Share

Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis
Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis
Penulis: Pancur Lidi

Pengorbanan Bulan Darah

Penulis: Pancur Lidi
last update Tanggal publikasi: 2026-02-20 14:41:55

Gerhana Bulan Merah muncul selama seratus tahun sekali. Fenomena alam yang paling ditunggu oleh Sekte Aliran Sesat Bulan Darah. Di altar tertinggi di puncak gunung Sektenya, 140 rantai halus dengan ujung  yang runcing menusuk sekujur tubuh seorang pria.

Pria tidak bernama, tapi dikenal sebagai Pemburu Darah harus menerima siksaan dari seluruh bawahannya. Dia meraung kesakitan, matanya menatap 140 bawahan dengan dendam yang membara.

Namun, tidak! Dia tidak bisa menghadapi 140 lawannya saat ini, tidak ketika dia dalam keadaan sangat lemah.

“Hari ini akhirnya tiba ..,” pria yang diselimuti oleh tulang belulang muncul melayang di altar pembunuhan itu, dengan tatapan merah penuh keangkuhan. “Bulan merah membuat darah iblismu mendidih, Muridku. Hari ini, sudah waktunya bagimu untuk membalas semua kebaikan yang aku berikan.”

“Guru ..,” Pembunuh Berdarah menjerit lagi, ketika tusukan dari rantai sehalus benang itu menjadi lebih dalam, mulai menembus tulang sum-sumnya, sendi, dan tulang belakang, “Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”

“Saat aku melihatmu 25 tahun yang lalu, aku sudah tahu di dalam tubuhmu mengalir darah iblis. Aku memungutmu dari tumpukan sampah, memberimu makan, mengajarimu cara bertarung, dan membuat namamu terkenal di seluruh penjuru dunia. Sekarang sudah waktunya untuk meminta imbalan itu, Murid terbaikku. Dengan darah iblismu, akhirnya aku akan menjadi dewa. Hahaha.”

Pemuda itu sungguh tidak menduga semua yang dilakukan oleh gurunya, yang tampak seperti orang tua, bijaksana, penuh perhatian, ternyata adalah topeng belaka. Itu hanyalah tipuan, agar dia setia terhadap Sekte Aliran Sesat ini.

Semua itu untuk satu tujuan, darah iblis yang dia miliki. Seharusnya darah itu sebuah berkah baginya di dunia persilatan yang kejam dan buas, tapi siapa sangka menjadi bumerang yang membunuhnya sendiri.

Hari ini, pria tidak bernama itu membuktikan bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang benar-benar tulus menganggapnya sebagai keluarga. Bahkan, seorang guru sekalipun hari ini telah mengkhianati kepercayaan pemuda tersebut.

“Esensi dari darah iblismu, hari ini akan menjadi milikku, aku akan menjadi Dewa. Hahaha!” pria berselimut tulang tengkorak itu mulai membaca mantra, digabungkan dengan gerakan-gerakan alirannya, dan ritual penyerapan darah iblis akhirnya dimulai.

Pemburu Darah tidak pernah membayangkan rasa sakit yang akan dia alami saat ini, 100 kali lebih berat dari ketika dia menerima hujan anak panah saat menyelamatkan Gurunya dalam sebuah perang melawan aliran putih.

Darah Iblis yang biasanya selalu mengobati setiap luka, kini mulai mengalir merayap melewati rantai halus, dan setiap tetes darah yang keluar itu, seperti mencengkram bara api di telapak tangannya.

“Terkutuk kalian semua!” Pemburu Darah mengumpat semua anggotanya, berteriak dengan rasa sakit yang tidak tertahankan lagi, “Aku akan keluar dari neraka, dan membunuh kalian satu persatu, aku tidak akan membiarkan kalian tenang selamanya!!!”

Namun makian dan umpatan hanyalah hiburan di tengah malam di bawah sinar bulan berwarna merah. Gurunya tidak peduli apapun tentang ungkapan kekecewaan murid terbaiknya, karena baginya darah iblis dapat membuatnya menjadi dewa. Itu sudah lebih dari cukup.

“Ahkk ..,” Pemburu Darah yang tidak kenal ampun, pembunuh bayaran yang bahkan namanya saja membuat beberapa orang hebat mati ketakutan, kini mulai kehilangan kesadarannya.

Seluruh darahnya mulai habis, tubuhnya menjadi dingin, dan kini rasa sakitnya perlahan menghilang, bersama dengan pandangan mata yang memburam.

