirimu!” teriak Talang Mayan yang langsung berusaha membebaskan diri dari jerat jaring laba-laba di dua tangannya, dan meskipun tidak berhasil, dia selalu berusaha sekuat tenaga.Melihat hal itu, Sakunanira malah tertawa semakin genit dan mulai mengelus leher hingga dada Talang Mayan. Di sisi lain, pemuda itu merasakan rasa jijik yang luar biasa, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri, dan darahnya nyaris membeku.Seumur hidupnya, Talang Mayan tidak pernah dirayu oleh seorang gadis sebegitunya, dan hari ini, pengalaman pertamanya malah dilakukan oleh manusia setengah siluman yang jelas-jelas mengerikan. Ah, meskipun jika berada pada wujud manusia dia juga cukup cantik, tapi tetap saja, ketika dia berubah menjadi setengah laba-laba raut wajahnya lebih parah dari siluman itu sendiri.“Tolong cari pemuda lain saja ..,” kata Talang Mayan, hampir merengek di hadapan Sakunira, “sebenarnya, aku tidak menyukai .., aku tidak meny

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   112. Terjebak

    Sementara itu, Talang Mayan harus rela mengikuti Intan Selake yang penuh semangat saat menjelajahi goa yang begitu dalam. Meskipun ada perasaan khawatir, nyatanya rasa penasaran yang dimiliki gadis itu mengalahkan rasa takutnya.Talang Mayan menggunakan Mata Batin nya untuk menganalisa lorong goa yang begitu panjang, hanya untuk memastikan bahwa mereka berjalan di rute yang lebih aman.Semakin dalam, situasi di lorong goa menjadi semakin gelap. Udara bersih terasa menipis, membuat keduanya harus mengatur nafas sedemikian rupa.Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kedua orang itu menemukan tiga cabang lorong yang dipenuhi oleh sarang laba-laba.“Kita akan menjelajahi lorong tengah ..,” kata Intan Selake.Talang Mayan mengedarkan mata batinya, dan meskipun dia tidak bisa melihat tanda-tanda bahaya, akan tetapi firasatnya mengatakan bahwa tempat ini sangat berbahaya.Tidak ada lorong yang lebih baik dari lorong yang lain. Semuanya menyimpan potensi yang sama-sama berbahaya, meskipun

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   13. Latihan Selesai

    “Dua tahun lagi, ada pertemuan penting di Istana Indraprasta. Mereka mengundang seluruh sekte dari berbagai penjuru negara. Setiap empat tahun sekali, Indraprasta akan mengundang semua sekte untuk mempererat hubungan kerajaan dengan semua Sekte di wilayah kekuasaanya. Aku ingin kau datang mewakili

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   12. Latihan Paling Lama

    Nyi Loro Ati mengumpulkan 8 muridnya. Dia mengatakan bahwa Talang Mayan sudah pergi meninggalkan Sekte Empu sejak ayahnya meninggal dunia.“Guru, apa hal buruk akan terjadi kepada Talang Mayan?” Gundalini bertanya dengan ragu.Nyi Loro Ati mengangguk pelan, dan benar, Talang Mayan dalam bahaya saat

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   11. Kenangan Nyi Loro Ati

    Esok harinya, Carungking dan Gundalini menemui Talang Mayan yang duduk termenung di depan teras kamarnya. Kedua pemuda ini mengucapkan bela sungkawa atas kematian Mundru, dan meminta maaf karena mereka tidak sempat mengikuti ritual pemakaman.Talang Mayan tidak ingin Carungking dan Gundalini merasa

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   10. Kematian Ayahnya

    “Talang Mayan .., Ayahmu ..,” seorang pria tua mendekati bocah itu dengan nada bergetar.Talang Mayan langsung berlari ke dalam rumah, mendapati Ayahnya sudah terbaring tidak bernyawa. Melihat hal ini, tubuh Talang Mayan langsung jatuh terkulai. Matanya meneteskan air mata kesedihan, dia menggigit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status