Share

Bab 2

last update publish date: 2026-03-05 12:38:31

Suara klakson mobil Maybach itu masih memekik, membelah kesunyian malam di perempatan jalan yang mulai ramai oleh kerumunan orang yang menepi karena penasaran.

Davien masih berdiri di tempat semula. Matanya yang tajam, yang telah terbiasa melihat dalam kegelapan lembah terdalam, kini menyipit.

Dengan penglihatan batinnya, ia tidak hanya melihat kepulan asap mesin, tetapi juga aliran energi yang kacau balau di dalam tubuh pria tua yang terjepit di kursi belakang.

"Kakek! Tolong, seseorang tolong kami!" teriak wanita itu. Suaranya serak, beradu dengan suara hujan.

Nama wanita itu adalah Maya Pratama, cucu tunggal dari penguasa bisnis logistik di kota ini. Wajah yang biasanya angkuh di sampul majalah bisnis, kini dipenuhi air mata dan ketakutan.

Beberapa orang mendekat, namun mereka hanya berani mengambil foto atau menelepon ambulans. Tidak ada yang berani menyentuh mobil yang berasap itu karena takut akan ledakan.

Namun, Davien justru melangkah maju. Langkah kakinya ringan, bahkan tidak menimbulkan cipratan air yang berarti.

Saat Davien sampai di samping Maya, wanita itu mendongak. Ia mengernyitkan dahinya melihat penampilan David yang mirip gelandangan.

"Menjauh! Jangan mendekat!" bentak Maya secara insting.

Di dunianya yang penuh dengan pengkhianatan korporasi, orang asing dengan penampilan kumuh sering kali berarti bahaya. Maka dari itu, Maya selalu waspada.

Tapi, Davien tidak berhenti. Ia justru berkata, "Jika kau membiarkannya di sana tiga menit lagi, jantungnya akan berhenti karena tekanan darah yang membeku di paru-parunya."

Suara Davien sangat tenang, namun memiliki wibawa yang membuat Maya tertegun sejenak.

Sebelum Maya bisa membalas, Davien sudah memegang pintu mobil yang ringsek.

Hanya dengan satu tangan, Davien menarik pintu baja yang terlipat seolah-olah itu hanyalah kertas tipis. Orang-orang di sekitar terperanjat.

Maya menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya melihat kekuatan fisik yang begitu tidak masuk akal.

Davien mengeluarkan pria tua itu dengan gerakan yang sangat lembut, lalu membaringkannya di trotoar yang sedikit terlindung oleh atap ruko.

"Minggir! Beri jalan! Tim medis datang!" sebuah teriakan sombong terdengar dari arah kerumunan.

Seorang pria paruh baya dengan jas putih rapi dan tas medis bermerek melompat turun dari mobil sedan mewah yang berhenti tepat di belakang kerumunan.

Dia adalah Dokter Wijaya, seorang dokter pribadi yang kebetulan melintas, sekaligus seorang praktisi bela diri Alam Bumi Tahap Menengah.

"Nona Maya! Syukurlah saya lewat di sini," ujar Dokter Wijaya dengan nada mencari muka.

Dokter Wijaya segera berlutut di samping Tuan Besar Pratama, mengabaikan Davien yang berdiri di sampingnya.

"Dokter, tolong Kakek saya! Dia sempat sesak napas sebelum kecelakaan terjadi!" isak Maya.

Dokter Wijaya memeriksa denyut nadi Tuan Besar Pratama sejenak. Wajahnya berubah serius. "Ini serangan jantung koroner akut akibat benturan. Kita harus segera memberikan stimulasi jantung!"

Dokter Wijaya mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening. "Ini adalah serum peningkat energi medis. Ini akan merangsang jantungnya untuk kembali berdetak kuat."

"Jangan berikan obat itu," suara dingin Davien memotong gerakan tangan Dokter Wijaya.

Dokter Wijaya menoleh dengan tatapan menghina. "Siapa kau? Gelandangan berbau lumpur, tahu apa kau tentang medis? Ini adalah serum tingkat tinggi seharga ratusan juta!"

"Jantungnya tidak berhenti karena lemah," ucap Davien, matanya menatap tajam ke dada Tuan Besar Pratama.

"Ada sumbatan energi negatif di salah satu titik sarafnya. Jika kau memberikan serum peningkat energi sekarang, jantungnya justru akan meledak karena tekanan yang tidak bisa keluar."

Maya Pratama memandang Davien dengan ragu. Di matanya, penampilan Davien benar-benar tidak meyakinkan.

