Home / Romansa Pria / Pesona Pemuda Desa / 36. Kepalang Tanggung

Share

36. Kepalang Tanggung

last update publish date: 2026-09-23 12:06:58

Pengakuan dari bibir Aya bukannya memadamkan suasana, melainkan menyulut kembali bara gairah yang belum sempat padam di tubuh Joni.

Melihat sang nyonya rumah yang terbiasa hidup mewah kini bersandar pasrah di dadanya, hasrat Joni kembali mendidih.

Belum genap lima belas menit badai pertama reda, kejantanan pemuda itu kembali mengeras sempurna.

Joni tidak memberi waktu bagi Aya untuk terhanyut dalam rasa aman semu.

Dengan gerakan mantap, tangan kekar Joni mencengkeram pinggang ramping Aya, lalu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pesona Pemuda Desa   97. Kejadian Tak Terduga

    Pintu lift eksekutif bergeser terbuka. Joni melangkah keluar bersama Citra menuju lobi lantai teratas.Suasana pagi di lantai kantor itu mulai hidup. Beberapa staf sibuk lalu lalang membawa berkas, sementara aroma kopi segar menyerbak dari pantry belakang. Joni melangkah ringan, berpura-pura mengagumi interior ruangan sambil berdecak kagum."Bagus banget ya, Mbak. Dari sini kelihatan pemandangan Jakarta penuh gedung tinggi," ujar Joni, memancing fokus Citra agar tetap padanya.Citra tersenyum bangga seraya berjalan di sampingnya. "Kan udah saya bilang, pemandangan dari lantai atas beda banget sama bawah. Tapi ingat ya, Mas Joni, kita cuma bentar di sini.""Siap, Mbak. Saya cuma muter sebentar kok," sahut Joni manis.Mereka berhenti tepat di dekat meja resepsionis utama. Tiba-tiba, pintu lift VIP di sudut kanan berbunyi. Joni refleks memutar tubuhnya setengah membelakangi lorong, berpura-pura mengamati pigura foto jajaran direksi di dinding.Dari pantulan kaca pigura, Joni melihat so

  • Pesona Pemuda Desa   96. Mulai Beraksi

    Pagi itu, Joni tiba di pelataran Menara Mahendra Group—gedung kantor Rama.Motornya masih terparkir rapi di tempat parkir sejak semalam. Namun, langkah kaki Joni tidak langsung menuju basement. Pemuda itu berdiri sejenak di dekat kolam pancur lobi, menatap kerumunan pekerja kantoran yang masuk melewati pintu.Pikirannya bertarung dengan logika.Sampai detik ini, ponsel di sakunya sepi. Tak ada satu pun pesan atau telepon dari nomor anonim itu. Si peneror jelas sudah sadar bahwa rencana semalam gagal total, tapi keheningan ini justru membuatnya gelisah.‘Kenapa dia harus repot-repot kirim paket cetakan foto pakai kurir?’ batin Joni. ‘Zaman sekarang orang tinggal sekali klik buat sebarin foto ke medsos atau kirim lewat email. Kenapa harus pakai cara manual begini?’ Apa karena dia takut jejak digitalnya dilacak? Atau dia sengaja ingin membuat mereka histeris?Makin dipikirkan, kepala Joni makin pening. Ia harus bergerak lebih cepat sebelum bajingan itu melancarkan serangan berikutnya.

  • Pesona Pemuda Desa   95. Memburu si Bajingan

    "Kecilin suara Tante," bisik Joni rendah seraya mencengkeram pergelangan tangan Aya.Matanya melirik ke arah lantai dua.Situasi di rumah ini seperti ladang ranjau. Salah pijak sedikit saja, ledakannya akan menghancurkan segalanya.Aya menahan napasnya, membekap mulutnya sendiri dengan tangan kiri seraya menatap Joni dengan mata membelalak lebar. Air muka ketakutannya belum surut sedikit pun.Joni tidak membuang waktu. Dengan gerakan cepat dan hati-hati, tangannya menarik resleting jaketnya ke bawah.Dari balik lipatan kain tebal itu, ia mengeluarkan amplop yang masih utuh.Melihat ampl

  • Pesona Pemuda Desa   94. Kepanikan Aya

    Sedan mewah itu melaju tenang membelah jalanan yang lengang.Joni mencengkeram lingkar kemudi dengan jemari yang kokoh. Dari sudut matanya, ia sesekali melirik spion tengah.Di jok belakang, Rama mendadak membuka matanya perlahan, mengusap wajahnya yang kuyu, lalu meluruskan posisi duduk seraya memijat pelipisnya yang berdenyut."Masih jauh, Jon?" gumam Rama datar, suaranya parau dan berat."Sekitar sepuluh menit lagi, Om," sahut Joni tenang.Rama mendengus pelan, menyandarkan kembali kepalanya ke sandaran jok seraya menatap lampu jalan yang meluncur di balik jendela."Sialan memang orang-orang di

  • Pesona Pemuda Desa   93. Krisis Besar

    Joni menelan ludah. Tangan kanannya nyaris refleks menyentuh jaketnya—tempat amplop berisi foto-foto terlarang itu bersembunyi, tapi berhasil ia tahan sekuat tenaga."Joni?" suara berat Rama memecah hening. "Ngapain kamu di kantor saya jam segini?"Joni menarik napas pendek melalui hidung, menata detak jantungnya yang berdentum liar di balik tulang rusuk.Ia tahu betul, salah satu kata saja, jurang kehancuran langsung menyambutnya."M-Malam, Om," sahut Joni, sedikit menundukkan kepala. "Saya disuruh Tante Aya ke sini."Kening Rama berkerut samar. Ia melangkah keluar dari dalam lift.

  • Pesona Pemuda Desa   92. Tertangkap Basah

    Melihat Aya yang terduduk lemas dengan tatapan kosong, Joni mencengkeram kedua bahu wanita matang itu, sedikit mengguncangnya agar kesadaran Aya kembali utuh."Tante, dengerin saya!" bentak Joni dengan suara rendah. "Om Rama udah balik dari luar kota apa belum?!"Aya tersentak, bola matanya yang berkaca-kaca menatap Joni. "T-Tante nggak tahu, Jon... Rama nggak ada kasih kabar sama sekali hari ini. Tapi... tapi kayaknya belum. Biasanya kalau mau pulang dia telepon sekretarisnya atau kasih kabar ke Tante...""Pastiin sekarang, dan kasih saya alamat lengkap kantornya!" perintah Joni cepat tanpa memberi celah bagi Aya untuk larut dalam ketakutan. "Saya harus ke sana sekarang juga buat ambil paket itu sebelum jatuh ke tangan Om Rama atau orang kantornya!"Aya menelan ludah susah payah, lalu buru-buru meraih tasnya yang tergeletak di atas meja konsol. Dengan jari-jari yang masih bergetar, ia mengeluarkan selembar kartu akses hitam berlogo emas dan sebuah catatan kecil berisi nama gedung ser

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status