LOGIN“Kalau iya… kamu mau ngapain?” Tantangan yang meluncur dari bibir Rina menggantung di udara. Gadis itu masih mendongak, matanya berkilat menuntut reaksi, sementara telapak tangannya baru saja ditarik dari bagian tengah celana Joni.Joni tidak mundur barang satu mili pun. Pemuda itu tidak gelagapan, tidak pula menunjukkan kepanikan layaknya pemuda tanggung yang baru pertama kali digoda wanita sebaya.Sebaliknya, Joni melangkah maju. Gerakan tenang itu memaksa Rina melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding bata merah.Bruk.Kedua lengan kokoh Joni langsung terentang ke sisi kepala Rina, menumpu pada permukaan bata, mengurung tubuh mungil gadis itu di bawah bayang-bayang tubuhnya yang tegap. Aroma maskulin dari tubuh Joni seketika mengepung indera penciuman Rina, begitu pekat dan mendominasi.Rina menahan napasnya. Jantungnya berdentum kencang menghantam rusuk. Ia yang memulai permainan ini, tetapi tatapan mata Joni yang mendadak menggelap dan menusuk membuatnya merasa sepe
Udara terik siang itu langsung menyengat kulit begitu Joni dan Rina melangkah keluar dari pintu samping kafe. Warung makan beratap kanopi hijau di gang sebelah sudah penuh dengan kepulan asap bumbu dan obrolan para pekerja kantoran sekitar.Rina berjalan mepet di sisi Joni. Bahu mereka sesekali berbenturan ringan. Gadis itu tidak mengenakan celemek lagi, hanya kemeja kerja cokelat muda pas badan yang dimasukkan rapi ke dalam celana jin hitam ketat."Untung kebagian meja ujung," celoteh Rina riang seraya menarik kursi plastik di bawah hembusan kipas angin gantung.Tanpa diminta, Rina meraih selembar tisu kering, mengelap permukaan meja kayu di depan mereka dengan telaten. Begitu pelayan datang membawa nampan berisi dua piring nasi dan mangkuk lauk, jemari lentik Rina bergerak cekatan membagi sendok dan garpu, lalu meletakkan potongan ayam bakar paling besar ke piring Joni."Nih, buat kamu. Kamu kurusan tahu nggak, Jon, semenjak kerja di sini. Harus makan yang banyak," ucap Rina sera
Joni tidak langsung membalas ucapan Aya. Pemuda itu hanya berdiri tegak, membiarkan tubuh matang sang nyonya rumah menempel pasrah di dadanya.Ada getaran halus dari bahu Aya, namun Joni sama sekali tidak terbawa suasana. Sebaliknya, kata-kata Aya barusan justru memicu gelombang kepuasan di benak pemuda itu.‘Andai aja yang jadi suami Tante itu kamu, bukan Rama.’Kalimat itu terngiang jelas. Di rumah megah bertingkat ini, Rama punya segalanya. Namun, wanitanya justru bersandar pada dada Joni, memohon perlindungan dari pelukan pemuda yang sebulan lalu cuma dianggap anak tumpangan. Tanpa Rama sadari, posisinya sebagai kepala rumah tangga sudah tergeser seutuhnya.Tangan Joni terangkat, merengkuh punggung Aya dengan tenang. Namun saat telapak tangannya menyusuri lengan sang nyonya rumah, jemari Joni menangkap sesuatu yang janggal di pergelangan tangan kiri Aya.Ada bekas kemerahan samar, jejak cengkeraman jari yang dipaksakan.Mata Joni menyipit tajam. Hidungnya menangkap sisa aroma pa
Deru napas berat yang berbau tajam alkohol menyergap indera penciuman Aya, menariknya paksa dari lelap tidur. Ranjang berderit amblas saat sebuah beban berat menindih tubuhnya dari samping.Belum sempat Aya mengumpulkan kesadaran penuh, sepasang tangan kasar merangsek masuk ke balik gaun tidurnya. Telapak tangan dingin itu meremas pinggangnya tanpa aba-aba, merayap naik ke dadanya dengan cengkeraman serampangan yang menyakitkan."Mas Rama...?" bisik Aya tercekat, matanya mengerjap panik di kegelapan kamar. Jam digital di meja nakas menunjukkan pukul dua dini hari.Pria di atasnya tidak menjawab. Rama menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Aya, mendengus rakus seraya memaksa membuka paha sang istri dengan lututnya yang berat. Tubuh Rama panas oleh pengaruh minuman keras, gerakannya kasar dan menuntut tanpa sisa kelembutan sedikit pun.Aya mencoba menahan bahu suaminya. "Mas, lepas... kamu mabuk—""Diem..." gumam Rama parau, suaranya terseret-seret saat bibirnya yang basah menyapu rah
Joni melirik jam dinding di atas meja kecil. Jarum jam baru saja melewati pukul delapan malam. Masih ada waktu beberapa jam sebelum Rama pulang.Tangan Joni terangkat perlahan, melepas bando telinga kucing yang masih terpasang miring di kepala Aya, lalu meletakkannya di tepi meja nakas. Jemarinya kemudian menyentuh simpul pita hitam di leher jenjang Aya, menariknya hingga bandul lonceng perak itu terlepas tanpa denting lagi."Capek banget ya, Tante?" bisik Joni rendah, suaranya parau seraya mengecup pelipis Aya yang basah oleh keringat.Aya melenguh pelan, jemarinya mengusap perut kokoh Joni yang naik turun perlahan. "Iya... badan Tante rasanya kayak remuk, Jon. Nggak ada tenaga buat bangun."Joni tersenyum tipis. Tanpa banyak bicara, pemuda itu bangkit dari kasur, membiarkan tubuh tegapnya yang telanjang bulat berdiri kokoh di lantai. Ia membungkuk, menyusupkan kedua lengannya ke bawah punggung dan lekuk lutut Aya, lalu mengangkat tubuh sintal wanita itu ke dalam dekapannya."Joni
"Tante... belum pernah ngerasa senikmat ini sebelumnya," bisik Aya serak, suaranya parau dan bergetar di telinga Joni. "Nggak pernah, Joni. Cuma sama kamu..."Napas Aya masih tersengal. Dadanya yang sintal naik-turun tak beraturan, menempel rapat pada dada bidang pemuda itu yang basah berkilat oleh keringat. Seluruh persendian tubuhnya terasa lemas, bagai ditelanjangi hingga ke serabut saraf paling dalam.Pengakuan itu seketika menghantam ego kejantanan Joni. Ada sensasi panas yang membakar dadanya. Bukan sekadar kepuasan fisik, melainkan rasa bangga yang melambungkan harga dirinya sebagai seorang pria muda. Wanita yang biasanya duduk di atas takhta kemewahan suaminya ini baru saja menyatakan bahwa Joni telah memberinya surga yang tidak pernah sanggup dihadirkan oleh sang majikan besar.Joni tersenyum tipis, sorot matanya berkilat tajam di bawah temaram lampu nakas. Perlahan, ia menarik diri dari kehangatan tubuh Aya. Gerakan itu membuat Aya melenguh lirih, merasakan kehampaan sesaa







