Share

Bab 4

Penulis: Junn_Badranaya
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-05 12:38:54

Anggota anak buah Suro yang tersisa, dengan tangan gemetar, segera menyeretnya keluar dari halaman depan kediaman Tuan Besar Pratama.

Davien berdiri di tengah kekacauan itu sambil menepuk-nepuk debu yang menempel di pundak kemejanya dengan gerakan santai.

"Maafkan aku, Tuan Besar Pratama," kata Davien memecah kesunyian yang mencekam. "Aku tidak bermaksud menghancurkan acara makan malam Anda."

Handoko Pratama, yang sedari tadi terpaku melihat pemandangan di depannya menghela napas panjang.

"Apa maksudmu menghancurkan acara makan malam?" Handoko tertawa lirih, suara tawanya pecah oleh kelegaan yang luar biasa. “Kau telah menyelamatkan nyawa kami sebanyak dua kali. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan ini."

Belum sempat Davien merespon, Handoko kembali bersuara dengan lebih tegas.

"Security! Seret anjing-anjing ini keluar!" suara Tuan Handoko Pratama menggelegar, memecah keheningan yang mencekam. "Pastikan mereka tidak meninggalkan jejak di kediamanku!"

Beberapa pengawal internal keluarga Pratama yang sebelumnya terdesak, kini berlarian maju dengan keberanian baru.

Mereka menyeret tubuh Suro dan anak buahnya yang pingsan dengan kasar. Gerbang depan yang hancur segera ditutup sementara dengan barikade besi.

Tuan Handoko menoleh ke arah Davien, matanya berbinar penuh rasa syukur.

"Davien, tempat ini sudah kotor. Mari, kita pindah ke ruang makan paviliun timur. Pelayan akan menyiapkan meja baru di sana."

Davien tak bisa banyak bicara atau bahkan menolak. Mereka akhirnya melangkah menyusuri koridor yang diterangi lampu kristal hangat. Di ruang makan yang lebih kecil namun lebih intim, hidangan hangat kembali tersaji.

Suasana yang tadinya penuh ketegangan kini berganti dengan aroma sup ginseng yang menenangkan.

"Aku benar-benar berterima kasih padamu. Lagi-lagi kau menyelamatkan nyawa keluarga ini." Handoko memulai pembicaraan setelah menyesap tehnya. "Aku jadi semakin ingin kau menjadi pengawal cucuku. Bagaimana menurutmu?"

Davien meletakkan sumpitnya dan menatap lurus ke arah pria tua itu.

"Aku setuju, Tuan." jawab Davien tanpa ragu.

Jelas, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi setelah melihat bagaimana keadaan keluarga ini. Mungkin, ini bisa menjadi batu loncatan Davien untuk menemukan Hendra.

Tuan Handoko tertawa lega, lalu menepuk meja dengan pelan. Ia menoleh ke arah cucunya. "Maya, kau dengar itu? Mulai besok, Davien adalah pengawal pribadimu."

Maya yang sedang menyendok supnya tiba-tiba terhenti. Wajahnya yang semula pucat karena ketakutan, kini perlahan berubah warna.

Wajahnya memerah, merambat dari leher hingga ke pipi dan membuatnya tampak seperti kepiting rebus. Ia menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan rona wajahnya.

"I-iya, Kek," jawabnya pendek, suaranya hampir menyerupai bisikan.

Setelah makan malam usai, seorang pelayan pria bernama Pak Jono mengantar Davien menuju paviliun tamu.

"Ini kamar Anda, Tuan Davien. Jika butuh sesuatu, tekan saja bel di samping tempat tidur."

"Terima kasih," jawab Davien pendek.

Begitu pintu tertutup, ia langsung duduk bersila di atas tempat tidur, memejamkan mata untuk bermeditasi dan membiarkan aliran energi di tubuhnya kembali selaras.

Meskipun sudah sampai di ranah yang cukup tinggi, tapi itu belum cukup bagi Davien. Untuk bisa menemukan Hendra, mungkin jalannya akan cukup panjang, jadi Davien harus tetap bersiaga dan berlatih agar lebih kuat lagi.

___

Pagi sekali, saat embun masih membasahi dedaunan, Davien sudah terbangun. Tanpa instruksi, ia sudah berada di depan mobil Mercedes-Benz hitam yang disiapkan di pelataran.

Di bahunya tersampir kain lap yang digunakan untuk membersihkan sisa-sisa embun di kap mobil.

Maya keluar dari pintu utama, sudah rapi dengan setelan kantor berwarna biru tua yang elegan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Davien.

"Kau sudah bangun?" tanya Maya terkejut.

"Fajar adalah waktu terbaik untuk memulai tugas, Nona" jawab Davien.

Maya mengerutkan kening, matanya menyapu penampilan Davien. Pemuda itu masih mengenakan kemeja hitam dan celana kain yang sama dengan semalam.

Meskipun bersih, pakaian itu terlihat terlalu sederhana, bahkan sedikit lusuh untuk standar seorang pengawal keluarga Pratama.

"Davien, kenapa kau tidak ganti baju?"

