Share

Bab 3

last update Last Updated: 2026-03-05 12:38:43

Istana keluarga Pratama berdiri megah di kawasan elit Metropolis G, dikelilingi taman yang luas dan sistem keamanan tingkat tinggi.

Namun bagi Davien, kemegahan ini terasa sunyi. Ia duduk di ruang makan formal, hanya mengenakan kemeja hitam sederhana dan celana kain yang baru dibelikan Maya.

Handoko Pratama, sang Tuan Besar, duduk di kepala meja. Wajahnya yang semula pucat pasi kini mulai menampakkan semburat merah kehidupan setelah teknik jarum Davien membersihkan jalur nadinya.

"Jadi, namamu Davien?" tanya Handoko, suaranya parau namun penuh hormat.

"Benar, Tuan," jawab Davien seraya mengangguk. Dia sengaja memutus marga 'Adiputra' agar tidak memancing kegaduhan terlalu dini.

Tuan Handoko menarik napas panjang. Lalu bicara, "Kau memiliki kemampuan medis yang ajaib, Davien. Dokter Wijaya yang sombong itu pun hanya bisa membawa malapetaka. Aku berutang nyawa padamu. Katakan, apa yang kau inginkan? Uang? Saham di Pratama Group? Atau apa?"

Davien meletakkan garpunya. Suara dentingan logam dengan piring marmer terdengar nyaring di ruangan yang sunyi itu. Ia terdiam sejenak, memikirkan sesuatu.

"Sebenarnya, kalau boleh saya minta, beri saya pekerjaan saja, Tuan," jawabnya dengan santai.

Saat ini, jelas Davien kembali dengan tangan kosong. Tak ada rumah maupun pekerjaan. Untuk mencari keberadaan pamannya tanpa memiliki materi untuk bertahan hidup di kota ini juga bukan hal mudah.

Tuan Handoko atau Tuan Besar Pratama sedikit terkejut dengan jawaban Davien. Dia tidak menyangka bahwa pemuda yang telah menyelamatkan nyawanya akan memberikan jawaban seperti itu.

"Pekerjaan? Pekerjaan apa yang kau inginkan?" tanyanya sambil menatap Davien lekat-lekat.

"Apa saja. Yang penting cocok untukku," jawab Davien sederhana.

Pria paruh baya itu tampak berpikir sebentar, seolah sedang menimbang pekerjaan apa yang sekiranya cocok untuk davien.

"Bagaimana kalau menjadi pengawal pribadi cucuku, Maya? Aku lihat, tubuhmu terlihat bugar. Kau juga punya kemampuan medis, jadi bisa tetap siaga untuknya," ujar Tuan Besar Pratama, "Kebetulan, saat ini dia tidak memiliki pengawal pribadi."

"Kakek ..." Maya tiba-tiba bersuara sambil melirik ke arah kakeknya. Tapi Tuan Besar Pratama tidak menjawab, dia hanya melirik sekilas, lalu tatapannya kembali ke arah Davien.

Belum lagi Davien memberikan jawaban, tiba-tiba sebuah dentuman terdengar dari arah luar.

BOMM!!!

Ledakan dahsyat mengguncang seakan bumi. Kaca-kaca jendela ruang makan bergetar hebat. Alarm keamanan melengking, membelah kesunyian malam.

"Apa yang terjadi?!" Maya berdiri dengan panik, wajahnya kembali pucat.

Seorang kepala pengawal masuk dengan tubuh bersimbah darah. "Tuan Besar! Gerbang depan hancur! Sekelompok orang asing tiba-tiba menyerang!"

Tuan Handoko memukul meja karena kemarahan yang luar biasa setelah mendengar laporan tersebut. "Siapa yang berani membuat kekacauan di tempatku?"

Bersamaan dengan itu, dari arah koridor utama, terdengar suara langkah sepatu yang berat dan berirama.

Tak lama kemudian, pintu jati raksasa ruang makan itu hancur berantakan ditendang dari luar.

Debu semen dan serpihan kayu berterbangan, menciptakan tirai buram yang mencekam.

Setelah itu, muncul sekelompok pria berseragam hitam dengan lambang elang emas di pundak mereka.

Di tengah-tengahnya, berdiri seorang pria tinggi tegap dengan rambut cepak dan bekas luka melintang di pipinya.

Namanya adalah Suro, seorang praktisi Alam Bumi Tahap Akhir yang terkenal kejam.

"Tuan Besar Handoko." Suro menyeringai, menampakkan deretan giginya yang kuning. "Seharusnya malam ini kami mendengar kabar duka dari kediaman ini, tapi seorang mata-mata melaporkan bahwa kau masih bisa menikmati makan malam."

"Mungkin karena langit masih memberikan kepercayaan untuk hidup kepadaku," jawabnya tenang, meskipun hatinya berdebar keras melihat orang-orang berseragam hitam di hadapannya.

"Siapa kalian sebenarnya? Apa yang kalian inginkan dari kami?" tanya Maya mulai ketakutan.

"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas, tua bangka ini harus mati sekarang juga!" jawab Suro dengan nada mengintimidasi.

