MasukSuara klakson mobil Maybach itu masih memekik, membelah kesunyian malam di perempatan jalan yang mulai ramai oleh kerumunan orang yang menepi karena penasaran.
Davien masih berdiri di tempat semula. Matanya yang tajam, yang telah terbiasa melihat dalam kegelapan lembah terdalam, kini menyipit. Dengan penglihatan batinnya, ia tidak hanya melihat kepulan asap mesin, tetapi juga aliran energi yang kacau balau di dalam tubuh pria tua yang terjepit di kursi belakang. "Kakek! Tolong, seseorang tolong kami!" teriak wanita itu. Suaranya serak, beradu dengan suara hujan. Nama wanita itu adalah Maya Pratama, cucu tunggal dari penguasa bisnis logistik di kota ini. Wajah yang biasanya angkuh di sampul majalah bisnis, kini dipenuhi air mata dan ketakutan. Beberapa orang mendekat, namun mereka hanya berani mengambil foto atau menelepon ambulans. Tidak ada yang berani menyentuh mobil yang berasap itu karena takut akan ledakan. Namun, Davien justru melangkah maju. Langkah kakinya ringan, bahkan tidak menimbulkan cipratan air yang berarti. Saat Davien sampai di samping Maya, wanita itu mendongak. Ia mengernyitkan dahinya melihat penampilan David yang mirip gelandangan. "Menjauh! Jangan mendekat!" bentak Maya secara insting. Di dunianya yang penuh dengan pengkhianatan korporasi, orang asing dengan penampilan kumuh sering kali berarti bahaya. Maka dari itu, Maya selalu waspada. Tapi, Davien tidak berhenti. Ia justru berkata, "Jika kau membiarkannya di sana tiga menit lagi, jantungnya akan berhenti karena tekanan darah yang membeku di paru-parunya." Suara Davien sangat tenang, namun memiliki wibawa yang membuat Maya tertegun sejenak. Sebelum Maya bisa membalas, Davien sudah memegang pintu mobil yang ringsek. Hanya dengan satu tangan, Davien menarik pintu baja yang terlipat seolah-olah itu hanyalah kertas tipis. Orang-orang di sekitar terperanjat. Maya menutup mulutnya dengan tangan, tak percaya melihat kekuatan fisik yang begitu tidak masuk akal. Davien mengeluarkan pria tua itu dengan gerakan yang sangat lembut, lalu membaringkannya di trotoar yang sedikit terlindung oleh atap ruko. "Minggir! Beri jalan! Tim medis datang!" sebuah teriakan sombong terdengar dari arah kerumunan. Seorang pria paruh baya dengan jas putih rapi dan tas medis bermerek melompat turun dari mobil sedan mewah yang berhenti tepat di belakang kerumunan. Dia adalah Dokter Wijaya, seorang dokter pribadi yang kebetulan melintas, sekaligus seorang praktisi bela diri Alam Bumi Tahap Menengah. "Nona Maya! Syukurlah saya lewat di sini," ujar Dokter Wijaya dengan nada mencari muka. Dokter Wijaya segera berlutut di samping Tuan Besar Pratama, mengabaikan Davien yang berdiri di sampingnya. "Dokter, tolong Kakek saya! Dia sempat sesak napas sebelum kecelakaan terjadi!" isak Maya. Dokter Wijaya memeriksa denyut nadi Tuan Besar Pratama sejenak. Wajahnya berubah serius. "Ini serangan jantung koroner akut akibat benturan. Kita harus segera memberikan stimulasi jantung!" Dokter Wijaya mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening. "Ini adalah serum peningkat energi medis. Ini akan merangsang jantungnya untuk kembali berdetak kuat." "Jangan berikan obat itu," suara dingin Davien memotong gerakan tangan Dokter Wijaya. Dokter Wijaya menoleh dengan tatapan menghina. "Siapa kau? Gelandangan berbau lumpur, tahu apa kau tentang medis? Ini adalah serum tingkat tinggi seharga ratusan juta!" "Jantungnya tidak berhenti karena lemah," ucap Davien, matanya menatap tajam ke dada Tuan Besar Pratama. "Ada sumbatan energi negatif di salah satu titik sarafnya. Jika kau memberikan serum peningkat energi sekarang, jantungnya justru akan meledak karena tekanan yang tidak bisa keluar." Maya Pratama memandang Davien dengan ragu. Di matanya, penampilan Davien benar-benar tidak meyakinkan. Meskipun tadi Davien terlihat begitu kuat saat mengeluarkan kakeknya, tapi tetap saja bukan dokter ahli seperti Dokter Wijaya. "Dokter Wijaya adalah dokter terbaik di distrik ini. Sedangkan kau hanya orang asing!" ujar Maya akhirnya. Dokter Wijaya tertawa sinis. "Kau dengar itu, kan? Pergilah sebelum aku memanggil keamanan untuk mengusirmu!" Tanpa memedulikan peringatan Davien, Dokter Wijaya menyuntikkan serum itu ke lengan Tuan