“Apakah aku akan mati di sini?” Pemburu Darah tertawa getir, dengan pandangan yang redup, dia menatap gurunya. Rasa penghormatan sudah berganti dengan kemarah, benci dan dendam yang membara. “Aku tidak akan mati ...”

Bruk.

Ritual penyerapan darah iblis akhirnya berhenti, bersama dengan hujan deras yang tiba-tiba melanda altar pembunuhan. Pemuda itu tergeletak di atas batu hitam di tengah altar, dengan wajah pucat dan rambut yang telah memutih.

Semua orang sudah meninggalkannya, mengembalikan tubuhnya ke keadaan semula dimana 25 tahun yang lalu, gurunya menemukan dia dalam keadaan yang serupa di tengah tumpukan sampah di ujung jalanan.

Jika kematian mendatanginya dahulu, dia mungkin tidak akan menjadi pemburu darah, yang berjuang mati-matian demi nama baik Sekte Aliran Sesatnya. Semuanya sudah berakhir, atau mungkin ini baru saja dimulai.

Setetes air mata jatuh di sudut matanya yang keriput, air mata kesedihan terakhir sebelum kesadaran sepenuhnya menghilang. Setelah 20 tahun terakhir, ini mungkin adalah air mata pertama dan terakhir yang pernah jatuh dari matanya.

Namun. Tidak, ini memang belum berakhir. Seluruh kesadarannya berada di dalam satu tetes air mata itu. Kesadaran ini memicu energi kehidupannya untuk tetap bertahan, meski hanya berbentuk satu tetes air mata saja.

Di tengah hujan badai, air mata itu hanyut terbawa arus, seperti permata suci yang tetap tenang di terjang gelombang pasang tanpa kehilangan makna dan artinya.

Kini puluhan tahun telah berlalu, lokasi altar pembunuhan yang dulunya sepi saat ini dipenuhi oleh pekerja tambang yang menggali tanah dan memecah batuan. Waktu telah mengikis tempat itu, lebih kuat dari pada air hujan.

Tes. Air mata ‘terakhir’ tiba-tiba jatuh dari ujung batu lancip dan meresap di kening seorang bocah berusia 10 tahunan -yang tertimbun di dalam batuan tambang. Esensi kesadaran dan energi kehidupan yang terisimpan rapi di dalam satu tetes air mata, kini menyebar ke seluruh tubuh bocah kecil itu.

Cahaya biru muda mulai bergerak seperti sungai yang deras mengalir di seluruh celah-celah sempit perbukitan. Energi kehidupan itu, mulai menggerakan jantung yang mati, dan mulai menyembuhkan banyak luka dalam waktu yang singkat.

Hufff.

Pembunuh Bayaran itu tiba-tiba terjaga, dia membuka matanya dengan enggan, tapi seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak, dan dia tidak tahu apa yang terjadi saat ini.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara sayup-sayup yang memanggil nama ‘Talang Mayan’ dan suara-suara itu semakin jelas saat ini.

“Gali-gali lebih dalam!” seru mereka.

“Aku yakin, Putraku masih hidup, aku yakin ..,” terdengar suara yang lebih jelas lagi.

Pemburu Darah tidak tahu siapa ‘Talang Mayan,’ lalu kenapa ada banyak suara orang-orang yang tampak sibuk, dan sepertinya sedang kehilangan sesuatu?

“Di sini, aku menemukannya!” 

Sebongkah batu diangkat pula, di saat itu, Pemburu Darah untuk pertama kalinya melihat beberapa wajah yang tidak dia kenali sama sekali. Pria-pria tua berpakaian usang, dengan berjanggut tidak terurus memegang palu, sedang berusaha mengangkat sebongkah batu.

Meskipun dia tidak tahu apapun, Pemburu Darah berniat melawan, tapi tidak bisa. Dia tidak memiliki kekuatan sama sekali, dia merasa sangat lemah, bahkan lidahnya begitu sulit untuk digerakan. Hanya gerakan mata yang mengisyaratkan keraguan, tapi pria tua berjanggut itu semakin bersemangat untuk menolongnya.

