MasukRumah yang sempit penuh dengan beberapa pria tua yang menatapnya dengan perasaan bercampur aduk. Menit berikutnya, pemuda ini akhirnya menyadari satu hal, dia masih hidup.
Namun, kehidupan ini sangat jauh dari apa yang dia bayangkan. Dia menggantikan jiwa seorang anak kecil yang tewas di dalam timbunan tambang bebatuan, tanpa kelahiran seperti yang diceritakan oleh gurunya.
“Dia kehilangan ingatannya ..,” ucap seorang wanita tua yang bungkuk setelah memeriksa kondisi kepala pemuda tersebut. “Kepalanya mengalami cedera serius, membuat semua ingatannya menghilang.”
“Nyi Rabiah ..,” seorang pria tua lain yang sedikit lebih besar dan lebih kekar menatap wajah ‘pemuda itu’ dengan ekspresi yang bercampur aduk, ada kesedihan di matanya, ada juga kebahagiaan di senyumnya, dan semua ekspresi itu membuat ‘pemuda’ itu merasa tidak nyaman. “Bagiku, kembalinya Talang Mayan ke rumah, sudah lebih dari cukup. Aku berterima kasih kepada kalian semua, karena sudah membantuku menyelamatkan dirinya.”
‘Talang Mayan?’ Pemburu Darah akhirnya mengerti, siapa nama tubuh yang dia gunakan saat ini. Orang tua yang menangis di hadapannya, itu pasti Ayah Talang Mayan, dan mungkin juga satu-satunya keluarga yang dimiliki tubuh bocah ini.
Membayangkan betapa hancurnya pria tua ini jika mengetahui bahwa sebenarnya putranya sudah tewas sat itu, dan kini jiwa yang ada di dalam tubuh ini adalah orang lain, membuat Pemburu Darah harus menyimpan rapat rahasia ini. Tetaplah menjadi rahasia, dan sampai kapanpun akan tersimpan rapat.
Malam itu, rasanya lebih damai dari malam-malam yang pernah dilalui oleh Pemburu Darah. Tidak ada pengintaian, tidak ada perburuan berdarah, dan tentu tidak ada lagi pembunuhan keji.
Di kamar, meskipun sederhana dan kecil, untuk pertama kalinya, dia merasa lebih hidup di dunia ini. Ayahnya bercerita panjang lebar, menyatukan potongan-potongan kenangan masa lalu untuk merangsang ingatan putranya.
Namun, jiwa ini bukan lagi putranya, ini adalah jiwa pembunuh berdarah dingin yang selama 10 tahun menjadi momok menakutkan bagi para pendekar sekte aliran putih.
Banyak cerita yang akhirnya perlahan dipahami olehnya. Misalnya, Talang Mayan merupakan putra yang tidak diinginkan oleh keluarga ibunya, mengusir ayahnya dari rumah dan berakhir di tempat ini. Sebagai seorang buruh tambang Sekte Empu.
Malam semakin larut, pria tua itu berniat pergi ke rumah Mandor Tambang untuk mengambil upah kerja hariannya. Ada biaya yang harus dikeluarkan untuk besok pagi, untuk pengobatan, dan tentu pula untuk makanan.
“Tunggulah sebentar, Ayah tidak akan lama!” pria itu mengelus kepalanya dengan lembut meskipun tangannya penuh dengan kapalan, “jangan keluar rumah, udara malam ini sangat dingin.”
Pemburu Darah tidak mengangguk, tidak pula menggeleng, dia hanya menatap kepergian pria tua itu dengan pandangan yang haru. Meskipun nasib tubuh bocah ini tidak jauh berbeda dengan nasibnya dulu, tapi ada satu hal yang tidak dia dapatkan. Ketulusan seorang ayah dalam merawat putranya.
“Mungkinkah takdir memberiku satu kesempatan lagi untuk menjalani kehidupan ini?” gumam Pemburu Darah, “Tubuh ini .., aku harap pemilik tubuh ini tenang di alam sana, jangan khawatir aku akan melanjutkan perjalanan hidup yang pahit ini untukmu.”
Pemburu Darah mulai berdamai dengan keadaannya. Dia akan menerima nama ini sebagai namanya -Talang Mayan- dan secara tulus menganggap pria tua itu adalah Ayahnya sendiri. Mungkin butuh beberapa penyesuaian, adaptasi yang sulit, tapi demi membalas kebaikan pria itu dan janji terhadap pemilik tubuh ini, dia akan memulainya dari awal lagi.