Meskipun tadi Davien terlihat begitu kuat saat mengeluarkan kakeknya, tapi tetap saja bukan dokter ahli seperti Dokter Wijaya.

"Dokter Wijaya adalah dokter terbaik di distrik ini. Sedangkan kau hanya orang asing!" ujar Maya akhirnya.

Dokter Wijaya tertawa sinis. "Kau dengar itu, kan? Pergilah sebelum aku memanggil keamanan untuk mengusirmu!"

Tanpa memedulikan peringatan Davien, Dokter Wijaya menyuntikkan serum itu ke lengan Tuan Besar Pratama.

Namun setelah beberapa detik berlalu, tiba-tiba, tubuh Tuan Besar Pratama mengejang hebat.

Wajahnya yang semula pucat berubah menjadi merah padam hingga keunguan. Matanya melotot, dan dari mulutnya keluar busa berwarna hitam.

"Kakek! Apa yang terjadi?! Dokter!" teriak Maya histeris.

Dokter Wijaya panik. "Ini ... ini tidak mungkin! Seharusnya reaksinya tidak seperti ini! Detak jantungnya melesat terlalu cepat!"

"Sudah aku bilang," desis Davien, lalu maju dan mendorong Dokter Wijaya hingga pria itu terjungkal ke belakang.

"Apa yang kau lakukan?!" bentak Dokter Wijaya murka, mencoba menyerang Davien dengan energi Alam Bumi-nya.

Namun, Davien bahkan tidak menoleh. Satu hentakan kecil dari aura Davien membuat Dokter Wijaya merasa seolah-olah baru saja menabrak gunung baja, dia langsung terkapar tak berdaya dengan napas sesak.

Maya mencoba menghalangi Davien. "Jangan sentuh Kakekku!"

"Jika kau ingin dia hidup, diam dan lihatlah," perintah Davien dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Davien merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sebuah kantong kain kecil berisi tiga jarum perak yang sangat tipis.

Di tengah hujan yang menderu, jarum-jarum itu tampak memancarkan cahaya putih yang suci.

Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata manusia, Davien menusukkan jarum pertama ke puncak kepala, jarum kedua ke tengah dada, dan jarum ketiga ke ulu hati Tuan Besar Pratama.

Seketika, asap hitam yang berbau busuk keluar dari pori-pori kulit Tuan Besar Pratama. Warna ungu di wajahnya memudar dalam hitungan detik.

Napas yang semula terputus-putus kini menjadi teratur dan dalam.

Tuan Besar Pratama terbatuk, memuntahkan sisa darah hitam, lalu perlahan membuka matanya.

"Uhuk! Aku ... di mana aku?" tanya pria tua itu dengan suara lemah namun jernih.

Maya terpaku. Ia jatuh berlutut di samping kakeknya dan menangis sejadi-jadinya.

"Kakek ... syukurlah Kakek selamat ..."

Orang-orang di kerumunan itu terdiam karena apa yang baru saja dilakukan oleh Davien.

Dokter Wijaya, yang masih terduduk di aspal, menatap Davien dengan ketakutan luar biasa.

"Teknik Jarum Surgawi ... itu tidak mungkin ... Bagaimana bisa seorang gelandangan menguasai teknik kuno yang sudah punah?"

Davien mencabut jarumnya dengan tenang dan menyimpannya kembali. Ia tidak menunggu ucapan terima kasih, melainkan berbalik untuk pergi menembus hujan.

"Tunggu!" teriak Maya. Ia berdiri dan mengejar Davien, memegang lengan pemuda itu. Tangannya yang halus terasa kontras dengan kain jaket Davien yang kasar.

"Siapa Anda? Tolong ... beri kami kesempatan untuk membalas budi. Keluarga Pratama tidak pernah berhutang nyawa tanpa membalasnya."

Davien berhenti dan menoleh sedikit. "Tidak perlu, aku hanya sedikit membantu."

"Aku mohon," Maya menatap mata Davien dengan tulus. "Setidaknya, biarkan kami memberikan tempat berteduh dan pakaian yang layak. Kakek saya adalah orang yang sangat menghargai pahlawan. Jika saya membiarkan Anda pergi begitu saja, dia akan menghukum saya."

Tuan Besar Pratama, yang sudah dibantu duduk oleh beberapa orang, mengangguk lemah ke arah Davien.

"Anak muda ... kemarilah. Mari bicara di rumahku."

Davien terdiam sejenak. Ia sadar, ia baru saja kembali ke kota ini tanpa identitas dan tanpa koneksi.