"Karena pakaianku hanya ini, Nona." jawab Davien sambil melirik bahunya sendiri.

Maya menghela napas panjang, sedikit merasa gemas dengan kepolosan atau mungkin kekeraskepalaan pemuda ini. "Kau tidak bisa pergi ke kantor denganku menggunakan baju itu. Orang-orang akan mengira aku mempekerjakan gelandangan."

"Mana ada gelandangan yang tampan sepertiku," gumam Davien pelan, hampir tak terdengar.

Sejak dulu, rasa percaya diri Davien memang tidak bisa diragukan.

Maya mendengarnya dan hampir saja tertawa.

"Sudahlah, masuk ke mobil. Kita ke pusat perbelanjaan dulu. Aku akan membelikanmu pakaian yang layak." Maya melemparkan kunci mobil ke arah Davien. "Sekarang, kau yang menyetir. Aku ingin istirahat sebentar di kursi penumpang."

Davien menangkap kunci itu dengan refleks kilat, namun ia tetap berdiri mematung di samping pintu kemudi. Ia menatap kunci itu, lalu menatap Maya, sambil tangan kirinya menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Ada apa lagi?" tanya Maya heran.

"Aku ... tidak bisa menyetir," kata Davien mengakui dengan nada sedikit malu.

Maya tertegun sejenak, lalu tawa renyahnya pecah dan menggema di pelataran pagi itu.

"Ya ampun, kau benar-benar aneh," Maya menyeka air mata di sudut matanya karena tertawa. "Ya sudah, masuk ke samping. Aku yang menyetir kali ini, tapi di perjalanan, kau harus mulai belajar."

Mobil berhenti di depan butik eksklusif langganan Maya. Bangunannya didominasi kaca tinggi dengan pencahayaan hangat yang memantulkan kemewahan tanpa perlu banyak bicara.

“Kau tunggu di dalam saja,” ujar Maya sambil mengeluarkan ponsel. “Aku harus bicara dengan klienku dulu.”

Davien mengangguk lalu turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam butik ekslusif tersebut.

Penampilannya saat itu memang jauh dari kata selaras dengan suasana butik. Bahkan, lebih cocok disebut sebagai gelandangan ketimbang pembeli.

Begitu ia melangkah masuk, beberapa karyawan yang sedang merapikan pajangan langsung meliriknya.

Bisik-bisik pelan terdengar.

“Siapa orang ini? Penampilannya seperti itu kenapa berani masuk butik ini?”

“Apa dia kira ini toko diskonan?”

“Di mana penjaga depan? Kenapa bisa membiarkan gelandangan masuk?!”

Davien jelas mendengar itu semua, tapi ia tetap diam. Ia berdiri di dekat pintu, menunggu Maya yang masih menelepon di luar.

Hingga akhirnya, seorang satpam bertubuh besar mendekat dengan wajah tidak sabar.

“Hei,” katanya dengan nada formal yang terlalu dibuat-buat, “Ini butik premium. Harga satu jas di sini bisa buat bayar sewa apartemen 6 bulan.”

Davien menatapnya tenang. “Saya tidak bertanya soal itu.”

Satpam itu mendecak pelan. “Maksud saya, kalau cuma mau lihat-lihat atau numpang AC, silakan cari tempat lain. Di depan ada minimarket.”

Beberapa karyawan tertawa kecil.

“Hey, jujur saja,” tambah salah satu pegawai pria sambil menyilangkan tangan, “Penampilan Mas itu ... kurang cocok di sini. Jangan sampai bikin tamu lain tidak nyaman.”

Kalimat yang halus, tapi maksudnya jelas.

Davien masih tenang. “Saya sedang menunggu seseorang untuk beli baju di sini.”

“Kau ingin beli baju di sini? Gelandangan sepertimu apa mampu?”

Ucapan itu diikuti dengan gelak tawa beberapa karyawan dan pengunjung di sana.

“Saya bukan gelandangan,” ucap Davien datar. Ia tidak membalas dengan marah.

“Ah sudahlah, pergi dari sini!” usir salah satu penjanga, ia sudah bersiap untuk menyeret Davien keluar.

Namun, tiba-tiba suara Maya terdengar dingin dari pintu masuk. “Lepaskan tanganmu darinya!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 5

    “N-Nona Maya ...”Semua orang langsung kaku. Mereka tahu betul siapa wanita itu. Investor utama butik ini.Maya melangkah mendekat, tatapannya dingin menembus satpam yang masih memegang lengan Davien.“Apa yang sedang kalian lakukan pada pengawalku?”Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan. Penjaga itu buru-buru melepas tangannya. “Nona Maya, kami kira—”“Kira apa?” potong Maya tajam. “Bahwa pengawalku tidak pantas berdiri di sini?”Suasana mendadak tegang dan sunyi. Pegawai yang tadi paling lantang menghina kini menunduk.“Kami hanya menjalankan standar pelayanan, Nona,” gumam salah satu dari mereka.“Standar?” Maya tersenyum tipis. “Kalau standar kalian adalah menilai dari pakaian dan mengusir tanpa sopan santun, itu bukan standar. Itu kesombongan.”Wajah-wajah memucat. “Maaf, Nona ... ini salah paham.”Maya tak peduli. Ia menoleh pada Davien. “Masuklah. Pilih yang terbaik.”Dalam hitungan detik, sikap mereka berubah total.“Silakan, Tuan.”“Ruang VIP sudah siap.”Beberapa men

