مشاركة

Bab 21

مؤلف: Anna Sahara
last update تاريخ النشر: 2026-04-22 13:00:36

Maurin belum berhenti sampai di situ saja. Dia mengoceh saja tanpa memperhatikan raut wajah Aarick yang sempat shock dengan permintaannya.

Iris mata Maurin kemudian tertuju pada Aarick, penuh keinginan. “Ajak Maurin, Kak. Maurin bosan di kampung. Lulus sekolah nanti Maurin mau kerja juga, Maurin gak mau kuliah. Biar bisa beli skincare, beli baju, beli kebutuhan Maurin dengan penghasilan sendiri.”

Ibu Hennah langsung menyambar, “Maurin! Ngomong apa kamu. Sekolah aja be
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 59

    Aarick diseret paksa menyusuri karpet tebal lorong. Di depan pintu 1708, dia akhirnya memberontak. Dengan satu sentakan kasar dia merenggut tangannya lepas dari cengkeraman Lena."Cukup!" geram Aarick, suaranya akhirnya pecah. Dia menatap Lena tajam, dadanya naik-turun. "Kamu pikir kamu siapa, main seret orang kayak gini? Ini hotel, Nyonya Lena, tempat umum. Bisa kacau semua kalau kamu bikin skandal."Lena menyandarkan punggungnya ke pintu 1708, sama sekali tidak takut. Dia justru tersenyum menang, menikmati amarah Aarick. "Aku pikir aku adalah orang yang bisa bayar kamu untuk tutup mulut dan buka celana," balas Lena dingin. "Kita ribut di sini, Anita dengar. Atau... kita masuk, dan kamu pulang bawa uang yang nggak bakal kamu dapat setahun pun kalau kerja halal."Adu mulut terjadi. Bisikan tajam, penuh hinaan dan ancaman. Sampai akhirnya Lena mendecak, mengeluarkan kartu hitam dari clutch kulitnya dan menempelkannya di dada Aarick."Lima kali lipat," bisik Lena. Matanya berkilat. "Un

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 58

    "Aarick," panggil Anita dengan suaranya serak dan manja. Aarick menoleh sedikit, namun tidak menjawab. Anita segera bangkit, membiarkan selimut merosot dari tubuhnya yang sintal. Dia mendekat dari belakang, lalu melingkarkan lengannya di perut Aarick. Dada telanjangnya menempel di punggung Aarick. "Jangan pergi dulu." Kontak fisik tanpa persetujuan setelah tugas selesai tidaklah profesional. Namun demikian Aarick hanya diam. Tidak melepas, tidak juga membalas. "Bagaimana kalau... kamu jadi milikku saja?" bisik Anita di telinga Aarick. "Kamu tidak perlu lagi kerja seperti ini. Aku bayar kamu bulanan. Tiga kali lipat dari tarifmu malam ini. Kamu tinggal temani aku. Tidur denganku. Hanya aku saja, begitu juga sebaliknya." Otak Aarick langsung bekerja. 'Tawaran eksklusif. Secara finansial sangat menguntungkan. Tapi resikonya kehilangan kebebasan bergerak.Anita mengeratkan pelukannya. "Kamu hebat, Aarick, sangat hebat di ranjang. Tidak ada yang seperti kamu selama ini. Aku tidak

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 57

    Kamar 1708. Lampu temaram dan AC disetel dingin seperti permintaan klien.Di atas ranjang, klien malam ini, Anita Anastasia, 34 tahun, wanita karir, cantik dan masih berstatus single sudah menanggalkan gaun satinnya. Tubuhnya matang, berpengalaman, dan malam ini dia yang membayar Aarick dengan harga mahal. Aarick berdiri di tepi ranjang. Kemejanya sudah lepas, memperlihatkan otot yang dia bentuk bukan untuk gaya, tapi untuk bertahan hidup. Ini pekerjaan 1 malam. Bayaran telah lunas di muka. Tidak ada emosi dan perasaan. Murni hanya transaksi.Anita mendekat, jarinya menelusuri dada Aarick. Napasnya sengaja dihembus ke leher pria itu. "Kamu diam aja dari tadi, Rick. Jangan bilang kamu malu karena ini adalah pekerjaan rutinmu." Dia ingat cerita Lena bahwa Aarick sangat bersemangat ketika melayani klien, tapi kenapa di pertemuan mereka justru sedikit loyo?Aarick menunduk. Tangannya langsung merespons. Satu tangan menahan pinggang Anita, satu lagi menahan tengkuk wanita itu. Tidak

