Home / Urban / Tanteku Yang Pengertian / Bab 16 Buka Kaosnya

Share

Bab 16 Buka Kaosnya

Author: Allina
last update publish date: 2026-10-20 22:31:12

"Servis kipas yang mana? Siapa yang bayar, dan mana notanya? Kamu

baru seminggu di rumah ini, dan seminggu itu kamu makan tidur gratis dari

saya." Om berdiri dari kursi, perut buncitnya menyentuh tepi meja.

"Dua kipas retur, Om, dibayar kontan sama Ci Meiling dari toko itu,

jadi nggak ada nota buat saya. Struk BH-nya juga nggak ada karena mesin struk

toko pakaian dalam itu rusak dari kemarin. Kalau Om nggak percaya, tanya aja

penjaganya yang berkerudung ungu di lantai dua Beringharjo." Rehan

me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 66

    Kamar Wulan ada di lantai dua, dan jendelanya menghadap tepat ke atap dapur Tante. Jendela itu terbuka sedikit karena kamarnya panas, dan dari celahnya Rehan bisa melihat cahaya lampu dapur Tante di bawah sana.Di atas kasur Wulan, sebuah laptop sudah menyala. Di layarnya ada Laras.Laras duduk di depan meja rias yang sama, dengan cermin bulat di belakangnya. Dia memakai daster tipis berwarna biru muda bertali spageti, dan kain tipis itu tidak menyembunyikan bentuk dadanya yang penuh. Rambutnya tergerai, pipinya merah, dan dia melambai kecil ke kamera dengan wajah malu."Ha-halo, Mas Rehan."Rehan membeku di ambang pintu. "Mbak Laras?! Su-suami Mbak gimana?"Laras menunduk sambil memainkan tali dasternya. "Lagi jaga malam, Mas. Laporan lagi jam satu. Sekarang baru jam sepuluh."Wulan naik ke kasur dan duduk bersila di depan laptop. Kaus kebesaran abu-abu itu tersingkap sampai pangkal paha, dan dari posisinya, Rehan bisa melihat bahwa di balik kaus itu Wulan tidak memakai celana pendek

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 65

    Rehan membayar solder itu dengan dua lembar dua puluh ribuan dan selembar dua ribuan. Di depan toko, dia langsung menelepon nomor itu. Nada sambung berbunyi lama, lalu putus tanpa diangkat. Dia mengetik pesan panjang, menyebut namanya, gudang Kilat Cargo, dan pos satpam jam dua pagi, lalu mengirimnya dengan jempol yang masih basah keringat.Rehan pulang sebentar untuk ganti baju sebelum shift kafe. Tante sedang mengaduk adonan di dapur dengan celemek bermotif bunga, dan hidungnya langsung mengernyit begitu Rehan lewat."Kok bau kardus sama keringet, Han? Kipas siapa lagi yang rusak?""Bukan kipas, Tante. Saya angkat dus di Sinar Jaya. Ci Meiling yang nyuruh."Tante tertawa kecil sambil terus mengaduk. "Oh, Meiling. Kalau dia yang nyuruh, pasti bayarannya dihitung sampai receh. Dulu Tante beli bohlam di sana, kembaliannya kurang lima ratus, besoknya dia nganterin lima ratusnya ke pagar."Tante menuang es teh dari teko ke gelas dan menyodorkannya ke Rehan. Tidak ada nada curiga di suara

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 64

    Gudang atas Sinar Jaya ternyata loteng beratap seng dengan satu lubang angin kecil di dinding. Tangga kayunya sempit dan curam, dan setiap anak tangga berderit setiap kali Rehan menginjaknya dengan dus di pundak.Udara di atas panasnya tidak masuk akal.Matahari jam dua belas memanggang seng tepat di atas kepala, sehingga loteng itu terasa seperti dalam rice cooker yang sedang menanak nasi.Dus kelima, kaus Rehan mulai basah. Dus kesepuluh, keringat menetes dari dagunya ke lantai papan. Dus kelima belas, kaus abu-abu itu sudah basah kuyup dan menempel di dada serta perutnya.Pada dus kedua puluh, Meiling ikut naik membawa buku nota. Dia berhenti di anak tangga teratas dan menatap Rehan yang sedang menyusun dus terakhir.Meiling mengipas leher dengan buku notanya. "Ini kenapa panas banget, sih? Saya jarang naik ke sini siang-siang."Lalu, tanpa peringatan, Meiling membuka kancing kemejanya yang paling atas. Setelah itu, kancing kedua.Rehan nyaris menjatuhkan dus di tangannya. Selama i