“Talang Mayan, aku akan melanjutkan kehidupanmu,” ucap dirinya, menarik nafas panjang, dan tersenyum dalam diam.
Siang harinya, Talang Mayan keluar dari rumah sederhana. Hal pertama yang membuatnya merasa hidup adalah ketika cahaya mentari menerpa wajahnya. Rasa hangatnya hampir saja terlupakan.
Meski tempat itu dikelilingi oleh bukit-bukit tandus, bebatuan besar, tapi perasaan nyaman dan tenang menyelimuti jiwa Talang Mayan.
Dia menatap setiap jari jemari kecilnya, melihat kakinya yang dekil, dan tahu betul, kehidupan Talang Mayan sebenarnya jauh dari kata makmur. Namun, dia tidak akan menyerah begitu saja, Talang Mayan memiliki ingatan masa lalu yang masih lengkap.
Hanya butuh proses dan waktu, dia akan membuat tubuh kecil ini menjadi lebih kuat.
“Hanya tulang biasa,” ucap dirinya menggelengkan kepalanya dengan berat, “untung ototku jauh lebih baik.”
Karena Talang Mayan terbiasa bekerja di tambang membantu Ayahnya, secara alami ototnya menjadi lebih kuat meskipun kurus, tapi sayang sekali, tidak dengan tulangnya. Butuh asupan nutrisi untuk menciptakan tulang kering yang padat dan keras.
“Nak, kemarilah!” Mundru memanggil Talang Mayan dengan wajah berseri, “Aku baru saja membuatkan sup jamur tiram kesukaanmu.”
“Sup Jamur Tiram?” Talang Mayan bergumam lirih.
‘Sepertinya, dia bahkan melupakan makanan kesukaanya,’ Namun Mundru nama asli Ayah Talang Mayan, tidak menunjukan kekecewaan, apapun yang terjadi, bocah kecil di depannya tetaplah putra semata wayangnya.
“Ayah, kau tidak pulang tadi malam,” ucap Talang Mayan, duduk di depan Ayahnya yang dibatasi oleh meja dari papan kayu sederahan.
“Ah siapa bilang? Aku sudah pulang ketika kau tertidur lelap-“
Bohong, Talang Mayan jelas tidak tidur semalaman panjang, hanya menunggu kepulangan Mundru yang katanya sedang meminta upah buruh tambang. Lagipula, sup jamur tiram ini sepertinya baru dipanaskan, ini bukan sup yang baru di masak.
Apakah Mundru mendapatkan masalah? Talang Mayan menarik nafas panjang, lebih lagi dia melihat ada ruam lebam di kening Ayahnya. Mungkin, seseorang telah menyakiti pria itu tadi malam.
“Ayo makan, malah bengong ..,” Mundru menyodorkan satu mangkuk sup jamur tiram, “Hari ini, kau istirahat saja, meskipun lukamu tidak terlalu parah, tapi kondisimu sangat lemah, Nak.”
Setiap hari, Mundru dan Talang Mayan pergi ke area pertambangan biji besi, sebagai buruh. Dari sana mereka mendapatkan upah, untuk melanjutkan kehidupan di tempat ini.
Mundru bercerita, dia bukanlah pria yang cerdas, dia tidak memiliki bakat untuk menjadi pendekar, menjadi cendikiawan, atau bahkan menjadi pedagang. Meskipun kehidupan di sini sangat keras, tapi hanya disinilah dia bisa mendapatkan uang, dan membesarkan Talang Mayan seorang diri, tanpa istri. Sayangnya, Talang Mayan merasa ayahnya sedang berbohong.
Setelah Mundru meninggalkan rumah sederahananya, Talang Mayan memperhatikan setiap detil bukit di tempat itu. Hanya beberapa saat saja, dia sudah tahu bahwa tempat ini dulunya pernah menjadi pusat Sekte Aliran Sesat Bulan Darah, dimana dia dibesarkan dan menjadi pembunuh berdarah dingin.
“Sudah berapa lama aku tertidur?” gumam Talang Mayan, “Kemana perginya orang-orang itu setelah mendapatkan darah iblis di tubuhku? Apakah dia benar-benar menjadi dewa?”