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 56

    "AAAAAARAAAAA!!!" Raungan Aarick pecah, kencang, seperti bukan suara manusia lagi. Tanpa berpikir panjang, dia lari. Membanting pintu kamar. Velove yang shock baru tersadar, ikut lari terbirit-birit di belakang Aarick dengan wajahnya yang pucat.Dua pasang kaki menghantam anak tangga. Napas mereka beradu dengan isak tangis panik. Sampai di lantai satu, Aarick jatuh berlutut di samping tubuh Ara. Dia tak berani menyentuh. Tangannya gemetar hebat di udara. Banyak darah dan terlalu banyak. "Ara... bangun... Bangun, Ra..." Suara Aarick hancur. Pria setegar batu itu menangis. Nangis seperti anak kecil yang dunianya runtuh. "Jangan tinggalin aku... Ini salah aku... Semua salah aku ..." Velove yang baru sampai di belakang Aarick, langsung jatuh terduduk lemas. Matanya kosong melihat darah adiknya sendiri. "Ara... adikku..." Aarick mengangkat wajahnya ke langit malam. Air mata, amarah, penyesalan... semua tumpah jadi satu. Lalu... Gelap. "HHOOEEKH!!" Aarick tersentak bangun

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 55

    Darah Aarick berdesir dingin, lalu memanas. "Ara ...!" Aarick berkata lirihNamun dari seluruh kepanikan yang melanda, Aarick paling tidak paham apa yang ada dalam pikiran Ara saat ini.Aarick bingung melihat Ara di depan pintu menggunakan lingerie satin tipis yang nyaris tidak menyisakan apa-apa. Kulitnya yang putih mulus berkilau diterpa cahaya bulan dari jendela. Mata gadis itu bukan marah. Bukan kaget. Tatapannya sayu seperti mengundang Aarick. "Ara?!" Nama itu lolos lagi dari mulut Aarick seperti orang linglung. "Ngapain kamu di sini? Dan pakaianmu itu ...?" Ara tidak menjawab. Dia melangkah masuk. Pelan hingga pinggulnya yang bergoyang terlihat menggoda. Bukannya kabur atau teriak, wanita itu malah naik ke ranjang. Mendekati Aarick dari sisi yang berlawanan dengan Velove. Satu sisi Velove, satu sisi Ara. Dua wanita, kakak beradik, memperebutkan Aarick. Tangan Ara menyentuh dada Aarick, bibirnya berbisik di telinga pria itu. "Aku juga mau, Rick, kak Velo bilang kamu sangat

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 54

    Ketika makan malam, suasana di meja makan itu seperti kuburan saja. Heningnya cukup horor, karena tidak ada suara sama sekali, bahkan bunyi sendok ketemu piring pun tak terdengar. Aarick menatap steak di piringnya yang belum terjamah. Tidak selera. Hanya matanya saja yang bolak-balik mencuri pandang pada Ara di seberang meja. Piring Ara juga utuh. Makanan hanya dipelototin tanpa disentuh. "Menunya nggak enak, ya?" Aarick buka suara, memberi perhatian. "Di belakang masih ada yang lain. Mau aku ambilin menu yang lain?" Ara masih diam, dan bahkan tidak mengangkat muka. Hanya saja sorot matanya mengandung arti. Dia masih kecewa pada Aarick, juga Velove. Alasan Aarick sebelumnya dia telan saja. Di ujung meja, Velove meremas serbet di pangkuannya. Buku jarinya putih. Dia lihat cara Aarick memperhatikan Ara, dan itu membuatnya murka. "Cukup!!"BRAK. Velove menggebrak meja. Piring bergeser dan air di gelas tumpah sedikit. Mukanya masam, tapi dia tahan amarah demi menjaga images di depa

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status