Beranda / Romansa / Tanda Cinta Tuan Benjamin / Lingkar ketidak beruntungan

Share

Lingkar ketidak beruntungan

Penulis: Babytiran
last update Terakhir Diperbarui: 2024-02-22 21:33:41

Rhea tenggelam dalam rumitnya pikirannya. Air matanya menetes, “Mengapa disaat aku mulai percaya? Mengapa disaat aku merasa nyaman? Disaat aku merasa mungkin untuk dicintai… Aku mengetahui hal yang seharusnya tak ku dengar."

"Haruskah aku berpura tak tahu?"

"Ah! sejak kapan aku menjadi takut kehilangan. Benjamin kau memang bajingan!!" umpat Rhea dalam benak.

Rhea mengigit bibirnya, dia gelisah.

Selesai berbincang dengan Anna, Benjamin menyadari Rhea telah terbangun.

Dahi Benjamin mengkerut kala menyadari air mata Rhea yang menetes. Buru-buru dia duduk diatas kasur sebelah Rhea.

Benjamin menatap Rhea lekat. “Bagian tubuh mana yang sakit?” tanya Benjamin.

Ya, Benjamin mengira tubuh Rhea mungkin saja nyeri karena malam panas tadi malam dan berlanjut hingga pagi harinya. “Harusnya aku tak berlebihan, aku harus mementingkan kondisi Rhea kedepannya."

"Mau, bagaimana dia sangat menggoda.” benak Benjamin, wajahnya merona memikirkan adegan panas yang menggelora.

Rhea tak bergeming, di
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Tanggung jawabnya

    Langkah Benjamin terhenti tepat, disisi inkubator. Tangannya gemetar saat menyentuh tepiannya. Bayi itu mengeliat pelan, mengecap bibir mungilnya. Saat tangannya dengan lembut menyentuh jemari bayinya, Jantung Benjamin berdesir. Sesuatu yang tak bisa dia jelaskan dengan kata-kata. Makhluk kecil yang tampak tak berdaya dengan tangan dan kaki mungilnya, dan kenyataan bahwa ia adalah darah dagingnya. "Bayi anda sangat sehat, jangan khawatir pak." ucap seorang perawat yang berjaga. "Anda ingin mencoba mengendongnya?" Benjamin terdiam, hanya menatap bayinya lekat-lekat sementara tangannya mengepal kuat. Kemudian dia berkata tanpa menoleh, "Bayinya terlalu rapuh, dia akan hancur dalam sentuhanku." Perawat itu tersenyum kecil, seolah sering melihat seorang ayah baru yang mengalami ketakutan serupa. "Perasaan itu wajar. Tidak apa-apa. Saya bantu pak," Benjamin tak memberi respon—tidak menolak, tetapi tidak juga menyetujui. Matanya terfokus pada bayi itu, Perawat dengan per

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Daniel dan kisahnya

    Saat pintu dibuka, bau antiseptik langsung menyergap, ruangan putih itu terasa terlalu tenang untuk hatinya yang campur aduk. Di sana—Rhea terbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya tampak begitu pucat. Mesin monitor berdetak stabil namun pelan, jarum infus menembus kulit tangannya yang dingin. Benjamin berhenti tepat di sisi ranjang, memandang Rhea tanpa ekpresi—namun sorot matanya menyimpan kegelisahan yang tak mampu ia sembunyikan. Perlahan ia membungkukkan tubuh, jemarinya terulur mengelus lembut kepala Rhea seolah takut menyakitinya. Lalu, dengan hati-hati, bibirnya menyentuh kening Rhea dalam sebuah kecupan singkat. "Terima kasih sudah bertahan sejauh ini..." bisiknya nyaris tak terdengar. "Tolong, jangan tinggalkan aku." Hening menyambutnya. Tidak ada respons. Tidak ada gerakan. Mata Rhea tetap terpejam, seolah dunia belum memanggilnya kembali. Kriet... Pintu terbuka, sontak tatapan Benjamin menajam—seolah siap menerkam siapa pun yang masuk tanpa izin.

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Beep! Beep!