Untuk menghancurkan pamannya, Hendra, yang kini menjadi penguasa absolut, ia butuh "pintu masuk" ke kalangan atas Metropolis G.

Keluarga Pratama nampaknya bisa menjadi pintu itu.

"Baiklah," jawab Davien singkat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 233

    Davien menatap pintu batu itu dengan kening berkerut sebelum akhirnya bertanya, "Apakah itu masih bisa disebut makhluk hidup?""Pertanyaan itu tidak penting. Yang perlu kau ketahui adalah bahwa menghancurkannya secara sembarangan dapat membebaskan seluruh energi jiwa yang tersimpan di dalamnya."Davien menyampaikan peringatan itu kepada Clara dan Mo Yuan.Mo Yuan segera mengeluarkan sebuah jimat pelindung jiwa dari Cincin Ruangnya. Clara mempererat genggaman pada pedangnya."Kalau begitu, kita harus menemukan cara untuk mengendalikannya sebelum menghancurkannya," kata Mo Yuan.Davien mengangguk. Dia mulai memeriksa pola di sekitar pintu, mencari mekanisme yang dapat membukanya tanpa mengaktifkan seluruh formasi.Namun, sebelum Davien sempat menemukan jawabannya, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari balik pintu batu. Langkah itu semakin mendekat, disusul suara seorang laki-laki yang terdengar tenang dan jelas dari sisi seberang."Karena kalian sudah sampai sejauh ini, tidak ada

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 232

    Keduanya segera bergerak!Davien menekan telapak tangannya ke tanah. Cahaya keemasan menyebar membentuk lingkaran selebar beberapa meter. Makhluk-makhluk hitam yang memasuki lingkaran itu langsung melambat, seolah-olah tubuh mereka kehilangan tenaga.Davien memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menarik kembali energi spiritualnya."Jangan keluar dari lingkaran ini," perintahnya. "Aku akan mencari sumber kendalinya."Mo Yuan menatapnya dengan terkejut. "Kau ingin memeriksa tanah di tengah serangan seperti ini?""Kalau kau punya cara yang lebih baik, silakan."Mo Yuan tidak menjawab.Davien memejamkan mata dan memusatkan indera spiritualnya ke bawah tanah. Dia tidak mencari aliran energi terbesar, melainkan mencari bagian yang terasa berbeda dari aliran lainnya.Awalnya, yang dia temukan hanyalah jaringan energi yang saling bersilangan. Namun, semakin dalam dia menyelidiki, semakin jelas terlihat bahwa sebagian besar aliran itu berkumpul di sebuah ruang bawah tanah yang cukup luas.Di

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 231

    Dia meletakkan wadah berisi parasit di dekat cakram itu."Jika kita menggunakan energi parasit sebagai acuan, cakram ini seharusnya bisa menemukan jejak serupa di sekitar kita."Setelah berkata seperti itu, Mo Yuan mengalirkan energi spiritual ke dalam cakram.Ketujuh titik putih menyala bergantian. Pada awalnya, cahaya itu berputar tanpa arah yang jelas. Namun, setelah beberapa saat, salah satu garis di permukaan giok berubah menjadi merah dan memanjang ke arah timur laut.Mo Yuan menghela napas lega."Berhasil. Sumber energinya berada di balik punggung gunung ini."Davien memperhatikan cakram tersebut. "Seberapa jauh?""Sulit dipastikan. Jejaknya terlalu kuat. Namun, sepertinya tidak lebih dari dua jam perjalanan.""Dan apakah alat itu bisa membedakan sumber utama dengan parasit yang tersebar di sekitarnya?"Mo Yuan menggeleng. "Tidak sepenuhnya. Cakram ini hanya menunjukkan arah konsentrasi energi yang paling kuat.""Kalau begitu, jangan terlalu mengandalkannya. Kita bisa saja diar