Besar Pratama. Namun setelah beberapa detik berlalu, tiba-tiba, tubuh Tuan Besar Pratama mengejang hebat. Wajahnya yang semula pucat berubah menjadi merah padam hingga keunguan. Matanya melotot, dan dari mulutnya keluar busa berwarna hitam. "Kakek! Apa yang terjadi?! Dokter!" teriak Maya histeris. Dokter Wijaya panik. "Ini ... ini tidak mungkin! Seharusnya reaksinya tidak seperti ini! Detak jantungnya melesat terlalu cepat!" "Sudah aku bilang," desis Davien, lalu maju dan mendorong Dokter Wijaya hingga pria itu terjungkal ke belakang. "Apa yang kau lakukan?!" bentak Dokter Wijaya murka, mencoba menyerang Davien dengan energi Alam Bumi-nya. Namun, Davien bahkan tidak menoleh. Satu hentakan kecil dari aura Davien membuat Dokter Wijaya merasa seolah-olah baru saja menabrak gunung baja, dia langsung terkapar tak berdaya dengan napas sesak. Maya mencoba menghalangi Davien. "Jangan sentuh Kakekku!" "Jika kau ingin dia hidup, diam dan lihatlah," perintah Davien dengan nada yang tidak bisa dibantah. Davien merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sebuah kantong kain kecil berisi tiga jarum perak yang sangat tipis. Di tengah hujan yang menderu, jarum-jarum itu tampak memancarkan cahaya putih yang suci. Dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata manusia, Davien menusukkan jarum pertama ke puncak kepala, jarum kedua ke tengah dada, dan jarum ketiga ke ulu hati Tuan Besar Pratama. Seketika, asap hitam yang berbau busuk keluar dari pori-pori kulit Tuan Besar Pratama. Warna ungu di wajahnya memudar dalam hitungan detik. Napas yang semula terputus-putus kini menjadi teratur dan dalam. Tuan Besar Pratama terbatuk, memuntahkan sisa darah hitam, lalu perlahan membuka matanya. "Uhuk! Aku ... di mana aku?" tanya pria tua itu dengan suara lemah namun jernih. Maya terpaku. Ia jatuh berlutut di samping kakeknya dan menangis sejadi-jadinya. "Kakek ... syukurlah Kakek selamat ..." Orang-orang di kerumunan itu terdiam karena apa yang baru saja dilakukan oleh Davien. Dokter Wijaya, yang masih terduduk di aspal, menatap Davien dengan ketakutan luar biasa. "Teknik Jarum Surgawi ... itu tidak mungkin ... Bagaimana bisa seorang gelandangan menguasai teknik kuno yang sudah punah?" Davien mencabut jarumnya dengan tenang dan menyimpannya kembali. Ia tidak menunggu ucapan terima kasih, melainkan berbalik untuk pergi menembus hujan. "Tunggu!" teriak Maya. Ia berdiri dan mengejar Davien, memegang lengan pemuda itu. Tangannya yang halus terasa kontras dengan kain jaket Davien yang kasar. "Siapa Anda? Tolong ... beri kami kesempatan untuk membalas budi. Keluarga Pratama tidak pernah berhutang nyawa tanpa membalasnya." Davien berhenti dan menoleh sedikit. "Tidak perlu, aku hanya sedikit membantu." "Aku mohon," Maya menatap mata Davien dengan tulus. "Setidaknya, biarkan kami memberikan tempat berteduh dan pakaian yang layak. Kakek saya adalah orang yang sangat menghargai pahlawan. Jika saya membiarkan Anda pergi begitu saja, dia akan menghukum saya." Tuan Besar Pratama, yang sudah dibantu duduk oleh beberapa orang, mengangguk lemah ke arah Davien. "Anak muda ... kemarilah. Mari bicara di rumahku." Davien terdiam sejenak. Ia sadar, ia baru saja kembali ke kota ini tanpa identitas dan tanpa koneksi. Untuk menghancurkan pamannya, Hendra, yang kini menjadi penguasa absolut, ia butuh "pintu masuk" ke kalangan atas Metropolis G. Keluarga Pratama nampaknya bisa menjadi pintu itu. "Baiklah," jawab Davien singkat.“N-Nona Maya ...”Semua orang langsung kaku. Mereka tahu betul siapa wanita itu. Investor utama butik ini.Maya melangkah mendekat, tatapannya dingin menembus satpam yang masih memegang lengan Davien.“Apa yang sedang kalian lakukan pada pengawalku?”Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. Penjaga itu buru-buru melepas tangannya. “Nona Maya, kami kira—”“Kira apa?” potong Maya tajam. “Bahwa pengawalku tidak pantas berdiri di sini?”Suasana mendadak tegang dan sunyi. Pegawai yang tadi paling lantang menghina kini menunduk.“Kami hanya menjalankan standar pelayanan, Nona,” gumam salah satu dari mereka.“Standar?” Maya tersenyum tipis. “Kalau standar kalian adalah menilai dari pakaian dan mengusir tanpa sopan santun, itu bukan standar. Itu kesombongan.”Wajah-wajah memucat. “Maaf, Nona ... ini salah paham.”Maya tak peduli. Ia menoleh pada Davien. “Masuklah. Pilih yang terbaik.”Dalam hitungan detik, sikap mereka berubah total.“Silakan, Tuan.”“Ruang VIP sudah siap.”Beberapa men
