Masuk
Gerhana Bulan Merah muncul selama seratus tahun sekali. Fenomena alam yang paling ditunggu oleh Sekte Aliran Sesat Bulan Darah. Di altar tertinggi di puncak gunung Sektenya, 140 rantai halus dengan ujung yang runcing menusuk sekujur tubuh seorang pria.
Pria tidak bernama, tapi dikenal sebagai Pemburu Darah harus menerima siksaan dari seluruh bawahannya. Dia meraung kesakitan, matanya menatap 140 bawahan dengan dendam yang membara.
Namun, tidak! Dia tidak bisa menghadapi 140 lawannya saat ini, tidak ketika dia dalam keadaan sangat lemah.
“Hari ini akhirnya tiba ..,” pria yang diselimuti oleh tulang belulang muncul melayang di altar pembunuhan itu, dengan tatapan merah penuh keangkuhan. “Bulan merah membuat darah iblismu mendidih, Muridku. Hari ini, sudah waktunya bagimu untuk membalas semua kebaikan yang aku berikan.”
“Guru ..,” Pembunuh Berdarah menjerit lagi, ketika tusukan dari rantai sehalus benang itu menjadi lebih dalam, mulai menembus tulang sum-sumnya, sendi, dan tulang belakang, “Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”
“Saat aku melihatmu 25 tahun yang lalu, aku sudah tahu di dalam tubuhmu mengalir darah iblis. Aku memungutmu dari tumpukan sampah, memberimu makan, mengajarimu cara bertarung, dan membuat namamu terkenal di seluruh penjuru dunia. Sekarang sudah waktunya untuk meminta imbalan itu, Murid terbaikku. Dengan darah iblismu, akhirnya aku akan menjadi dewa. Hahaha.”
Pemuda itu sungguh tidak menduga semua yang dilakukan oleh gurunya, yang tampak seperti orang tua, bijaksana, penuh perhatian, ternyata adalah topeng belaka. Itu hanyalah tipuan, agar dia setia terhadap Sekte Aliran Sesat ini.
Semua itu untuk satu tujuan, darah iblis yang dia miliki. Seharusnya darah itu sebuah berkah baginya di dunia persilatan yang kejam dan buas, tapi siapa sangka menjadi bumerang yang membunuhnya sendiri.
Hari ini, pria tidak bernama itu membuktikan bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang benar-benar tulus menganggapnya sebagai keluarga. Bahkan, seorang guru sekalipun hari ini telah mengkhianati kepercayaan pemuda tersebut.
“Esensi dari darah iblismu, hari ini akan menjadi milikku, aku akan menjadi Dewa. Hahaha!” pria berselimut tulang tengkorak itu mulai membaca mantra, digabungkan dengan gerakan-gerakan alirannya, dan ritual penyerapan darah iblis akhirnya dimulai.
Pemburu Darah tidak pernah membayangkan rasa sakit yang akan dia alami saat ini, 100 kali lebih berat dari ketika dia menerima hujan anak panah saat menyelamatkan Gurunya dalam sebuah perang melawan aliran putih.
Darah Iblis yang biasanya selalu mengobati setiap luka, kini mulai mengalir merayap melewati rantai halus, dan setiap tetes darah yang keluar itu, seperti mencengkram bara api di telapak tangannya.
“Terkutuk kalian semua!” Pemburu Darah mengumpat semua anggotanya, berteriak dengan rasa sakit yang tidak tertahankan lagi, “Aku akan keluar dari neraka, dan membunuh kalian satu persatu, aku tidak akan membiarkan kalian tenang selamanya!!!”
Namun makian dan umpatan hanyalah hiburan di tengah malam di bawah sinar bulan berwarna merah. Gurunya tidak peduli apapun tentang ungkapan kekecewaan murid terbaiknya, karena baginya darah iblis dapat membuatnya menjadi dewa. Itu sudah lebih dari cukup.
“Ahkk ..,” Pemburu Darah yang tidak kenal ampun, pembunuh bayaran yang bahkan namanya saja membuat beberapa orang hebat mati ketakutan, kini mulai kehilangan kesadarannya.
Seluruh darahnya mulai habis, tubuhnya menjadi dingin, dan kini rasa sakitnya perlahan menghilang, bersama dengan pandangan mata yang memburam.