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 4

    Anggota anak buah Suro yang tersisa, dengan tangan gemetar, segera menyeretnya keluar dari halaman depan kediaman Tuan Besar Pratama. Davien berdiri di tengah kekacauan itu sambil menepuk-nepuk debu yang menempel di pundak kemejanya dengan gerakan santai."Maafkan aku, Tuan Besar Pratama," kata Davien memecah kesunyian yang mencekam. "Aku tidak bermaksud menghancurkan acara makan malam Anda."Handoko Pratama, yang sedari tadi terpaku melihat pemandangan di depannya menghela napas panjang."Apa maksudmu menghancurkan acara makan malam?" Handoko tertawa lirih, suara tawanya pecah oleh kelegaan yang luar biasa. “Kau telah menyelamatkan nyawa kami sebanyak dua kali. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan ini."Belum sempat Davien merespon, Handoko kembali bersuara dengan lebih tegas."Security! Seret anjing-anjing ini keluar!" suara Tuan Handoko Pratama menggelegar, memecah keheningan yang mencekam. "Pastikan mereka tidak meninggalkan jejak di kediamanku!"Beberapa pengawal internal

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 3

    Istana keluarga Pratama berdiri megah di kawasan elit Metropolis G, dikelilingi taman yang luas dan sistem keamanan tingkat tinggi. Namun bagi Davien, kemegahan ini terasa sunyi. Ia duduk di ruang makan formal, hanya mengenakan kemeja hitam sederhana dan celana kain yang baru dibelikan Maya.Handoko Pratama, sang Tuan Besar, duduk di kepala meja. Wajahnya yang semula pucat pasi kini mulai menampakkan semburat merah kehidupan setelah teknik jarum Davien membersihkan jalur nadinya."Jadi, namamu Davien?" tanya Handoko, suaranya parau namun penuh hormat."Benar, Tuan," jawab Davien seraya mengangguk. Dia sengaja memutus marga 'Adiputra' agar tidak memancing kegaduhan terlalu dini.Tuan Handoko menarik napas panjang. Lalu bicara, "Kau memiliki kemampuan medis yang ajaib, Davien. Dokter Wijaya yang sombong itu pun hanya bisa membawa malapetaka. Aku berutang nyawa padamu. Katakan, apa yang kau inginkan? Uang? Saham di Pratama Group? Atau apa?" Davien meletakkan garpunya. Suara dentingan l

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 2

    Suara klakson mobil Maybach itu masih memekik, membelah kesunyian malam di perempatan jalan yang mulai ramai oleh kerumunan orang yang menepi karena penasaran.Davien masih berdiri di tempat semula. Matanya yang tajam, yang telah terbiasa melihat dalam kegelapan lembah terdalam, kini menyipit. Dengan penglihatan batinnya, ia tidak hanya melihat kepulan asap mesin, tetapi juga aliran energi yang kacau balau di dalam tubuh pria tua yang terjepit di kursi belakang."Kakek! Tolong, seseorang tolong kami!" teriak wanita itu. Suaranya serak, beradu dengan suara hujan. Nama wanita itu adalah Maya Pratama, cucu tunggal dari penguasa bisnis logistik di kota ini. Wajah yang biasanya angkuh di sampul majalah bisnis, kini dipenuhi air mata dan ketakutan.Beberapa orang mendekat, namun mereka hanya berani mengambil foto atau menelepon ambulans. Tidak ada yang berani menyentuh mobil yang berasap itu karena takut akan ledakan.Namun, Davien justru melangkah maju. Langkah kakinya ringan, bahkan tid

  • Tangan Dewa Davien: Sang Pewaris Takhta Terlarang    Bab 1

    CRASH!!BOOM!!“Ayah!” teriak Davien ketika melihat ayahnya, David Adiputra, terpental jauh hingga menabrak dinding halaman rumah hingga jatuh berlumuran darah.Sementara itu, Karina, ibu Davien yang sama sekali tak memiliki kekuatan, telah mati setelah dihempaskan hingga menabrak deretan meja pesta.Malam ini, seharusnya menjadi malam perayaan ulang tahun Davien Adiputra yang ke 15 yang indah. Namun, semua itu hanya berlangsung beberapa menit di awal acara.Ketika Hendra Adiputra, paman Davien, tiba-tiba datang dengan banyak pengawal dan satu bom dari bawah tanah, semua berubah menjadi suram.Langit cerah di atas Istana Adiputra yang ada di puncak bukit tertinggi Metropolis G cerah mendadak tertutup awan hitam pekat yang memancarkan aura kematian.Di depan gerbang utama, puluhan pengawal keluarga telah tewas bersimbah darah. Sementara itu, Hendra berdiri dengan tenang di tengah mayat-mayat itu. Kulitnya kini dipenuhi urat-urat hitam yang menonjol, dan matanya memancarkan cahaya merah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status