Anggota anak buah Suro yang tersisa, dengan tangan gemetar, segera menyeretnya keluar dari halaman depan kediaman Tuan Besar Pratama. Davien berdiri di tengah kekacauan itu sambil menepuk-nepuk debu yang menempel di pundak kemejanya dengan gerakan santai."Maafkan aku, Tuan Besar Pratama," kata Davien memecah kesunyian yang mencekam. "Aku tidak bermaksud menghancurkan acara makan malam Anda."Handoko Pratama, yang sedari tadi terpaku melihat pemandangan di depannya menghela napas panjang."Apa maksudmu menghancurkan acara makan malam?" Handoko tertawa lirih, suara tawanya pecah oleh kelegaan yang luar biasa. “Kau telah menyelamatkan nyawa kami sebanyak dua kali. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan ini."Belum sempat Davien merespon, Handoko kembali bersuara dengan lebih tegas."Security! Seret anjing-anjing ini keluar!" suara Tuan Handoko Pratama menggelegar, memecah keheningan yang mencekam. "Pastikan mereka tidak meninggalkan jejak di kediamanku!"Beberapa pengawal internal
Istana keluarga Pratama berdiri megah di kawasan elit Metropolis G, dikelilingi taman yang luas dan sistem keamanan tingkat tinggi. Namun bagi Davien, kemegahan ini terasa sunyi. Ia duduk di ruang makan formal, hanya mengenakan kemeja hitam sederhana dan celana kain yang baru dibelikan Maya.Handoko Pratama, sang Tuan Besar, duduk di kepala meja. Wajahnya yang semula pucat pasi kini mulai menampakkan semburat merah kehidupan setelah teknik jarum Davien membersihkan jalur nadinya."Jadi, namamu Davien?" tanya Handoko, suaranya parau namun penuh hormat."Benar, Tuan," jawab Davien seraya mengangguk. Dia sengaja memutus marga 'Adiputra' agar tidak memancing kegaduhan terlalu dini.Tuan Handoko menarik napas panjang. Lalu bicara, "Kau memiliki kemampuan medis yang ajaib, Davien. Dokter Wijaya yang sombong itu pun hanya bisa membawa malapetaka. Aku berutang nyawa padamu. Katakan, apa yang kau inginkan? Uang? Saham di Pratama Group? Atau apa?" Davien meletakkan garpunya. Suara dentingan l
Suara klakson mobil Maybach itu masih memekik, membelah kesunyian malam di perempatan jalan yang mulai ramai oleh kerumunan orang yang menepi karena penasaran.Davien masih berdiri di tempat semula. Matanya yang tajam, yang telah terbiasa melihat dalam kegelapan lembah terdalam, kini menyipit. Dengan penglihatan batinnya, ia tidak hanya melihat kepulan asap mesin, tetapi juga aliran energi yang kacau balau di dalam tubuh pria tua yang terjepit di kursi belakang."Kakek! Tolong, seseorang tolong kami!" teriak wanita itu. Suaranya serak, beradu dengan suara hujan. Nama wanita itu adalah Maya Pratama, cucu tunggal dari penguasa bisnis logistik di kota ini. Wajah yang biasanya angkuh di sampul majalah bisnis, kini dipenuhi air mata dan ketakutan.Beberapa orang mendekat, namun mereka hanya berani mengambil foto atau menelepon ambulans. Tidak ada yang berani menyentuh mobil yang berasap itu karena takut akan ledakan.Namun, Davien justru melangkah maju. Langkah kakinya ringan, bahkan tid
CRASH!!BOOM!!“Ayah!” teriak Davien ketika melihat ayahnya, David Adiputra, terpental jauh hingga menabrak dinding halaman rumah hingga jatuh berlumuran darah.Sementara itu, Karina, ibu Davien yang sama sekali tak memiliki kekuatan, telah mati setelah dihempaskan hingga menabrak deretan meja pesta.Malam ini, seharusnya menjadi malam perayaan ulang tahun Davien Adiputra yang ke 15 yang indah. Namun, semua itu hanya berlangsung beberapa menit di awal acara.Ketika Hendra Adiputra, paman Davien, tiba-tiba datang dengan banyak pengawal dan satu bom dari bawah tanah, semua berubah menjadi suram.Langit cerah di atas Istana Adiputra yang ada di puncak bukit tertinggi Metropolis G cerah mendadak tertutup awan hitam pekat yang memancarkan aura kematian.Di depan gerbang utama, puluhan pengawal keluarga telah tewas bersimbah darah. Sementara itu, Hendra berdiri dengan tenang di tengah mayat-mayat itu. Kulitnya kini dipenuhi urat-urat hitam yang menonjol, dan matanya memancarkan cahaya merah