“Apakah aku akan mati di sini?” Pemburu Darah tertawa getir, dengan pandangan yang redup, dia menatap gurunya. Rasa penghormatan sudah berganti dengan kemarah, benci dan dendam yang membara. “Aku tidak akan mati ...”
Bruk.
Ritual penyerapan darah iblis akhirnya berhenti, bersama dengan hujan deras yang tiba-tiba melanda altar pembunuhan. Pemuda itu tergeletak di atas batu hitam di tengah altar, dengan wajah pucat dan rambut yang telah memutih.
Semua orang sudah meninggalkannya, mengembalikan tubuhnya ke keadaan semula dimana 25 tahun yang lalu, gurunya menemukan dia dalam keadaan yang serupa di tengah tumpukan sampah di ujung jalanan.
Jika kematian mendatanginya dahulu, dia mungkin tidak akan menjadi pemburu darah, yang berjuang mati-matian demi nama baik Sekte Aliran Sesatnya. Semuanya sudah berakhir, atau mungkin ini baru saja dimulai.
Setetes air mata jatuh di sudut matanya yang keriput, air mata kesedihan terakhir sebelum kesadaran sepenuhnya menghilang. Setelah 20 tahun terakhir, ini mungkin adalah air mata pertama dan terakhir yang pernah jatuh dari matanya.
Namun. Tidak, ini memang belum berakhir. Seluruh kesadarannya berada di dalam satu tetes air mata itu. Kesadaran ini memicu energi kehidupannya untuk tetap bertahan, meski hanya berbentuk satu tetes air mata saja.
Di tengah hujan badai, air mata itu hanyut terbawa arus, seperti permata suci yang tetap tenang di terjang gelombang pasang tanpa kehilangan makna dan artinya.
Kini puluhan tahun telah berlalu, lokasi altar pembunuhan yang dulunya sepi saat ini dipenuhi oleh pekerja tambang yang menggali tanah dan memecah batuan. Waktu telah mengikis tempat itu, lebih kuat dari pada air hujan.
Tes. Air mata ‘terakhir’ tiba-tiba jatuh dari ujung batu lancip dan meresap di kening seorang bocah berusia 10 tahunan -yang tertimbun di dalam batuan tambang. Esensi kesadaran dan energi kehidupan yang terisimpan rapi di dalam satu tetes air mata, kini menyebar ke seluruh tubuh bocah kecil itu.
Cahaya biru muda mulai bergerak seperti sungai yang deras mengalir di seluruh celah-celah sempit perbukitan. Energi kehidupan itu, mulai menggerakan jantung yang mati, dan mulai menyembuhkan banyak luka dalam waktu yang singkat.
Hufff.
Pembunuh Bayaran itu tiba-tiba terjaga, dia membuka matanya dengan enggan, tapi seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak, dan dia tidak tahu apa yang terjadi saat ini.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara sayup-sayup yang memanggil nama ‘Talang Mayan’ dan suara-suara itu semakin jelas saat ini.
“Gali-gali lebih dalam!” seru mereka.
“Aku yakin, Putraku masih hidup, aku yakin ..,” terdengar suara yang lebih jelas lagi.
Pemburu Darah tidak tahu siapa ‘Talang Mayan,’ lalu kenapa ada banyak suara orang-orang yang tampak sibuk, dan sepertinya sedang kehilangan sesuatu?
“Di sini, aku menemukannya!”
Sebongkah batu diangkat pula, di saat itu, Pemburu Darah untuk pertama kalinya melihat beberapa wajah yang tidak dia kenali sama sekali. Pria-pria tua berpakaian usang, dengan berjanggut tidak terurus memegang palu, sedang berusaha mengangkat sebongkah batu.
Meskipun dia tidak tahu apapun, Pemburu Darah berniat melawan, tapi tidak bisa. Dia tidak memiliki kekuatan sama sekali, dia merasa sangat lemah, bahkan lidahnya begitu sulit untuk digerakan. Hanya gerakan mata yang mengisyaratkan keraguan, tapi pria tua berjanggut itu semakin bersemangat untuk menolongnya.
“Nak, bertahanlah! Kami akan menyelamatkanmu!” pria tua itu mengangkat satu bongkah batu terakhir yang menutupi tubuhnya, dan akhirnya berhasil menyelamatkan pemuda tersebut.