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 63

    Rehan merangkak keluar dari kolong, dan kepalanya terbentur pinggir meja rias. Botol-botol bedak di atas meja bergoyang, lalu satu botol jatuh ke lantai dan menggelinding ke bawah kasur."Nggak papa, Mbak. Saya juga nggak bilang apa-apa."Rehan buru-buru mengerjakan yang memang dia bisa. Dia ke dapur, menaikkan tuas MCB, dan kali ini tuas itu tidak turun lagi. Catokan rambut yang gosong dia letakkan di atas meja, colokannya dibungkus plastik.Laras menatap catokan itu dengan sedih. "Itu hadiah dari suamiku, Mas.""Beli yang baru, Mbak. Yang ini kabelnya udah luka di dalam. Kalau dipakai lagi, rambut Mbak yang bisa terbakar."Laras mengantar Rehan ke pintu depan sambil menunduk terus. Begitu Rehan membungkuk untuk memakai sandal di keset teras, ponsel di tangan Laras berbunyi lagi.Panggilan video. Suamiku.Laras menggeser tombol hijau karena kebiasaan, dan kali ini sinyalnya bagus sekali. Wajah seorang laki-laki berkumis tipis dengan rompi oranye langsung memenuhi layar.Rehan melompa

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 62

    Laras menjerit. Detik berikutnya, dia sudah memeluk Rehan dari samping, kedua lengannya melingkari lengan kanan Rehan erat-erat.Dada Laras menempel penuh di lengan Rehan. Kaus putih tipis itu tidak menghalangi apa-apa, sehingga Rehan bisa merasakan dua gumpalan hangat yang lembut dan penuh, lengkap dengan dua titik kecil yang mengeras di tengahnya.[Insiden diterima. Laras memeluk dalam gelap. 1 poin.]Laras berbisik dengan suara gemetar. "Mas, itu bukan gara-gara aku, kan? Aku cuma nyabut catokan.""Bukan, Mbak. Petirnya nyambar gardu listrik, makanya satu blok mati."Laras tidak melepas pelukannya. Rehan juga tidak berani bergerak, karena setiap kali dia menarik napas, lengannya makin tenggelam di dada itu.Sialnya, ponsel di tangan Laras tiba-tiba berbunyi nyaring.Layar ponsel itu menerangi wajah Laras dari bawah. Panggilan video. Di layarnya tertulis Suamiku, lengkap dengan emotikon hati merah.Wajah Laras langsung pucat. "Mas! Suamiku! Dia nggak tahu ada cowok di sini!""Ya uda

  • Tanteku Yang Pengertian   Bab 61

    Om tiba-tiba mengangkat wajah dari ponselnya dan menatap Rehan. "Kamu. Kapan bayar uang numpang? Lima ratus ribu sebulan, udah lewat tanggal."Telapak kaki Tante menekan sekali lagi, lebih kuat.Suara Rehan keluar serak dan patah-patah, seperti orang yang baru keselek. "Hhh, i-iya, Om. A-akhir bulan, Om. Saya, saya usahain akhir bulan. Gajinya kafe baru masuk Sabtu."Om menyipitkan mata. "Kenapa suaramu begitu? Sakit?""Ke-keselek sambel, Om."Tante menyendok sayur asem lagi ke mangkuk Om, masih tanpa mengubah raut wajahnya. Bau terasi dari kaus Rehan tercium sampai ke seberang meja, dan Rehan tahu Tante mencium bau itu juga.Kaki Tante tidak turun sampai Om selesai makan.Om berangkat ke kantor jam tujuh. Rehan menghembuskan napas panjang begitu sedan itu keluar dari carport, sementara Tante membereskan piring tanpa menoleh ke arahnya.Sepuluh menit kemudian, ponsel Tante yang tergeletak di meja makan menyala.Tante membaca layarnya. Wajahnya berubah. Lalu dia menyodorkan ponsel itu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status