Tanpa membuang waktu lagi, Suro langsung melepaskan auranya. Tekanan energi Alam Bumi Tahap Akhir meledak keluar, membuat piring-piring di atas meja bergetar hebat dan pecah.

"Habisi tua bangka itu!" perintah Suro.

Dua anak buah Suro melesat maju. Mereka menggunakan teknik Cakar Elang, jari-jarinya dilapisi energi emas yang sanggup merobek baja.

Udara di sekitar ruangan mendesis karena gesekan energi.

Melihat itu, Davien tiba-tiba bergerak. Tapi gerakannya begitu halus, hampir tidak terlihat oleh mata manusia.

PLAKK! PLAKK!

Hanya dengan dua gerakan tangan kiri yang santai, Davien menangkis serangan mereka dan memutar pergelangan tangan kedua penyerang itu.

KRAKK!

"ARGH!"

Dua pengawal itu menjerit histeris saat tulang lengan mereka melintir keluar dari persendian.

Davien kemudian mengibaskan tangannya, membuat keduanya terpental menabrak pilar beton. Mereka pingsan seketika dengan jalur energi yang hancur.

Suro tertegun. Tawanya hilang seketika. "Benar-benar tidak berguna! Gunakan senjata kalian, bunuh bocah keparat itu!"

Anak buah Suro langsung mencabut belati energi yang berpendar biru. Mereka mengepung Davien dari segala arah dan menciptakan formasi pengunci.

"Mati kau!" lima orang menyerang bersamaan.

Davien menatap semua penyerang, lalu menghentakkan kaki kanannya ke lantai marmer.

BOMM!

Gelombang kejut transparan menyapu keluar. Lima penyerang langsung terlempar ke belakang seolah dihantam truk kontainer. Belati energi mereka pecah berkeping-keping.

Ruang makan mewah itu kini berantakan. Debu dan asap memenuhi udara. Di tengah kekacauan tersebut, Davien berdiri tegak.

Auranya yang semula tersembunyi kini mulai bocor sedikit demi sedikit, membuat suhu ruangan turun drastis.

Suro mulai berkeringat dingin. Insting pembunuhnya berteriak bahwa pemuda di depannya ini adalah kematian itu sendiri.

"Siapa ... siapa kau sebenarnya? Tidak mungkin ada praktisi sehebat ini yang tidak dikenal di Metropolis G!"

"Kau tidak perlu tahu namaku," ucap Davien, suaranya terdengar seperti bisikan iblis dari kedalaman jurang.

"Keparat!"

Suro meraung, mencoba mengusir rasa takutnya. Ia memusatkan seluruh energinya ke tinju kanan hingga lengannya membengkak dan memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan.

Ini adalah teknik terkuatnya: Pukulan Pemecah Gunung.

"Mampus kau, bocah sombong!"

Suro melesat, tinjunya membelah udara dengan suara ledakan yang memekakkan telinga.

Maya memejamkan matanya karena tidak sanggup melihat Davien hancur.

BUGHH!

Suara benturan itu begitu keras hingga memekakkan telinga. Namun, tidak ada jeritan dari Davien.

Maya membuka mata dan terpaku pada pemandangan yang mustahil.

Rupanya Davien masih berdiri di tempatnya dan berhasil menahan tinju penuh tenaga Suro hanya dengan satu telapak tangan terbuka. Bahkan rambutnya tidak bergerak tertiup angin serangan tersebut.

"T-tidak mungkin ... bagaimana kau bisa menahan seranganku? Seharusnya kau sudah hancur!" gagap Suro.

"Tapi buktinya aku tetap berdiri."

Davien lalu meremas tinju Suro yang masih berada dalam genggamannya.

KRAKK!

"ARGH!" Suro menjerit setinggi langit.

Tulang-tulang tangannya hancur menjadi serpihan kecil di dalam dagingnya. Rasa sakit yang tak tertahankan menjalar ke seluruh sarafnya.

Davien kemudian menghantamkan lututnya ke perut Suro.

BUKK!

Tubuh tegap Suro terbang melewati lubang pintu yang hancur, meluncur sejauh dua puluh meter di halaman depan, dan mendarat dengan posisi tertelungkup di tengah air mancur yang pecah.

Dia memuntahkan darah hitam dan langsung kehilangan kesadaran.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 5

    “N-Nona Maya ...”Semua orang langsung kaku. Mereka tahu betul siapa wanita itu. Investor utama butik ini.Maya melangkah mendekat, tatapannya dingin menembus satpam yang masih memegang lengan Davien.“Apa yang sedang kalian lakukan pada pengawalku?”Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. Penjaga itu buru-buru melepas tangannya. “Nona Maya, kami kira—”“Kira apa?” potong Maya tajam. “Bahwa pengawalku tidak pantas berdiri di sini?”Suasana mendadak tegang dan sunyi. Pegawai yang tadi paling lantang menghina kini menunduk.“Kami hanya menjalankan standar pelayanan, Nona,” gumam salah satu dari mereka.“Standar?” Maya tersenyum tipis. “Kalau standar kalian adalah menilai dari pakaian dan mengusir tanpa sopan santun, itu bukan standar. Itu kesombongan.”Wajah-wajah memucat. “Maaf, Nona ... ini salah paham.”Maya tak peduli. Ia menoleh pada Davien. “Masuklah. Pilih yang terbaik.”Dalam hitungan detik, sikap mereka berubah total.“Silakan, Tuan.”“Ruang VIP sudah siap.”Beberapa men