Satu minggu telah berlalu sejak markas Jantung Iblis berhasil ditaklukan oleh Parasura dan prajurit Indraprasta. Beberapa waktu belakang, misi itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan para anggota Parasura dan para pejabat yang ada di istana.Penyerahan mendali penghargaan dibagikan oleh Patih Wira bagi Intan Selake dan yang lainnya. Tentu saja, karena ini adalah misi level S yang sangat sulit untuk dilakukan oleh kebanyakan pendekar maupun para prajurit.Namun diantara daftar itu, tidak ada nama Talang Mayan di papan pengumuman. Setelah dia kembali dari misinya, Talang Mayan tetaplah Talang Mayan, tanpa topeng hitam tanpa jubahnya. Dia hanya mendapatkan nilai kontribusi level B, sebagaimana kelasnya saat ini.Namun mengenai Pendekar bertopeng hitam itu, tetap saja menjadi perbincangan di kalangan para prajurit yang menyaksikan kehebatannya.“Jika saja, dia adalah anggota Parasura, mungkin dia akan mendapatkan mendali penghargaan seperti yang lain,” gumam beberapa prajurit yang sedan
Malam itu, hubungan antara Talang Mayan dan Putri Intan Selake terasa lebih hangat. Siapa yang menduga, jika Intan Selake merupakan gadis yang gemar berbicara, penuh canda jenaka, dan sesekali menunjukan sifat marah sebagaimana wanita pada umumnya.Di sisi lain, Talang Mayan dengan hati sedingin es yang nyaris tidak memiliki emosi sama sekali, kini menjadi lebih lunak di hadapan gadis tersebut. Ya, tidak banyak orang yang bisa membuat hatinya menjadi lebih hangat, hanya bisa dihitung oleh lima jari tangan saja.Namun malam ini, rasanya sedikit berbeda. Setiap kali Talang Mayan mengintip wajah Intan Selake dari celah lubang topeng, jantungnya terasa akan melompat keluar dari dadanya sendiri.Malam itu, Putri Intan Selake tidur bersandar di batang pohon. Melihatnya, Talang Mayan melepaskan jubah hitamnya, dan menyelimuti tubuh gadis tersebut.Sebagai orang yang peminum, Talang Mayan tidak pernah bisa benar-benar tidur dengan nyenyak, apa lagi ada sosok gadis yang harus dia jaga malam i
Dalam kesendiriannya setelah mengalahkan Jantung Iblis, mendadak Putri Intan Selake muncul di belakang Talang Mayan, di Desa Raya Keling yang kini sudah tidak memiliki warganya lagi.Kala itu, Talang Mayan terlihat duduk di kursi panjang dengan arak di tangannya. Setelah pertarungan yang melelahkan, pemuda itu berencana untuk berisitirahat beberapa hari di sini sebelum kembali ke Istana Indraprasta untuk melaporkan hasil misi.Namun dia tidak menduga, -yang dikira semua orang sudah kembali ke Istana, rupanya Putri Intan Selake diam-diam mengikuti pemuda tersebut.“Tuan Putri ..,” ucap Talang Mayan, sedikit tersedak oleh arak yang dia minum.“Kau sudah mengetahui namaku, tapi aku belum mengetahui namamu,” ucap Putri Intan Selake, dan diapun duduk di sebelah Talang Mayan sembari meletakan pedang pusaka es di pangkuannya.“Apalah arti sebuah nama,” kata Talang Mayan, “kadang kala seseorang bisa melupakannya dengan sangat mudah?”“Aku mendengar semua tentang Pendekar Bertopeng Hitam yang
“Astaga, berapa banyak barang berharga yang dimiliki orang ini?!” Senopati Anom yang dari tadi selalu memasang standar kehormatan yang tinggi di hadapan para pendekar, akhirnya memasang wajah yang konyol ketika melihat Cakram Sudra yang keluar dari dalam telapak tangan Talang Mayan.Dengan mata terbelalak tak percaya, dan mulut sedikit terbuka, hingga mungkin lalat bisa masuk tanpa dia sadari, Senopati itu kembali berkata, “dua harta pusaka, itu tidak ternilai dengan apapun, tidak dengan harta, jabatan dan status.”Sementara itu, Putri Intan Selake melirik ke arah Talang Mayan sejenak, hatinya berdebar saat merasakan gejolak dari Cakram Sudra.Lalu menyeranglah gadis itu lebih dahulu ke arah para tetua yang berdiri congak di atas markas mereka. Energi yang dingin membekukan udara dalam hitungan detik, memutihkan seluruh udara di sekitar tempat itu.Markas itu dengan cepat menjadi bangunan es yang berkilauan saat ini, tapi bahkan serangan yang sesungguhnya belum menyentuh para tetua it