“Nak, bertahanlah! Kami akan menyelamatkanmu!” pria tua itu mengangkat satu bongkah batu terakhir yang menutupi tubuhnya, dan akhirnya berhasil menyelamatkan pemuda tersebut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Happy_Fa
awal yang bagus
goodnovel comment avatar
Den Bagoes
mantap Thor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   117. Kabar yang lucu

    Pertemuan para petinggi anggota Bintang Kejora Merah diadakan di sebuah tempat terpencil yang tiada tertulis di catatan maupun tergambar di dalam peta. Sudah beberapa lama mereka menunggu di atas kursi batu, menghadap kobaran api yang menyala, tidak pernah padam sekalipun.Kursinya ada lima buah, tapi yang duduk di sana hanya tiga orang saja.“Jantung Iblis telah dikalahkan oleh Indraprasta ..,” salah satu dari tiga orang itu akhirnya membuka suara. “Satu kursi telah kosong, kita harus mencari penggantinya.”“Aku dengar, Jantung Iblis dikalahkan oleh pendekar Parasura yang dibentuk oleh Patih Wira beberapa bulan yang lalu. Mereka adalah kumpulan murid terbaik dari segala sekte aliran putih.” Salah satu dari orang yang duduk di sana mengenakan pakaian merah darah, dengan sarung tangan berbentuk cakar naga.“Kehebatan mereka dikatakan dapat menggulingkan sebuah kerajaan, omong kosong!” timpal salah satu dari yang lain, dan kali ini seorang wanita dengan kipas perunggu menimpali pria tad

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   116. Pengakuan Yang Jujur

    Di hari lain, Tiwas Kuncir keluar dari kamarnya dengan tatapan yang penuh dengan dendam. Keluarnya dia dari kamar, disambut oleh banyak pendekar Racun Hati, tapi aura pria itu kini berubah.Dia tidak nampak seperti pria tua yang bengis, tapi malah seperti wanita tua yang penuh dengan dendam kesumat. Sakunira mengiringi langkah kakinya dengan perasaan tidak menentu, dan sesekali melirik ke arah beberapa bawahannya agar tidak menyinggung Tiwas Kuncir.“Tuan ..,” salah satu bawahannya mendekat, sedikit berjalan membungkuk, “Begini Tuan, pertemuan antar anggota Bintang Kejora Merah akan berlangsung besok siang. Tuan..,”Wush.Tiwas Kuncir langsung membunuh pria itu dengan sadis. Semua orang langsung tercengang, dan sontak membuat ratusan pendekar ciut nyalinya.“Bintang Kejora Merah, aku tidak peduli lagi dengan semuanya, yang aku inginkan adalah kematian pemuda itu. Kerahkan semua orang untuk memburunya! Jelajahi setiap jengkal tanah Indraprasta, tangkap dia hidup-hidup, dan biarkan aku

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   115. Menjadi Wanita

    Aksi kejar-kejaran terjadi antara Talang Mayan dan pendekar Racun Hati. Hingga pada akhirnya, ke duanya berhasil menghindari mereka dengan bersembunyi di dalam jurang yang cukup gelap.Di sana, Talang Mayan menurunkan Intan Selake, sementara gadis itu hanya menangis cengeng sembari membenarkan seluruh pakaiannya. Saat itu, Talang Mayan langsung pergi menjauh, berdiri di antara celah-celah cadas sembari memantau ke adaan di permukaan atas.Dari pantauan Mata Batinnya, Talang Mayan menemukan beberapa pendekar Racun Hati sedang mengamati permukaan jurang. Di saat itulah, Talang Mayan langsung menarik tubuh Intan Selake, dan bersembunyi lebih dalam pada celah batu yang berukuran sangat cempit.Kedua tubuh mereka kini berhimpitan, “hussttt ..,” bisik Talang Mayan di telinga gadis itu, “mereka ada di atas sana.”Jantung Intan Selake berdebar-debar dengan situasi ini. Wajahnya mungkin memerah, mungkin malu, mungkin pula panik, tapi saat ini situasinya membuat gadis itu terus berpelukan denga

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   114. Kesucian Yang Terjaga

    Belati Dasaka keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan, dan roh senjata itu tertawa girang. Energi menakutkan menyeruak memenuhi seluruh bagian belati itu, menciptakan percikan kilatan hitam yang menggetarkan jiwa.Sesaat, getaran halus menjalar di dinding ruangan itu, sebelum akhirnya dinding-dingding itu menjadi retak seribu.“Hahahaa!!!” tawa Dasakala memekakan telinga Talang Mayan, “Aku merasakan lawan yang cukup sepadan.”Ya, semenjak Dasakala menyerap energi spiritual dari senjata pimpinan Jantung Iblis, tanpa disadari oleh Talang Mayan, ternyata kekuatan Dasakala meningkat sangat pesat. Aura haus darah yang kental kini hampir tidak bisa dikendalikan.Sementara itu, di kamar pribadinya, Ki Tiwas Kuncir memandangi sekujur tubuh Intan Selake yang tergeletak tidak berdaya di atas pembarian. Kaki dan tangan gadis itu terbelenggu oleh jaring laba-laba, dan meskipun dia meronta sekuat tenaga, gadis itu sudah jatuh dalam perngkap menjijikan pimpinan Racun Hati.“Yuhuhuhuh ..,” Pri