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 4

    Anggota anak buah Suro yang tersisa, dengan tangan gemetar, segera menyeretnya keluar dari halaman depan kediaman Tuan Besar Pratama. Davien berdiri di tengah kekacauan itu sambil menepuk-nepuk debu yang menempel di pundak kemejanya dengan gerakan santai."Maafkan aku, Tuan Besar Pratama," kata Davien memecah kesunyian yang mencekam. "Aku tidak bermaksud menghancurkan acara makan malam Anda."Handoko Pratama, yang sedari tadi terpaku melihat pemandangan di depannya menghela napas panjang."Apa maksudmu menghancurkan acara makan malam?" Handoko tertawa lirih, suara tawanya pecah oleh kelegaan yang luar biasa. “Kau telah menyelamatkan nyawa kami sebanyak dua kali. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan ini."Belum sempat Davien merespon, Handoko kembali bersuara dengan lebih tegas."Security! Seret anjing-anjing ini keluar!" suara Tuan Handoko Pratama menggelegar, memecah keheningan yang mencekam. "Pastikan mereka tidak meninggalkan jejak di kediamanku!"Beberapa pengawal internal

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 3

    Istana keluarga Pratama berdiri megah di kawasan elit Metropolis G, dikelilingi taman yang luas dan sistem keamanan tingkat tinggi. Namun bagi Davien, kemegahan ini terasa sunyi. Ia duduk di ruang makan formal, hanya mengenakan kemeja hitam sederhana dan celana kain yang baru dibelikan Maya.Handoko Pratama, sang Tuan Besar, duduk di kepala meja. Wajahnya yang semula pucat pasi kini mulai menampakkan semburat merah kehidupan setelah teknik jarum Davien membersihkan jalur nadinya."Jadi, namamu Davien?" tanya Handoko, suaranya parau namun penuh hormat."Benar, Tuan," jawab Davien seraya mengangguk. Dia sengaja memutus marga 'Adiputra' agar tidak memancing kegaduhan terlalu dini.Tuan Handoko menarik napas panjang. Lalu bicara, "Kau memiliki kemampuan medis yang ajaib, Davien. Dokter Wijaya yang sombong itu pun hanya bisa membawa malapetaka. Aku berutang nyawa padamu. Katakan, apa yang kau inginkan? Uang? Saham di Pratama Group? Atau apa?" Davien meletakkan garpunya. Suara dentingan l

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 2

    Suara klakson mobil Maybach itu masih memekik, membelah kesunyian malam di perempatan jalan yang mulai ramai oleh kerumunan orang yang menepi karena penasaran.Davien masih berdiri di tempat semula. Matanya yang tajam, yang telah terbiasa melihat dalam kegelapan lembah terdalam, kini menyipit. Dengan penglihatan batinnya, ia tidak hanya melihat kepulan asap mesin, tetapi juga aliran energi yang kacau balau di dalam tubuh pria tua yang terjepit di kursi belakang."Kakek! Tolong, seseorang tolong kami!" teriak wanita itu. Suaranya serak, beradu dengan suara hujan. Nama wanita itu adalah Maya Pratama, cucu tunggal dari penguasa bisnis logistik di kota ini. Wajah yang biasanya angkuh di sampul majalah bisnis, kini dipenuhi air mata dan ketakutan.Beberapa orang mendekat, namun mereka hanya berani mengambil foto atau menelepon ambulans. Tidak ada yang berani menyentuh mobil yang berasap itu karena takut akan ledakan.Namun, Davien justru melangkah maju. Langkah kakinya ringan, bahkan tid

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 1

    CRASH!!BOOM!!“Ayah!” teriak Davien ketika melihat ayahnya, David Adiputra, terpental jauh hingga menabrak dinding halaman rumah hingga jatuh berlumuran darah.Sementara itu, Karina, ibu Davien yang sama sekali tak memiliki kekuatan, telah mati setelah dihempaskan hingga menabrak deretan meja pesta.Malam ini, seharusnya menjadi malam perayaan ulang tahun Davien Adiputra yang ke 15 yang indah. Namun, semua itu hanya berlangsung beberapa menit di awal acara.Ketika Hendra Adiputra, paman Davien, tiba-tiba datang dengan banyak pengawal dan satu bom dari bawah tanah, semua berubah menjadi suram.Langit cerah di atas Istana Adiputra yang ada di puncak bukit tertinggi Metropolis G cerah mendadak tertutup awan hitam pekat yang memancarkan aura kematian.Di depan gerbang utama, puluhan pengawal keluarga telah tewas bersimbah darah. Sementara itu, Hendra berdiri dengan tenang di tengah mayat-mayat itu. Kulitnya kini dipenuhi urat-urat hitam yang menonjol, dan matanya memancarkan cahaya merah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status