Harta yang sangat berharga. Inilah kalimat yang terlintas dalam benak para pendekar dan para prajurit yang menyaksikan kemenangan Talangan Mayan atas pimpinan tertinggi Jantung Iblis.Belati Dasakala, adalah harta berharga yang membuat orang lain merasa iri, sekaligus takut berhadapan dengan Talang Mayan. Semua pendekar di level tanpa tanding, bisa merasakan roh senjata yang bersemayam di dalam belati itu, bukan berasal dari jiwa siluman.“Jiwa yang begitu liar, jahat, dan kuat,”kata salah satu dari tetua Jantung Iblis, “tidak salah lagi, itu adalah Jiwa Dasakala.”“Bocah itu terlalu beruntung, bisa menjadikan Dasakala sebagai roh senjata miliknya.”“Beruntung?” Senopati Anom yang mendengar perkataan para tetua Jantung Iblis lansung menyela, “Tidak ada keberuntungan di dunia ini. Jika kau mendapatkan sesuatu yang berharga, itu karena hasil dari penderitaan yang kau alami di masa lalu.”Senopati Anom kemudian mengangkat telapak tangannya ke atas, di saat yang sama pula, semua prajurit
Rewak mulai menggunakan potensi pedang jantung iblis kehancuran, tapi di sisi lain, Talang Mayan dengan Belati Dasakala yang terbang dengan kehendaknya sendiri tidak menunjukan rasa gentar sedikitpun.Belati Dasakala terbang ke langit, kemudian meluncur dengan kecepatan tinggi dan langsung bertemu dengan pedang Rewak yang dikenal sangat menakutkan. Dalam adu kekuatan senjata, energi yang benturan yang dihasilkan oleh ke duanya berhasil menyapu bersih medan pertempuran di sekitar mereka.Tanah terkelupas, gelombang kejut menghempaskan segala benda, dan di situ, Rewak harus menahan tekanan energi belati yang terus menyerangnya dari segala arah.-Jurus Lingkaran Maut-Talang Mayan tidak membuang-buang kesempatan, di saat belati Dasakala sibuk menyerang dan membatasi pergerakan Rewak, Talang Mayan justru memanfaatkan situasi itu untuk melancarkan serangan yang tidak terduga.Tanpa dua belati, Talang Mayan terpaksa menggunakan semua sayap-sayap lebah untuk melengkapi serangannya.“Cih,” Re
Berjalan bersama dengan para budak, kini Talang Mayan tiba di dapur utama. Ada puluhan pekerja dapur, diawasi oleh lusinan pendekar yang bermata tajam. Talang Mayan segera meletakan bakul beras. Diam diam memotong rantai di kakinya, lalu menyelinap pergi dari ruangan itu. Dia berjalan di antara r
Di hari itu, para warga dibantu oleh para budak-budak menciptakan kendaraan angkut sederhana untuk meninggalkan desa. Sementara itu, di saat yang sama pula, Talang Mayan pergi ke perbatasan bersama dengan pendekar Jantung Iblis,-yang sudah dilumpuhkan.Bukan gila dengan niat menyerang markas besar
Untuk menjamin perkataanya, Talang Mayan melepaskan sayap sayap lebah yang melekat di kaki dua gadis tersebut. Dia kemudian meminta mereka untuk menyerang para pendekar Jantung Iblis dengan menggunakan cambuk.Tanpa energi spiritual.Meskipun ke dua gadis itu merasa ragu -apakah cambuk mereka bisa
“Formasi bertahan!” Mereka mengalirkan energi spiritual ke tanah dengan telapak tangannya. Di saat itulah, energi spiritual semuanya bergabung menjadi satu menciptakan ratusan benang halus yang saling terikat membentuk jala atau jaring.Selain dapat menahan serangan lawan, di dalam formasi itu, ene