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   113. Tidak Beradab

    “Hoiii .., siapa yang mau jadi pasangan wanita menakutkan seperti dirimu!” teriak Talang Mayan yang langsung berusaha membebaskan diri dari jerat jaring laba-laba di dua tangannya, dan meskipun tidak berhasil, dia selalu berusaha sekuat tenaga.Melihat hal itu, Sakunanira malah tertawa semakin genit dan mulai mengelus leher hingga dada Talang Mayan. Di sisi lain, pemuda itu merasakan rasa jijik yang luar biasa, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri, dan darahnya nyaris membeku.Seumur hidupnya, Talang Mayan tidak pernah dirayu oleh seorang gadis sebegitunya, dan hari ini, pengalaman pertamanya malah dilakukan oleh manusia setengah siluman yang jelas-jelas mengerikan. Ah, meskipun jika berada pada wujud manusia dia juga cukup cantik, tapi tetap saja, ketika dia berubah menjadi setengah laba-laba raut wajahnya lebih parah dari siluman itu sendiri.“Tolong cari pemuda lain saja ..,” kata Talang Mayan, hampir merengek di hadapan Sakunira, “sebenarnya, aku tidak menyukai .., aku tidak meny

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   112. Terjebak

    Sementara itu, Talang Mayan harus rela mengikuti Intan Selake yang penuh semangat saat menjelajahi goa yang begitu dalam. Meskipun ada perasaan khawatir, nyatanya rasa penasaran yang dimiliki gadis itu mengalahkan rasa takutnya.Talang Mayan menggunakan Mata Batin nya untuk menganalisa lorong goa yang begitu panjang, hanya untuk memastikan bahwa mereka berjalan di rute yang lebih aman.Semakin dalam, situasi di lorong goa menjadi semakin gelap. Udara bersih terasa menipis, membuat keduanya harus mengatur nafas sedemikian rupa.Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya kedua orang itu menemukan tiga cabang lorong yang dipenuhi oleh sarang laba-laba.“Kita akan menjelajahi lorong tengah ..,” kata Intan Selake.Talang Mayan mengedarkan mata batinya, dan meskipun dia tidak bisa melihat tanda-tanda bahaya, akan tetapi firasatnya mengatakan bahwa tempat ini sangat berbahaya.Tidak ada lorong yang lebih baik dari lorong yang lain. Semuanya menyimpan potensi yang sama-sama berbahaya, meskipun

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   101. Ancaman Baru

    “Kenapa tidak kau hajar saja gadis kasar itu?!” Putri Intan Selake mengepalkan tinjunya, sembari memandang wajah Talang Mayan dengan sinis, tapi sebaliknya Talang Mayan malah tertawa cekikikan.“Kalian berdua sama saja,” ucap Talang Mayan, membandingkan Intan Selake dengan Wayang Sari, jika saja di

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   100. Gadis Kekar

    “Satrio Pamungkas, ini tidak ada hubungannya dengan dirimu. Meskipun kau berasal dari Sekte Gunung Mahameru, tapi kau harus ingat satu hal, tempat itu jauh dari sini, Kawan.” Kata salah satu pemuda itu, meminta agar Satrio Pamungkas jangan berlagak kuat di tempat ini, karena seperti yang sudah dije

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   98. Mandi di Sungai

    Malam itu, hubungan antara Talang Mayan dan Putri Intan Selake terasa lebih hangat. Siapa yang menduga, jika Intan Selake merupakan gadis yang gemar berbicara, penuh canda jenaka, dan sesekali menunjukan sifat marah sebagaimana wanita pada umumnya.Di sisi lain, Talang Mayan dengan hati sedingin es

  • Talang Mayan: Warisan Tekad Pemburu Darah Iblis   85. Penjara

    Cakram Sudra tidak hanya menghancurkan serangan lawan, tapi juga hampir membunuh pendekar itu hingga tercabik-cabik, jika bukan salah satu dari tetua Jantung Iblis segera menyambar tubuh muridnya.Namun di saat yang sama pula, senjata pusaka itu malah mengincar beberapa pendekar yang berada dekat d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status