Saat membayangkan wajah mantan gurunya, emosi di dalam jiwanya mendadak berkobar, tangannya mengepal erat, dan terdengar suara ‘krak’ ketika rahangnya mengeras. “Bahkan meskipun 100 ribu tahun lamanya. Mendapatkan 100 ribu masalah dan penderitaan, atau seribu kali dilahirkan, aku akan menyelesaikan dendam ini.”
Satu minggu telah berlalu sejak markas Jantung Iblis berhasil ditaklukan oleh Parasura dan prajurit Indraprasta. Beberapa waktu belakang, misi itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan para anggota Parasura dan para pejabat yang ada di istana.Penyerahan mendali penghargaan dibagikan oleh Patih Wira bagi Intan Selake dan yang lainnya. Tentu saja, karena ini adalah misi level S yang sangat sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan pendekar maupun para prajurit.Namun diantara daftar itu, tidak ada nama Talang Mayan di papan pengumuman. Setelah dia kembali dari misinya, Talang Mayan tetaplah Talang Mayan, tanpa topeng hitam tanpa jubahnya. Dia hanya mendapatkan nilai kontribusi level B, sebagaimana kelasnya saat ini.Namun mengenai Pendekar bertopeng hitam itu, tetap saja menjadi perbincangan di kalangan para prajurit yang menyaksikan kehebatannya.“Jika saja, dia adalah anggota Parasura, mungkin dia akan mendapatkan mendali penghargaan seperti yang lain,” gumam beberapa prajurit yang sedan
Malam itu, hubungan antara Talang Mayan dan Putri Intan Selake terasa lebih hangat. Siapa yang menduga, jika Intan Selake merupakan gadis yang gemar berbicara, penuh canda jenaka, dan sesekali menunjukan sifat marah sebagaimana wanita pada umumnya.Di sisi lain, Talang Mayan dengan hati sedingin es yang nyaris tidak memiliki emosi sama sekali, kini menjadi lebih lunak di hadapan gadis tersebut. Ya, tidak banyak orang yang bisa membuat hatinya menjadi lebih hangat, hanya bisa dihitung oleh lima jari tangan saja.Namun malam ini, rasanya sedikit berbeda. Setiap kali Talang Mayan mengintip wajah Intan Selake dari celah lubang topeng, jantungnya terasa akan melompat keluar dari dadanya sendiri.Malam itu, Putri Intan Selake tidur bersandar di batang pohon. Melihatnya, Talang Mayan melepaskan jubah hitamnya, dan menyelimuti tubuh gadis tersebut.Sebagai orang yang peminum, Talang Mayan tidak pernah bisa benar-benar tidur dengan nyenyak, apa lagi ada sosok gadis yang harus dia jaga malam i
Dalam kesendiriannya setelah mengalahkan Jantung Iblis, mendadak Putri Intan Selake muncul di belakang Talang Mayan, di Desa Raya Keling yang kini sudah tidak memiliki warganya lagi.Kala itu, Talang Mayan terlihat duduk di kursi panjang dengan arak di tangannya. Setelah pertarungan yang melelahkan, pemuda itu berencana untuk berisitirahat beberapa hari di sini sebelum kembali ke Istana Indraprasta untuk melaporkan hasil misi.Namun dia tidak menduga, -yang dikira semua orang sudah kembali ke Istana, rupanya Putri Intan Selake diam-diam mengikuti pemuda tersebut.“Tuan Putri ..,” ucap Talang Mayan, sedikit tersedak oleh arak yang dia minum.“Kau sudah mengetahui namaku, tapi aku belum mengetahui namamu,” ucap Putri Intan Selake, dan diapun duduk di sebelah Talang Mayan sembari meletakan pedang pusaka es di pangkuannya.“Apalah arti sebuah nama,” kata Talang Mayan, “kadang kala seseorang bisa melupakannya dengan sangat mudah?”“Aku mendengar semua tentang Pendekar Bertopeng Hitam yang
