LOGINJoni tidak membalas pesan itu. Ia menarik celana jinsnya kembali, lalu membungkuk dan membopong tubuh Aya yang masih lunglai.Aya mengalungkan lengannya di leher Joni tanpa banyak tanya. Kepalanya bersandar manja di dada pemuda itu saat langkah kaki Joni membawanya menyusuri lorong menuju kamar tidur di lantai bawah. Pintu ditutup rapat, anak kunci diputar dua kali dari dalam.Di atas kasur, Joni merebahkan Aya perlahan. Gaun sutranya sudah tersingkap tak beraturan.Belum sempat Aya menghela napas panjang untuk memulihkan tenaga, Joni sudah kembali merangkak naik ke atas ranjang. Hasrat yang tadi sempat meledak liar di dapur belum sepenuhnya tuntas. Tatapan lapar Joni kembali mengunci wajah cantiknya."Joni... belum cukup?" bisik Aya serak, namun kedua tangannya justru terbuka lebar menyambut tubuh tegap pemuda itu menindihnya kembali."Belum, Tante," jawab Joni lugas.Cumbuan kali ini tidak lagi terburu-buru seperti di dapur. Joni melucuti sisa pakaian mereka hingga tak ada sehelai
Penanda di pintu kaca depan kafe akhirnya dibalik menjadi tanda tutup. Di dekat loker belakang, Joni baru saja melepaskan celemek hitamnya dan melipatnya rapi. Rina sudah berganti pakaian. Kaus pas badan berwarna putih dan celana jins pendek menonjolkan lekuk tubuh mudanya yang menggoda. Tas selempang kecil sudah tersampir di pundak, tetapi gadis itu sama sekali belum berniat melangkah ke pintu keluar.Rina berdiri menghalangi pintu loker Joni. Matanya menatap lurus ke wajah pemuda itu, sorotnya berbinar penuh rasa ingin tahu."Kamu jadi datang nggak malam ini?" tanya Rina pelan, suaranya sarat akan pancingan yang tak lagi disembunyikan.Joni tidak langsung menjawab. Ia hanya mengaitkan tali ranselnya ke bahu, lalu menatap Rina dengan pandangan datar. Keheningan pemuda itu membuat detak jantung Rina berdegup lebih kencang, antara penasaran dan geregetan karena tidak bisa membaca isi kepala pria di depannya.Melihat Joni yang bergeming dan hanya menatapnya tanpa kata, Rina mendesah
“Kalau iya… kamu mau ngapain?” Tantangan yang meluncur dari bibir Rina menggantung di udara. Gadis itu masih mendongak, matanya berkilat menuntut reaksi, sementara telapak tangannya baru saja ditarik dari bagian tengah celana Joni.Joni tidak mundur barang satu mili pun. Pemuda itu tidak gelagapan, tidak pula menunjukkan kepanikan layaknya pemuda tanggung yang baru pertama kali digoda wanita sebaya.Sebaliknya, Joni melangkah maju. Gerakan tenang itu memaksa Rina melangkah mundur hingga punggungnya menabrak dinding bata merah.Bruk.Kedua lengan kokoh Joni langsung terentang ke sisi kepala Rina, menumpu pada permukaan bata, mengurung tubuh mungil gadis itu di bawah bayang-bayang tubuhnya yang tegap. Aroma maskulin dari tubuh Joni seketika mengepung indera penciuman Rina, begitu pekat dan mendominasi.Rina menahan napasnya. Jantungnya berdentum kencang menghantam rusuk. Ia yang memulai permainan ini, tetapi tatapan mata Joni yang mendadak menggelap dan menusuk membuatnya merasa sepe
Udara terik siang itu langsung menyengat kulit begitu Joni dan Rina melangkah keluar dari pintu samping kafe. Warung makan beratap kanopi hijau di gang sebelah sudah penuh dengan kepulan asap bumbu dan obrolan para pekerja kantoran sekitar.Rina berjalan mepet di sisi Joni. Bahu mereka sesekali berbenturan ringan. Gadis itu tidak mengenakan celemek lagi, hanya kemeja kerja cokelat muda pas badan yang dimasukkan rapi ke dalam celana jin hitam ketat."Untung kebagian meja ujung," celoteh Rina riang seraya menarik kursi plastik di bawah hembusan kipas angin gantung.Tanpa diminta, Rina meraih selembar tisu kering, mengelap permukaan meja kayu di depan mereka dengan telaten. Begitu pelayan datang membawa nampan berisi dua piring nasi dan mangkuk lauk, jemari lentik Rina bergerak cekatan membagi sendok dan garpu, lalu meletakkan potongan ayam bakar paling besar ke piring Joni."Nih, buat kamu. Kamu kurusan tahu nggak, Jon, semenjak kerja di sini. Harus makan yang banyak," ucap Rina sera
Joni tidak langsung membalas ucapan Aya. Pemuda itu hanya berdiri tegak, membiarkan tubuh matang sang nyonya rumah menempel pasrah di dadanya.Ada getaran halus dari bahu Aya, namun Joni sama sekali tidak terbawa suasana. Sebaliknya, kata-kata Aya barusan justru memicu gelombang kepuasan di benak pemuda itu.‘Andai aja yang jadi suami Tante itu kamu, bukan Rama.’Kalimat itu terngiang jelas. Di rumah megah bertingkat ini, Rama punya segalanya. Namun, wanitanya justru bersandar pada dada Joni, memohon perlindungan dari pelukan pemuda yang sebulan lalu cuma dianggap anak tumpangan. Tanpa Rama sadari, posisinya sebagai kepala rumah tangga sudah tergeser seutuhnya.Tangan Joni terangkat, merengkuh punggung Aya dengan tenang. Namun saat telapak tangannya menyusuri lengan sang nyonya rumah, jemari Joni menangkap sesuatu yang janggal di pergelangan tangan kiri Aya.Ada bekas kemerahan samar, jejak cengkeraman jari yang dipaksakan.Mata Joni menyipit tajam. Hidungnya menangkap sisa aroma pa
Deru napas berat yang berbau tajam alkohol menyergap indera penciuman Aya, menariknya paksa dari lelap tidur. Ranjang berderit amblas saat sebuah beban berat menindih tubuhnya dari samping.Belum sempat Aya mengumpulkan kesadaran penuh, sepasang tangan kasar merangsek masuk ke balik gaun tidurnya. Telapak tangan dingin itu meremas pinggangnya tanpa aba-aba, merayap naik ke dadanya dengan cengkeraman serampangan yang menyakitkan."Mas Rama...?" bisik Aya tercekat, matanya mengerjap panik di kegelapan kamar. Jam digital di meja nakas menunjukkan pukul dua dini hari.Pria di atasnya tidak menjawab. Rama menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Aya, mendengus rakus seraya memaksa membuka paha sang istri dengan lututnya yang berat. Tubuh Rama panas oleh pengaruh minuman keras, gerakannya kasar dan menuntut tanpa sisa kelembutan sedikit pun.Aya mencoba menahan bahu suaminya. "Mas, lepas... kamu mabuk—""Diem..." gumam Rama parau, suaranya terseret-seret saat bibirnya yang basah menyapu rah