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 230

    Di dalam lingkaran, Davien menarik napas dalam-dalam. Dia tidak mencoba menghancurkan seluruh formasi. Sebaliknya, dia mengalirkan energi melalui ujung jarinya, menelusuri pola di tanah sampai mencapai batu ketiga.Dia menjentikkan sebuah jarum perak.Jarum itu menembus celah batu dan menghantam sesuatu di bawahnya.Krak!Satu garis merah padam.Tekanan yang mengikat tubuh Davien melemah seketika. Dia bergerak maju, menghantam batu tersebut dengan telapak tangan, lalu menyalurkan energi pemurni ke dalamnya.Batu itu pecah.Seluruh formasi bergetar. Garis-garis merah di tanah berkedip sebelum padam satu demi satu.Pria berjubah abu-abu terperanjat. "Mustahil! Kau hanya melihat formasi itu beberapa saat!"Davien melangkah keluar dari lingkaran."Formasimu memiliki terlalu banyak titik aliran yang terbuka. Sulit untuk tidak melihatnya."Dia mengangkat tangan. Tekanan spiritual menyebar, membuat dua praktisi yang sedang menyerang Clara terhempas ke tanah. Clara memanfaatkan kesempatan it

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 229

    Davien sudah bergerak sebelum kalimat itu selesai. Tiga jarum perak melesat dari sela jarinya dan menancap di titik-titik tertentu pada leher serta dada pria tersebut."Clara, tahan bahunya. Jangan biarkan dia menghantam kepalanya ke tanah!"Clara segera berlutut dan menahan tubuh pria itu.Davien menekan dua jari ke pergelangan tangannya, kemudian mengalirkan energi spiritual tipis ke dalam meridian. Dia dapat merasakan sesuatu bergerak di balik aliran energi pria tersebut, seperti akar kecil yang menancap pada kesadarannya."Benihnya sudah berkembang," gumam Davien. "Tetapi belum sepenuhnya menyatu dengan lautan kesadaran.""Bisakah kau menyelamatkannya?" tanya Mo Yuan."Bisa, kalau kalian berhenti mengajukan pertanyaan dan membantuku."Mo Yuan menelan kekesalannya. Dia segera mengeluarkan sebuah tungku kecil dan meletakkannya di tanah."Ini tungku pemurnian portabel. Aku bisa menstabilkan energi spiritual di sekitarnya.""Lakukan."Mo Yuan membentuk segel dengan kedua tangannya. C

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 228

    Fajar baru saja menyingsing ketika Davien, Clara, dan Mo Yuan meninggalkan Kota Qingyuan melalui gerbang utara. Jalan berbatu membentang di antara hutan lebat, mengarah ke gugusan pegunungan yang tertutup kabut hitam. Semakin jauh mereka berjalan, semakin dingin udara di sekitar mereka.Mo Yuan melirik Davien yang berjalan santai dengan kedua tangan di saku jaketnya."Pakaianmu itu benar-benar tidak cocok untuk perjalanan seperti ini," komentarnya. "Di Gunung Kabut Hitam, bahkan jubah pelindung bisa terkoyak oleh kabut beracun. Kau hanya mengenakan pakaian biasa."Davien meliriknya sekilas. "Kalau pakaianmu bisa melindungimu dari semua bahaya, kau tidak perlu membawa senjata."Clara menahan tawa.Wajah Mo Yuan sedikit mengeras. "Aku hanya mengingatkan. Jangan sampai kau merepotkan kami ketika sesuatu terjadi.""Kalau begitu, pastikan dirimu sendiri tidak merepotkan kami," jawab Davien datar.Mo Yuan mendengus, tetapi tidak melanjutkan perdebatan.Setelah beberapa jam perjalanan, mere

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 8

    Sinar matahari sore menembus celah gorden sutra di paviliun kediaman Pratama, menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai kayu. Davien duduk bersila di atas ranjangnya, mencoba memfokuskan aliran Qi melalui teknik Napas Kehidupan Tanpa Batas. Namun, untuk pertama kalinya dalam sepuluh

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 7

    Suasana di koridor menuju ruang rapat utama lantai 50 berubah drastis. Jika di balkon tadi udara terasa segar dan penuh getaran romantis yang halus, maka di depan pintu jati ganda yang menjulang tinggi ini, atmosfer terasa berat oleh bau kertas, kopi mahal, dan ambisi yang busuk.Maya Pratama mengh

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 6

    "Bagus," lirih Maya, lalu begitu menyadari tatapan Davien, ia kembali berkata," Maksudku ... kau terlihat pantas. Hanya saja, aku tidak menyangka kau akan terlihat sangat berbeda."Maya segera membuang muka kembali ke jendela saat Davien menatapnya lebih lama. Ia tidak ingin Davien tahu bahwa dirin

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 5

    “N-Nona Maya ...”Semua orang langsung kaku. Mereka tahu betul siapa wanita itu. Investor utama butik ini.Maya melangkah mendekat, tatapannya dingin menembus satpam yang masih memegang lengan Davien.“Apa yang sedang kalian lakukan pada pengawalku?”Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. P

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status