“Astaga, berapa banyak barang berharga yang dimiliki orang ini?!” Senopati Anom yang dari tadi selalu memasang standar kehormatan yang tinggi di hadapan para pendekar, akhirnya memasang wajah yang konyol ketika melihat Cakram Sudra yang keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan.Dengan mata terbelalak tak percaya, dan mulut sedikit terbuka, hingga mungkin lalat bisa masuk tanpa dia sadari, Senopati itu kembali berkata, “dua harta pusaka, itu tidak ternilai dengan apapun, tidak dengan harta, jabatan dan status.”Sementara itu, Putri Intan Selake melirik ke arah Talang Mayan sejenak, hatinya berdebar saat merasakan gejolak dari Cakram Sudra.Lalu menyeranglah gadis itu lebih dahulu ke arah para tetua yang berdiri congak di atas markas mereka. Energi yang dingin membekukan udara dalam hitungan detik, memutihkan seluruh udara di sekitar tempat itu.Markas itu dengan cepat menjadi bangunan es yang berkilauan saat ini, tapi bahkan serangan yang sesungguhnya belum menyentuh para tetua it
Harta yang sangat berharga. Inilah kalimat yang terlintas dalam benak para pendekar dan para prajurit yang menyaksikan kemenangan Talangan Mayan atas pimpinan tertinggi Jantung Iblis.Belati Dasakala, adalah harta berharga yang membuat orang lain merasa iri, sekaligus takut berhadapan dengan Talang Mayan. Semua pendekar di level tanpa tanding, bisa merasakan roh senjata yang bersemayam di dalam belati itu, bukan berasal dari jiwa siluman.“Jiwa yang begitu liar, jahat, dan kuat,”kata salah satu dari tetua Jantung Iblis, “tidak salah lagi, itu adalah Jiwa Dasakala.”“Bocah itu terlalu beruntung, bisa menjadikan Dasakala sebagai roh senjata miliknya.”“Beruntung?” Senopati Anom yang mendengar perkataan para tetua Jantung Iblis lansung menyela, “Tidak ada keberuntungan di dunia ini. Jika kau mendapatkan sesuatu yang berharga, itu karena hasil dari penderitaan yang kau alami di masa lalu.”Senopati Anom kemudian mengangkat telapak tangannya ke atas, di saat yang sama pula, semua prajurit
Rewak mulai menggunakan potensi pedang jantung iblis kehancuran, tapi di sisi lain, Talang Mayan dengan Belati Dasakala yang terbang dengan kehendaknya sendiri tidak menunjukan rasa gentar sedikitpun.Belati Dasakala terbang ke langit, kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi dan langsung bertemu dengan pedang Rewak yang dikenal sangat menakutkan. Dalam adu kekuatan senjata, energi yang benturan yang dihasilkan oleh ke duanya berhasil menyapu bersih medan pertempuran di sekitar mereka.Tanah terkelupas, gelombang kejut menghempaskan segala benda, dan di situ, Rewak harus menahan tekanan energi belati yang terus menyerangnya dari segala arah.-Jurus Lingkaran Maut-Talang Mayan tidak membuang-buang kesempatan, di saat belati Dasakala sibuk menyerang dan membatasi pergerakan Rewak, Talang Mayan justru memanfaatkan situasi itu untuk melancarkan serangan yang tidak terduga.Tanpa dua belati, Talang Mayan terpaksa menggunakan semua sayap-sayap lebah untuk melengkapi serangannya.“Cih,” Re
Di luar sana. Keadaan tampak tegang, Sekte Jantung Iblis mendapatkan tamu dari Istana Indraprasta, setelah dua gadis yang diutus oleh Talang Mayan 3 bulanan yang lalu, malah mendatangi Istana dan melaporkan keadaan desa mereka kepada Kelompok Parasura.Saat ini, lebih dari 10 Pendekar Parasura diki
Talang Mayan menggunakan bakat alaminya, indra spiritual dan mengirim ketakutan kepada Dasakala yang sombong dan angkuh. Mahluk buas itu jatuh berlutut di hadapan Talang Mayan, bahkan sebelum dia sempat menyadari bahwa belati pemuda itu sudah berada di lehernya.Rasa takut itu menyelimutinya, berka
“Dewa Semaranta!!!” tiba-tiba suara Dasakala terdengar menggelegar dari dalam penjara kepompong miliknya. “Sudah berapa ratus tahun tidak bertemu denganmu, meskipun kau hanyalah avatarnya saja, setiap kali melihatmu aku selalu ingin membunuhmu.”Mata Dasakala yang tertutup tiba-tiba terbuka, mengel
Cakram Sudra tidak hanya menghancurkan serangan lawan, tapi juga hampir membunuh pendekar itu hingga tercabik-cabik, jika bukan salah satu dari tetua Jantung Iblis segera menyambar tubuh muridnya.Namun di saat yang sama pula, senjata pusaka itu malah mengincar beberapa pendekar yang berada dekat d