    Benjamin duduk di kursi panjang depan ruang bersalin, tangannya terkatup, menyangga dagu yang menunduk dalam. Wajahnya pucat, menegang, seolah setiap detik yang berlalu adalah siksaan. Dari balik pintu kaca, samar-samar ia bisa melihat tim medis berlalu-lalang, bersiap dengan peralatan steril. Rhea baru saja dipindahkan dari IGD~infus masih menancap di tangannya, wajahnya begitu lemah. Setiap kali tubuhnya bergerak, Benjamin ikut menahan napas. Takut gerakan itu akan terhenti. Jantungnya berdetak tak karuan. Dalam kepalanya, dia terus saja berdoa~berharap semua berjalan dengan lancar. "Tindakan sesar akan segera dilakukan," suara salah satu perawat memberi kabar singkat, tapi bagi Benjamin, kalimat itu seperti kabar perang. "Tolong... selamatkan keduanya," ucap Benjamin suaranya serak namun tegas. Dia menatap pintu ruangan bersalin yang kini tertutup rapat. Tangannya mengepal di pangkuan, menggigil. Sementara itu, di sisi lain rumah sakit, Daniel telah melewati masa kriti

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Lahirnya pemimpin baru

    Mata Benjamin melirik ke arah Rhea—penasaran bagaimana reaksinya setelah mendengar kisah buruknya. Cerita dirinya yang terlahir dari hubungan penuh polemik.Tapi kemudian mata Benjamin membelalak—tatapan istrinya sayup, tangannya menggepal kuat. Ditengah dia mengandung besar, dia masih berusaha tetap berdiri kuat ditengah badai ketengangan. Benjamin menunduk perlahan, lututnya menyentuh tanah berdebu yang dingin. Dihadapan Kartel dia tunduk untuk pertama kalinya. "Kau menang." katanya."Lakukan tujuanmu. Bawa aku—bayangan ketakutanmu." "Istriku tengah mengandung besar." suara Benjamin berat, nyaris serak. "Dia hanya seseorang yang aku seret paksa dalam hidupku. Dia tak tahu apapun, tak tahu masalaluku." Benjamin menatap lurus ke arah Kartel—pandangan mata yang selalu tegas kini retak oleh rasa putus asa.Rhea berusaha meronta, air matanya jatuh. Hanya karena untuknya pria yang selalu keras ini sampai menyerahkan harga dirinya.Kartel menjambak kasar rambut Benjamin~memaksanya mend

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Ayah dan Anak penuh Intrik

    Asap tipis masih mengepul di sepanjang jalan ketika rombongan Benjamin akhirnya tiba di titik pelacak. Mobil berhenti mendadak di depan bangunan tua di pinggir kota~tampak seperti gudang yang lama ditinggalkan. Benjamin turun cepat. Pertempuran sengit semalam membuatnya lebih waspada. Pelacak di tangannya masih menyala... tapi titiknya bergerak. BRAK!!Suara benturan keras memecah keheningan, menambah ketegangan. Dari kejauhan, terdengar "DOR! DOR!"~ dua tembakan beruntun yang menggetarkan udara.Segera Benjamin kembali masuk ke dalam mobil. Rombongannya melaju cepat ke arah sumber suara.Dua tembakan ke udara adalah tanda peringatan darurat dari Daniel. Cara menembak dan suara itu, Benjamin sangat yakin itu peringatan dari Daniel. Bahwa dia tengah berhadapan langsung dengan rombongan lawan~peringatan itu juga sebagai tanda keyakinan Daniel bahwa Benjamin berada tak jauh dari lokasinya. Setelah menabrak mobil lawan hingga terguling dan melepaskan tembakan, Daniel dengan gagah bera

  • Tanda Cinta Tuan Benjamin   Si penghianat

    Sepanjang waktu Rhea terjaga, hingga malam berganti pagi. Dia takut jika terlelap hal yang lebih buruk menanti. Bahkan napan berisi makanan disebelahnya tak tersentuh. Brak!Duak!Beberapa kali pintu dihantam sesuatu dari luar. Membuat situasi terasa mencekam. Rhea menegang jantungnya berdegub tak karuan. Lalu kemudian senyap.Tak lama kemudian pintu terbuka.Seorang wanita tiba-tiba melompat masuk. Muncul seperti bayangan dengan wajah serius. Alat pemukul digengamannya, sedangkan di punggungnya, senapan terikat rapi. Rambut terkepang dua, gayanya nyentrik, dan glamor, namun masih terkesan imut.Kini mata wanita itu tertuju pada Rhea yang duduk didekat sudut ruangan."Tada aku datang." ucapnya cengegesan. Rhea hanya berkedip beberapa kali, terheran dengan wanita itu. Kesan serius dan menegangkan wanita itu langsung berubah. Dia tampak cukup konyol.Masih bingung siapa dia, wanita itu malah mendekatinya. Wanita itu menunduk mengamati perut Rhea lekat-lekat. "Wau... perutnya benar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status